Panduan untuk Generasi Sandwich: Semua Tips Keuangan yang Harus Kamu Tahu

Foto: www.gettyimages.com

Di situasi biasa saja, urusan finansial bagi seorang tulang punggung keluarga tidak mudah—apalagi masa pandemik seperti sekarang. Ah, LIMONE bisa melihat banyak anggukan kepala. Untuk itu, kami menghubungi Irshad Wicaksono Ma’ruf, seorang personal financial planner, untuk meringankan sedikit beban hidupmu, para sandwich generation, Berikut bocorannya tentang apa saja yang perlu dilakukan oleh tulang punggung keluarga agar kondisi keuangan aman setiap bulannya.

Apa Prinsip Keuangan Khusus untuk Tulang Punggung Keluarga?

tulang punggung keluarga
Foto: www.rawpixel.com

Entah ini sebuah hal positif atau sebaliknya, menurut Irshad tidak ada prinsip keuangan secara khusus untuk para tulang punggung keluarga.

“Setiap orang harus tahu dan sadar berapa besar penghasilannya dan apakah penghasilan ini mampu menutupi seluruh pengeluarannya,” jelasnya.

Untuk menelisik hal tersebut, kamu perlu memiliki catatan keuangan, yaitu catatan aset dan utang serta sumber penghasilan dari mana saja dan digunakan untuk apa saja.

Dengan memiliki catatan keuangan seperti ini, maka akan “mempermudah untuk memonitor keuangannya,” jelasnya. Dan seperti yang kita tahu, perihal memiliki catatan keuangan ini idealnya dilakukan oleh semua orang, entah itu “kamu bukan tulang punggung atau malah kamu sebagai tulang punggung keluarga atau bahasa kekiniannya ‘sandwich generation,” tambahnya.

Ah, istilah ‘sandwich generation‘ ini memang sedang menjadi topik hangat akhir-akhir ini.

Intinya, entah kamu termasuk ke dalam sandwich generation atau orang biasa, jika catatan keuangan ini belum dimiliki, “bisa membuat kamu bingung, atau bahkan denial,” tegasnya.

Selain catatan keuangan, adakah hal lain yang sangat perlu diketahui oleh tulang punggung keluarga?

“Perlu adanya komunikasi,” ujarnya.

Irshad mengakui bahwa keuangan adalah sebuah topik yang cenderung tabu, dan menurutnya ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh di dunia. Jadi, warga +62 memiliki permasalahan yang sama dengan warga-warga +dunia.

“Bahkan ada penelitian yang memperlihatkan bahwa membicarakan kondisi keuangan lebih tabu dibanding membicarakan tentang seks, bahkan dengan keluarga sendiri,” imbuhnya.

Meski begitu, Irshad menekankan, bahwa komunikasi tentang keuangan sangat penting dilakukan, untuk menjalin rasa saling pengertian satu sama lain. Untuk mereka yang tulang punggung keluarga, percakapan ini bisa “memberikan keringan,” kata Irshad.

Jadi, bahkan jika memang topik duit membuat jantungmu berdetak lebih cepat, pori-pori mengeluarkan ekstra keringat, dan membuat seperti ada sekelompok kecoa kemah di bawah jaringan kulitmu—tidak ada salahnya membiasakan diri membicarakannya dengan anggota keluarga lain. Biasakan dari sekarang.

Bagaimana Cara Mengatur Pengeluaran dan Apakah Dilarang Bersenang-Senang?

Foto: www.gettyimages.com

Sepertinya, kata “catat” harus kamu catat dan ingat. Pasalnya, Irshad menekankan bahwa mencatat semua pengeluaran wajib dilakukan. Dan “tidak hanya pengeluaran untuk keluarga inti saja, tapi termasuk orang yang ada ditanggungannya,” tambahnya. “Dan jangan lupa masukan porsi dana darurat, asuransi, tabungan dan investasi,” imbuhnya.

Bagaimana jika penghasilan sangat mepet?

Jika penghasilan hanya cukup untuk menutupi pengeluaran wajib, “berarti sumber penghasilan harus ditambah alias jangan berharap dari satu sumber penghasilan saja,” sarannya.

“Memang mencari sumber penghasilan tambahan tidak mudah, tapi kita tetap bisa berusaha, misalnya dengan menjadi reseller dagangan teman atau tetangga, menjadi sales lepas seperti agen asuransi, agen properti, dll,” tambahnya.

Dan tentang utang… “catat semuanya. Lalu, jangan menambah beban keuangan dengan menambah utang. Justru melunasi utang menjadi salah satu fokus utama bila mampu. Kalau belum mampu, kembali ke rekomendasi saya di atas, cari penghasilan tambahan,” anjurnya.

Bagaimana dengan pengeluaran seperti hiburan? Capek banting tulang, sepertinya layak mendapatkan hiburan, sesederhana langganan Netflix. Atau lebih baik jangan? Apakah tulang punggung keluarga dilarang bersenang-senang?

“Bersenang-senang dan menikmati hasil kerjanya, menurut saya hukumnya wajib, tapi sebaiknya bersenang-senang dan nikmati hasil kerja sesuaikan dengan kemampuan,” jawabnya.

“Banyak cara untuk bersenang-senang danrenca menikmati hasil kerja, misalnya dengan lari pagi atau jalan-jalan di taman bersama keluarga di sore hari. Atau menikmati camilan bersama keluarga sambil ngobrol dan bercanda. Jadi, tidak selamanya bersenang-senang dan menikmati hasil kerja harus berbiaya besar,” ujarnya.

Menurut Irshad, fokus dana yang dimiliki oleh tulang punggung keluarga adalah untuk dana darurat, asuransi kesehatan untuk melindungi diri dan orang yang ditanggungnya. Selain itu, untuk asuransi jiwa bagi sang tulang punggung keluarga, tabungan dan investasi jangka pendek sampai jangka panjangnya.

“Bukan berarti tidak boleh sama sekali ya, pengeluaran seperti hiburan TV cable, jajan di luar, tapi porsinya seperlunya,” ujarnya.

Apakah Tulang Punggung Keluarga Masih Perlu Investasi?

tulang punggung keluarga
Foto: www.gettyimages.com

“Bukan hanya investasi saja, dana darurat, asuransi kesehatan dan jiwa juga sangat diperlukan untuk sang tulang punggung keluarga,” kata Irshad.

Sebagai pengingat, asuransi kesehatan penting untuk meng-cover biaya perawatan kesehatan. “Dengan adanya asuransi kesehatan, bila kamu sakit dan perlu biaya yang besar, maka tidak mengganggu keuangan keluarga. Jadi, paling tidak miliki BPJS,” terangnya.

Lalu, asuransi jiwa: “Asuransi jiwa sebenarnya untuk melindungi penghasilan sang tulang punggung keluarga dari risiko meninggal. Jadi, orang yang jadi tanggungannya aman walaupun tulang punggung keluarga meninggal dunia,” jelasnya.

Sementara, investasi adalah untuk mencapai tujuan keuangan jangka pendek sampai jangka panjang. “Dan investasi ini juga menjadi cara agar ‘generasi sandwich’ ini tidak diwariskan ke anaknya,” tambahnya.

Sesuai namanya, Irshad menjelaskan bahwa dana darurat, berfungsi sebagai dana untuk kondisi darurat. Contoh kondisi darurat seperti, kebutuhan untuk perawatan kesehatan yang tidak bisa dicakup oleh asuransi. Atau, gadget rusak dan harus beli baru karena gadget tersebut menunjang pekerjaan. Atau atau kondisi pandemik seperti sekarang.

“Miliki dana darurat minimal 12 kali dari penghasilan atau pengeluaran bulanan,” anjurnya.

Bagaimana jika pendapatan bulanan belum cukup untuk mewujdukan itu semua?

“Sudah pasti jawabannya wajib cari penghasilan tambahan,” sarannya.

Well, kesimpulannya: catat semua informasi di atas—dan mulai lakukan dari sekarang. Selanjutnya, jika kamu bingung apakah lebih baik menggunakan dana darurat atau berutang saat kondisi krisis, begini penjelasan seorang penasihat keuangan.


podcast button