Apa Sebaiknya yang Dilakukan Saat Suami Menolak Konseling?

Foto: www.unsplash.com

Artikel ini terinspirasi dari kisah nyata. Seorang teman curhat bahwa suaminya untuk kesekian kalinya menolak melakukan konseling. Adu argumen dan bujukan dilayangkan, tetap saja sang suami menolak bertemu psikolog. Sebagai teman yang baik, LIMONE mendengarkan dan menghubungi seorang psikolog untuk membantu teman tersebut—dan pastinya kamu (iya, kamu) yang sedang mengalami isu yang sama. Begini penjelasan seorang psikolog apa yang sebaiknya dilakukan saat suami menolak konseling.

Mengapa Laki-Laki Terkadang Menolak Konseling?

suami menolak konseling
Foto: www.unsplash.com

Frisca Melissa Iskandar T., M. Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis Mind and Behavior Unit of Ciputra Medical Center dan Smart Mind Center Clinic-Klinik Taman Anggrek menjelaskan bahwa sebuah penelitian meta-analisis dari 2003 oleh Addis dan Mahalik mengaitkan pria dengan konseling. Bahwa pria secara umum (pada berbagai rentang usia, ras/etnis, dan kebangsaan) memang relatif memiliki kecenderungan yang lebih rendah untuk mencari bantuan profesional. Yakni, ketika mengalami atau menghadapi permasalahan psikologis, dibandingkan dengan wanita.

Alasannya? Ini di antaranya:

Bagaimana Cara agar Suami Mau Terbuka?

suami menolak konseling
Foto: www.gettyimages.com

Meski pria cenderung sulit curhat, tapi bukan berarti mereka menolak bercerita sama sekali. Frisca menjelaskan bahwa seperti yang disimpulkan oleh penelitian, ternyata pria cenderung lebih terbuka tentang masalah pribadi, ketika itu berdampak pada pekerjaan mereka. Atau ketika diminta oleh anggota keluarga atau pasangan wanita.

Dengan kata lain, “untuk membantu pria dapat membuka diri, pasangan wanita bisa mencoba untuk masuk melalui topik pekerjaan secara umum terlebih dahulu, sebelum perlahan-lahan beralih menanyakan hal-hal lain yang spesifik. Seperti misal: dampak permasalahan yang pria hadapi terhadap pekerjaannya, lalu kemudian mengenai alasan sebenarnya si pria menolak pergi konseling,” sarannya.

Kapan Suami Membutuhkan Bantuan Profesional?

suami menolak konseling
Foto: www.istockphoto.com

Frisca menerangkan, bahwa secara umum, seseorang sudah membutuhkan bantuan profesional (khususnya pergi ke psikolog klinis atau psikiater dalam permasalahan psikologis ketika mengalami beberapa hal ini.

√ Orang tersebut sudah tidak mampu menyelesaikan permasalahannya secara mandiri.

√ Dampak dari permasalahan psikologisnya mulai mengganggu aspek-aspek dan fungsi keseharian lainnya. Mulai dari makan, tidur, mandi, hingga pekerjaan, pendidikan, sampai relasi dengan orang di sekitar.

√ Muncul pola perilaku maladaptif, yang bukan hanya merugikan diri sendiri namun juga orang lain di sekitarnya.

Jika suami ” sudah memiliki salah satu kriteria di atas, maka ia sudah termasuk sebagai individu yang membutuhkan bantuan profesional,” tekan Frisca.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Suami Menolak Ikut Konseling?

suami menolak konseling
Foto: www.stocksy.com

Jika kamu sudah mendapati pasangan mengalami kriteria-kriteria di atas—tapi suami masih menolak konseling, Frisca menyarankan untuk melakukan beberapa langkah ini.

  1. Sebagai istri, jujurlah terhadap suami mengenai kekhawatiran kamu atau kendala yang juga sedang kamu alami, akibat dari permasalahan suami tersebut. “Ingatkan bahwa suami-istri adalah satu, sehingga apa yang terjadi pada suami akan berdampak juga kepada istri, dan begitu juga sebaliknya,” paparnya.
  2. Beritahukan kepada suami bahwa ajakan mengikuti konseling ini adalah wujud dan bukti dari rasa cinta dan peduli kamu kepadanya. 
  3. Jelaskan dan ingatkan kepada suami, mengenai stigma: pergi konseling ke psikolog adalah karena sakit jiwa/’gila’, adalah sesuatu yang keliru. “Jelaskan bahwa ada banyak manfaat lain datang konseling ke psikolog, misalnya untuk lebih mengenali diri sendiri dan pasangan, mengembangkan potensi diri, membenahi kekurangan diri, mengelola diri secara seimbang,” jelas Frisca.
  4. Usahakan untuk tidak ikut terbawa emosi dan tetap tenang, apabila suami emosi saat diajak konseling.
  5. Tetapkan dan sepakati bersama permasalahan yang memang menjadi fokus/tujuan konseling. Permasalahan nyata apa yang terjadi pada suami, dan dampaknya.
  6. Pilih dan sepakati bersama: konselor untuk konseling. Profil konselor, mulai dari apakah pria atau wanita, berapa usianya, ras atau etnis atau agama, sampai lokasi praktiknya.

Bagaimana jika masih saja suami menolak untuk konseling?

Maka jadilah pendengar yang baik segala keluh kesahnya, tegas Frisca. “Jika suami sedang hanya ingin didengarkan, dengarkan saja. Jika suami meminta feedback, opini, alternatif solusi, barulah kamu memberikan jawaban sesuai dengan permintaannya,” imbuhnya.

Lalu, yang tidak kalah pentingnya: berikan suami dukungan, perhatian, dan kasih sayang, yang sesuai dengan ‘bahasa cinta’ suami kamu. “Ada lima bahasa cinta: sentuhan fisik, memberikan hadiah/kado, memberikan bantuan, waktu berkualitas bersama, atau kata-kata afirmasi,” jelas Frisca.

Dari lima bahasa ini, pilih sesuai dengan preferensi suamimu. Kamu pasti tahu bahasa cinta apa yang disukainya. Iya, ‘kan?

Apa yang Bisa Dilakukan Saat Setelah Mencoba Sekali, Suami Tidak Melanjutkannya?

Foto: www.gettyimages.com

Akhirnya, suami bersedia mencoba untuk konseling. Namun, setelahnya dia memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Kamu mungkin panik dan bingung. Ah… apa yang bisa dilakukan?

“Tanyakan kepada suami, apa yang masih menjadi kendala baginya,” saran Frisca.

Coba tanyakan pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Apakah dia merasa tidak cocok dengan konselornya? Jika jawabannya iya, tanyakan apakah suami bersedia mencari konselor lain yang lebih sesuai dengannya. Lakukan in bersama-sama.
  • Apakah dia merasa tidak cocok dengan metode konseling/terapi?
  • Apakah waktu konseling yang tidak sesuai jadwalnya?
  • Apakah lokasi konseling yang tidak sesuai jadwalnya?
  • Apakah biaya konseling yang tidak sesuai anggarannya?
  • Apakah dia memiliki alternatif apa yang sekiranya bisa dilakukan untuk menyelesaikan permasalahannya?

Jawabannya atas pertanyaan terakhir ini, bisa dijadikan “alternatif atau solusi lain yang dapat disepakati bersama-sama,” jelasnya.

Mungkin kamu nyaris putus asa. Sementara kondisi suami semakin memprihatinkan. Ini membuat satu pertanyaan menghantui pikiranmu: Etiskah untuk memaksa pasangan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau terapis?

Frisca menegaskan bahwa konseling dan psikoterapi akan efektif apabila ada: 1) keterbukaan dari klien/pasien, serta 2) kerjasama yang baik antara konselor/psikolog klinis dengan klien atau pasien.

“Sehingga memaksakan pasangan untuk berkonsultasi dengan psikolog klinis atau konselor adalah suatu hal yang percuma, serta dapat memperkeruh hubungan suami-istri,” tambahnya.

Lalu harus bagaimana saat suami menolak konseling, tanyamu (mungkin sambil memijat pelipis mata)?

“Akan lebih baik bagi kamu untuk berusaha menumbuhkan kesadaran pada diri pasangan kamu, mengenai apa yang terjadi pada dirinya, keadaan dirinya saat ini, permasalahan nyata yang dihadapi. Serta dampak dari permasalahan tersebut jika terus dibiarkan, dan manfaat dari mengikuti konseling terhadap semua hal tersebut, dibandingkan dengan memaksanya,” tegasnya.

Selanjutnya: Bingung mencari terapis yang tepat? Coba baca saran psikolog ini.