Ketenangan Jiwa – Haruskah Kita Memilikinya Setiap Saat?

haruskah memiliki ketenangan jiwa setiap saat
Foto: www.freepik.com

Memiliki ketenangan jiwa mungkin menjadi keinginan dari semua orang karena tidak perlu mengalami rasa gelisah. Akan tetapi, haruskah kita selalu memiliki jiwa yang tenang?

Ini penjelasan dari Agnes Wijaya, S.Psi., M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog rekanan Wiloka Workshop dan MentalHealing.id, serta Staf Pendamping Kasus Savy Amira Surabaya, terkait manfaat ketenangan jiwa dan cara mencapainya dengan tepat.

Apa Itu Ketenangan Jiwa?

haruskah memiliki ketenangan jiwa setiap saat
Foto: www.unsplash.com

Agnes menjelaskan bahwa dalam psikologi, ‘jiwa’ diakui sebagai aspek non fisik dari manusia yang dianggap bertanggung jawab atas fungsi pikiran dan kepribadian.

Pada praktiknya, jiwa atau soul atau psyche (dalam bahasa Yunani) ini diterjemahkan sebagai pikiran (mind).

“Oleh karena itu, sebenarnya dibandingkan ‘ketenangan jiwa’, istilah yang lebih familiar yang dipelajari dalam ilmu psikologi adalah ‘ketenangan atau kedamaian pikiran’ (peace of mind). Sementara konsep ‘jiwa’ sendiri masih penuh pro dan kontra dalam ilmu pengetahuan, karena masih sulit untuk dibuktikan keberadaannya,” tuturnya.

Meski demikian, pada umumnya ‘jiwa’ memiliki definisi sebagai inti identitas manusia paling dalam yang mewadahi pengalaman emosional, moral, dan estetik yang paling penting bagi manusia tersebut.

Sehingga menurut Psikolog Klinis yang satu ini, “ketenangan jiwa dapat memiliki arti sebagai sebuah keadaan pikiran dan perasaan yang bebas dari gangguan atau rasa gelisah. Artinya individu merasa aman dan nyaman, serta cenderung rileks dari waktu ke waktu dalam menjalani kesehariannya,” terang Agnes.

Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Jiwa yang Tidak Tenang?

mengapa seseorang bisa mengalami jiwa yang tidak tenang
Foto: www.canva.com

Ada beberapa faktor penyebab mengapa seseorang mengalami jiwa yang tidak tenang, yakni:

Hal sekitar

“Pada umumnya, pikiran individu menjadi tidak tenang karena ada hal-hal di sekitarnya yang dianggap tekanan bagi individu tersebut, atau yang biasa disebut sebagai stressor. Stressor ini yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam diri individu, sehingga akhirnya membuat pikiran menjadi tidak tenang,” tuturnya.

Pikiran yang selalu aktif

Selain stressor itu sendiri, pada dasarnya pikiran kita diprogram untuk selalu aktif.

Konsep ini salah satunya digambarkan sebagai monkey mind, seperti monyet yang melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, pikiran juga selalu datang dan pergi, melompat-lompat ke masa lalu atau ke masa depan.

“Artinya, setiap individu memang punya kecenderungan untuk memikirkan apa yang sudah berlalu dan yang belum atau mungkin terjadi. Kecenderungan ini yang membuat pikiran individu menjadi tidak tenang, karena selalu melompat-lompat dari satu hal ke hal lainnya,” ungkapnya.

Kecenderungan mengontrol segala hal

Penyebab selanjutnya adalah adanya kecenderungan manusia untuk menilai dan mengontrol atau mengendalikan segala hal yang ada di dalam hidupnya.

“Kecenderungan ini sebenarnya merupakan kondisi alamiah yang muncul dari kebutuhan survival manusia. Ini mendorong individu untuk selalu berupaya memprediksi dan mengontrol hal-hal di sekitarnya untuk menjamin keamanan dan keselamatan diri,” jelas Agnes.

Sayangnya, kecenderungan ini yang kemudian membuat individu menjadi kaku karena selalu diterapkan pada setiap situasi dan kondisi. Artinya individu selalu berupaya untuk memegang kontrol atas hidupnya dan lingkungannya.

“Harus adanya kontrol inilah yang tidak jarang membuat pikiran individu menjadi tidak tenang dan emosi yang bergejolak ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa sebenarnya ada banyak hal yang tidak selalu bisa dikontrol oleh manusia,” ujar Psikolog yang satu ini.

Perlukah Kita Menjaga Pikiran agar Selalu Tenang?

perlukah kita menjaga pikiran agar selalu tenang
Foto: www.freepik.com

Pada dasarnya, tidak ada sepenuhnya baik dan tidak ada yang sepenuhnya buruk, sama seperti ketenangan atau ketidaktenangan pikiran.

“Saat waktu-waktu tertentu, pikiran yang tidak tenang atau aktif pada akhirnya dapat menjadi dorongan bagi kita untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang kita hadapi,” tuturnya.

“Sebagai contoh, bayangkan kalau kita tidak bisa merasa sakit (rasa yang tidak nyaman untuk individu), maka kita tidak akan pernah tahu bahwa sesuatu atau seseorang itu berbahaya bagi keselamatan kita,” ujarnya.

Hal yang sama juga berlaku untuk pikiran yang tidak tenang atau aktif.

“Mereka bisa menjadi tanda bahwa ada bahaya atau ancaman di sekitar kita, atau bisa juga merupakan tanda bahwa individu melakukan kesalahan sehingga ia perlu melakukan sesuatu untuk memperbaikinya,” lanjut Agnes.

Artinya, pikiran tidak harus selalu tenang. Karena pikiran yang tidak tenang atau aktif juga memiliki perannya sendiri.

Dengan kata lain, memiliki pikiran itu anugerah saat kita bisa mengelolanya dengan baik. Namun, bisa menjadi petaka ketika kita tidak bisa mengelolanya dengan baik.

“Meski demikian, memiliki ketenangan jiwa akan punya banyak manfaat. Saat pikiran kita tenang, maka tubuh juga berada dalam keadaan tenang atau rileks,” katanya.

Saat pikiran dan tubuh individu berada dalam keadaan tenang, maka ada beberapa dampak yang terjadi, seperti:

  • Memiliki emosi-emosi positif dalam diri, seperti senang, bersyukur, puas, dan lain sebagainya
  • Lebih mudah berkonsentrasi
  • Secara biologis pikiran yang tenang juga mencegah diproduksinya hormon kortisol atau hormon strss. Jika kadarnya berlebihan akan berdampak pada fungsi otak, sistem imun, dan organ tubuh lainnya
  • Kemampuan toleransi (terhadap potensi stressor) yang lebih tinggi

Apa Saja Dampak Ketika Kita Tidak Memiliki Ketenangan Jiwa?

apa saja dampak ketika kita tidak memiliki ketenangan jiwa
Foto: www.canva.com

Saat pikiran kita tidak tenang, dan ini terjadi dalam waktu lama serta terus-menerus, maka dapat berdampak buruk terhadap kehidupan kita.

“Individu akan terus ada dalam keadaan khawatir, cemas, atau tegang, sehingga sangat mungkin kita akan menjadi mudah marah, kesal, atau takut pada semua hal,” ujarnya.

“Termasuk hal yang sebelumnya tidak berdampak secara emosional pada diri kita, pada akhirnya dapat berdampak buruk pada relasi yang kita miliki dengan orang lain.” ungkap Agnes.

“Saat pikiran tidak tenang, maka kita akan semakin mudah terdistraksi, yang artinya pikiran tidak tenang juga akan membuat kita kesulitan untuk fokus dan berpikir jernih.  Karena hal tersebut, maka sangat mungkin kita akan mengalami masalah dalam bidang akademis atau pekerjaan,” lanjutnya.

Ketika jiwa tidak tenang, selain tubuh yang menjadi tegang, produksi hormon stres juga akan meningkat, sehingga dapat memengaruhi kesehatan kita pada umumnya.

“Individu akan terus ada dalam keadaan khawatir, cemas, atau tegang, sehingga sangat mungkin kita akan menjadi mudah marah, kesal, atau takut pada semua hal. Termasuk hal-hal yang sebelumnya tidak berdampak secara emosional padanya,” tuturnya kembali.

Hal tersebut pada akhirnya dapat berdampak buruk pada relasi-relasi yang kita miliki dengan orang lain.

“Saat pikiran tidak tenang, maka kita akan semakin mudah terdistraksi, yang artinya pikiran tidak tenang juga akan membuat kita kesulitan untuk fokus dan berpikir jernih. Karena hal tersebut, maka sangat mungkin kita akan mengalami masalah dalam bidang akademis atau pekerjaan,” tambahnya.

Bagaimana Cara Memperoleh Ketenangan Jiwa?

haruskah memiliki ketenangan jiwa setiap saat
Foto: www.freepik.com

Untuk mendapatkan ketenangan jiwa, maka ada beberapa langkah yang harus kita lakukan, yakni:

Mengendalikan diri sendiri

Pertama-tama, kita perlu mengendalikan diri sendiri, bukan pikiran. “Artinya mengendalikan diri sendiri agar tidak tenggelam dalam pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang hadir,” ujarnya.

Salah satu caranya adalah melalui praktik mindfulness, yang merupakan sebuah kemampuan untuk menyadari dan mengarahkan fokus perhatian individu pada pengalaman yang sedang berlangsung saat ini.

Mindfulness dapat dilakukan dalam praktik aktivitas sehari-hari, misalnya makan. Saat makan, kita sungguh-sungguh sadar dan mengarahkan seluruh perhatian kita pada aktivitas makan yang sedang dilakukan,” tuturnya.

Misal menyadari secara terus-menerus terkait rasa, tekstur, dan aroma dari makanan, serta menyadari setiap kita mengunyah makanan tersebut. Praktik mindfulness lainnya yang mungkin cukup sering kita dengar adalah dengan melakukan meditasi.

Mengambil jarak dengan pikiran atau perasaan

Kedua, kita perlu mengambil jarak dengan pikiran atau perasaan. “Artinya diri kita tidak sama dengan pikiran dan emosi yang hadir di dalam diri, ‘Saya sedang punya pikiran tertentu’, bukan ‘Saya adalah pikiran saya’,” paparnya.

Hal ini memerlukan kesadaran kita terhadap diri sendiri ketika muncul pikiran atau perasaan dalam diri. Seperti misalnya ‘Saya sedang merasakan marah’, bukan ‘Saya marah’.

Artinya pikiran atau perasaan tertentu bisa saja muncul dalam diri individu. Tetapi pada saat yang bersamaan, individu tersebut juga tidak membiarkan pikiran dan perasaan yang muncul menguasainya.

Ekspresikan pikiran yang muncul

Selanjutnya, ekspresikan atau keluarkan pikiran-pikiran, termasuk perasaan, yang muncul dalam diri dengan cara yang sehat.

Misalnya bercerita dengan orang yang dapat dipercaya atau mengungkapkan pikiran atau perasaan yang mengganggu bagi kita kepada orang yang bersangkutan. Serta melakukan hobi, menulis, melukis, aktivitas fisik seperti berolahraga, dan lainnya.

“Intinya, lakukan kegiatan-kegiatan yang nyaman dan sehat sebagai media untuk melepaskan pikiran dan emosimu. Pastinya tidak membahayakan bagi diri sendiri atau orang lain saat akan mengeluarkan semua pikiran dan perasaan yang sedang bergejolak dalam diri kita,” sarannya.

Agnes menambahkan bahwa memendam pikiran atau perasaan secara terus-menerus pada akhirnya hanya akan membuat kita merasa penuh dan kelelahan.

Atasi sebisa mungkin

Jika stressor yang ada ini mungkin untuk diatasi, maka atasilah dan cari solusinya. Ketika stressor menghilang, pikiran pun akan berangsur kembali ke keadaan yang tenang, diikuti dengan emosi yang juga mereda kembali pada keadaan relatif netral.

Agar kita memiliki ketenangan jiwa, maka harus dilakukan dengan latihan yang secara rutin. “Karena ketenangan pikiran itu dapat muncul dari kebiasaan,” tuturnya.

Dengan membiasakan diri untuk mindfull, aware, dan melepaskan kendali terutama pada hal-hal yang memang di luar kendali kita. Maka kebiasaan itu akan terbentuk karena tindakan yang diulang-ulang atau secara rutin.

Bagaimana Jika Kita Terus Merasa Gelisah?

bagaimana jika kita terus merasa gelisah
Foto: www.freepik.com

Jika sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan ketenangan jiwa, tetapi masih merasa gelisah, maka yang harus dilakukan adalah melepas kontrol, baik terhadap pikiran dan perasaan atau lingkungan.

“Sering kali, semakin sering kita mengontrol pikiran atau perasaan, akan semakin ribut dan intens pikiran dan perasaan tersebut. Yang perlu dilakukan justru sebaliknya, membiarkan pikiran dan perasaan itu datang kemudian pergi, tanpa adanya upaya mengontrol, menekan, atau membuang mereka,” anjurnya.

Menurut Agnes, ada dua hal yang harus individu sadari, yakni:

Pikiran itu hanya pikiran

Pada akhirnya, pikiran itu hanyalah pikiran, sama halnya perasaan itu hanya perasaan. Keduanya tidak lebih besar dari kita dan sungguh-sungguh dapat mengancam serta melukai kita.

Pikiran itu datang dan pergi

Hal yang harus kamu sadari selanjutnya adalah pikiran dan perasaan itu datang dan pergi, artinya tidak ada pikiran dan perasaan yang akan terus ada selamanya.

Mereka bisa datang dan kemudian pergi, terutama ketika kita membiarkan mereka tanpa berupaya mengontrol atau menekan mereka.

“Selain itu, kita juga perlu melepas kontrol terhadap lingkungan, terutama ketika kontrol tersebut memang tidak ada dalam kendali kita. Misalnya respons, penilaian, keputusan orang lain, atau hal-hal yang sudah terjadi,” ujarnya.

Psikolog ini kembali mengingatkan bahwa kita boleh saja berusaha semaksimal mungkin, tetapi tidak sepenuhnya fokus untuk mengontrol hasilnya.

Apa Saja yang Harus Diperhatikan Saat Ingin Memiliki Jiwa yang Tenang?

haruskah memiliki ketenangan jiwa setiap saat
Foto: www.canva.com

Terdapat beberapa hal yang harus individu perhatikan untuk mendapatkan pikiran yang tenang, yakni:

  • Kemauan untuk melakukan sesuatu guna mencapai pikiran yang tenang. Seperti mengekspresikan pikiran dan perasaan yang bergejolak, menyelesaikan konflik yang ada, dan lainnya
  • Lingkungan yang sehat dan suportif. Salah satu faktor yang membuat individu dapat lebih tangguh dalam menghadapi stressor adalah ketika ia dikelilingi oleh orang-orang yang suportif dan memiliki relasi yang sehat
  • Jika merasa kesulitan untuk mengatasinya sendiri, carilah bantuan profesional

Bisakah Mencegah agar Bisa Membuang Pikiran yang Mengganggu?

bisakah mencegah agar bisa membuang pikiran yang mengganggu
Foto: www.rawpixel.com

“Saya yakin jawabannya adalah tidak. Sampai usia tertentu, umumnya lansia, otak kita akan selalu punya sistem kerja penambahan, artinya segala sesuatu yang baru akan terus masuk dan bertambah ke dalam otak kita,” jelasnya.

Dengan kata lain, kita tidak mungkin lupa. Apalagi atas sesuatu yang berkesan bagi diri sendiri, baik itu hal positif atau negatif.

“Yang memungkinkan adalah meredakan pengaruh pikiran-pikiran, termasuk memori, atas pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut terhadap diri,” ujar Agnes.

Misalnya ketika di awal, memori tentang sebuah kejadian membuat kita begitu sedih hingga menangis histeris. Setelah kita mengolah pengalaman tersebut dan mengingat kejadiannya tidak lagi membuat kita sangat sedih atau menangis histeris.

“Jika kita telah mengolah pengalaman tersebut, mengingat kejadiannya kemudian tidak lagi membuat kita sangat amat sedih hingga menangis histeris. Artinya ada reaksi terhadap pengalaman yang sama yang berubah (bisa mereda atau menghilang) dari waktu sebelumnya,” ungkapnya.

“Kejadian itu tetap sebuah kejadian yang kita ketahui tidak menyenangkan atau menyakitkan bagi kita dan di saat yang bersamaan. Tidak lagi membuat emosi kita bergejolak atau fisik kita bereaksi, seperti mengalami sesak napas, gemetar, jantung berdegup kencang, dan lainnya,” tambahnya.

Lantas, bagaimana cara agar kita selalu memiliki ketenangan jiwa?

“Asah awareness terkait diri sendiri dan bentuk sikap terbuka terhadap pengalaman-pengalaman yang terjadi di dalam diri atau di luar diri,” jawab Psikolog ini.

Kesimpulan

haruskah memiliki ketenangan jiwa setiap saat
Foto: www.freepik.com

Sama seperti tenang, bahagia, sehat (fisik atau psikis), dan keadaan nyaman lainnya, cemas, sedih, sakit (fisik dan psikis), serta keadaan tidak nyaman lainnya adalah bagian dari hidup.

“Seperti roda yang berputar, kita tidak bisa selalu ada di atas, dan tidak bisa menghindar untuk berada di bawah,” ungkapnya.

“Pada akhirnya, semua orang pada taraf tertentu untuk merasakan kenyamanan (sehat, bahagia, puas, cinta, dan lainnya) dan juga ketidaknyamanan (sedih, sakit, kecewa, benci, dan lainnya) di dalam diri,” papar Agnes.

Jadi, terbuka dan hadapilah rasa-rasa tidak nyaman yang muncul dalam diri, sebagaimana kamu juga terbuka untuk merasakan rasa menyenangkan yang muncul dalam diri.

Serta, cintailah diri sendiri dengan melepaskan perasaan-perasaan dan kontrol yang berdampak buruk untukmu.