Panduan Bagaimana Belajar Bersyukur bagi Kaum Skeptis dan Pesimis

belajar mengucap syukur
Foto: www.pexels.com

Coba ketik grateful di Instagram, maka jutaan unggahan dengan tagar itu bermunculan. Teman-temanmu mungkin barisan orang yang selalu mengampanyekan hal ini di hampir semua unggahannya. Makan di luar, #grateful. Bertemu teman, #grateful. Listrik mati, #grateful, bahkan mungkin banjir, #grateful. Banyak orang yang akan me-like unggahan itu, tapi bagi para skeptis dan pesimis (seperti LIMONE), sering kali sulit mengerti #grateful. Belum lagi jika kita sedang mengalami masalah keluarga, stres karena pekerjaan, memiliki masalah kesehatan fisik dan mental, ide untuk tetap #mengucapsyukur terdengar seperti… ehm… konyol. Adakah trik sederhana untuk belajar mengucap syukur, terutama, well, bagi orang skeptis dan pesimis dan sedang mengalami banyak masalah? Kami menghubungi seorang psikolog untuk belajar mengucap syukur karena bisa mengucap syukur.

Apa Arti Mengucap Syukur?

belajar mengucap syukur
Foto: www.pexels.com

“Bersyukur atau grateful didefinisikan dengan dua langkah proses yaitu 1) Menyadari bahwa seseorang telah mendapatkan hasil yang positif, dan 2) Menyadari bahwa ada sumber eksternal yang membuat seseorang mendapatkan hasil yang positif,” terang Anna Deasyana, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dan Founder Alma Psikologi, mengutip penjelasan dari Emmons & McCullough dalam Allen, 2018.

Lebih lanjut, Anna menjelaskan bahwa menurut beberapa penelitian ada tiga kategori gratitude/rasa bersyukur, yaitu gratitude sebagai:

  • affective trait ketika seseorang memang memiliki watak/kepribadian yang penuh rasa bersyukur,
  • mood yaitu kondisi fluktuatif harian, kadang bersyukur kadang tidak, dan
  • emotion yaitu perasaan bersyukur yang sifatnya sementara, yang dialami seseorang ketika mendapatkan hadiah atau bantuan dari orang lain (Allen, 2018).

“Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa bersyukur merupakan proses yang terjadi ketika kita mendapatkan atau merasakan sesuatu yang menyenangkan atau positif,” jelasnya melalui email.

Mengapa Sulit Mengucap Syukur Saat Sedang Kesulitan?

belajar mengucap syukur
Foto: www.unsplash.com

Para peneliti menyampaikan kejujuran ketika mengatakan bahwa rasa syukur memiliki banyak manfaat. Di antaranya, mulai dari membuat pikiran lebih positif sampai dapat meningkatkan kesehatan fisik kamu.

“Selain itu, dengan bersyukur sebenarnya membantu kita untuk melakukan perilaku positif (prosocial behavior) lainnya karena kita merasa bahwa kebahagiaan atau pertolongan yang kita dapat juga perlu dirasakan oleh orang lain. Secara sosial, rasa bersyukur dapat membuat seseorang menjalin hubungan yang lebih baik dan lebih terikat dengan lingkungannya,” beber Anna.

Lalu bagaimana jika hidup kita sedang mengalami kesulitan, kesusahan, sudah jatuh tertimpa pula? Anna mengatakan bahwa memang tidak mudah untuk mengucap syukur jika kita berada dalam kondisi ini. Hal tersebut merupakan sesuatu yang normal. Dan ini terjadi bukan karena ada sesuatu yang salah denganmu. Melainkan, ada penjelasan ilmiahnya.

“Hal ini terjadi karena biasanya pengalaman negatif akan memunculkan emosi yang negatif seperti marah, sedih, atau takut. Jika emosi negatif sedang mendominasi, maka secara otomatis kita tidak mampu berpikir karena ada bagian otak yang terhambat sehingga kita tidak dapat mengakses logika. Oleh sebabnya, sulit bagi kita untuk bisa melihat sesuatu secara positif dan akhirnya bersyukur,” katanya.

Ah, leganya karena diingatkan bahwa wajar merasakan marah, sedih dan takut terutama jika sedang mengalami masa sulit.

Bagaimana Belajar Mengucap Syukur, Terutama Jika Kita Skeptis dan Pesimis?

belajar mengucap syukur
Foto: www.gettyimages.com

Satu hal yang menurut Anna perlu selalu diingat: perasaan bersyukur merupakan suatu perasaan personal yang mungkin sekali dirasakan dan diekspresikan berbeda oleh setiap orang. Kembali mengutip Emmons dan McCullough, rasa syukur bisa ditujukan kepada Tuhan, takdir, alam (nature), atau yang lainnya. “Itu artinya, perasaan bersyukur bisa menjadi sangat personal dan berbeda antara individu yang satu dengan yang lain. Begitu juga bagi  individu yang skeptis dan pesimis, mereka mungkin tetap bersyukur pada situasi yang mereka alami, namun dengan bentuk rasa syukur yang berbeda,” tegasnya.

Lebih lanjut Anna menjelaskan bahwa pribadi skeptis dan pesimis yang dimiliki seseorang bisa terbentuk karena seseorang mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan di masa lalunya. Termasuk di dalamnya mendapat perlakuan skeptis dan pesimis dari lingkungannya.

“Lalu apakah mereka tetap bisa bersyukur? Tentu saja bisa,” tekannya. “Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perasaan bersyukur tidak dapat disamakan antara tiap individu sehingga mungkin sekali mereka bisa tetap bersyukur.”

Adakah Trik untuk Membantu Kita agar Lebih Mudah Bersyukur?

Foto: www.istockphoto.com

Sulit mengucap syukur biasanya terjadi karena ada pengalaman yang tidak menyenangkan, yang membuat kita memunculkan emosi yang negatif. Untuk itu, Anna menyarankan untuk menetralkan atau menurunkan emosi negatif tersebut agar mampu berpikir logis. “Dengan mampu berpikir logis, kita mampu mencerna apa yang terjadi hingga memunculkan hal positif yang diakibatkan dari pengalaman negatif tersebut,” terangnya.

Jangan skeptis dulu. Anna menjelaskan bahwa ada beberapa hal praktis yang bisa kamu lakukan untuk menurunkan emosi negatif.

Relaksasi

Yakni dengan cara melakukan teknik tarik napas dalam dan perlahan. “Atur napas dengan menghirupkan melalui hidung, dan lepaskan melalui mulut. Lakukan ini secara perlahan, sambil rasakan udara yang masuk melalui hidung dan dikeluarkan melalui mulut,” bebernya.

Melakukan hal yang positif

Melakukan hal-hal positif yang kamu senangi. Seandainya kamu suka makan, silakan lakukan. Curhat. Menonton serial televisi favorit (rekomendasi LIMONE: Fleabag, The Good Place, Crash Landing On You, atau Friends!) Atau mendengarkan musik favoritmu.

Journaling

“Meluapkan emosi negatif ke dalam tulisan bisa membuat kita merasa lega,” tuturnya. Tidak hanya itu, seorang psikolog dan peneliti dari Universitas Texas di Austin, James Pennebaker mengatakan bahwa membuat jurnal secara teratur meningkatkan sel-sel imunitas bernama T-lymphocytes. Pennebaker juga percaya bahwa menulis hal-hal yang membuatmu terkenal akan membantumu menerima dan berdamai dengan kenyataan tersebut. Ini artinya, menulis jurnal bisa berfungsi sebagai alat manajemen stres, sehingga mengurangi dampak stres pada kesehatan fisik. Cara praktis memulai journaling: pakai pena/pensil, tulis jurnal selama 15-10 menit, jangan diedit (tulislah dengan sederhana tanpa berusaha untuk terkesan puitis), tulis di tempat yang sama setiap hari, dan pastikan jurnalmu ini aman dan terjaga privasinya.

“Setelah melakukan usaha-usaha di atas dan emosi negatif sudah mulai dapat dinetralisir, cobalah untuk melihat ulang kejadian yang baru saja terjadi. Adakah hal positif yang dapat kita cerna?” saran Anna.

Dan seandainya kamu masih belum dapat menemukan sesuatu yang positif, ini bisa berarti mungkin kamu masih perlu waktu lebih untuk memberikan kesempatan pada diri untuk rileks dan mengekspresikan emosi negatif yang mungkin masih dirasakan. “Jika perlu, datang ke psikolog. Ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk menceritakan dan mengungkapkan emosi negatif yang dirasakan,” anjurnya.

Oh, tidak sampai di situ. Ada satu hal yang menurut Anna harus kamu lakukan, yaitu: “Jangan lupa untuk memberikan reward pada diri kita jika kita berhasil menemukan hal positif dari masalah yang kita alami. Pasalnya, memberikan reward pada diri kita termasuk salah satu cara bersyukur juga.”

jadi, untuk semua para skeptis di luar sana dan ingin belajar bisa menuliskan #grateful dengan tulus, selamat mencoba saran di atas. Ingat: jangan skeptis dan pesimis dulu, coba dulu, ya.

Jika kamu membutuhkan bantuan tenaga profesional untuk belajar mengucap syukur, tapi bingung bagaimana mencari psikolog yang tepat untuk membicarakan masalahmu, begini tips dari seorang ahli.

podcast button