Arti Ekspektasi dan Cara agar Memiliki Pengharapan yang Sehat dalam Hubungan

arti ekspektasi
Foto: www.rawpixel.com

Mayoritas mahluk hidup memiliki harapan, baik itu dalam menjalani kehidupan sehari-hari ataupun dalam sebuah hubungan. Ekspektasi tersebut juga tentunya akan berbeda-beda bagi setiap individu. Namun apa arti ekspektasi itu sendiri? Bagaimana jika harapan tersebut tidak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan? Apa yang harus dilakukan terutama dalam kaitannya dengan hubungan romantis?

Untuk menjawab semua pertanyaan yang ada di kepalamu, LIMONE telah menghubungi Putu Andani, M.Psi., Psikolog, Co-founder dari TigaGenerasi yang akan membahas tentang arti ekspektasi dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan.

Apa Arti Ekspektasi?

arti ekspektasi
Foto: www.freepik.com

Menurut Putu, arti ekpektasi atau pengharapan adalah keyakinan pribadi seseorang terhadap suatu kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. “Ekspektasi sebenarnya adalah sebuah konsep yang wajar terjadi pada kognitif seseorang, bahkan pada hewan sekalipun. Karena merupakan bagian dari kemampuan survival,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa arti ekspektasi pada manusia sendiri memang terbilang cukup  unik. Hal ini disebabkan karena manusia memiliki kemampuan untuk menstimulasikan secara jelas di dalam kepalanya tentang berbagai kemungkinan yang belum terjadi.

“Biasanya, ekspektasi terbentuk karena adanya informasi yang diketahui serta pengalaman tertentu yang dimiliki seseorang. Misalnya berdasarkan pengalaman atau informasi dari teman, setiap tamu yang datang ke rumah makan Sunda akan diberikan teh hangat gratis. Maka ekspektasi yang muncul ketika datang ke rumah makan Sunda, kita berharap akan disuguhkan teh hangat,” paparnya.

Hal ini juga berlaku ketika menjalin relasi dengan orang lain. Ekspektasi tersebut bisa muncul dari pengalaman sebelumnya ataupun informasi yang kita miliki tentang orang tersebut.

Baca Juga :  Tanya Psikolog: Bagaimana Mengenali Tanda Pasangan yang Siap Nikah?

Bagaimana pengaruh ekspektasi bagi kehidupan sehari-hari?

Sebenarnya, jika kita memiliki ekspektasi yang berada dalam kadar yang tepat, justru dapat memberikan dampak yang baik. Pasalnya, hal ini dapat berfungsi untuk mengatur perilaku atau tindakan yang akan dimunculkan seseorang secara efektif.

“Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi yang tidak realistis dapat memengaruhi tingkat kepuasan seseorang. Adanya gap atau ketidaksesuaian antara harapan dan realita dapat membuat kita merasa tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki saat ini,” ungkapnya.

Bagaimana dengan Ekspektasi Dalam Sebuah Hubungan?

Foto: www.freepik.com

Di dalam sebuah hubungan, tentunya menjadi sebuah hal yang wajar jika seseorang memiliki pengharapan terhadap pasangan.

“Namun kembali lagi, ekspektasi yang tidak realistis berpotensi membuat hubungan menjadi tidak sehat. Misalnya, sebuah penelitian menunjukkan bahwa seseorang dengan memiliki pandangan yang irasional dalam sebuah pernikahan, cenderung memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang rendah,” ungkapnya.

Putu menambahkan bahwa dalam penelitian lain juga menunjukkan adanya kecenderungan pasangan yang baru menikah memiliki pengharapan bahwa tingkat kebahagiaan mereka akan meningkat setelah menikah.

“Pada kenyataannya, ekspektasi tersebut justru membuat tingkat kebahagiaan cenderung semakin menurun seiring dengan bertambahnya tahun pernikahan. Untuk itu, sangat perlu untuk mengatur pengharapan di dalam hubungan agar tetap rasional,” ujarnya,

Karena sebenarnya, pengharapan yang sehat tetap diperlukan selama itu masih dalam lingkaran positif dan dapat membangun hubungan untuk menjadi lebih baik.

Apa Saja Ekspektasi yang Biasanya Terjadi Pada Sebuah Hubungan?

Foto: www.freepik.com

“Tentunya, ekspektasi yang ada di dalam sebuah hubungan tentu akan berbeda-beda pada setiap orang,” ucap Putu.

Akan tetapi terdapat dua macam pengharapan yang biasanya terjadi, yakni:

Ekspektasi yang wajar

Meski berbeda-beda pada setiap orang, namun ekspektasi wajar yang biasa muncul di dalam sebuah hubungan di antaranya adalah:

  • Menginginkan pasangan memperlakukan kita dengan cara-cara tertentu
  • Tidak ingin pasangan melakukan hal yang dapat menyakiti kita
  • Berharap pasangan dapat jujur, terbuka, dan setia
Baca Juga :  Studi Baru: Pengantin Baru yang Memiliki DNA Ini Lebih Puas dengan Pernikahannya

Ekspektasi yang tidak realistis

Selain pengharapan yang wajar, biasanya terdapat beberapa ekspektasi yang tidak realistis yang dipikirkan oleh seseorang dalam sebuah hubungannya, seperti:

  • Menginginkan hubungan berjalan dengan sempurna, tidak ada konflik apa pun
  • Merasa dapat menyelesaikan sendiri semua masalah yang ada di dalam hubungan
  • Berharap suatu hubungan dapat membuat kita terlepas dari luka masa lalu

Bagaimana Jika Pasangan Bertindak Tidak Sesuai dengan Ekspektasi Kita?

arti ekspektasi
Foto: www.freepik.com

Terdapat beberapa cara untuk mengatasi ketika pasangan bertindak tidak sesuai dengan harapan, yakni:

1. Akui dan terimalah rasa kecewa yang dirasakan

2. Kemudian tanyakan lagi kepada diri sendiri, apa yang sebenarnya kita harapkan dari perlakuan pasangan? Apakah rasa kecewa yang kita rasakan disebabkan karena pasangan tidak bertindak sesuai dengan ekspektasi kita atau ada pemicu lain?

3. Apakah kita sudah mengomunikasikan harapan tersebut pada pasangan? Sebab ekspektasi yang tidak pernah diutarakan akan semakin kecil kemungkinannya untuk terpenuhi. “Jadi terbukalah mengenai apa yang kamu inginkan dan tidak kamu inginkan pada pasangan. Sehingga kemungkinan ekspektasi kita dapat terpenuhi bisa menjadi semakin tinggi,” tutur Putu.

4. Langkah terakhir, tetap lihat hal positif dan syukuri hal-hal baik yang dimiliki bersama pasangan.

Ketika mendapati bahwa pasangan yang bertindak tidak sesuai dengan harapan, pastinya hal ini akan memunculkan rasa kecewa. Lantas, apakah kita perlu melakukan segala sesuatu sesuai dengan ekspektasi pasangan atau orang lain?

“Apakah kita mau terus-menerus hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain? Perlu diingat bahwa tidak ada orang lain yang paling mengetahui diri kita, selain diri kita sendiri. Jadi tentu saja kita sangat boleh menentukan batasan-batasan di dalam suatu hubungan. Serta, tidak selalu harus memenuhi ekspektasi orang lain, dengan catatan ekspektasi kita dan pasangan sudah saling diutarakan dan bersama-sama mencari jalan terbaik untuk pasangan atau keluarga,” jawabnya.

Baca Juga :  Bagaimana Mendeteksi Ciri-Ciri Suami yang Sedang Selingkuh?

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Sebenarnya arti ekspektasi bagi setiap orang tentunya akan berbeda dan memiliki harapan yang wajar bisa memberikan dampak yang baik untuk kita. Akan tetapi jika harapan tersebut tidak realistis maka hal tersebut justru akan berpotensi membuat hubungan menjadi tidak sehat.

Namun jika pasangan memberikan harapan yang lebih kepada kita, maka kamu tidak perlu khawatir. Karena, “ekspektasi orang lain terhadap kita adalah milik orang tersebut, bukan milik kita. Dengan mengingat hal ini, kita akan lebih mengontrol perasaan kecewa yang mungkin kita rasakan karena tidak bisa memenuhi harapan orang lain,” ujar Putu.

Ia juga menambahkan bahwa kita memang tidak dapat mengontrol apa yang diharapkan orang lain. Namun, kita dapat memilih bagaimana cara berkomunikasi dengan diri sendiri. “Bangun inner-voice yang positif terhadap diri sendiri dengan memberikan afirmasi positif” lanjutnya.

Yang terpenting, “be assertive. Komunikasikan apa yang kita harapkan dari orang lain dan apa saja batasan-batasan yang kita miliki,” tutupnya.