Hanya Sekadar Konflik Pernikahan Biasa atau Kekerasan Rumah Tangga?

konflik pernikahan
Foto: www.istockphoto.com

Tidak sama dan tidak serupa. Namun entah kenapa, sebagian orang mengalami kesulitan membedakan antara konflik pernikahan pasangan biasa dengan kekerasan rumah tangga. LIMONE menghubungi Irma Gustiana A, M.Psi, Psikolog, Founder dari Ruang Tumbuh untuk menjelaskan perbedaan dan cara menghadapi kedua hal ini.

Apa Definisi Kekerasan Rumah Tangga?

konflik pernikahan
Foto: www.gettyimages.com

Irma mengutip, dalam UU No.23 tahun 2004, bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan ataupenderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga. Termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.   

Lebih lanjut, Irma menjelaskan bahwa tanda pasangan melakukan kekerasan fisik, bisa dimanifestasikan dalam beberapa bentuk. Yakni:

a) kekerasan fisik, yaitu setiap perbuatan yang menyebabkan adanya cedera secara fisik bahkan kematian

b) kekerasan psikologis, yaitu setiap perbuatan dan ucapan yang mengakibatkan ketakutan, kurang rasa percaya, hilangnya kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak berdaya pada perempuan.

c) kekerasan seksual, yaitu setiap perbuatan yang mencakup pelecehan seksual sampai kepada memaksa seseorang untuk melakukan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau di saat korban tidak menghendaki; dan atau melakukan hubungan seksual dengan cara-cara yang tidak wajar atau disukai korban; dan atau menjauhkannya (mengisolasi) dari kebutuhan seksualnya.

d) kekerasan ekonomi, yaitu setiap perbuatan yang membatasi  orang  (perempuan) untuk bekerja di dalam atau rumah luar yang menghasilkan uang atau barang; atau membiarkan korban bekerja untuk dieksploitasi; atau menelantarkan anggota keluarga.

Di Sisi Lain, Apa Itu Konflik Pernikahan dan Apa Bedanya dengan KDRT?

konflik pernikahan
Foto: www.gettyimages.com

Seperti yang kamu tahu, dalam pernikahan ada saja tantangan dan masalah yang terjadi. Nah, seringkali tantangan ini menjadi sumber ketidaksepakatan atau konflik.

Irma menuturkan bahwa konflik pernikahan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, “karena pasti akan terjadi pernikahan dan umumnya dinamika yang sehat,” tambahnya.

Apa yang menjadi penyebab konflik pernikahan? Mulai dari ketidaksamaan dalam mengurus keuangan, masalah kesehatan, pembagian tugas rumah tangga, sampai kurangnya komunikasi.

Meski sehat dan sesuatu yang wajar dalam sebuah pernikahan, Irma mengingatkan bahwa pasangan harus tetap hati-hati. Pasalnya, “jika konfliknya berkepanjangan dan salah satu pasangan atau keduanya mengalami perasaan yang tertekan atau tidak nyaman, maka bisa berpotensi pada masalah KDRT baik secara fisik psikologis, seksual ataupun ekonomi, bahkan perceraian,” Irma mengingatkan.

Saat sepasang suami-istri memiliki masalah dan memilih mengatasinya tanpa harus berteriak, memukul, menyalahkan atau merendahkan pihak lain, maka konflik pernikahan yang terjadi masih terbilang sehat. Intinya ketika terjadi konflik, kedua belah pihak sejatinya memiliki keinginan dan upaya menyelesaikan konflik. Pasalnya, jika memilih menghindar, maka masalah yang lebih besar bisa muncul—dan akhirnya, yah itu tadi, bisa berakhir pada kekerasan.

Ohya, jika pasangan mengatakan bahwa kamu telah melukai perasaannya dengan baik-baik, ini bukan berarti mereka sedang merendahkan kamu. Ini adalah salah satu usahanya untuk ingin “didengarkan”.

Jika Ada KDRT, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Foto: www.rawpixel.com

Kalau sudah melakukan kekerasan rumah tangga, sebaiknya jangan tinggal diam dan harus mengambil sikap, apalagi jika sudah berlangsung terus-menerus,” Irma msenegaskan.

Menurutnya, jika pasangan bisa diajak bicara tanpa bersikap emosional, sebaiknya dibicarakan. “Jika tidak, harus dimediasi dengan bantuan psikolog/konselor pernikahan. Apalagi jika ada ancaman keamanan, biasa saja meminta bantuan secara hukum,” tekannya.

Dan kekerasan rumah tangga bukanlah sesuatu yang normal. “Kekerasan rumah tangga bukan hal yang biasa—atau tidak bisa dianggap biasa/lumrah dan setiap orang harus paham ini,” tegasnya. KDRT memiliki efek yang serius baik secara psikologi dan fisik, serta memberikan dampak mental bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Sekali lagi, Irma menegaskan bahwa jika konflik pernikahan hanya berupa argumentasi atau beda pendapat—itu adalah hal yang wajar. Akan tetapi, jika mengarah pada tindak kekerasan, maka hal tersebut wajib diwaspadai.

“Jika mengancam keamanan, keselamatan sehingga pasangan menjadi kacau, tidak bahagia dan tidak tenang maka perlu memikirkan ulang tujuan pernikahan,” sarannya.

Dan KDRT merupakan masalah yang super serius. Jadi, jika setelah hal itu terjadi, kamu sulit melanjutkan hidup—ini memang karena membutuhkan waktu pemulihan. “Karena kekerasan pasti akan sedikit banyak mempengaruhi kejiwaan, sadar atau tanpa disadari,” katanya. “Itulah sebabnya, dukungan dan support orang terdekat sangat dibutuhkan. Melakukan kegiatan positif, mencari kesibukan bermanfaat, melakukan meditasi, olahraga, dan sebagainya merupakan beberapa cara yang bisa membantu melanjutkan hidup. Dan bila perlu, berkonsultasi dengan profesional juga bisa ditempuh untuk membantu kamu move on,” anjurnya.

Selanjutnya: ini tanda-tanda pasangan yang pasif agresif.