Bagaimana Cara Berdamai dengan Pasangan Setelah Beradu Argumen?

arti argumen
Foto: www.freepik.com

Mungkin kebanyakan pasangan sudah tidak asing lagi dengan namanya beradu argumen. Bahkan tak jarang, argumen juga sering kali disamakan dengan sedang bertengkar. Namun, apa arti argumen sebenarnya? Apakah sama dengan pasangan yang sedang bertengkar?

Simak penjelasan dari Eukaristianica Theofani, M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis dari Puskesmas Tanjungsari Surabaya, Biro Psikologi Lestari, Brilian Psikologi, Ruang Berproses, Paradigma, Eklesia, dan Bully.id yang akan menjelaskan terkait arti argumen dan cara melakukannya dengan tepat.

Apa Arti Argumen?

arti argumen
Foto: www.freepik.com

Menurut Nica, arti argumen adalah “alasan yang bisa dipakai untuk memperkuat atau pun menolak suatu pendapat serta gagasan, kalau menurut KBBI seperti itu. Biasanya argumen itu disertai atau diperkuat dengan ide-ide serta opini. Selain itu, bisa juga berdasarkan hasil dari analisis, atau bukti-bukti lain yang bisa mendukung argumen,” jelasnya.

“Nah bukti-bukti itu seharusnya atau sebaiknya bisa sejalan. Supaya nantinya argumen tersebut bisa menjadi logis atau masuk akal,” lanjutnya.

Terkadang, arti argumen sering kali disamakan dengan bertengkar. Namun ternyata keduanya merupakan hal yang berbeda.

Bertengkar

Ketika dua orang yang ada di dalam satu relasi atau berpasangan, mereka beradu argumen dengan niatan masing-masing adalah untuk menang, berarti itu adalah bertengkar. “Karena ketika kita beradu argumen, tujuannya untuk mengekspresikan diri agar kita didengarkan. Serta  untuk mempelajari kebutuhan dari pasangan,” ungkapnya.

Ketika bertengkar, “kita akan mendengarkan pasangan untuk berbicara kemudian dari dalam diri kita timbul keinginan atau kecenderungan untuk menanggapi pendapatnya. Jadi bukan untuk mendengarkan dan memahami kebutuhan, tetapi kita mendengarkan untuk membalas,” imbuh Nica.

Jadi harus dibedakan dulu antara bertengkar dan arti argumen. Kalau bertengkar, “niatnya adalah ‘aku harus menang’ dan ‘aku harus benar’ begitu. Mendengarkan pasangan pun aku harus membalas apa yang dibicarakan oleh pasangan,” terangnya.

Berargumen

Sedangkan arti argumen adalah “kita menyampaikan pendapat dengan tujuan ingin mendengarkan tanggapan dari pasangan. Tetapi kalau bertengkar itu kita cenderung untuk ada niatan membalas ucapan dari lawan bicara kita. Jadi kalau adu argumen, kita mendengarkan lawan bicara untuk menyampaikan argumennya agar kita memahami kebutuhan pasangan,” paparnya.  

Ketika beradu argumen, kita juga menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan. “Serta mendengarkan omongan pasangan, karena itu merupakan kebutuhan dia, atau ekspresi yang dia rasakan. Tujuan dari beradu argumen adalah untuk menyelesaikan masalah dengan saling mendengarkan dan memahami satu sama lain,” ujar Nica.

Apa Penyebab Seseorang Beradu Argumen dengan Pasangannya?

Foto: www.freepik.com

Biasanya alasan pasangan beradu argumen adalah didasari oleh beragam faktor. “Mulai dari hal-hal kecil, misalnya. Seperti dalam pernikahan itu terkait dengan makanan, rasanya enak atau tidak, atau lebih suka makan di mana misalnya. Serta bisa juga terkait dengan selera berpakaian,” tutur Psikolog yang satu ini.

Jadi penyebab beradu argumen itu sangat beragam. “Dari hal yang kecil sampai hal yang kompleks misalnya seperti keuangan, pendidikan anak, atau keputusan yang terkait keluarga besar. Jadi hal apa saja, karena manusia ini ‘kan kompleks ya, sehingga hal-hal sekecil apa pun itu bisa jadi peluang atau potensi untuk pasangan ini beradu argumen,” katanya.

Tetapi, manusia biasanya beradu argumen karena ada kebutuhannya. “Di balik ia beradu argumen itu sebenarnya ada kebutuhan tertentu. Mungkin beradu argumen karena ia berkebutuhan untuk didengarkan, mendominasi orang lain, kebutuhan untuk bersosialisasi, merasa kesepian, dan tidak mengetahui cara bersosialisasi yang tepat, jadi akhirnya mengajak ribut orang-orang,” tambahnya.

Sehingga, kebutuhannya itu secara kasat mata “yang kita bisa lihat penyebabnya apa, baik itu selera makanan atau berpakaian. Tetapi ada juga penyebab yang tidak bisa kita lihat, seperti kebutuhan, apakah dia merasa aman atau tidak. Butuh pasangan untuk bersosialisasi, atau ada kebutuhan lain yang menjadi penyebab dia beradu argumen,” ungkap Nica.

Apakah Beradu Argumen dengan Pasangan Merupakan Hal yang Wajar?

arti argumen
Foto: www.freepik.com

Sesungguhnya, ini akan bergantung pada alasan dari beradu argumennya. Apakah memang benar beradu argumen atau bertengkar. “Kalau jatuhnya bertengkar, sebenarnya juga menjadi hal yang wajar dalam relasi. Tetapi ketika itu berlebihan, maka menjadi suatu hal yang tidak sehat dalam relasi,” katanya.

Beradu argumen pun perlu dilihat terlebih dahulu seberapa sering dan terkait hal-hal apa saja. “Jadi pastikan intensitas dan kedalaman beradu argumen ini seperti apa. Apakah intensitasnya sering dan terkait hal-hal yang sederhana, dan terjadi sering atau tidak. Serta adu argumennya apakah murni atau ada niatan kecenderungan untuk menjatuhkan pasangan,” lanjutnya.

“Jadi kembali lagi ke pemahaman atau pengaplikasian, apakah memang benar itu beradu argumen atau bertengkar. Adu argumen pun kalau sering, karena tujuannya untuk mencari solusi memecahkan masalah. Kalau memang beradu argumen itu dilakukan sering, dan murni, itu bisa menjadi suatu hal yang membangun,” terang Nica.

Karena dengan kita beradu argumen, maka jadi mengetahui pasangan kita seperti apa dan butuhnya apa. “Semakin beradu argumen, maka semakin baik. Asalkan memang murni beradu argumen dengan bertujuan untuk memahami pasangan, mengerti, dan tahu kebutuhannya,” paparnya.

“Semakin kita bisa mengetahui pasangan, maka akan semakin mengerti kebutuhan dan perasaannya. Itu menjadi semakin baik. Jadi harus diketahui dulu bertengkar atau beradu argumen,” sarannya.

Apakah Berargumentasi dengan Pasangan dapat Memengaruhi Keberlangsungan Hubungan?

Foto: www.rawpixel.com

“Sangat bisa memengaruhi keberlangsungan hubungan. Namun, tergantung dengan intensitas dan juga kedalaman berargumentasi tersebut. Kalau satu pasangan itu sering beradu argumen yang sehat untuk memahami dan saling mengenal satu sama lain, maka hubungan akan semakin hangat,” jelasnya.

Karena apa? “Karena saling mengetahui kebutuhan perasaan dan keinginan pasangan seperti apa. Mungkin ada kebiasaan-kebiasaan yang sulit ia ungkap, maka kita bisa tahu alasannya melakukan kebiasaan tersebut. Jadi sebenarnya, ketika kita beradu argumen dalam arti argumen yang sehat, itu akan semakin bisa menghangatkan hubungan,” lanjutnya.

Begitu pun sebaliknya. Ketika kita beradu argumen untuk bertujuan bertengkar, “ingin saling menunjukkan siapa yang paling benar dan siapa yang memiliki power dalam hubungan, itu tidak akan menjadi sehat dalam hubungan. Serta hubungan pun akan terasa tidak menyenangkan, dan kita pun tidak bisa nyaman untuk berada di dalam hubungan tersebut,” papar Psikolog yang satu ini.

“Karena ‘kan siapa juga yang ingin didominasi terus, ya. Mungkin untuk beberapa orang yang memang kebutuhannya untuk mendominasi orang lain, maka ia akan senang. Tetapi bagi beberapa orang yang mereka tidak butuh dalam mendominasi, maka akan tidak betah dalam hubungan tersebut,” imbuhnya.

Adakah Manfaat dari Berargumentasi dengan Pasangan?

arti argumen
Foto: www.canva.com

Untuk adu argumen dalam artian yang sehat, saling membangun, dan mengerti satu sama lain, ternyata hal ini dapat memberikan berbagai manfaat, yakni:

Memahami watak dari pasangan

Dengan arti argumen yang sehat, kita “bisa memahami bagaimana watak dari pasangan ketika sedang beradu argumen. Atau mungkin wataknya seperti apa kalau dalam situasi tertentu yang mungkin kita tidak suka. Serta ketika kita tidak mengerti mengapa ia berperilaku seperti itu,” ujarnya.

Memahami alasan pasangan

Kita juga bisa mengetahui mengapa ia melakukan, mengucapkan, berpikir, atau bersikap tertentu terhadap suatu hal. “Atau dia berperilaku sedemikian rupa pada situasi tertentu. Jadi kita mengetahui faktor pembentuk pola pikir atau penyebab pasangan kita melakukan, berpikir, bersikap, atau mengambil keputusan terhadap suatu masalah,” ungkapnya.

Melatih kemampuan responsif

Kemudian, kita juga bisa melatih kemampuan untuk responsif. “Karena ketika beradu argumen itu merupakan bentuk kita bisa menghadapi suatu situasi dan masalah. Ketika beradu argumen pasti ada sebuah topik yang dibahas, sehingga menjadi bentuk untuk melatih tingkat responsitivitas. Sejauh mana kita dan pasangan bisa merespon,” paparnya.

Jika kita sama-sama beradu argumen, “itu berarti kita belajar untuk menghadapi masalah dan mencari solusi dari masalah yang ada. Setidaknya, kita tidak menghindar dan lari dari masalah, tetapi menghadapi masalah bersama-sama dengan pasangan,” tambahnya.

Memperkuat hubungan

Dengan adu argumen, maka kita bisa memperkuat hubungan dengan pasangan. “Memang pasti ada yang namanya perbedaan pendapat dalam berelasi. Ketika perbedaan pendapat disikapi dengan baik dan sehat, serta kedua belah pihak sama-sama ingin saling mengerti dan berjuang mencari solusi, itu akan memperkuat hubungan,” katanya.

Melepaskan stres

Kita juga bisa membantu melepaskan stres. “Karena kalau tidak dibicarakan, itu akan menjadi beban yang menumpuk di kepala. Ketika beradu argumentasi dan menyampaikan pikiran, sikap, atau perasaan kita, itu akan membantu melepaskan stres yang ada di pikiran. Serta pasangan pasti akan memahami kita, karena tujuannya untuk saling memahami,” ungkapnya.

Bermanfaat untuk relasi

Selain itu, arti argumen yang sehat juga bermanfaat untuk relasi hubungan. Nantinya, “relasi akan semakin hangat semakin mesra. Karena akan saling mengetahui penyebab dari emosi negatif atau sikap-sikap yang tidak tepat dari pasangan. Yang nantinya akan membuat hubungan kita menjadi lebih mesra dengan pasangan,” tambahnya.

Menjadi semakin dewasa

Untuk diri sendiri, adu argumen bisa membuat kita semakin dewasa. “Dengan menyampaikan argumen, pasti kita memproses terlebih dahulu kalimat yang harus disampaikan, sehingga tidak menyinggung pasangan. Itu akan membuat kita belajar lebih dewasa,” tutur Nica.

“Dengan kita mendengarkan pasangan yang sedang berpendapat dan mengutarakan pikiran, maka akan membuat kita semakin dewasa karena belajar untuk mendengarkan. Serta kita tidak mendahulukan ego dan keinginan kita untuk menang, tetapi kita belajar mendengarkan kebutuhan dari pasangan,”imbuhnya.

Jadi sama-sama belajar menurunkan ego sekaligus menjadi pribadi yang lebih dewasa. “Karena kalau misalnya konflik hal-hal kecil saja bisa diatasi, maka ke depannya juga bisa sama-sama mengatasi konflik yang besar. Tetapi kalau dari masalah kecil saja sudah sulit, maka akan kesulitan juga berargumentasi untuk menyelesaikan masalah yang besar,” terangnya.

Bagaimana Cara Beradu Argumen yang Sehat dengan Pasangan?

Foto: www.freepik.com

Untuk tahu cara beradu argumen yang sehat dengan pasangan, “harus tahu dulu kunci dalam berargumen itu tujuannya apa. Apakah memang untuk membangun atau untuk menang? Kalau tujuan untuk membangun, maka itu adalah arti argumen yang sehat. Tetapi kalau tujuannya untuk memenangkan ego masing-masing, berarti itu adalah argumen yang tidak sehat,” jelasnya.

Ketahui tujuannya

Jadi yang pertama adalah mengetahui terlebih dahulu tujuannya apa. “Kalau kita tahu tujuannya memang untuk berargumentasi secara sehat, maka otomatis akan bisa mengkomunikasikan argumen dengan cara yang baik,” paparnya.

Sampaikan kalimat yang tepat

“Menyampaikannya pun menggunakan kalimat-kalimat yang membangun, meskipun sebenarnya kita sedang jengkel. Tetapi kalau tahu tujuannya untuk sesuatu yang baik dan membangun untuk pasangan,  maka bisa menyampaikannya dengan cara yang baik,” ujarnya.

Gunakan I message

Jadi, kalau dari awal memang tujuannya sama-sama ingin saling membangun, “kita pun akan belajar untuk saling mendengarkan satu sama lain. Ketika tiba giliran kita berbicara, maka sampaikan dengan cara yang baik dan menggunakan I message, ‘aku merasa begini, jadi aku berharapnya itu begini’,” ungkapnya.

Karena sering kali argumennya disampaikan dengan cara yang tidak tepat. “Sehingga pasangan merasa disalahkan, dipojokkan, dan disudutkan. Itu yang pada akhirnya bisa memicu amarah dan merasa tersinggung. Niatnya menyampaikan argumen dengan benar, tetapi pilihan katanya keliru atau kurang tepat, itu bisa jadi penyebab bertengkar,” katanya.

Cobalah untuk menggunakan kata aku, “bukan seperti ‘kamu nih begini, kamu nggak ngerti aku’, pasti akan langsung bertengkar itu. Jadi argumentasi, sampaikan apa yang kita rasakan dengan I message. Kalau pun kita tidak setuju atau tidak suka dengan pasangan, maka sampaikan saja ‘aku merasa nggak suka karena tadi aku mendapat perlakuan seperti ini’,” saran Nica.

Berikan saran

“Dan ketika kita komplain, jangan lupa untuk memberi saran juga ‘aku berharapnya ke depan kamu bisa blablabla’. Jadi jangan hanya menyampaikan perasaan saja, tetapi sampaikan juga sarannya dari kita, ingin diperlakukan seperti apa dan ingin dikasih ucapan seperti apa,” tuturnya.

Karena, argumen juga menjadi bentuk untuk mengekspresikan diri dan menyampaikan apa yang dibutuhkan oleh kita. “Ketika disampaikan kepada pasangan, maka ia akan tahu kita butuhnya apa. Namanya juga dalam satu hubungan, itu butuh adanya keterbukaan, pendapat kita seperti apa ya komunikasikan dengan pasangan,” lanjutnya.

Jangan pernah berharap pasangan bisa mengetahui tanpa kita beri informasi. “Karena pasti ada saja yang kurang. Pasalnya persepsi pasangan dan persepsi kita pasti akan berbeda. Itu bisa memengaruhi terjadinya mispersepsi. Nanti ujung-ujungnya miskomunikasi, ribut, dan bertengkar,” ungkap Psikolog ini.

Jadi cara yang sehat adalah “ketahui terlebih dahulu tujuan beradu argumen itu apa dan kita ketahui juga cara yang sehat seperti apa. Serta masing-masing harus punya kesadaran mengkomunikasikan apa yang jadi kebutuhan dan keinginan dengan cara dan pemilihan kata yang tepat dan positif,” ujarnya.

Sehingga nantinya “akan menjadi satu argumen sehat, yang akan membuat kita semakin mengerti pasangan kita seperti apa,” terangnya.

Adakah Hal yang Harus Dihindari Ketika sedang Beradu Argumen?

arti argumen
Foto: www.canva.com

Terdapat beberapa hal yang perlu dipastikan, yakni:

Asumsi

Pertama adalah asumsi yang kita miliki. “Jadi sebelum beradu argumen, pastikan pikiran kita netral dan objektif. Supaya ketika kita menyampaikan argumen itu terlontar kata-kata objektif yang sesuai fakta. Bukan asumsi atau opini,” sarannya.

Serta jangan terlalu menganggap atau mendengarkan opini atau asumsi yang beredar di sekitar. “Kita mendengarkan boleh, tetapi cukup tahu saja bahwa ada opini atau asumsi itu. Tetapi ketika kita beradu argumen ya, kita harus objektif dan netral, serta kita mendengarkan apa yang dibicarakan pasangan,” anjurnya.

“Kemudian ketika ada waktu dengan pasangan, maka baru tanyakan dengan tujuan murni bertanya bukan menuduh. Jangan sampai niatnya kita bertanya tetapi pasangan merasa tertuduh, misalnya tetangga bilang ‘ih kemarin aku lihat pasangan kamu sama si ini ya’, nah terus kita sudah berasumsi ‘kan? Ketika bersama pasangan, singkirkan dulu asumsi dan dengarkan penjelasannya,” ucap Nica.

Cocokkan terlebih dahulu data yang kita punya dan data yang pasangan punya. “Kalau sudah cocok baru kita bahas. Tetapi kalau data kita berbeda, cari jalan tengahnya seperti apa. Berusahalah untuk berpikir objektif dan netral, meski kita punya data. Bisa jadi data yang kita punya itu adalah asumsi atau opini orang lain, dan itu belum tentu benar,” katanya.

Meski kita sudah punya data, “tetap harus objektif dan netral. Hindari opini dan hal-hal yang belum tahu kebenarannya. Sehingga meminimalisir adu argumen yang berujung bertengkar,” pesannya.

Hindari kata yang berlebihan

Ketika beradu argumen, itu kita perlu menghindari untuk menggunakan kata-kata yang hiperbola dan berlebihan. “Karena nanti kesannya akan membesar-besarkan masalah. Misalnya dia baru keliru sekali, tetapi kita bilangnya ‘kamu tuh, selalu begitu’. Hal tersebut menjadi sesuatu yang berlebihan, padahal baru sekali melakukan kesalahan,” ungkapnya.

Hindari gunakan you message

Selanjutnya adalah gunakan I message. “Kita harus hindari kata seperti sedang menyalahkan pasangan. ‘kamu tuh selalu begitu, kamu tuh selalu merusak’ hindari menggunakan you message, dan gunakan I message,” sarannya.

Jangan mendengar untuk membalas

Kemudian, hindari mendengar untuk membalas. “Gunakan mendengar untuk memahami. Karena ketika mendengar untuk membalas, jadinya bertengkar dan kita tidak mengetahui kebutuhan atau keinginan pasangan. Tetapi malah kita cenderung ingin menjatuhkan pasangan,” ujarnya.

“Jadi ada empat hal, hindari asumsi pribadi dan sekitar, kemudian hindari menggunakan istilah yang berlebihan, hindari gunakan you message, dan hindari mendengar untuk membalas,” lanjutnya.

Bagaimana Ciri dari Argumen yang Diutarakan Pasangan Telah Berlebihan?

Foto: www.freepik.com

Ketika beradu argumen, biasanya akan ada kata-kata yang disampaikan telah berlebihan. Sehingga argumen pun tidak akan menghasilkan solusi bagi kedua belah pihak. Berikut tanda atau ciri-ciri  arti argumen yang berlebihan.

Tidak ingin bergantian

Tandanya yang pertama adalah dia tidak mau gantian. “Ketika beradu argumen, itu ada gilirannya kapan kita menyampaikan, dan ada gilirannya kapan kita mendengarkan. Kalau ia sudah berlebihan, terlebih argumen yang dia sampaikan itu tidak membangun, yaitu berarti sudah berlebihan. Dan bukan suatu adu argumen yang sehat,” katanya.

“Karena arti argumen yang sehat itu di mana pasangan ingin mendengarkan dan tidak hanya berbicara saja,” lanjutnya.

Tidak mau mengalah

Yang kedua, ia tidak mau mengalah, dalam artian membenarkan terus pendapatnya. “Ketika pasangannya berbicara hal yang benar, ia berpendapat dan merasa bahwa pasangannya tetap salah. Jadi ia tetap benar, dan tidak mau mengalah. Serta tidak mau mendengarkan pendapat orang lain,” paparnya.

Defensif dan ofensif

Serta, ia defensif dan juga ofensif. “Defensif ini berarti dia mempertahankan pendapatnya meski yang diutarakan adalah salah. Tetapi ia mati-matian bersikeras bahwa pendapatnya benar. Dan juga ofensif, yakni malah menyerang, menjatuhkan, dan menyalahkan orang lain. Jadi tidak mau mendengarkan kemudian balik menyalahkan. Itu tanda-tanda dia sudah berlebihan dalam berargumen,” lanjutnya.

Terjadi dalam jangka waktu panjang

Terakhir, terjadi di dalam jangka waktu yang panjang. “Biasanya adu argumen yang sehat kita menyampaikan pendapat atau pandangan terkait suatu masalah, dan diskusikan saling bertukar pendapat dengan pasangan. Ketika sudah bertemu solusinya, maka selesai dan tidak beradu argumen lagi,” tuturnya.

Tetapi “ketika ada pasangan yang beradu argumen secara lama, tidak membangun, dan kata-katanya tidak enak, dan melukai satu sama lain. Itu adu argumen yang tidak sehat dan cenderung tidak dewasa serta narsistik,” ujar Nica.

“Karena tidak mau mengalah, mendengarkan pasangan, dan cenderung menyalahkan pasangan, serta narsistik, ia merasa bahwa dirinya yang benar dan paling oke. Apa pun masalahnya dan solusinya, pendapatnya yang paling benar,” tambahnya.

“Atau bahkan, dari adu argumen itu tidak ketemu solusi sama sekali, dan malah berorientasi pada siapa yang menang dan salah. Itu bukanlah suatu argumen yang benar,” paparnya.

Bagaimana Jika Beradu Argumen Tidak Kunjung Selesai, Apa yang Harus Dilakukan?

arti argumen
Foto: www.rawpixel.com

Manfaat dari beradu argumen itu sendiri dapat membuat kita menjadi lebih dewasa. Namun, “jika tidak kunjung selesai dalam beradu argumen, berarti itu kita perlu koreksi diri lagi. Apa yang membuat adu argumen ini tidak selesai dan masalahnya itu apa. Apakah memang dari penyebabnya yang kompleks, atau dari cara kita dan pasangan yang kurang tepat dalam menghadapi suatu masalah,” tanyanya.

“Atau mungkin adu argumennya yang masih kurang sehat dan tepat. Sehingga masalah itu tidak selesai dan tetutup oleh ego kita masing-masing. Karena masih mempertahankan ego masing-masing, akhirnya tidak fokus dari penyelesaian masalah, dan ujung-ujungnya adu argumen terus,” jelasnya.

Belum lagi, kalau terdapat masalah yang lain dan masih bingung cara penyelesaiannya bagaimana. Makah hal tersebut akan menjadi satu beban tambahan.

“Cara untuk mengatasinya, kita harus belajar untuk mengalah dan mengendalikan ego masing-masing. Serta mungkin argumen itu tidak selesai-selesai karena diri kita sendiri. Sebenarnya masalahnya sederhana, tapi karena diri dan ego kita, itu bisa membuat adu argumen ini tidak selesai. Kesadaran akan diri kita itu sangat diperlukan dalam beradu argument,” sarannya.

Jangan sampai kita merasa diri ini baik-baik saja dan merasa benar, padahal sebenarnya justru menghambat penyelesaian dari satu masalah. “Solusi masalah itu tidak ketemu karena jangan-jangan diri kita ini penyebabnya,” pesannya.

Jadi harus belajar lagi, “diri kita ini seperti apa, dan lihat lagi penyebab dari argumen yang tidak kunjung selesai ini seperti apa. Apakah penyebabnya, proses,  dan cara yang kurang tepat, itu bisa kita lihat lagi,” imbuhnya.

Bagaimana Jika Pasangan Menunjukkan Sikap yang Berbeda Setelah Beradu Argumen?

Foto: www.xframe.io

Menurut Nica, memang menjadi hal yang wajar ketika misalnya setelah beradu argumen itu sikap pasangan bisa berbeda dengan kita. “Tetapi tidak perlu khawatir, apalagi saat beradu argumen dengan cara yang sehat. Karena ketika pasangan berperilaku berbeda, mungkin ia sedang menyesuaikan diri dengan hasil atau keputusan dari argumen bersama,” tuturnya.

Mungkin ia membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri atau dia masih memiliki perasaan yang tidak nyaman untuk menerima argumen bersama. “Ketika pasangan menunjukkan sikap yang berbeda, mungkin kita bisa memberikan waktu terlebih dahulu. Pasalnya ada pasangan yang kadang setelah beradu argumen atau bertengkar, terus dia bisa normal lagi,” ungkapnya.

“Tetapi ada juga pasangan yang habis beradu argumen itu saling diam selama satu hingga dua hari. Maka dilihat lagi kebiasaan dari pasangan itu seperti apa. Kalau memang masih dalam batas wajar, seperti kebiasaannya dia dan bisa kembali normal, mungkin dia butuh waktu untuk menyelesaikannya saja,” sarannya.

Tetapi kalau misal ada perubahan yang signifikan setelah beradu argumen, “mungkin perlu adanya waktu untuk kita membahas terkait perubahan ini. Bisa ditanyakan apa yang kamu pikirkan atau apa yang kamu rasakan ketika kita selesai adu argumen kemarin,” anjurnya.

“Apakah dari keputusan adu argumen tersebut ada sesuatu hal yang tidak nyaman dan mengganggu untuknya. Sehingga akhirnya ia menunjukkan perubahan sikap yang signifikan. Kuncinya adalah ada di komunikasi,” jelas Nica.

Bagaimana Cara Memperbaiki Hubungan yang Merenggang Setelah Beradu Argumen?

arti argumen
Foto: www.freepik.com

Sebenarnya kuncinya adalah komunikasi. “Tetapi mungkin sebagian orang tidak terbiasa untuk berkomunikasi dan menyampaikan perasaannya. Ada baiknya untuk kita memperbaiki hubungan yang merenggang, itu kita pahami dulu love language atau bahasa cinta dari pasangan,” paparnya.

“Kalau mungkin bahasa kasihnya itu dengan kata-kata, maka bisa berikan pujian yang membangun. Ketika beradu argumen mungkin kita memiliki sikap yang kurang tepat, maka minta maaf. Pasangan dengan love language-nya bahasa verbal, itu ia akan senang bisa luluh kembali,” saran Nica.

Sementara jika bahasa cintanya adalah dengan memberikan hadiah, berarti kita buatkan sesuatu dan jadikan hal tersebut menjadi obat untuk merekatkan hubungan kembali.

“Kuncinya memang di komunikasi. tetapi komunikasi itu bentuknya ‘kan banyak, ya. Kalau kita ingin lebih tepat untuk melekatkan hubungan yang renggang, maka cobalah belajar untuk bisa memberi kebutuhan pasangan sesuai dengan bahasa cintanya,” anjur Psikolog yang satu ini.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Jika ingin beradu argumen, “pastikan kita tahu tujuannya apa. Jangan sampai adu argumen ini membawa dampak yang negatif, membawa luka, atau menyakiti pasangan. Tentukan tujuan yang sehat dalam argumen itu, dan pastikan bahwa kita mencari solusi bukan untuk menyatakan siapa yang menang dan siapa yang salah, tetapi kita mencari solusi bersama,” ujar Nica.

Jadikan adu argumen itu sebagai sarana untuk bisa membangun kedekatan hubungan dengan pasangan. Bukan malah menjatuhkan. Tapi dengan adanya argumen, kita bisa semakin mengenal dan membangun pasangan. Serta kita juga dibangun oleh pasangan. Jangan lupa untuk saling terbuka, berkomunikasi, dan membangun satu sama lain,” sarannya.