Apakah Pura-Pura Bahagia Bisa Membuat Kita Akhirnya Bahagia?

pura-pura bahagia
Foto: www.stocksy.com

Kamu mungkin pernah mendengar pepatah emas ini: “Fake it until you make it“, atau bahkan menjadikannya sebagai motto hidup? Jika prinsip yang sama kita terapkan pada “pura-pura bahagia sampai benar-benar bahagia”—apakah kita akan bahagia? Maafkan terlalu kata bahagia di dalam paragraf ini, karena hei, siapa tahu dengan mengulang kata ‘bahagia’, kita benar-benar bisa bahagia.

Untuk mendapatkan pencerahan tentang apakah kebahagiaan bisa didapatkan dari sebuah awal yang “fake“, LIMONE menghubungi dr. Lidya Heryanto, SpKJ, seorang psikiater dari Eka Hospital BSD dan Pengurus Pusat PDSKJI.

Apakah “Pura-Pura Bahagia” Bisa Membuat Kita Akhirnya Bahagia?

pura-pura bahagia
Foto: www.freepik.com

“Pertanyaan ini agak ambigu, karena jawabannya bisa iya dan bisa juga tidak,” jelas Dokter Lidya.

“Bahagia, seperti halnya perasaan kita yang lain, bisa berubah-ubah dan sangat dipengaruhi oleh bagaimana pola pikir kita. Jadi, bagaimana pikiran kita memengaruhi perasaan, lalu perasaan kita memengaruhi respon tubuh. Dan kembali lagi, apa yang dialami tubuh kita memengaruhi pikiran dan perasaan hati, seperti suatu siklus,” imbuhnya.

Beliau memberikan contoh: saat kita berpikiran negatif, perasaan hati bisa jadi sedih atau kecewa, kemudian respon tubuh pegal dan sakit di bagian tertentu. Atau sebaliknya, saat tubuh kita mengalami sakit, pikiran kita jadi khawatir berlebihan sehingga perasaan kita jadi cemas.

Bagaimana dengan istilah ‘fake it until you make it‘— pura-pura bahagia sampai akhirnya bahagia?

“‘Fake it until you make it‘, bisa juga terjadi karena kebahagiaan itu adalah keputusan untuk masuk dalam siklus respon tubuh yang kemudian bisa jadi umpan balik mengaktifkan pikiran dan perasaan. Misalkan, saat kita sedang terluka dan sedih, kita mencoba untuk tersenyum dan membuka tangan lebar lalu memeluk tubuh kita sendiri, serta berkata, ‘Semuanya baik-baik saja, aku akan bahagia’. Maka neurotransmitter di otak kita akan teraktivasi mengeluarkan endorphin yang adalah hormon kebahagiaan,” jelasnya.

Apakah “Pura-Pura Bahagia” Bisa Memiliki Efek Negatif?

pura-pura bahagia
Foto: www.freepik.com

“Kita bisa saja pura-pura bahagia, namun segala sesuatu yang kita kerjakan atas dasar terpaksa dan tidak bahagia, tidak akan maksimal dan malah secara tidak sadar memunculkan respon yang tidak baik,” ujarnya.

Misalkan, wajah yang tidak berseri-seri meskipun memaksa untuk senyum. Mata yang tampak suram meskipun berusaha untuk tertawa. “Orang-orang di sekitar kita, khususnya orang-orang yang cukup dekat dengan kita dapat merasakannya jika kita tidak benar-benar tulus bahagia. Jadi, keputusan untuk bahagia bukan dipaksakan, namun diniatkan dalam diri,” tekannya.

Lebih dalam Dokter Lidya menerangkan bahwa dasar kebahagiaan setiap orang berbeda-beda, yakni tergantung pada persepsi dan bagaimana ia memaknai pentingnya sesuatu. Plus, kemampuannya menyingkapi suatu hal yang tidak sesuai harapan, dan mencoba melihat dari perspektif yang berbeda.

“Misalkan, seseorang merasa tidak bahagia karena bisnisnya harus tutup di tengah pandemi, kemudian ia mulai berpikiran negatif dan mengalami depresi. Namun ada juga yang langsung mencoba mengubah pola pikirnya dengan mengatakan bahwa ini adalah ujian, di mana jika ia lulus, maka ia akan jadi orang yang kuat. Kemudian ia mencari bantuan dan ketika menemukan harapan, kesedihannya berubah jadi kebahagiaan,” ujarnya memberi contoh.

Mengapa Seseorang Memilih untuk Seakan-akan Bahagia?

pura-pura bahagia
Foto: www.unsplash.com

Menurut Dokter Lidya, seseorang memilih untuk pura-pura bahagia lebih dikarenakan faktor eksternal (dari luar dirinya), yakni: dia tidak ingin mengecewakan orang yang dikasihinya.

“Misalkan orang tua yang pura-pura bahagia seakan tidak ada masalah di hadapan anak-anaknya, karena dengan begitu mereka bisa fokus bersekolah dan tetap semangat menjalani kehidupan sehari-hari. Kalau dari faktor internal, dari diri sendiri, harusnya lebih karena keputusan, karena kita tidak bisa membohongi diri sendiri,” katanya.

Beliau menekankan bahwa super penting bagi seseorang untuk juga merasakan perasaan lain, selain bahagia. Yakni, perasaan sedih, kecewa, takut. Mengapa?

“Karena itulah yang membuat emosi kita jadi lebih luas dan bervariasi. Kita bisa merasakan makna suatu kebahagiaan apabila kita pernah mengalami kesedihan sebelumnya. Begitupun kita dapat merasakan berharganya suatu ketenangan hati karena sebelumnya kita mengalami ketakutan yang luar biasa dahsyatnya,” terangnya.

Apa yang Menyebabkan Seseorang Tidak Bahagia?

Foto: www.freepik.com

Ini mungkin menjadi pertanyaan banyak orang: apa yang membuat seseorang tidak bahagia?

Menurut Dokter Lidya, ada tiga faktor yang berkaitan dengan hal ini, yakni faktor biologi, psikologi, dan sosial. Berikut penjelasannya.

Faktor Biologi

Biokimia di otak yang memengaruhi perasaan bahagia adalah kortisol, dopamine, adrenalin, dan endorphin. “Contohnya sederhananya: kortisol muncul saat kita mengalami stress, dopamine muncul saat kita menerima hadiah, adrenalin muncul saat ada tantangan, dan endorphin bisa muncul setelah kita berolahraga. Biokimia di otak kita juga tergantung faktor genetik,” jelasnya.

Bagaimana kadar hormon ini pada seseorang yang depresi, misalnya?

“Orang-orang yang sedang mengalami gangguan psikologis seperti depresi juga sulit merasakan kebahagiaan karena kadar serotonin dan dopamine yang sangat rendah di otaknya,” jawabnya.

Faktor Psikologi

Seandainya kamu butuh diingatkan: pola pikir atau persepsi seseorang mempengaruhi kebahagianmu. “Makanya kondisi yang sama terjadi pada dua orang berbeda hasilnya juga berbeda. Misalkan keduanya diberikan hadiah sepeda, yang satu merasa biasa saja, tapi yang lain sangat bahagia,” paparnya.

Faktor Sosial

Lingkungan yang penuh tekanan, dan sering mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, dan berada di komunitas yang tidak menyenangkan juga bisa membuat kita tidak bahagia. “Sebaliknya, teman-teman yang saling mendukung, punya keluarga yang lengkap dan perhatian bisa membuat kita bahagia,” katanya.

Bagaimana Agar Bisa Bahagia?

Foto: www.freepik.com

Jika “apa yang membuat seseorang tidak bahagia” adalah pertanyaan banyak orang, maka “bagaimana agar bisa bahagia” sepertinya adalah pertanyaan semua orang. Tidak heran jika ini menjadi subjek penelitian para ilmuwan dari tahun ke tahun untuk mencari formula kebahagiaan yang sesungguhnya.

Oh, oh, jika kamu berpikir bahwa status jomblo atau berpasangan adalah penentu kebahagiaan, ini salah kaprah. Penelitian baru ini menyatakan bahwa mereka yang lajang dan sudah menikah bisa memiliki level kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang sama. Studi dari Michigan State University ini menunjukkan bahwa meski menikah bisa membuat sejumlah orang bahagia, tapi kebahagiaan juga bisa didapatkan dari aspek lain dalam hidup. Seperti pertemanan, hobi, dan pekerjaan.

“Bahagia itu keputusan,” tukas Dokter Lidya. “Salah satunya dengan mengubah cara berpikir dari yang melihat segala sesuatunya dari pandangan negatif diganti dengan mensyukuri atas apa yang kita miliki saat ini,” imbuhnya.

Dan keputusan untuk bahagia ini mesti disertai dengan tindakan, seperti mengirimkan sinyal perintah ke otak kita untuk menciptakan siklus kebahagiaan.

Ada lagi cara yang perlu dilakukan agar bahagia?

“Segera keluar dari lingkungan yang membuatmu tidak bahagia. Dan tidak usah berpura-pura untuk bahagia, karena kebahagiaan itu kita yang pilih,” tegasnya.

Jadi, apa yang kamu pilih setelah membaca artikel: pura-pura atau bahagia?

Selanjutnya: Ini mengapa penting mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif.