“Selebgram Halu”: Mengapa Kita Tetap Mengikuti Mereka?

Foto: www.freepik.com

Jika kamu salah satu penghuni media sosial, kemungkinan pernah mengeluarkan ucapan ini: “ah, selebgram halu, nih.” Dan uniknya, kita tetap mem-follow mereka di Instagram, Twitter, atau media sosial lainnya. Ooops. Ada apa sebenarnya dengan “selebgram halu” sehingga kita selalu penasaran? Dan ada apa dengan kita? Berikut penjelasannya.

Definisi “Halu”

Foto: www.shutterstock.com

Sebelum membahas selebgram halu, kita bahas dulu tentang arti kata halu itu sendiri. Menurut Psikolog Christina Dumaria, M.Psi, halu singkatan dari halusinasi yang dalam ilmu psikologi diartikan sebagai hal-hal yang dirasakan oleh seseorang namun pada kenyataannya stimulusnya tidak ada.

“Misalnya seseorang merasa ada yang bisikin namun kenyataannya dia lagi sendirian, atau dia bilang dia lihat ada orang tinggi besar pada kenyataan nggak ada siapa-siapa.”

Psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi ini menuturkan bahwa tak hanya halusinasi, tapi juga delusional. “Nah ada lagi satu istilah yaitu delusional, yang artinya dia percaya terhadap satu hal tertentu tapi nyatanya salah. Misalnya seseorang meyakini dirinya memiliki kemampuan spesial seperti membaca pikiran manusia tapi sebenarnya tidak,” sambungnya. “Nah, halusinasi dan delusi ini adalah gangguan psikologis yang ada penyebabnya dan harus ditangani secara profesional.”

Ada Apa dengan “Selebgram Halu”?

Foto: www.shutterstock.com

Menurutnya, selebgram ini melakukan hal-hal tersebut guna mencari sensasi. “Kalau aku melihat ‘selebgram halu’ ini kebanyakan tidak menggambarkan halusinasi dan delusi yang dalam arti sebenarnya. Kadang-kadang mereka melakukan bragging itu lebih untuk cari sensasi dan meningkatkan pamor,” jelasnya.

“Mungkin kalau sekarang istilahnya social climber, ya. Misalnya ada selebgram yang ‘halu’ bilang bahwa ia memiliki toko perhiasan namun netizen berbondong-bondong membuktikan bahwa pernyataannya bohong. Terlepas benar atau tidak, paling tidak di-traffic sosial media ‘kan namanya udah seliweran, pamornya mau tidak mau naik deh,” lanjutnya.

Mengapa Kita Mengikuti Akun Instagram Mereka?

Foto: www.unsplash.com

Dengan mengikuti akun Instagram tertentu, “artinya kita menganggap apa yang diposting user pada akun tersebut pasti ada manfaatnya buat kita.”

Lebih lanjut Christina berpendapat manfaat yang dirasakan satu follower dengan follower lainnya pasti beda-beda ketika tetap tertarik dengan unggahan mereka. “Misalnya ketika kita follow salah satu artis tertentu, bisa saja kita tertarik karena ia seorang menyanyi namun follower yang lain mungkin ertarik karena fashion style dari penyanyi tersebut. Begitu pula dengan para follower yang mengikuti selebgram halu, pasti mereka tujuan yang berbeda-beda,” jelasnya.

“Ada yang follow selebgram halu karena menganggapnya seperti film komedi di dunia nyata. Namun ada juga yang mengikutinya karena merasa si selebgram halu tersebut menunjukkan gaya hidup yang diinginkan atau ya, hanya memenuhi hasrat sebagai ‘netizen’ untuk mem-bully si selebgram tersebut,” ungkap Christina memaparkan berbagai alasan mengikuti selebgram halu. “Coba deh, cek masing-masing kita, manfaat dari kita follow selebgram halu itu sebenernya untuk apa.”

Ada yang follow selebgram halu karena menganggapnya seperti film komedi di dunia nyata. Namun ada juga yang mengikutinya karena merasa si selebgram halu tersebut menunjukkan gaya hidup yang diinginkan atau ya, hanya memenuhi hasrat sebagai ‘netizen’ untuk mem-bully si selebgram tersebut.

Mengikuti atau tidak tergantung pribadi seseorang. “Menurut aku sih ya, balik lagi, setelah kita tanya diri sendiri tentang manfaatnya, kira-kira ada dampak positifnya dari kamu follow mereka? Kalau memang ada manfaatnya, ya ikutin terus juga nggak apa-apa. Tapi kalau justru dampak negatif yang kita rasakan, mungkin itu tandanya kamu harus stop untuk mengikuti mereka,” ujarnya.

Psikolog ini berpesan kita sebagai netizen harus cerdas. “Selebgram memang punya hak untuk posting apa pun di akunnya dia, nah tapi kita sebagai ‘netizen’ harus cerdas. Balik lagi, kalau kita follow tapi malah nggak ada dampak positifnya, ya untuk apa dilanjutin?”

Ini Lho, Dampak Mengikuti Selebgram Halu

Foto: www.unsplash.com

Menurutnya pastinya akun sosial media apa pun yang kita follow pasti akan berdampak pada kita. Sebuah platform e-commerce melakukan riset mengenai pengguna Instagram dan hasilnya adalah 85% dari pengguna Instagram mengatakan bahwa mereka menemukan hal baru dari laman Instagram.

“Artinya, Instagram menjadi sebuah platform yang sangat efektif untuk memperkenalkan gaya hidup atau hal apa pun yang baru. Bisa dibayangkan jika hal baru yang diperkenalkan adalah gaya hidup yang halu, atau dengan kata lain gaya hidup yang tidak sesuai dengan kenyataan dan tidak perlu dipertanggungjawabkan,” tegas Christina.

Kebanyakan para selebgram halu menunjukkan gaya hidup mewah tanpa menunjukkan usaha apa yang sudah dilakukan untuk mendapatkan kehidupan mewah tersebut.

Dampak negatif yang mungkin saja muncul antara lain: “Para follower belajar bahwa setiap tingkah laku yang kita lakukan tidak perlu selalu disertai dengan tanggungjawab. Misalnya seorang selebgram halu yang ketahuan telah melakukan kebohongan publik dengan mudahnya mengatakan bahwa hal tersebut hanya untuk kebutuhan shooting.”

Selain itu, ia mengatakan akan berdampak bagi standar hidup yang semakin tinggi tidak disertai dengan usaha yang sesuai. “Kebanyakan para selebgram halu menunjukkan gaya hidup mewah tanpa menunjukkan usaha apa yang sudah dilakukan untuk mendapatkan kehidupan mewah tersebut. Para follower kemudian mendapatkan proses belajar instan bahwa dengan usaha yang sedikit, bisa langsung menghasilkan gaya hidup mewah. Padahal mungkin para follower tidak tahu bahwa gaya hidup mewah yang ditunjukkan para selebgram adalah bohong atau halu,” cetusnya.

Ikuti Tips Berikut Bila Mengikutinya

Foto: www.shutterstock.com

Tentu jika kita tetap mau mengikuti postingan dari para selebgram halu, “kita harus bijak untuk melihat apakah postingannya benar atau halu. Kita harus lebih kritis dalam menanggapi setiap postingan yang ada dan tidak mudah untuk percaya,”  ucap Christina.

“Pastikan kita tidak terpengaruh oleh gaya hidup halu yang ditunjukkan oleh para selebgram. Karena namanya saja ‘halu’, maka tentu saja hal tersebut tidak realistis dan akan mempengaruhi kehidupan kita yang nyata,” sarannya.

Kita harus bijak untuk melihat apakah postingannya benar atau halu. Kita harus lebih kritis dalam menanggapi setiap postingan yang ada dan tidak mudah untuk percaya.

Tak lupa Christina berpesan: “Jika kita bisa menjadi seorang yang bijak dalam menyikapi sebuah postingan, maka kita bisa juga menggunakan postingan para selebgram halu untuk hal positif.”

“Tidak jarang para selebgram halu mengunggah hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui. Misalnya istilah-istilah baru atau isu-isu yang terjadi di lingkunga. Dari postingan mereka, kita bisa belajar hal-hal baru tersebut. Tapi ingat ya namanya juga selebgram, sehingga kita juga mesti menyaring apakah yang disampaikannya benar atau halu,” ungkapnya.

Ini Pengaruh Selebgram Halu terhadap Perilaku Seseorang

Foto: www.shutterstock.com

Christina memaparkan, salah satu isu yang berkembang dalam masa remaja adalah isu pencarian jati diri. Mereka mencoba hal-hal baru yang belum pernah dicoba sebelumnya dan menjadi sangat berani untuk menghadapi risiko yang tinggi. Ketika mereka melihat postingan para selebgram halu, tidak heran jika hal tersebut menjadi inspirasi mereka untuk kemudian mencoba apa yang dilakukan oleh para selebgram halu.

“Hal ini akan menimbulkan risiko yang sangat besar jika yang dicoba oleh para remaja tersebut merupakan hal yang membahayakan,” katanya.

Untuk pengaruhnya ada positif dan negatifnya, “gaya hidup yang ditunjukkan oleh para selebgram juga bisa jadi menjadi inspirasi para remaja. Ketika gaya hidup yang dipernalkan adalah gaya hidup yang tidak sehat, maka hal tersebut akan menjadi dampak yang negatif bagi para remaja,” terangnya. “Misalnya ketika seorang selebgram mempromosikan gaya hidup yang mudah untuk menghabiskan uang untuk berbelanja, para anak remaja bisa saja mengadopsi gaya hidup tersebut dan terbentuklah gaya hidup konsumtif.”

Menurutnya, “hal ini tidak hanya terjadi pada follower yang ada di masa remaja, namun bisa juga terjadi pada orang dewasa. Namun kemungkinan pada anak remaja menjadi lebih tinggi karena mereka belum memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan dampak positif dan baik dari setiap tingkah laku yang dilakukan,” paparnya mengakhiri.

Intinya, tidak ada larangan untuk mengikuti siapa pun, dengan catatan: tetaplah bijak dan jangan telan bulat-bulat unggahan mereka! Ibarat makan mi instan, saring dulu air rebusan pertama.