Kita Sangat Perlu Membicarakan Prenatal Depression

prenatal depression
Foto: www.gettyimages.com

Kamu mungkin sudah tahu tentang postnatal depression. Lalu, bagaimana dengan prenatal depression? Menurut American Congress of Obstetricians and Gynaecologists (ACOG), antara 14 sampai 23 persen wanita mengalami depresi selama hamil. Jadi, mengapa kita jarang membicarakan prenatal depression? Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kondisi ini, LIMONE meminta bantuan seorang psikolog untuk menjelaskan, mengenali dan bagaimana mengatasinya jika ini terjadi padamu.

Apa Sebenarnya Prenatal Depression?

prenatal depression
Foto: www.istockphoto.com

“Sekitar 15% wanita diketahui pernah mengalami depresi di beberapa titik selama masa hidup mereka dan lebih dominan pada masa kehamilan dan setelah melahirkan,” Putri Langka, seorang psikolog klinis dewasa dari Universitas Pancasila, menerangkan kepada LIMONE.

Jika postnatal depression terjadi sesudah kelahiran bayi, maka depresi saat kehamilan dikenal juga dengan istilah prenatal depression. Risiko dari prenatal depression meningkat secara signifikan ketika kehamilan berlangsung dan gejala secara klinis sering terjadi pada trimester pertengahan dan akhir. “Para ahli juga menemukan bahwa prenatal depression bisa berbentuk U-Shaped di mana pada trisemester pertama para Ibu dapat mengalami depresi. Lalu menurun pada trisemester kedua, kemudian naik lagi pada trisemester ketiga,” jelasnya.

“Dan ini merupakan masalah psikologis yang mempengaruhi kualitas hidup wanita di seluruh dunia selama periode perinatal,” tambahnya.

Lebih lanjut, Putri menuturkan bahwa ibu yang mengalami prenatal depression cenderung kurang dapat memperhatikan kebutuhannya sendiri. Alhasil, ibu berpotensi mengalami kekurangan nutrisi, kurang beristirahat dan akhirnya memiliki kondisi fisik yang kurang/tidak sehat. “Prenatal depression berdasarkan beberapa penelitian ditemukan dapat mempengaruhi terjadinya keguguran, kelahiran secara prematur, hambatan perkembangan dan permasalahan perilaku pada anak,  serta kesulitan dalam menyusui. Belum lagi yang perlu kita waspadai dari depresi adalah munculnya ide untuk bunuh diri,” ujarnya mengingatkan.

Dan prenatal depression tidak mengenal kategori. Alias, bisa terjadi pada siapa saja.

Satu hal yang mengkhawatirkan adalah, “seringkali baik calon Ibu maupun orang-orang di sekitarnya mengabaikan tanda-tanda ini. Menganggap bahwa gejala-gejala yang muncul adalah kewajaran selama kehamilan,” ujarnya.

Selain itu: “Beberapa wanita mungkin menganggap bahwa hal tersebut adalah sebuah kewajiban yang harus dilewati dari setiap Ibu. Beberapa ahli berpendapat, bahwa prenatal depression sering tidak dikenali karena dianggap sebagai efek dari perubahan hormon dan dianggap akan berlangsung sebentar. Mengabaikan gejala-gejala yang ada, dapat menyebabkan calon Ibu tidak mendapatkan perawatan yang tepat,” Putri mengingatkan.

Apa Hal ini Dialami oleh Setiap Ibu yang Hamil?

prenatal depression
Foto: www.rawpixel.com

Seperti yang disebutkan di atas, prenatal depression bisa terjadi pada siapa saja—tapi tidak selalu dialami oleh wanita yang sedang hamil.

“Namun demikian semua wanita hamil perlu mewaspadai risiko ini sehingga dapat melakukan antisipasinya,” tekannya.

Menurut Putri, kehamilan sendiri bisa menjadi pengalaman yang penuh tekanan bagi beberapa wanita. Sebut saja masalah morning sickness. Kekhawatiran finansial. Cemas atas kesehatan bayi. Belum lagi, perubahan bentuk tubuh juga bisa menyebabkan wanita menjadi kurang percaya diri. Plus, keterbatasan bergerak yang terkadang membuat perempuan frustrasi. “Semua hal ini bisa menyebabkan tekanan yang luar biasa pada wanita hamil,” ujarnya.

Namun demikian bukan berarti para wanita ini kemudian harus jatuh pada keadaan depresi. “Banyak wanita yang cukup menyadari kondisinya dan mencari bantuan sebelum keadaan menjadi bertambah parah. Putri mengutip sebuah penelitian yang dilakukan oleh Norma I Gavin pada 2005 yang menemukan bahwa prevalensi terjadinya prenatal depression adalah 5%-25% pada wanita yang hamil.

Putri juga menambahkan sebuah fakta yang menarik, yakni “prenatal depression juga bisa dialami oleh pria/suami.”

Dan faktor penyebab prenatal depression paling tinggi pada pria adalah kurangnya dukungan sosial yang bersifat afek/emosi dan depresi yang dialami oleh pasangannya. “Apabila kedua orangtua mengalami depresi maka situasi ini dikenal sebagai paternal depression. Prenatal depression pada Bapak juga dapat mempengaruhi permasalahan perilaku, terutama pada anak laki-laki,” terangnya.

Menariknya, risiko mengalami prenatal depression pada pria dan wanita akan semakian meningkat apabila merasa tidak puas terhadap perkawinannya dan memiliki sejarah pernah depresi.

Faktor Apa Saja yang Menyebabkan Prenatal Depression? Dan Apa Gejalanya?

prenatal depression
Foto: www.gettyimages.com

Ada banyak faktor yang memicu kondisi ini. Di antaranya: kecemasan ibu, tekanan hidup, riwayat depresi sebelumnya dan kurangnya dukungan sosial. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga, kehamilan yang tidak diinginkan, faktor hubungan suami-istri serta status sosial ekonomi yang rendah juga bisa menjadi penyebabnya.

Jika itu adalah penyebabnya, maka sekarang kita butuh mengenali gejala-gejala yang diperlihatkan saat seseorang mengalami prenatal depression. Putri menerangkan bahwa ada banyak gejala umum dari kondisi, termasuk mood swings, perasaan mudah teriritasi, kesedihan dan putus asa yang mendalam, mudah atau sering menangis. Tidak hanya itu, si ibu juga bisa seperti tidak memiliki energi atau motivasi, selera makan hilang atau ingin selalu makan, dan mengalami masalah tidur (terlalu sedikit atau terlalu banyak tidur). Kesulitan fokus atau membuat keputusan, mudah lupa, merasa bersalah dan tidak berguna, tidak semangat atau kehilangan interes, menjauhkan diri atau ingin menjauhkan diri dari teman dan keluarga.

Tidak hanya secara mental, ada pula gejala-gejala fisik, seperti sakit kepala, badan nyeri dan sakit, dan sakit perut yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan morning sickness.

Bagaimana Membedakan Prenatal Depression dengan Stres dan Depresi Lainnya?

Foto: www.rawpixel.com

Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh ibu sebelum, selama dan sesudah hamil. Lalu, bagaimana membedakannya dengan depresi atau rasa cemas karena akan memiliki momongan?

“Perbedaanya biasanya ada pada rentang waktu dan perubahan perilaku ibu,” Putri menjawab. Menurutnya, stres merupakan sebuah respon terhadap tekanan/tuntutan lingkungan—dan kehamilan memang bisa menjadi sebuah tuntutan/tekanan pada wanita. Dan hal ini bisa membuat seseorang merasa stres.

“Namun stres pada titik tertentu juga dibutuhkan oleh wanita hamil,” tambahnya.

Eh?

“Karena hal ini akan membuatnya lebih waspada untuk menjaga kesehatan dan menjaga kehamilan,” jelasnya.

Ah.

“Namun demikian stres biasanya akan teratasi begitu wanita beradaptasi dengan kehamilannya. Hal ini bisa dilakukan dengan menambah informasi melalui sumber yang tepat dan mengelola efek samping dari perubahan hormonal, morning sicknes dan lainnya. Apabila kemampuan adaptasi wanita tidak terlalu baik maka bisa jadi stresnya tidak menurun dan justru makin meningkat. Stres yang tidak terkelola dengan baik justru dapat meningkatkan risiko ibu mengalami  prenatal depression.,” paparnya.

Apa Saja yang Dilakukan untuk Mencegah dan Mengatasinya?

prenatal depression
Foto: www.rawpixel.com

Putri menyarankan agar pertama-tama ibu melakukan aktivitas yang bisa mencegah prenatal depression. Di antaranya kamu bisa mendatangi pusat kesehatan (rumah sakit, klinik ibu anak, puskesmas, dll) untuk mencari tahu informasi sebanyak mungkin tentang depresi pre- dan pasca kelahiran. “Ini membantu wanita hamil memahami risiko-risiko yang mungkin muncul selama kehamilan,” katanya.

Dia juga menambahkan bahwa pusat kesehatan juga biasanya dapat melakukan screening kepada wanita hamil dengan meminta mereka menjawab kuesioner singkat mengenai tingkat kecemasan maupun deperesi mereka. Alhasil, para wanita yang terdeteksi potensial mengalami stres maupun depresi bisa segera diberikan konseling.

Itu tindakan pencegahan. Sementara jika prenatal depression terjadi, ada beberapa pilihan intervensi yang dapat dilakukan untuk membantu wanita hamil mengatasi keadaan depresinya. Berikut di antaranya.

  • Konsumsi obat sesuai anjuran dokter. “Biasanya yang diresepkan disebut sebagai tricyclic antidepressants dan SSRIs (selective serotonin reuptake inhibitors),” jelasnya.
  • Terapi individual, yakni wanita hamil yang mengalam depresi dapat berkonsultasi dengan profesional, seperti konselor, psikolog maupun psikiater.
  • Terapi keluarga, yakni pada terapi ini anggota keluarga yang cukup signifikan dilibatkan. Baik itu suami, anak maupun kerabat lain yang berhubungan dekat dengan mereka.
  • Terapi kelompok, yakni terdapat beberapa wanita hamil saling berbagi pengalaman dan penghayatannya. “Diharapkan melalui kegiatan berbagi ini, para wanita hamil menyadari kalau mereka tidak sendirian., dan masih ada orang yang bersedia membantu,” jelasnya.
  • Membangun dukungan sosial. “Para wanita hamil sebaiknya terus menjaga ataupun memperluas hubungan dengan kerabat maupun teman-temannya, sehingga ia memiliki teman bercerita mengenai kesulitannya,” Putri mengingatkan.

Dan bagaimana jika prenatal depression tidak hilang, malah ditambah dengan postpartum depression?

“Berbagai terapi di atas dapat dilakukan dengan lebih intensif,” kata Putri. “Dan apabila keadaan tidak memungkinkan ibu untuk datang terapi, dapat dilakukan professionally based postpartum home visit. Sangat penting untuk membangun dukungan psikososial yang sangat suportif, di mana hal ini bisa menjadi intervensi yang paling efektif,” tegasnya.

Apa yang Bisa Terjadi Jika Prenatal Depression Tidak Diobati?

prenatal depression
Foto: www.gettyimages.com

Tidak sama seperti rasa lapar (sedikit) yang bisa kamu tahan bahkan menghilang karena keasyikan bekerja, mereka yang mengalami prenatal depression harus diberikan perawatan dan intervensi. Secepatnya.

“Jika tidak diberi perawatan/intervensi, maka wanita hamil yang mengalami depresi dapat semakin parah keadaannya. Apabila mereka tidak makan dengan teratur, tidak mendapatkan istirahat yang cukup, mereka berisiko mengalami keguguran, melahirkan bayi sebelum waktunya (premature) atau memiliki bayi yang terlalu kecil. Selain itu depresi sering mendorong seseorang untuk lari pada narkoba dan perilaku destruktif lainnya,” Putri menuturkan panjang lebar.

Dan jika depresi tidak ditangani selama masa kehamilan, maka dapat menyebabkan postpartum depression. Untuk kamu yang butuh disegarkan ingatannya, berikut beberapa poin yang mesti diingat tentang postpartum depression.

  • Mood disorder pasca melahirkan dapat diklasifikan dalam tiga tipe. Yakni, yang paling ringan postpartum blues dengan prevelansi 50% – 85%. Tipe menengah adalah post partum depression dengan prevelansi 10%-15%, dan yang paling berat adalah post partum psychosis dengan prevelansi 0,1%-0,2%. “Tipe ringan, menengah maupun berat ini dilihat dari gejala dan dampak dari munculnya gangguan, baik dampak fisik, psikologis maupun sosial. Postpartum depression ditandai dengan gejala yang lebih intens, yaitu mood depresif, kecemasan yang ekstrem, dan insomnia,” terangnya.
  • Berdasarkan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition), postpartum depression didefinisikan sebagai gangguan afektif atau gangguan mood dengan waktu kemunculan empat minggu pertama pasca melahirkan dan memiliki kriteria gangguan depresi mayor yang bertahan lebih dari dua minggu.
  • Depresi pasca melahirkan (postpartum depression) secara signifikan mempengaruhi kemampuan ibu untuk merawat anaknya. “DPM memiliki pengaruh negatif terhadap kemampuan mengasuh anak dan perkembangan anak.”

Apakah Prenatal Depression Akan Menghilang Setelah Melahirkan?

Foto: www.gettyimages.com

Putri menegaskan bahwa setiap kasus berbeda. “Karena itu kita tidak dapat memukul rata begitu saja penghayatan tiap-tiap wanita terhadap kehamilannya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prenatal-depression menjadi prediktor terbaik dari munculnya postpartum depression.  Oleh karena itu prenatal-depression perlu segera diatasi, dengan berbagai metode di atas,” tegasnya.

Menurutnya, apabila seorang wanita hamil memang telah terdiagnosis dengan prenatal.depression, maka besar kemungkinan, ia membutuhkan bantuan untuk mengatasi depresinya. “Depresi dengan penanganan yang cepat dan tepat dapat diobati, sehingga tidak menyebabkan masalah bagi ibu dan bayi,” Putri mengingatkan.

Selanjutnya: Ini cara membicarakan COVID-19 dengan anak.

podcast button