Reward Anak, Mana Yang Lebih Baik: Barang Atau Pujian? Ini Kata Psikolog

reward anak yang tepat dan mendidik
Foto: www.freepik.com

Saat si kecil memiliki prestasi atau melakukan sesuatu yang positif, apakah reward anak penting diberikan?

Sebagai orang tua mungkin kamu memiliki pertanyaan ini, tentang reward anak yang terbaik.

Oleh karenanya, LIMONE menghubungi Ristriarie Kusumaningrum, seorang psikolog anak dari Sekolah PantaraRuang Tumbuh dan Theraplay Indonesia. Mari membaca baik-baik penjelasannya.

Apa Sebenarnya Fungsi dan Tujuan Reward untuk Anak?

panduan memberikan reward kepada anak
Foto: www.canva.com

“Fungsi dan tujuan imbalan/hadiah atau reward sebenarnya salah satu cara untuk memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai target yang diinginkan,” jelas Ristriarie.

“Dalam hal pola asuh, sering kali reward diberikan oleh orang tua apabila anak berhasil atau bersedia menunjukkan target perilaku maupun prestasi akedemik yang diinginkan,” tambahnya.

Menurutnya, reward memang dapat membuat seseorang menjadi lebih termotivasi untuk mencapai target, misalnya untuk membuat anak patuh atau berperilaku positif.

Lebih lanjut psikolog ini menjelaskan bahwa konsep reward juga sebenarnya juga dapat mengajarkan anak untuk belajar sabar dan menunda keinginan, agar anak tahu konsep sebab-akibat yang sederhana.

Meski memang efek memberikan reward tentu saja bergantung dari perilaku atau target yang ingin diubah.

Dan memberikan reward, menurut Ristriarie adalah sesuatu yang sering dilakukan oleh banyak orang tua—dalam bentuk yang berbeda-beda, terkadang dalam bentuk hadiah barang atau uang.

“Sebenarnya makna dari reward itu beragam, tidak hanya berupa hadiah barang atau uang. Bisa juga berupa pujian, pelukan, usapan di pundak atau kepala, mendapatkan hak istimewa atau tambahan untuk untuk melakukan sesuatu yang disukai,” jelasnya.

Selain itu, reward juga bisa berupa mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke tempat yang memang sudah lama dinanti, serta masih banyak hal positif lain yang bisa diperoleh.

Apa Saja yang Harus Diperhatikan Saat Ingin Memberlakukan Sistem Reward kepada Anak?

panduan memberikan reward kepada anak
Foto: www.freepik.com

Tujuan memberlakukan sistem reward sepertinya sangat positif. Namun, apakah mungkin reward menjadi tidak efektif dan tidak berhasil?

“Seringkali reward yang diberikan menjadi kurang efekif apabila orang tua memberikannya melebihi dari kesepakatan yang telah ditentukan sebelumnya. Atau tidak tepat dengan target yang ingin dicapai,” jawabnya.

“Memberikan reward secara berlebihan, terutama dalam bentuk barang maupun uang, dapat memberikan efek yang kurang efektif. Hal ini yang mesti diingat oleh orang tua supaya reward menjadi efektif dan tepat,” tegasnya.

Menurutnya, beberapa orang tua masih belum konsisten dengan kesepakatan awal. Bahkan, sejumlah orang tua merasa anak tetap masih tetap perlu diberikan reward sesuai perjanjian, meskipun ia belum mencapai target yang diinginkan.

“Hanya karena orang tua tidak tega,” imbuhnya.

Saat anak gagal mencapai target, jika anak masih tetap ingin diberikan ‘reward‘, maka bisa diberikan dalam bentuk dorongan semangat, seperti usapan di pundak atau kepala.

Baca Juga :  Bagaimana Menghadapi Anak yang Suka Menangis?

Dan kegagalan ini merupakan sebuah proses yang penting buat anak. Pasalnya, “saat anak mengalami kegagalan, anak akan belajar untuk mengevaluasi kembali rencananya agar bisa mencapai target dan kembali berusaha,” jelasnya.

Oleh karena reward bisa menjadi pedang bermata dua, Ristriarie menggambarkan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum memberlakukan sistem reward kepada anak. Di antaranya:

  • target/perubahan yang hendak dicapai, 
  • lama batas waktu target, 
  • jenis reward yang akan diberikan,
  • karakter anak,
  • usia anak. “Memberikan reward untuk anak balita tentu berbeda dengan usia remaja,” terangnya.

Bagaimana Memilih Tipe Reward yang Tepat untuk Anak?

memberikan reward
Foto: www.rawpixel.com

Jawaban pendeknya: sesuai usia anak. Versi panjangnya adalah itu (usia), jenis target yang diinginkan dan kemampuan orang tua dalam memberikan reward.

“Usahakan reward yang hendak diberikan sudah sesuai dengan kesepakatan dan berhubungan dengan target yang hendak dicapai,” sarannya.

Misalnya, target yang hendak dicapai adalah anak mendapatkan nilai ulangan matematika di atas ketentuan rata-rata kelasnya. Maka, reward yang diberikan dapat berupa waktu anak bermain gawai bertambah selama 5 sampai 10 menit di akhir pekan, atau bisa juga berupa barang.

Saat memberikan reward, orang tua juga boleh memperhatikan unsur lain, seperti usaha dan ketekunannya dalam mencapai target tersebut.

Dan tentang jenis reward: lebih baik uang atau mainan? “Tergantung pada kasus atau target yang hendak dicapai serta rentang usia anak,” jawabnya.

Sebut saja target orang tua adalah anak bisa bermain rukun dengan adik atau kakaknya di rumah. “Maka harus dilihat terlebih dahulu, apa yang membuat mereka tidak bisa bermain rukun; apakah karena rebutan mainan atau tidak sabar bergantian memakai mainan,” paparnya.

Jika seperti itu, maka orang tua dapat berdiskusi dengan anak tentang kesepakatan apa yang bisa mereka peroleh apabila dalam jangka waktu tertentu mereka bisa bermain rukun dan alasannya.

“Setelah selesai batas waktunya, maka diskusikan lagi tentang hal tersebut. Apakah sudah tercapai tujuan dan efektivitasnya,” bebernya.

Kesimpulan

Foto: www.rawpixel.com

Jika kamu bertanya-tanya tentang adakah cara lain untuk mengajarkan anak berperilaku positif—jawabannya… ada.

Berikan pujian atas perilaku positif anak

“Misalnya dengan memperhatikan dan memuji perilaku atau hal positif ditunjukkan anak, memuji keberhasilan anak,” paparnya. Ini akan membantu anak merasa dirinya tetap diperhatikan.

Terapkan pola asuh yang demokratis dan konsisten

Pastinya, Ristriarie menekankan bahwa membentuk anak menjadi pribadi yang positif dan baik tentu saja memerlukan kerjasama antar orang tua dengan anggota keluarga lain.

“Menerapkan pola asuh yang memang demokratis sekaligus bisa tegas dalam menerapkan aturan akan membantu membentuk disiplin positif pada diri anak. Tegas dalam hal ini tentu artinya bersifat konsisten,” jelasnya.

Dengan kata lain, ayah dan ibu menerapkan satu suara dalam membuat suata aturan.

Berikan contoh perilaku yang positif

Kerjasama antar orang tua dan anggota keluarga lain juga terwujud dalam memberikan contoh perilaku yang positif. Hal ini akan membantu anak belajar secara langsung tentang perilaku positif dan konsep sebab-akibat.

Baca Juga :  Apakah Anak Kecanduan Game Online? Ini Cara Mendeteksinya Menurut Psikolog

Dengarkan anak

“Selanjutnya, bentuk koneksi atau kelekatan yang positif dengan anak, seperti bermain dan mendengarkan cerita anak,” tegasnya.