Apakah Kamu Sedang Membesarkan Seorang Anak yang Manja?

Foto: www.freepik.com

Apakah kamu sedang membesarkan seorang anak manja? Ah, kemungkinan besar sulit menjawab pertanyaan ini. Terlebih, jika masih rancu tentang definisi “manja”. LIMONE menghubungi Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi., psikolog anak dan keluarga Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Depok dan Pengurus Ikatan Psikolog Klinis Indonesia.

Apa yang Menyebabkan Anak Manja?

anak manja
Foto: www.freepik.com

Jika ada yang bertanya seberapa besar peran orangtua dalam membuat seorang anak manja, maka jawabannya: tidak kecil. Malah, “Peran orangtua dan keluarga besar sekali lho, untuk membuat seorang anak jadi manja. Ini karena manja sebetulnya adalah kebiasaan yang dibentuk sejak kecil,” terang Nina melalui email.

Menurutnya, anak menjadi manja bukan hanya karena terbiasa menerima barang-barang mahal. “Namun juga dari kebiasaan sehari-hari yang membuat anak kurang berusaha,” bebernya. Nina memberikan beberapa contoh pengasuhan yang memberikan kontribusi anak menjadi manja.

  • Anak menangis minta sesuatu, orangtua langsung memberikannya untuk membuat anak segera diam.
  • Anak kesulitan mengerjakan PR, lalu orangtua yang mengerjakan PR-nya.
  • Anak hanya disuruh belajar saja, sama sekali tidak punya tugas mengerjakan tugas rumah tangga.
  • Anak punya tugas, tapi orangtua mengerjakan semua kegiatannya.

Mengapa Orangtua Seringkali Mengikuti Kemauan Anak?

anak manja
Foto: www.freepik.com

Ada banyak alasan kenapa orangtua buru-buru mengikuti kemauan anak, beberapa di antaranya:

Alasan klasik: ‘sayang anak’.

“Namun sesungguhnya kalau orangtua punya pengetahuan dan keterampilan parenting yang baik, maka dia bisa menyayangi anaknya tanpa memanjakan. Artinya selain karena ‘sayang’, anak juga menjadi manja karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan menjadi ortu,” Nina menjelaskan.

Orangtua mengalami trauma saat kecil

Dasar lain adalah karena bisa jadi orangtua si anak sendiri mengalami trauma terhadap pola asuh yang diterimanya saat masih kecil. Contohnya, saat masih kanak-kanak, orangtua mengalami kekerasan dari orangtuanya sendiri. Atau, saat masih kecil, gerak-geriknya dibatasi terlalu ketat akibat keterbatasan ekonomi. “Ini bisa menyebabkan orangtua berusaha memanjakan anak agar tidak sampai mengalami kesulitan seperti yang dialaminya saat masih kecil,” Nina memberikan contoh.

Oh, bukan berarti kamu harus mengatakan ‘tidak’ untuk setiap permintaan si kecil. “Sesekali lebih longgar tentunya sangat tidak apa-apa,” tegasnya. “Yang tidak boleh adalah kalau terlalu sering. Seberapa sering disebut terlalu sering? Relatif, sih. Misalnya setiap kali ke mal (misalnya seminggu sekali), orangtua menyerah dan membelikan mainan—itu jadi terlalu sering. Tapi kalau membelikan mainannya karena anak sudah mendapat nilai rapor yang bagus, tentunya sesekali longgar nggak papa,” lanjutnya.

Untuk itu, dibutuhkan aturan yang jelas dan dijalani secara konsisten. “Contohnya kalau tentang beli mainan, misalnya aturannya adalah boleh dibelikan kalau anak sudah mendapat minimal 3 nilai di atas 8, atau boleh beli mainan jika harganya kurang dari sekian, dan lain-lain. Jika di luar kesepakatan, maka walaupun anak menangis, maka tidak dituruti,” sarannya.

Menurut Nina, sebagai orangtua biasanya kita sudah tahu apa yang disukai dan kebiasaan anak. “Jika rutinitasnya jelas, maka anak cenderung tidak terlalu rewel,” katanya.

“Maksudnya kita pasti tahu apa yang menyebabkan dia rewel, misalnya saat lapar atau mengantuk. Jadi jangan lakukan hal-hal yang rentan membuat anak rewel di jam-jam ia lapar dan mengantuk. Jika kita tahu bahwa rewelnya karena lapar atau mengantuk, maka segera bantu dia, misalnya dengan memberi makan atau dengan mengajaknya tidur. Namun kalau yakin bahwa rewelnya karena menarik perhatian atau sekadar manja, maka tetap tegakkan aturan yang berlaku.”

Bagaimana Jika Anak Terus Merengek, Menangis dan Menjerit di Tempat Umum?

anak manja
Foto: www.rawpixel.com

Ah, orangtua yang pernah mengalami hal ini (anak meraung-raung di tempat publik), pasti mengelus dada dan menghela nafas.

Untuk situasi ini, Nina menyarankan beberapa trik berikut:

Sebelum pergi, sebaiknya sepakati dulu beberapa aturan yang perlu.

Misalnya, ‘nanti tidak boleh minta belikan mainan’, atau ‘tidak boleh beli permen’, atau ‘jika kamu rewel, Mama akan langsung ajak kamu pulang’. “Aturannya boleh apa pun, disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Namun cari aturan yang mungkin ditegakkan oleh orangtua walaupun anak rewel.”

Jika anak masih terlalu kecil, bantu dia mengingat aturan dengan gambar.

Misalnya gambar permen, atau toko mainan. “Lalu orangtua bisa mengatakan bahwa gambar yang ditunjukkan orangtua adalah yang nanti tidak boleh dibeli atau dikunjungi. Jika anak rewel padahal sudah ada aturan yang jelas (misalnya menangis dan menjerit-jerit minta mainan padahal sudah dibilang tidak akan beli mainan), maka ingatkan anak tentang kesepakatan tadi. Jika kesepakatan dengan gambar, maka tinggal tunjukkan gambarnya dan sampaikan dengan jelas bahwa kamu tidak akan menuruti permintaannya. Jika perlu, maka lakukan apa yang disepakati jika anak rewel, misalnya segera pulang.”

Sebut saja rewelnya bukan karena dia meminta sesuatu, tapi karena lapar, mengantuk atau bosan—maka orangtua perlu membantu agar kebutuhan tersebut bisa terpenuhi.

Apa Tanda-Tanda Anak Sudah Menjadi Pribadi yang Manja?

Foto: www.freepik.com

Seandainya kamu penasaran, pribadi manja bisa memberikan dampak yang negatif. Dan tidak hanya bagi anak, tapi juga orang-orang di sekelilingnya. Berikut ini beberapa efek ketika anak manja:

  • Individu cenderung tidak mencapai puncak prestasinya karena mudah menyerah.
  • Jika tak memiliki lingkungan yang membantu (misalnya karena orangtua meninggal), maka ia mengalami kesulitan untuk bertahan hidup, misalnya jadi kesulitan mendapat pekerjaan dan penghasilan.
  • Individu cenderung lebih banyak mengalami kegagalan dalam hidupnya.
  • Berpotensi menjadi individu depresi.
  • Lingkungan sekitar menjadi repot karena terus membantu.
  • Ada banyak orangtua yang cemas jika berjauhan dengan anak; takut dia tidak bisa melakukan sesuatu. “Kecemasan tersebut terkadang berdampak pada fisik misalnya membuat orangtua menjadi sulit tidur atau bahkan darah tinggi,” jelas Nina.
  • Jika di dalam keluarga ada lebih dari satu anak, maka bisa menimbulkan kecemburuan bagi anak-anak (atau individu dewasa) lainnya.

Itulah sebabnya penting untuk mengetahui apakah kamu sedang membesarkan seorang anak yang manja. Nina menjelaskan bahwa tanda-tanda anak manja bisa dicek dari perilaku sehari-harinya. Misalkan saja, jika saat meminta sesuatu, anak selalu berteriak-teriak. Atau, dia menangis histeris karena sesuatu hal yang biasa saja (sebut saja mainannya hilang). Atau, jika di terlalu cepat menyerah, super duper pemilih (misalnya makanan) dan jika pilihan yang diinginkan tidak tersedia langsung mengamuk—selamat, sepertinya anakmu termasuk anak manja. Dan jika dia ingin diladeni 24/7 hari, itu juga pertanda anak memiliki kepribadian manja.

“Jika sudah terlalu banyak melakukan perilaku-perilaku di atas, dan kamu sudah mencoba melakukan perubahan namun sangat sulit berubah, sepertinya si kecil sudah menjadi pribadi yang manja,” tegas Nina.

Adakah Cara Menolong Anak Menjadi Pribadi yang Independen?

Foto: www.freepik.com

Tenang, meski sepertinya anakmu sudah memperlihatkan beberapa gejala di atas, Nina menegaskan bahwa bukan berarti akhir dunia. “Bisa kok mengubah seseorang supaya tidak manja lagi,” ujarnya. “Dan perubahan lebih mudah dilakukan jika individu masih di usia anak dibanding usia remaja, dan lebih mudah di remaja dibanding usia dewasa.”

Jadi, jangan putus asa.

Ini yang perlu kamu lakukan:

  • Tentukan aturan-aturan apa saja yang akan ditetapkan di rumah. “Orangtua perlu bersepakat untuk aturan-aturan tersebut, dan juga perlu memikirkan langkah-langkah apa yang bisa dilakukan jika anak berusaha melanggar—karena anak pasti akan berusaha melanggar,” sarannya.
  • Tegakkan aturan. Maksudnya di sini adalah: “Bukan berarti bersikap kaku. Boleh lembut tapi tegas, dan yang namanya tegas bukan galak. Yang penting tidak melanggar aturan,” tegasnya. Tips agar lancar menegakkan aturan: “orangtua perlu menyampaikan dulu kepada anak tentang aturannya dan sejak kapan aturan tersebut akan diberlakukan. Jadi, ketika anak sudah paham bahwa akan ada perubahan, dia lebih berusaha menurutinya.”

Satu hal yang perlu diingat saat membuat peraturan ini: ada kesepakatan antara anak dan orangtua—sebelum dijalankan. “Bukan setelah dijalankan lalu terus-terusan dinegosiasi oleh anak,” ujarnya. Dan seandainya segala hal di atas sudah kamu dan pasanganmu lakukan tapi tetap saja sulit membantu anak, “sebaiknya orangtua berkonsultasi kepada psikolog supaya bisa lebih melatih diri dalam mengasuh anak,” anjur Nina.

Selanjutnya: Apakah kamu kesulitan menerapkan time-out di rumah? Itu mungkin karena kesalahan ini.

podcast button