Ini Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Memberlakukan Time-Out

cara menerapkan time-out
Foto: www.istockphoto.com

Skenario ideal dari time-out: anak duduk diam di sudut selama lima menit, merenungi perbuatannya dengan tenang dan akhirnya menyadari kesalahannya. Persis seperti adegan di reality show, Supernanny. Awww. Akan tetapi, dalam kehidupan nyata, banyak orangtua mengakui yang terjadi adalah berbeda 180 derajat dari skenario ideal itu. Alih-alih tenang, si kecil malah meraung-raung sehingga kondisi semakin intens. Bagaimana sebenarnya cara menerapkan time-out dan mendapatkan hasil yang efektif? LIMONE menghubungi seorang psikolog untuk memberikan pencerahan kepada semua orangtua yang bisa membaca artikel ini dan sedang bingung tentang time-out.

Apa Sebenarnya Manfaat Time-Out?

cara menerapkan time-out
Foto: www.gettyimages.com

Sebelumnya, mari menyegarkan ingatan tentang definisi time-out.

TIme-out adalah sebuah metode disiplin yang bertujuan untuk menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan, dengan cara memisahkan anak dari lingkungan tempat perilaku tidak diinginkan itu dilakukan. Harapannya, anak tidak akan mendapatkan reinforcement atau penguatan terhadap perilaku tersebut. Dengan demikian, diharapkan perilaku tersebut tidak diulangi lagi oleh anak,” jelas Rahma Paramita, M.Psi, Psikolog anak dan keluarga dari Pion Clinician, Jakarta Selatan, kepada LIMONE melalui email.

Perilaku yang tidak diinginkan itu bisa berupa mengucapkan kata-kata buruk. Sebut saja si kecil mengucapkan sumpah serapah, dan saat mendengarnya, teman-temannya ‘tertawa’. Alhasil, dia akan mengulangi hal tersebut karena dianggap lucu. “Time-out bertujuan untuk menghilangkan penguat (respons tertawa) oleh teman-temannya sehingga ia tidak akan mengulangi perilaku yang tidak diinginkan tersebut,” jelasnya.

Apakah Time-Out Memiliki Efek Samping?

cara menerapkan time-out
Foto: www.gettyimages.com

Sedikit sejarah, teknik time-out pertama kai dikembangkan pada 1960an sebagai alternatif yang lebih manusiawi dibandingkan bentuk hukuman lain yang lebih kejam. Sebelum Arthur Staats, Ph.D., (pensiunan profesor psikologi dari Universitas Hawaii di Manoa) mengembangkan konsep ini, para orangtua memukul anak sebagai bentuk hukuman.

Dan sejak itu sampai sekarang, metode ini mengundang banyak perdebatan.

Menurut Rahma, “Time-out sering disalahartikan sebagai cara menghukum anak ketika berperilaku buruk. Beberapa orangtua mengartikan bahwa semakin besar kesalahan yang dilakukan oleh anak, maka semakin lama waktu time-out yang diberikan.”

Alih-alih memetik hasil, Rahma menegaskan: “Dengan penggunaan yang seperti itu, biasanya anak tidak belajar dari kesalahan yang dilakukan dan tetap mengulanginya lagi.”

Apa yang Sebaiknya Orangtua Ketahui Sebelum Melakukan Time-Out?

Foto: www.gettyimages.com

Sama seperti sebelum menggunakan produk perawatan kulit tertentu, kamu juga sebaiknya mengetahui dan memahami tujuan time-out. Bahwa, yah itu tadi: time-out digunakan untuk mengontrol perilaku yang pada saat yang bersamaan orangtua mengajarkan anak perilaku yang diinginkan.

“Artinya time-out tidak dapat digunakan secara terpisah dari metode disiplin lainnya, seperti memberikan konsekuensi dan encouragement (penguatan) atas perilaku anak,” terang Rahma. Ini artinya, “mengajarkan anak untuk refleksi atas kesalahannya juga diperlukan. Begitu juga cara untuk meregulasi emosi mereka.”

Apa Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Memberlakukan Time-Out?

Foto: www.istockphoto.com

Ini kesalahan yang sering kali dilakukan saat menerapkan time-out:

Terlalu sering dilakukan

Dan seandainya semakin berlalunya waktu, sistem time-out yang kamu berlakukan di rumah, semakin tidak efektif—itu mungkin karena terlalu sering diterapkan. “Perlu diingat karena ini hanya salah satu alat, maka sebaiknya tidak digunakan secara terus menerus,” saran Rahma. Time-out bukanlah taktik untuk membuat anak berpikir tentang kesalahan mereka, melainkan strategi agar situasi tidak menjadi lebih buruk.

“Dari hasil riset diketahui bahwa time-out dapat bekerja dengan baik pada 1-2 menit pertama. Lebih dari itu, maka anak hanya melihatnya sebagai hukuman. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pada saat melakukan time-out adalah semakin besar kesalahan anak, semakin lama time-out yang diberikan orangtua.”

Menunggu dan memberikan jeda antara perbuatan dan time-out

Jangan menunggu sampai besok. “Time-out juga sebaiknya dilakukan sesegera mungkin ketika perilaku buruk ditunjukan oleh anak. Semakin panjang jeda waktu antara perilaku buruk dengan waktu time-out maka akan menjadi tidak efektif,” jelas Rahma.

Memberikan perhatian saat time-out

Rahma menerangkan bahwa time-out tidak harus berarti si kecil harus berdiri di pojok ruangan atau duduk di kursi time-out, posisi yang bisa membuatnya mendapatkan perhatian dari anggota keluarga lain. “Time-out bertujuan untuk menghilangkan ‘perhatian’ atau hal-hal yang dapat menguatkan anak untuk mengulangi perilaku buruknya. Semacam ‘pemutus’ dari perilaku buruk dengan ‘reinforcement-nya’. Yang lebih penting adalah menghentikan anak dari perilaku buruknya, dan memastikan ia tidak mendapatkan ‘perhatian’ (yang dapat menjadi penguat) dari perilaku buruk tersebut.”

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Setelah Time-Out Selesai?

cara menerapkan time-out
Foto: www.gettyimages.com

Akhirnya, time-out selesai. Lalu, apa berikutnya?

“Setelah time-out dilakukan, sebaiknya orangtua bisa memberikan apresiasi apabila anak sudah melakukannya dengan baik. Misalnya dengan mengucapkan, ‘terima kasih karena kamu sudah duduk tenang selama time-out tadi.'”

Selanjutnya, setelah dia tenang, terangkan kepada anak mengapa tindakan yang dilakukan sebelumnya salah. Misalnya, jika sebelum time-out anak sedang bermain, persilakan anak untuk kembali bermain. “Lalu coba contohkan cara bermain balok yang benar, sehingga mainannya tidak rusak dan hilang.”

Seperti Apakah Metode Disiplin yang Efektif?

menerapkan time-out
Foto: www.gettyimages.com

Rahma kembali menegaskan bahwa time-out adalah satu bagian dari metode disiplin. “Metode disiplin yang dapat digunakan adalah disiplin positif di mana orangtua mengomunikasikan dengan jelas perilaku yang diharapkan dan tidak diharapkan. Begitu pula dengan konsekuensi untuk perilaku baik dan buruk.”

Menurutnya cara menerapkan time-out adalah orangtua pertama-tama sebaiknya “menentukan masalah perilaku yang ingin diselesaikan. Setelah itu menentukan perilaku yang diharapkan seperti apa.”

Ambil contoh, salah satu perilaku negatif yang ingin diatasi adalah kebiasaan tidak membereskan mainan setelah bermain. Artinya, orangtua berharap anak bisa membereskan mainannya sendiri.

Setelah mengidentifikasi masalah itu, “berikan konsekuensi apabila anak tidak mau membereskan mainan. Misalnya, dengan mengatakan, ‘apabila tidak dibereskan, maka mainan itu dianggap sudah tidak mau dimainkan lagi oleh anak, sehingga bisa diberikan kepada orang lain.'”

Tidak hanya menjelaskan konsekuensi, tapi berikan juga “encouragement apabila anak mau membereskan mainan. Misalnya orangtua bisa memeluk anak dan mengatakan terima kasih karena sudah membereskan mainanmu sendiri,” saran Rahma.

Nah, apa yang sebaiknya dilakukan ketika si anak menolak dan marah ketika diminta membereskan mainan? Di sinilah time-out bisa diberikan. “Setelah itu kembali minta anak membereskan mainan, sehingga perilaku yang diinginkan tetap diajarkan,” Rahma mengingatkan.

Itu skenario pertama: anak diminta time-out dan melakukannya. Ini skenario kedua: bagaimana jika dia menolak melakukan time-out?

“Gunakan cara lain untuk menghentikan anak dari perilaku tidak diinginkan. Misalnya, dengan meminta anak berhenti dan menarik nafas, memegang tangan anak, atau hal lain yang dapat menghentikan anak dari perilaku yang tidak diinginkan,” anjur Rahma.

Itu cara menerapkan time-out agar efektif. Dan ini penjelasan dan bantuan yang bisa kamu berikan kepada anak jika dia menunjukkan tanda-tanda seorang pembully.