Tepatkah Membedakan Mainan Untuk Anak Perempuan dan Laki-laki?

mainan anak perempuan
Foto: www.xframe.io

Mainan memang menjadi hal yang tidak bisa terlepas pada anak-anak. Terlebih ketika ada banyak permainan yang bisa bermanfaat untuk perkembangan si kecil.  Sebagian besar orang tua akan memberikan boneka untuk mainan anak perempuan dan memberikan mobil-mobilan pada anak laki-laki. Namun pertanyaannya, bolehkah membedakan mainan berdasarkan gender anak?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, LIMONE telah menghubungi Firesta Farizal, M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis Anak dan Direktur di Klinik Psikologi Mentari Anakku untuk membahas tentang fungsi mainan dan bagaimana cara memilih mainan yang tepat untuk anak.

Apakah Fungsi Mainan bagi Anak?

mainan anak perempuan
Foto: www.xframe.io

Mainan itu sebetulnya media untuk anak mengekspresikan dirinya, mendapatkan kesenangan, dan belajar sesuatu. Jadi sebetulnya mainan itu adalah media atau tools, alat untuk bisa mencapai apa yang mau dicapai dari mainan tersebut. Kebanyakan mainan anak pastinya ada unsur edukasi, tinggal di aspek apa dan di area yang mana fungsi edukasinya,” jelas Firesta.

Akan tetapi selain adanya fungsi edukasi, maka tentu saja harus ada fungsi yang menyenangkan. Sehingga anak akan bahagia dan enjoy ketika melakukan sesuatu dengan mainan tersebut.

Adakah Identitas Gender pada Mainan Anak?

Foto: www.rawpixel.com

Menurut Firesta,  tidak ada aturan yang menetapkan bahwa mainan anak perempuan harus seperti apa dan anak laki-laki harus main apa.

“Karena biasanya kalau bermain itu sebenarnya menjadi sebuah bentuk mengekspresikan diri, berimajinasi, dan berpura-pura. Jadi nggak ada aturannya. Boleh saja anak laki-laki yang membutuhkan pretend play pakai boneka misalnya. Atau anak perempuan sedang mengimajinasikan terbang naik pesawat menggunakan mainan,” paparnya.

Mungkin sebagian besar anak laki-laki hanya memainkan mainan yang bersifat maskulin, seperti mobil atau robot. Sementara anak perempuan cenderung memainkan boneka atau masak-masakan. Lantas, darimana hal ini bisa terbentuk?

“Anak akan bermain mainan tersebut ketika disediakan oleh orang tua dan difasilitasi untuk memainkan mainan tersebut. Kelihatannya anak laki-laki cenderung main-mainan yang maskulin dan anak perempuan main mainan yang feminin, padahal ya karena dibentuk seperti itu,” jawabnya.

Pada dasarnya ketika anak laki-laki atau perempuan diminta memasuki ruangan yang di dalamnya terdapat beragam mainan. “Kita bisa melihat bahwa tidak ada aturan gender. Anak laki-laki akan antusias untuk memainkan mobil, tetapi mungkin dia juga akan antusias mendatangi mainan kompor untuk main masak-masakan,” ungkapnya

Begitu pun dengan anak perempuan, mungkin ia akan mendatangi mainan masak-masakan dan ia juga bisa senang berimajinasi ketika main dengan dinosaurus.

“Jadi sebetulnya yang membuat adanya mainan anak perempuan atau laki-laki adalah budaya. Atau misalnya masyarakat kita yang punya mindset bahwa memang mainan harusnya dibeda-bedakan sesuai dengan gendernya,” ujar Firesta.

Apakah Perlu Membedakan Mainan Anak Perempuan dan Laki-laki?

mainan anak perempuan
Foto: www.rawpixel.com

Firesta menurutkan bahwa menurutnya hal tersebut tidak perlu dilakukan.

“Dan berdasarkan penelitian juga harusnya anak bebas untuk memilih mainan apa. Karena pada akhirnya nanti semakin dia besar, maka dia akan memilih sesuai dengan minatnya. Sesuai juga dengan preferensi gendernya dia sendiri. Jadi kita tidak perlu terlalu khawatir sebetulnya dalam memberikan mainan kepada anak,” ucapnya.

Secara natural, anak seharusnya bebas untuk memainkan mainan apa pun. Terlebih, buah hati belum paham mengapa misalnya anak laki-laki tidak diperbolehkan main masak-masakan. Sementara di kenyataannya, banyak ditemui sebagian koki hebat itu laki-laki.

“Misalnya anak laki-laki nggak boleh main boneka, padahal sebetulnya ketika nanti misalnya dia menjadi seorang kakak atau jadi ayah, kita ingin dia lebih bisa mengasuh anak atau bayi. Jadi menurut saya sebetulnya tidak perlu kita beda-bedakan sesuai dengan gendernya. Tidak perlu dibatasi, main ya main saja, karena aktivitas bebas dari anak-anak adalah bermain. Jadi kita ikuti saja anaknya sedang tertarik dengan apa dan senangnya main apa,” kata Psikolog Anak ini.

Karena seiring dengan berjalannya usia, maka konsep tentang identitas gendernya akan terbentuk. Anak akan membentuk kepribadiannya sendiri sesuai dengan identitas gendernya, dan tentunya tidak terkait dengan mainannya.

“Seperti ada ungkapan anak laki-laki yang suka main masak-masakan nanti akan seperti perempuan, itu tidak benar. Tidak se-simpel itu dinamikanya bisa terjadi. Jadi tidak perlu terlalu khawatir,” jelas Firesta.

Apakah Membatasi Jenis Mainan akan Berdampak bagi Kehidupan Anak?

Foto: www.pexels.com

Ketika kita membatasi mainan anak, hal pertama yang terjadi adalah mereka akan kebingungan. “Kenapa aku nggak boleh main ini, kenapa anak laki-laki nggak boleh main masak-masakan misalnya begitu. Sehingga anak akan merasa bingung,” jawabnya.

Lalu yang kedua, ketika anak bingung dan penasaran maka hal ini justru membuatnya semakin ingin memainkan mainan tersebut. “Jadi ya, tidak apa-apa, kita kasih saja kesempatannya untuk bermain,” saran Firesta.

Kemudian, terdapat kemungkinan anak sudah mulai mengkotak-kotakkan sesuatu sejak kecil. “Seperti ‘Oh, ini mainan anak laki-laki memang harus seperti berantem-beranteman atau kalau main boneka-bonekaan hanya perempuan yang boleh’. Jadi sudah ada kotak-kotak seperti itu, yang padahal seharusnya tidak seperti itu,” ujarnya.

Bagaimana Cara Memilih Mainan yang Tepat untuk Anak?

Foto: www.unsplash.com

Ketika memilih mainan untuk anak, pertimbangannya bukan lah terletak pada gender, melainkan usia dari buah hati. “Misalnya kalau kita mau stimulasi perkembangannya lewat mainan, apakah mainan tersebut sesuai dengan kebutuhan perkembangannya saat ini, terlalu susah, atau justru terlalu mudah untuk anak, seperti itu,” paparnya.

Kemudian langkah selanjutnya adakah perhatikan apakah sudah muncul minat anak terhadap hal tersebut. “Apakah dia suka dan senang dengan permainan ini, apakah menyenangkan atau tidak, kira-kira seperti itu,” lanjutnya.

Kedua hal tersebut merupakan yang paling utama. Sementara langkah ketiga adalah orang tua perlu mengetahui manfaat dari mainan yang dipilih, baik itu dampak yang akan ditimbulkan, stimulasi yang didapatkan, serta aspek perkembangan mana yang akan membantu anak menjadi lebih berkembang.

Usia 0-1 tahun

Menurut Firesta, secara umum anak usia 0-1 tahun itu orang tua ingin memberikan stimulasi pada semua indra bayi. “Biasanya (memilih) mainan yang colorful dan visualnya menarik. Lalu ada suaranya, jadi secara auditori juga menarik. Kemudian misalnya bisa ia pegang, bisa diputar atau dilempar, karena ia sedang mempelajari perabaannya dan menggerakan anggota tubuhnya,” sarannya.

Usia 2-3 tahun

Untuk anak usia 2-3 tahun, sudah bisa diberikan mainan yang lebih kompleks. Misalnya memiliki banyak warna, atau mengumpulkan balok yang kuning atau sesuai warnanya. “Atau misalnya sudah bisa mulai mengenali puzzle yang sederhana,” tuturnya.

Usia 4-5 tahun

Pada anak usia 4-5 tahun berikan puzzle yang lebih kompleks. Akan tetapi, hal ini tergantung dengan perkembangan dan kemampuan dari setiap anak. “Sudah mulai menyusun balok, lego, atau buat DIY mainan. Karena anak usia 5 tahun sedang gemar-gemarnya membuat kreasi seperti itu,” ujar Firesta.

“Jadi tergantung dari usia anaknya. Serta sebaiknya orang tua perlu mengetahui terlebih dahulu, di usia tersebut apa kemampuan yang harus dikembangkan pada anak. Kemudian aktivitasnya bisa kita kaitkan dengan aspek perkembangan. Misalnya tiga tahun sudah mengenal warna, berarti kita mencari mainan yang berwarna lalu kita kenalkan warna-warna tersebut,” anjurnya.

Selain itu, di usia lima tahun misalnya sudah harus main pretend play atau main pura-pura, maka orang tua perlu mencari mainan yang dapat mendukung hal tersebut. Seperti peralatan dokter-dokteran atau masak-masakan.

Selain bergantung pada usia, hal ini juga perlu berkaitan dengan ketertarikan anak, perkembangan yang sudah dicapai oleh anak, apa yang belum tercapai, dan apa yang harus distimulasi.

Bagaimana Jika Anak Tidak Menyukai Mainan yang Diberikan?

mainan anak perempuan
Foto: www.freepik.com

Sebelum memutuskan untuk membeli mainan, penting untuk orang tua mengenali anaknya sendiri dan mengetahui dengan benar bagaimana perkembangannya ketika di usia tersebut. Serta, apa yang sedang dibutuhkan oleh buah hati. Kemudian tahu minat anak dan apa yang membuatnya tertarik.

“Sebagai orang tua, kita juga tidak boleh langsung menyimpulkan ‘anaknya tidak tertarik dengan mainan ini, ya udah nggak usah dimainin’. Padahal bisa jadi dia belum tertarik karena belum sampai di situ kemampuannya, atau itu masih terlalu sulit baginya. Sehingga anak belum menemukan sensasi menyenangkan dari mainan tersebut. Jadi tidak apa-apa ketika kita mengenalkan dan anak belum tertarik, nanti bisa dicoba lagi,” ungkapnya.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Firesta menuturkan bahwa selain penting untuk mencari mainan yang tepat untuk anak, lebih penting lagi adalah bagaimana cara orang tua mengajak anak untuk bermain.

“Mainan itu banyak yang bagus-bagus, tetapi sering kali orang tua hanya memberikan banyak mainan, tanpa benar-benar memiliki waktu untuk bermain dengan anak. Padahal itu merupakan yang terpenting,” ujarnya.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara orang tua benar-benar berada di tempat bermain dan memperhatikan apa yang anak lakukan, ucapkan, dan ketika ia memberikan respons.

“Tunjukkan kalau kita senang bermain dengannya. Benar-benar bermain secara dua arah. Tunjukkan kalau kita benar-benar menikmati waktu yang dihabiskan bersamanya. Itu adalah hal-hal penting yang perlu kita lakukan selain memilih mainannya,” saran Firesta.

Meski mainan yang diberikan merupakan barang yang paling bagus, tetapi jika orang tua tidak benar-benar mendampingi dan bermain bersama anak, itu hanya akan menjadi mainan saja. Namun ketika mainan yang sederhana dan orang tua menunjukkan rasa senang menghabiskan waktu dengan anak dan menikmati hal tersebut, biasanya akan lebih bermakna dan bisa lebih tepat dalam menstimulasi apa yang anak butuhkan.

“Jadi, memilih mainan memang penting. Tetapi berinteraksi dengan anak ketika bermain itu poin penting yang harus selalu kita ingat,” tutupnya.