Bagaimana Cara Memilih Mainan untuk Bayi? Ini Tips dari Psikolog

mainan bayi
Foto: www.xframe.io

Bermain memang menjadi aktivitas yang paling menyenangkan bagi anak-anak, termasuk pada bayi yang berusia kurang dari satu tahun. Selain untuk hiburan, mainan juga bisa mendukung perkembangan buah hati. Namun, bagaimana cara yang tepat memilih mainan bayi?

Karena terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memilih mainan bayi, maka LIMONE telah menghubungi Samanta Elsener, M.Psi., Psikolog, Psikolog Anak dan Keluarga yang akan menjelaskan terkait fungsi dan cara mengatasi buah hati yang tidak tertarik untuk bermain.

Apa Fungsi dari Mainan Bayi?

mainan bayi
Foto: www.freepik.com

Samanta menuturkan bahwa “mainan akan berguna sebagai media untuk memberikan stimulasi yang bisa melatih fungsi motorik, sensori, serta meningkatkan bonding antara ibu dan anak. Melalui media mainan, anak dapat lebih bermain secara interaktif dengan orang tua atau pengasuh,” jelasnya.

“Sehingga nantinya hal tersebut dapat memudahkan anak untuk memahami dunia dan mempraktikkan apa yang sedang mereka pelajari dari kegiatan bermain. Selain itu, juga bisa meningkatkan koneksi dengan orang di sekitarnya, yang dapat membuat anak merasa dapat berkomunikasi dan semakin merasa aman,” tambahnya.

Bagaimana Cara Memilih Mainan Bayi yang Tepat?

Foto: www.canva.com

Ketika memutuskan untuk memberikan mainan bayi, maka orang tua perlu memerhatikan beberapa hal. “Mainan anak yang tepat dapat dilihat dari kategori usia yang direkomendasikan pada tiap produk. Selain itu, bisa juga dilihat dari kebutuhan dan fungsi tiap mainannya yang disesuaikan dengan kebutuhan stimulasi tiap usia perkembangan anak,” terang Psikolog Anak dan Keluarga ini.

Mainan untuk bayi usia 0-6 bulan

Sesungguhnya, bayi mulai dapat dikenalkan pada mainan ketika memasuki usia tiga bulan, di mana kemampuan penglihatannya semakin berkembang. “Di sini, mulai bisa dikenalkan dengan buku yang berwarna hitam dan putih. Serta mainan bunyi-bunyian yang bisa dipakai menjadi gelang anak, atau mainan gantung,” saran Samanta.

Selain itu, orang tua juga bisa memberikan “boneka laba-laba, cermin, mainan lunak, soft book yang terbuat dari kain, bola sensori, serta mainan yang ketika diremas akan mengeluarkan bunyi,” lanjutnya.

Bayi usia 6-8 bulan

Untuk buah hati yang berusia enam hingga delapan bulan, maka bisa diberikan “mainan ikat, mainan sumber suara, mainan merangkak, dan musik. Atau bisa juga diberikan berbagai macam jenis permainan sensori seperti macam-macam tekstur kain, lampu warna-warni, bau-bauan yang disimpan di dalam balon,” ungkapnya.

Bayi usia 8-12 bulan

“Selain mainan sensori dan buku yang lebih bervariasi dibandingkan ketika usia di bawah delapan bulan, di periode ini anak-anak yang sudah menunjukkan keinginannya untuk jalan dapat diberikan mainan stimulasi yang melatih kekuatan motorik kasarnya dengan walking toys (bukan baby walker),” tutur Samanta.

“Di mana nantinya anak-anak bisa berdiri lebih lama untuk mendorong atau berdiri di trolley dan papan untuk bermain. Selain itu, orang tua juga bisa memberikan mainan motor-motoran sehingga anak bisa duduk dan menggerakkan kakinya untuk maju atau mundur beberapa langkah,” lanjutnya.

Psikolog anak dan keluarga ini juga menyarankan untuk memberikan mainan bayi seperti “gelas tumpuk, menyusun balok, puzzle, wooden box, music tools, activity table, dan mainan yang ditekan,” sarannya.

Namun yang terpenting, “sebaiknya mainan bayi yang diberikan memiliki ukuran yang besar. Hal ini bertujuan untuk menghindari risiko mainan tersebut dimasukkan ke mulut bayi, atau bahkan dimakan olehnya,” pesan Samanta.

Apa yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Ketika Memberikan Mainan untuk Bayi?

mainan bayi
Foto: www.freepik.com

Sejatinya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua ketika memilih mainan bayi. Yaitu “perlu mempertimbangkan kualitas mainan yang diberikan pada buah hati, terkait dengan bahan yang digunakan dalam produksi mainannya,” paparnya.

“Yang terpenting adalah bebas dari racun atau pewarna, karena mainan ini akan berpotensi dijilat atau digigit oleh anak. Maka perlu sangat selektif dalam memberikan mainan bayi. Ukuran dan berat dari mainan juga harus diperhatikan. Selain itu, perhatikan juga kebersihan mainannya. Jangan lupa untuk selalu membersihkan mainan anak sebelum dan sesudah digunakan buah hati untuk bermain,” anjurnya.

Satu hal yang wajib diingat adalah “bayi membutuhkan orang dewasa untuk mendampinginya saat bermain. Karena ia belum tahu bagaimana cara memainkan permainan tersebut. Serta, dengan bermain bersama dapat membuat hubungan bonding-nya semakin erat dan kualits tidur anak pun menjadi lebih baik,” pesannya.

Bagaimana Jika Bayi Tidak Tertarik dengan Mainan yang Diberikan?

Foto: www.canva.com

Saat bayi menunjukkan sifat tidak tertarik terhadap mainan yang diberikan, maka “orang tua perlu mencari ide bagaimana cara agar mainan yang diberikan ke anak dapat digunakan dengan seru dan menarik perhatian buah hati. Sehingga akhirnya dapat bermain bersama,” tutur Samanta.

Namun, “jika anak sama sekali tidak tertarik dengan apa pun jenis mainan yang diberikan, padahal orang tua juga telah berupaya untuk menarik perhatian buah hati dalam bermain, sebaiknya segera konsultasikan pada tenaga ahli, baik itu dokter tumbuh kembang anak atau psikolog anak. Agar nantinya dapat dilakukan observasi pada perilaku anak yang menolak untuk bermain,” sarannya.

Kesimpulan

Foto: www.xframe.io

Menurut Samanta, “mainan bayi sangat diperlukan terutama mainan sensorik yang dapat melatih perkembangan otak anak agar berkembang secara optimal. Serta dengan bermain bersama, kedekatan dengan orang tua juga terjalin dengan optimal dan membentuk pola relasi yang aman bagi anak,” ungkapnya.

Dan “bermain merupakan salah satu hak anak yang perlu didapatkan olehnya. Maka, untuk orang tua mari sisihkan waktu khusus agar bisa bermain dengan buah hati,” pesannya.