Bagaimana Menghadapi Si Kecil yang (Hampir) Selalu Negatif Thinking?

negatif thinking
Foto: www.stocksy.com
Last updated:

Mungkin kamu tahu bagaimana caranya menghadapi orang dewasa (entah itu pasangan atau teman) yang hampir setiap saat negatif thinking. Namun bagaimana jika ini adalah kecenderungan yang dimiliki anak kesayanganmu? Ini pasti super membingungkan bagi orang tua manapun.

Apalagi kalau melihat kartun dan film anak, ini seharusnya adalah periode paling bahagia dan gembira dalam hidup mereka, bisa tertawa lepas dan ceria, sebelum harus memikirkan tagihan dan cicilan dan hubungan cinta yang pelik. Iya ‘kan? Apa sebenarnya penyebab anak cenderung berpikiran negatif? Apakah faktor genetik ikut berperan?

Well, sebelum kamu mulai berpikiran negatif dan menyalahkan diri sendiri, satu yang pasti: sepertinya ini masalah yang pelik dan membutuhkan masukan dari ahli. Oleh karena itu, LIMONE menghubungi Mutia Aprilia Permata Kusumah, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog anak dan remaja di TigaGenerasi.

Baca terus artikel ini untuk mengetahui bagaimana menghadapi anak yang cenderung berpikiran negatif dan mengajarkan mereka untuk berpikir positif.

Apa Definisi Negatif Thinking?

negatif thinking
Foto: www.unsplash.com

Menurut Mutia negative thinking adalah pola pikir yang cenderung membuat anak berfokus pada hal-hal buruk—yang belum tentu nyata—mengenai dirinya sendiri atau lingkungannya. Berarti kebalikan dari positive thinking?

“Ya, ini adalah kebalikan dari positive thinking,” tegasnya. Bagaimana dengan pesimis? Apa bedanya negatif thinking dengan orang yang pesimis?

“Pesimis adalah orang yang bersikap pesimistis. Pesimistis sendiri adalah sikap meragukan kemampuan atau keberhasilan suatu hal. Anak pesimistis akan cenderung berpikiran negatif,” jelasnya.

Dan seandainya kamu sebagai orang tua penasaran mengapa si kecil memiliki kecenderungan negatif thinking … “Pikiran negatif biasanya terbentuk secara otomatis, bukan merupakan sesuatu yang sengaja diformulasikan,” katanya.

Apakah faktor genetik ikut berperan?

“Ada anak-anak yang secara genetis memang lebih berisiko untuk berpikiran dan bersikap negatif dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Selain itu, pengalaman cedera, perceraian orang tua, atau berbagai kejadian traumatis lainnya juga bisa menyebabkan anak cenderung berpikiran negatif,” tekannya.

Apa Dampak Negative Thinking bagi Anak?

negatif thinking
Foto: www.rawpixel.com

Eits, ternyata negatif thinking tidak selamanya… bersifat negatif.

“Untuk dapat menjalani hidup dengan baik, sebetulnya anak-anak perlu juga berpikiran negatif. Pikiran negatif dalam dosis yang cukup akan membuat anak bersikap realistis dan melakukan persiapan untuk menghadapi atau mencegah hal negatif tersebut,” jelas Mutia.

Contohnya begini: jika anak memiliki pikiran negatif bahwa dirinya bisa gagal dalam ujian, maka ia akan belajar lebih tekun untuk menyiapkan dirinya.

Namun, kecenderungan ini juga perlu diwaspadai, terutama jika membuat anak menjadi terlalu takut dan cemas berlebihan.

“Akan tetapi, jika kecenderungan negative thinking ini telah menyebabkan anak menjadi terlalu cemas, takut, atau tidak bersemangat dalam menjalani kesehariannya, hal ini tentu perlu diwaspadai,” tegasnya.

Pasalnya, jika anak selalu berpikiran negatif, maka, anak bisa melewatkan berbagai kesempatan untuk menjadikan tumbuh-kembangnya optimal. “Anak juga memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami depresigangguan kecemasan, dan berbagai penyakit fisik,” imbuhnya.

Bagaimana Menghadapi Anak yang Hampir Selalu Negatif Thinking?

Foto: www.freepik.com

Berita baiknya: kecenderungan negatif thinking ini bisa dikurangi. Berita negatifnya?

“Kecenderungan berpikir negatif bisa dikurangi sedikit demi sedikit, namun tidak untuk dihilangkan sama sekali,” ujarnya.

Namun, seperti yang dikatakan di atas bahwa negative thinking bukanlah sesuatu yang harus dibasmi 100% dari hidup, baik hidup orang dewasa atau anak-anak.

“Seperti berbagai hal lainnya dalam hidup, manusia membutuhkan keseimbangan. Begitu pun dalam berpikir. Jika kecenderungan berpikir diibaratkan sebagai spektrum, dengan berpikir negatif di ujung satu dan berpikir positif di ujung satunya lagi, anak sebaiknya berada di tengah-tengah. Ketika anak selalu berpikir positif, hal ini juga tidak baik. Ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang naif dan tidak realistis,” paparnya.

Jadi, sebaiknya dilakukan orang tua dalam menghadapi anak yang memiliki kecenderungan berpikiran negatif?

“Yang pertama, terima terlebih dahulu pikirannya tersebut. Ingatlah bahwa anak bukannya sengaja ‘mengada-ada’. Ia memerlukan bantuan untuk dapat mengatasi pikiran buruknya. Selanjutnya, orang tua dapat menjelaskan atau mendiskusikan apakah pikiran buruk tersebut benar adanya. Jika benar, apakah bisa diatasi dan bagaimana caranya,” sarannya.

Mutia menekankan bahwa menyepelekan atau bahkan memarahi adalah dua kesalahan yang harus dihindari saat menghadapi anak yang memiliki kebiasaan negatif thinking.

“Kedua hal tersebut selain tidak solutif, juga dapat membuat anak merasa sedih dan kecewa sehingga ia mungkin tidak mau menceritakan pikiran buruknya lagi pada orang tua. Akibatnya, ia terus memendam kecemasannya sendiri hingga berkembang menjadi lebih buruk,” bebernya.

Bagaimana Membantu Anak agar Lebih Optimis?

Foto: www.freepik.com

Pikiran negatif tidak perlu diharamkan, tapi di sisi lain, seperti yang disebutkan di atas, jika sudah melebihi batas wajar dan sudah terlalu banyak, maka “orang tua dapat membantu anak untuk menyeimbangkannya dengan memikirkan alternatif positif dari pikiran tersebut,” saran Mutia.

Contohnya dengan kamu menggambarkan koin besar. “Jelaskan bahwa masalah yang sedang dipikirkan anak bisa diibaratkan sebagai koin yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, masalah bisa menjadi buruk, seperti yang dalam pikiran negatifnya. Namun di sisi lain, masalah bisa membaik. Anak bisa diminta untuk memikirkan lalu menggambarkan, hal apa yang akan terjadi jika masalah tersebut membaik,” jelasnya.

Adakah tips lain yang juga bisa membantu anak untuk menjadi pribadi yang seimbang: berpikiran positif dan juga tahu bahwa juga akan merasakan dan mengalami kegagalan dalam hidup?

“Selain itu, orang tua dan anak juga bisa membuat rutinitas untuk menyebutkan hal-hal yang disyukuri, yang terjadi di hari tersebut. Misalnya ketika beribadah atau menjelang tidur malam, orang tua mencontohkan dengan mengucapkan syukur karena di hari tersebut bisa menyelesaikan semua pekerjaan, mendapatkan gaji bulanan, dan pulang ke rumah sebelum malam,” ujarnya memberi contoh.

Selanjutnya: Ada yang namanya negative thinking berlebihan, dan ada yang namanya toxic positivity. Apakah kamu termasuk orang yang sering melakukannya? Cek penjelasan psikolog ini.