Remaja Itu Seperti Sebuah Misteri—Jadi, Bagaimana Cara Menghadapi Mereka?

Foto: www.gettyimages.com

Coba dengarkan curhat para ibu yang memiliki anak yang sudah remaja, kemungkinan besar isinya tentang kebingungan. Sama seperti anaknya yang terlihat galau setiap hari, seorang ibu yang memiliki anak remaja juga sepertinya juga ikut-ikutan galau saat menghadapi mereka. Mirip ibu-ibu dengan anak remaja di di film-film seperti Booksmart, Lady Bird, dan Dua Garis Biru. Ibaratnya, remaja lebih misterius daripada kehidupan di Mars. Jadi, sebenarnya, bagaimanakah cara menghadapi anak remaja, yang sepertinya sudah tidak seimut ketika mereka masih berusia 2 tahun?

Untuk itu, LIMONE bertanya kepada Nabilah Shahab, M.Psi,Psikolog, seorang psikolog klinis anak dan remaja di Layanan Psikologi Bileva. Berikut penjelasan beliau tentang cara menghadapi anak remaja dan kesalahan-kesalahan yang sebaiknya dihindari saat mendampingi mereka.

Apakah Arti Usia “Remaja”?

cara menghadapi anak remaja
Foto: www.unsplash.com

Mari menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang definisi ‘remaja’. “Usia remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Menurut UNICEF, masa remaja dimulai pada usia sekitar 10 tahun hingga usia 19 tahun,” jelas Nabilah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jika dibandingkan dengan anak-anak dengan usia di bawah 10 tahun, perbedaan yang paling mendasar pada masa remaja adalah adanya perubahan fisik dan hormon. Pada remaja pria terlihat dari tumbuhnya jakun, kumis, dan terjadinya mimpi basah. Sementara para remaja putri, terdeteksi dari tumbuhnya payudara, menstruasi, dan lain sebagainya.

“Selain adanya perubahan fisik, pada masa remaja juga terjadi perubahan kognitif, psikis, serta emosi. Pada usia ini, kemampuan berpikir mereka mulai meningkat dan mulai mengembangkan kemampuan berpikir abstrak, berpikir dari sudut pandang berbeda, dan kemampuan menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Tidak hanya itu. “Remaja memiliki periode kemurungan yang tidak terduga (biasanya terkait dengan perubahan hormon). Mereka dapat bertindak berlebihan ketika merasa frustasi dan dihadapkan dengan tantangan baru ataupun situasi yang menyebabkan stres,” tambahnya.

Aha. Itu dia yang membuat para orangtua sering kali juga ikut frustrasi.

Mengapa Ada Anggapan Usia remaja adalah Usia yang Sangat Sulit?

cara menghadapi anak remaja
Foto: www.unsplash.com

Menurut Nabilah, pada usia ini remaja memang merasa bahwa mereka sudah cukup besar dan mandiri. “Namun, sebetulnya mereka belum mampu memikirkan risiko atau dampak atas suatu perbuatan sehingga mereka seringkali dianggap memiliki pemikiran yang pendek,” terangnya.

Dan pada usia ini pula, remaja mulai mengeksplor identitas dan jati diri mereka. itulah sebabnya, “mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sebaya karena persahabatan dengan teman sebaya merupakan hal yang sangat penting bagi remaja. Sehingga remaja lebih banyak dipengaruhi oleh kelompok sebayanya. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan remaja untuk merasa diterima dan sama dengan teman sebayanya,” imbuhnya.

Tidak hanya merupakan periode mengeksplor identitas diri, di usia ini pula remaja lebih peka terhadap kritik dan memperhatikan penampilan. Plus: “Mulai menampilkan tanda-tanda egosentris remaja, serta membandingkan diri dan meniru panutan atau idola favorit mereka,” ujarnya.

Ah, jadi anak remaja kamu memperlihatkan tanda-tanda di atas—itu adalah sesuatu yang normal. Meski begitu, tetap saja orangtua akan bingung menghadapi mereka.

Apa Persiapan yang Bisa Dilakukan Orangtua sebelum Anak Menjadi Remaja?

cara menghadapi anak remaja
Foto: www.rawpixel.com

Ibarat kata pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’, sepertinya tidak ada salahnya mempersiapkan diri sebelum anak menginjak usia remaja. Untuk itu, Nabilah menyarankan kamu untuk mulai melakukan beberapa hal ini.

  • Memberikan kepercayaan, apresiasi, dan perhatian kepada anak.
  • Bersikap terbuka dan menjadi teman diskusi bagi anak.
  • Memberikan arahan agar kegiatan remaja nantinya bersifat positif dan bermanfaat.
  • Mendampingi anak untuk menemukan minat atau hobinya atau bantu mereka untuk mengeksplor minat dan hobinya.

Itu tadi beberapa persiapan yang bisa kamu lakukan. Dan adakah kesalahan-kesalahan yang sebaiknya dihindari orangtua saat menghadapi anak remaja? Ada banget. Ini beberapa kesalahan yang sering kali terjadi dilakukan orangtua saat menghadapi remaja—dan sebaiknya kamu hindari.

  • Tidak adanya pemberian arahan dan aturan yang jelas.
  • Orangtua mengendalikan semua hal tentang anak sehingga anak tidak memiliki kendali atas dirinya sendiri.
  • Komunikasi satu arah dan bersifat instruktif.
  • Tidak memercayai penjelasan remaja atau tidak mau mendengarkan penjelasan remaja.
  • Menghakimi remaja dengan asumsi-asumsi.
  • Mengambil alih tanggung jawab remaja.

Bagaimana Cara Menghadapi Anak Remaja?

cara menghadapi anak remaja
Foto: www.rawpixel.com

Mungkin sulit dipercaya, tapi si kecil yang dahulunya sangat bergantung pada kamu dalam hampir segala hal (saat dia masih berusia 6 tahun, misalnya), sekarang sudah remaja. Uh-uh. Dengan bertambah dan berubah angka umurnya, maka metode yang kita gunakan dalam menghadapi mereka juga ikut berubah.

Dalam hal ini, Nabilah membeberkan beberapa hal yang mesti diperhatikan dan diingat orangtua saat menghadapi remaja.

1. Gunakan Gaya Komunikasi “I Message

Yaitu gaya komunikasi yang memusatkan perhatian pada perasaan pembicara, bukan pikiran pendengarnya. “Misalnya, mengatakan ‘Ibu khawatir kalau kamu pulang terlambat‘ dibandingkan dengan mengatakan ‘Kenapa pulang telat terus, sih?‘” ujarnya memberi contoh.

2. Terapkan Aturan dan Konsekuensi

“Perlu adanya kesepakatan mengenai aturan sehingga remaja dapat berperilaku sesuai dengan batasan yang telah disepakati dan konsekuensi apa yang didapatkan bila mereka melanggar aturan tersebut. Dan latih anak untuk bertanggung jawab atas hal yang ia perbuat,” tegasnya.

3. Perhatikan Pertemanan dan Relasi Sosial Remaja

Tidak hanya menjadi teman diskusi bagi anak, orangtua juga bisa menjalin relasi dengan teman-teman anak untuk dapat mengawasi relasinya. “Orangtua dapat pula menjadi contoh dalam membangun dan menjaga pertemanan positif, misalnya dengan teman-teman, pasangan, ataupun rekan kerja,” imbuhnya.

4. Berikan Arahan tentang Kegiatan Positif dan Aman

“Remaja memiliki kondisi yang bergejolak, kemampuan berpikir yang belum sempurna sehingga kerap kali mereka mengambil keputusan yang kurang tepat,” ujar Nabilah. Ditambah tekanan pertemanan agar terlihat keren. “Tugas orangtua adalah memberikan arahan agar kegiatan remaja bersifat positif, bermanfaat, dan aman. Dalam hal ini, orangtua pun perlu menjadi contoh bagi anak,” tekannya. Arahan ini bermanfaat untuk menjauhkan anak dari perilaku berisiko, seperti merokok, konsumsi obat-obat terlarang, tawuran.

5. Diskusikan Aturan Penggunaan Gawai dan Media Sosial

Oleh karena gawai dan media sosial adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari remaja saat ini, maka perlu adanya aturan yang disepakati dalam menggunakan gawai. Mulai dari tentang area dan waktu penggunaan gawai, sampai tentang privasi. Selain itu, orangtua dan anak juga perlu pula mendiskusikan mengenai aturan dan prinsip dasar dalam bermedia sosial, misalnya jejak digital, etika bermedia sosial, dan sebagainya.

“Ini supaya gawai dan media sosial digunakan secara maksimal dan bermanfaat, misalnya sebagai sumber inspirasi dalam membuat karya yang kreatif, mendapatkan informasi baru, dan sebagainya,” jelasnya.

6. Lakukan Perencanaan Pendidikan Masa Depan

Selain semua di atas, orangtua dan anak perlu membuat berdiskusi tentang perencanaan masa depan terkait pendidika. “Misalnya, tentang akan melanjutkan ke jurusan apa, pekerjaan di masa depan, kesesuaian antara pekerjaan dan target pribadi, prospek masa depan, dan gaya hidup sehat,” tambahnya.

Bagaimana Membimbing Remaja agar Mereka Bisa Melewati Fase Ini dengan Baik?

Foto: www.rawpixel.com

Fase remaja adalah krusial dan memiliki banyak tantangan untuk anak. Untungnya, ada hal yang bisa dilakukan untuk membantu agar si anak bisa melewati fase ini dengan baik (ah, leganya).

  • Terapkan standar, harapan, dan batas yang tinggi beserta konsekuensinya.
  • Bersikap hangat.
  • Berikan kebebasan untuk remaja dalam berekspresi, memilih, dan mengalami kegagalan.
  • Responsif terhadap hal-hal yang disampaikan remaja.
  • Jadilah teman diskusi anak.
  • Bantu anak mengelola emosi, dan dengarkan apa yang remaja sampaikan dengan baik, “serta memberikan tanggapan ataupun ketidaksetujuan saat giliran orangtua menanggapi,” Nabilah mengingatkan.
  • Dengarkan remaja. “Pada usia ini, terkadang mereka hanya butuh didengarkan sehingga mereka merasa penting dan istimewa karena telah didengarkan oleh orangtua,” jelasnya.
  • Jadilah mentor. “Orangtua dapat bertindak sebagai mentor dan teman diskusi agar perkembangan anak lebih optimal,” ujarnya.
  • Berikan kepercayaan kepada mereka, “dengan memberitahu sejak awal konsekuensi apa yang bisa mereka dapatkan apabila aturan dilanggar,” tekannya.

Selanjutnya: Ini cara mengajarkan anak mengambil keputusan sejak dini.