Bagaimana Mengajarkan Anak Bersikap Baik Sejak Dini

Foto: www.unsplash.com

Terakhir kali dicek, kamu sepertinya termasuk dalam golongan ‘orang baik’. Syukurlah! Yah, paling tidak menurut keluarga, teman, dan rekan kerja. (Jika belum yakin, coba cek!) Dan kamu ingin karakter tersebut turun ke si buah hati. Jadi, bagaimanakah caranya mengajarkan anak bersikap baik? LIMONE berbicara kepada dua orang psikolog untuk memecahkan misteri tersebut.

Lakukan Hal Ini untuk Ajarkan Anak Bersikap Baik

Foto: www.shutterstock.com

Ery Surayka Puspa Dwi S.Psi, seorang psikolog RS Islam Yogyakarta dan Konsultan Psikologi Personagama Yogyakarta, mengatakan bahwa anak adalah peniru ulung, dan orangtua harus menjadi teladan yang baik bagi anak. “Mengajarkan dan menanamkan sopan santun dan budi pekerti sejak usia dini,” ucapnya Ery.

“Hal paling simpel adalah dengan mengajarkan 3 kata kunci dasar dalam bersopan santun, yakni: terima kasih, tolong dan minta maaf,” lanjutnya.

Cara berikutnya yaitu dengan, “mengajarkan sopan santun dalam bentuk briefing dan role playing. Memberitahu mana yang baik dan buruk lewat bermain sandiwara,” jelasnya ketika dihubungi melalui Instagram. Ery menyarankan agar mengajarkan anak untuk selalu memilih kalimat sopan dan menunjukan perilaku yang baik ketika berkomunikasi dengan siapa saja.

Hal paling simpel adalah dengan mengajarkan 3 kata kunci dasar dalam bersopan santun, yakni: terima kasih, tolong dan minta maaf.

Senada dengannya, Maria Stefani, M.Psi, menyampaikan langkah paling efektif untuk mengajarkan anak adalah dengan memberi contoh real. Bisa ditambahkan dengan cerita-cerita (bed time story) atau tontonan yang memuat moral.

Menurut Maria, cara lainnya yaitu menanamkan sejak kecil kebaikan dan orangtua menciptakan kondisi keluarga yang kondusif dan mengayomi, sehingga “anak tahu bahwa ketika ada masalah, dia punya tempat mengadu. Biasanya anak yang mudah terpengaruh lingkungan dikarenakan keluarganya tidak kondusif dan peran ortunya tidak berjalan semestinya,” terangnya.

Hambatan yang Mungkin Dialami Orangtua

Foto: www.shutterstock.com

Pada kenyataannya, menurut Ery ada banyak hambatan yang sering dialami ketika ingin mengajarkan anak untuk bersikap baik. Beberapa di antaranya orangtua yang tidak memiliki waktu yang cukup, minimnya pengetahuan tentang ilmu parenting dan budi pekerja, dan pola asuh ayah dan ibu yang berbeda. Tidak hanya dari internal, faktor eksternal juga seringkali menjadi hambatan, misalnya teknologi dan kemudahan mengakses informasi apa pun.

Maria menambahkan bahwa hambatan yang “sering kita temui yaitu anak belum konsisten dalam mengaplikasikan sikap yang kita harapkan. Kadang muncul, kadang tidak. Bisa karena usia, kecerdasan, atau juga karena pola asuh yang tidak konsisten, misalnya ada pengasuh selain orangtua yang tidak menanamkan hal yang sama).”

Mengapa Anak Butuh Diajarkan untuk Bersikap Baik

Foto: www.shutterstock.com

Menurut Maria, mengajarkan anak bersikap baik itu penting karena pada dasarnya manusia makhluk sosial yang butuh orang lain. “Hidup anak ke depannya akan banyak dan selalu berhubungan dengan orang lain, apa pun profesinya nanti. Jadi anak perlu belajar untuk memiliki sikap yang baik agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan,” tambahnya.

Ery juga menuturkan bahwa bersikap baik membuat anak merasa lebih percaya diri karena dia mengetahui dia sudah melakukan hal yang tepat. Dan ketika dia mendapatkan afirmasi atau reward, dia akan mengulang sikap baik tersebut.

Dan untuk itu, setiap orangtua harus proaktif dan konsisten. “Mengajarkan secara terus menerus untuk fokus pada tujuan,” papar Ery. Konsisten dan proaktif juga berarti orangtua memberikan waktu yang berkualitas dan perhatian penuh serta kesabaran saat mengajari anak. Istilahnya, “Gorilla unconditional love, yakni seperti kasih sayang seekor ibu gorila kepada anaknya.”

Ini Waktu yang Tepat Mendidik Anak Bersikap Baik

Foto: www.unsplash.com

Menurut Ery waktu yang tepat mengajarkan anak bersikap baik sejak usia dini, setidaknya mulai usia 2 tahun.

“Menurut Jean Piaget, seorang psikolog perkembangan, pada usia 2 – 7 tahun anak dalam tahap pra-operasional kongkrit. Di dalam tahap ini semua yang anak lihat akan terekam dalam memori otaknya akan tetapi ia masih belum bisa memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk serta mana yang tidak pantas ia tirukan,” paparnya. “Jadi anak dalam periode ini  anak akan menelan mentah-mentah apa saja yang dilihatnya. Oleh karena itu, jika diajarkan sejak dini maka hasilnya tentu akan terlihat lebih cepat.

Maria juga menyetujui bahwa mendidik anak bersikap baik harus sedini mungkin, sebelum berusia 6 tahun.

Cara Atasi Anak Tidak Terpengaruh Tontonan Negatif

Foto: www.rawpixel.com

Berhubung kamu tidak 24/7 bersama si anak, ada kemungkinan si kecil terpapar tontonan yang belum lulus ‘sensor orangtua’.

Menurut Maria televisi adalah media yang kemungkinan besar susah untuk dihindari untuk ditonton anak-anak. “Saat anak menonton, pastikan orangtua mendampingi dan coba pancing bagaimana respon anak saat menonton. Apakah dia takut, menikmati dan ingin melakukan juga. Orangtua harus memberikan arahan mana yang baik dan tidak boleh ditiru.”

Bersikap keras sangat tidak disarankan. Menegur dengan keras di depan umum juga tidak dianjurkan, karena akan membuat anak malu.

Ery berpendapat bahwa sebagai pendidik dan pengasuh utama dalam keluarga, harus memiliki kontrol atas tontonan dan tayangan anak. “Orangtua harus cerdas dalam memilih tayangan-tayangan yang layak tonton bagi anak,” ujarnya.

Dan jika anak sudah terlanjur menonton tayangan kekerasan, “ajak anak untuk berdiskusi dan berikan pengetahuan bahwa adegan itu tidak pantas ditiru dan itu hanya ada di tayangan di TV,  dalam kehidupan nyata tidak seperti itu,” tambahnya melengkapi.

Lakukan Hal ini Jika Anak Bersikap Tidak Baik

Foto: www.canstockphoto.com

Maria berpendapat jika anak melakukan kesalahan sebaiknya menegurnya. “Tapi hindari nada tinggi,” sarannya. Dia memberikan contoh misalkan si kecil tidak pamitan saat bertamu, “kita bisa ajak anak untuk kembali dan tetap memintanya untuk berpamitan.”

Hindari membahas tindakannya tersebut di tempat kejadian perkara. “Setiba di rumah baru dibahas bahwa perlu untuk pamitan saat bertamu. Bersikap keras sangat tidak disarankan. Menegur dengan keras di depan umum juga tidak dianjurkan, karena akan membuat anak malu,” sambung Maria.

Sama halnya dengan Maria, Ery menyetujui untuk tidak memarahi atau bersikap keras dengan anak, jika anak melakukan kesalahan. Namun, “bila anak melakukan kesalahan berikan punishment dengan bentuk ucapan yang mendidik tanpa suara keras. Tegur perilakunya, bukan karakter orangnya. Beritahu kesalahannya dan tidak mengungkit kesalahannya di lain hari,” sarannya.

Sebaliknya, menurutnya berikan reward untuk anak yang telah berperilaku baik. Bisa berupa pujian, penghargaan, perhatian, ciuman, pelukan, belaian sayang, buku bacaan kesukaan, dan lain-lain. “Bukan sesuatu yang berupa uang,” Ery mengingatkan.

Jika anak bukanlah fokus sekarang ini, tapi masih bingung tentang apakah sudah siap menikah, coba cek dengan panduan ini.

podcast button