Masalah Anak Usia Dini, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir? Ini Kata Ahli

ini masalah yang bisa dialami anak usia dini
Foto: www.canva.com

Tak hanya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami masalah, terutama saat berada dalam masa tumbuh dan kembangnya. Ada beberapa masalah anak usia dini yang mungkin bisa dialami oleh buah hati.

Untuk mengetahui lebih lanjut, LIMONE telah menghubungi Linda Maysha, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Anak dari PION Clinician dan praktik mandiri di Gading Serpong, yang akan menjelaskan masalah anak usia dini dan cara orang tua untuk mengatasinya.

Benarkah Anak Bisa Mengalami Masalah dalam Tumbuh Kembangnya?

Benarkah Anak Bisa Mengalami Masalah dalam Tumbuh Kembangnya | | Masalah Anak Usia Dini, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir? Ini Kata Ahli
Foto: www.canva.com

Ternyata, dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, buah hati juga bisa mengalami masalah. Hal ini pun dibenarkan oleh Psikolog Anak yang satu ini.

“Dalam tumbuh kembang anak mungkin akan terjadi gangguan atau masalah. Hal ini bisa berbeda pada setiap usia, karena di setiap tahap perkembangan anak ada berbagai hal yang akan mereka pelajari dan perlu untuk dikuasai,” ujarnya.

Apa Saja Masalah Anak Usia Dini?

Apa Saja Masalah Anak Usia Dini | | Masalah Anak Usia Dini, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir? Ini Kata Ahli
Foto: www.canva.com

Jika dilihat perkomponen, ada beberapa masalah anak usia dini yang bisa dialami, yakni:

Gangguan perkembangan bicara-bahasa

Masalah yang bisa dialami oleh anak usia dini adalah gangguan perkembangan bicara dan bahasa, contohnya adalah:

  • Ditandai dengan minimnya kemampuan anak untuk menunjukkan dan memperlihatkan ketertarikannya terhadap sesuatu atau seseorang pada usia 20 bulan
  • Ketidakmampuan membuat frase yang bermakna setelah 24 bulan
  • Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan
  • Anak tidak konsisten dalam merespons terhadap suara atau bunyi, seperti tidak selalu memberikan respons saat dipanggil
  • Kurangnya join attention atau kemampuan berbagi perhatian atau ketertarikan dengan orang lain pada usia 20 bulan
  • Sering mengulang ucapan orang lain (membeo/ekolalia) setelah usia 30 bulan
  • Gagap

Gangguan dalam kemampuan berpikir atau kognitif

Kondisi ini akan memengaruhi keterampilan berpikir pada anak. “Anak yang memiliki gangguang kognitif akan memiliki kesulitan dalam ingatan, belajar, dan persepsi,” tutur Linda.

Nantinya anak bisa menjadi sulit fokus dan berkonsentrasi, tidak dapat duduk dengan tenang, dan sangat lama dalam mengerjakan tugas.

Selain itu, buah hati juga akan mengalami kemampuan mengingat yang buruk dan kesulitan membaca atau mengeja.

Berikut contoh masalah anak usia dini dalam kemampuan berpikir atau kognitif:

  • Saat usia dua bulan kurang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu atau seseorang
  • Ketika usia empat bulan belum bisa mengikuti gerak benda
  • Di usia enam bulan belum bisa merespons atau mencari sumber suara
  • Usia sembilan bulan belum mampu babbling atau mengucap kata “mama” atau “baba”
  • Di usia 24 bulan belum mampu mengucapkan kata yang memiliki arti
  • Pada usia 35 bulan belum bisa merangkai tiga kata

“Contohnya speech delay atau menghambat anak untuk produksi bahasa dan kata-kata,” ujar Psikolog Anak yang satu ini.

Gangguan dalam motorik kasar dan halus

Pada dasarnya, motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar. “Gangguan yang mungkin terlihat adalah gerakan tidak terkontrol atau tidak seimbang,” ujarnya.

Berikut contoh gangguan motorik kasar:

  • Posisi anak saat berbaring terlihat tidak simetris
  • Gerakan lengan dan kaki terlihat tidak simetris antara kanan dan kiri
  • Gerakan terlihat kaku
  • Gangguan tonus otot, di mana tonus otot ini berfungsi untuk membantu seseorang dapat tegak dan berdiri
  • Belum dapat berguling atau duduk tanpa topangan setelah usia delapan bulan
  • Belum dapat berjalan tanpa topangan setelah usia 1.5 tahun

Sementara motorik halus berkaitan dengan kemampuan fisik yang melibatkan otot-otot kecil serta koordinasi mata dan tangan.

Gangguan yang mungkin terlihat adalah:

  • Posisi kedua tangan menggenggam meski ada rangsangan seperti mainan saat usia lebih dari empat bulan
  • Dominan atau lebih aktif menggunakan satu tangan hingga berusia satu tahun
  • Anak kesulitan meraih dan menggenggam benda
  • Tidak dapat mengarahkan kedua tangannya ke tengah tubuh setelah usia delapan tahun, misalnya tepuk tangan
  • Tidak dapat menggenggam benda dengan kedua tangan
  • Anak kesulitan melepaskan benda yang sedang digenggam setelah usia 1,5 tahun
  • Jarang menatap ke arah tangan terutama ketika sedang meraih atau menggenggam benda

Gangguan dalam kemampuan sosial dan emosional

Dalam perkembangan sosial-emosional, anak dapat mencapai pemahaman tentang diri serta berhubungan dengan orang lain.

Serta mampu bertanggung jawab terhadap diri untuk mengikuti aturan, rutinitas, dan mampu menghargai orang lain.

Selain itu, anak juga dapat menampilkan perilaku sosial, seperti berempati, berbagi, dan menunggu giliran.

Namun, beberapa anak mungkin akan mengalami beberapa masalah terkait perkembangan sosial dan emosionalnya, seperti:

  • Di usia enam bulan jarang menunjukkan senyum atau ekspresi kesenangan lain
  • Pada usia sembilan bulang kurang bersuara dan menunjukkan ekspresi wajah
  • Ketika usia 12 bulan sering tidak merespons panggilan namanya
  • Di usia 15 bulan belum bisa mengeluarkan kata
  • Pada usia 24 bulan belum bisa mengeluarkan gabungan dua kata yang berarti
  • Di segala usia tidak memiliki kemampuan bersosialisasi atau berinteraksi
  • Tantrum berlebih, agresif, menarik diri dari lingkungan sosial, berbohong, ketergantungan dengan orang lain, dan takut secara berlebihan
  • Tidak mau ditinggal orang tua sama sekali, kemudian menangis

Apa Saja Penyebab Masalah Anak Usia Dini?

ini masalah yang bisa dialami anak usia dini
Foto: www.canva.com

Pada umumnya, terdapat dua penyebab anak mengalami kendala dalam perkembangan. “Pertama adalah kurangnya stimulasi dari lingkungan, dan yang kedua adalah karena kondisi bawaan lahir, contoh ADHD, ASD, cerebral palsy, dan lainnya,” tutur Linda.

Faktor kurangnya stimulasi lingkungan contohnya adalah:

  • Trauma
  • Pola asuh yang menggunakan kekerasan
  • Anak dilarang mengekspresikan emosi sehingga bingung bagaimana mengenali dan menyikapi emosi diri yang dirasakan. Contohnya anak laki-laki yang tidak boleh menangis, padahal menangis adalah bentuk ekspresi emosi yang wajar bagi manusia, baik untuk anak maupun orang dewasa
  • Anak dilarang untuk melakukan eksplorasi karena orang tuanya terlalu pencemas. Contohnya tidak boleh belajar cuci piring, makan disuapi terus, tidak boleh memanjat walau di area yang aman, dan lainnya
  • Gizi tidak memadai, seperti diberikan susu terus agar kenyang dan akhirnya tidak mengonsumsi sayur dan buah. Kemudian terlalu banyak diberi gula, diberikan camilan tidak bergizi asalkan anak bisa tenang

Adakah Dampak yang Bisa Ditimbulkan dari Masalah Anak Usia Dini?

ini masalah yang bisa dialami anak usia dini
Foto: www.canva.com

Pada dasarnya, keterlambatan satu komponen perkembangan akan berdampak pada perkembangan lainnya, seperti efek bola salju.

Masalah terkait belajar

Ketika anak mengalami hambatan dalam proses belajar, maka akan berimbas pada prestasi akademis di kemudian hari.

Gangguan terkait perilaku sosial

Akibat dari gangguan yang satu ini bisa membuat anak kesulitan untuk membangun hubungan dengan teman, rentan mengalami permasalahan dengan teman, dan kesulitan untuk mengelola emosi sehingga akhirnya bisa tantrum.

Masalah psikologis

Saat anak mengalami masalah psikologis, maka nantinya bisa sering mengalami emosi negatif dan frustasi dengan kemampuan diri sendiri. “Serta bisa menjadi rentan rendahnya self-esteem, cemas, khawatir, kurang motivasi, bahkan mengalami depresi,” paparnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Masalah Anak Usia Dini?

ini masalah yang bisa dialami anak usia dini
Foto: www.canva.com

Saat anak usia dini mengalami beberapa masalah, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang tua.

“Pertama, orang tua perlu peka mengobservasi perkembangan anak, bisa dengan melihat buku KIA atau panduan tumbuh kembang anak yang ada di internet,” sarannya.

“Kedua, berikan stimulasi sesuai kebutuhan anak. Tidak perlu mahal, karena alaminya anak bisa terlatih dengan berbagai kegiatan di rumah yang tidak membutuhkan peralatan khusus,” ujarnya.

Selanjutnya, orang tua perlu menerima anaknya jika mengalami kendala perkembangan.

Tidak banyak memberikan pemakluman atau excuse, contohnya anak umur tiga tahun belum bisa bicara, lalu dibiarkan saja dengan pemikiran ‘Ah nanti kalau sudah sekolah juga bisa sendiri’ atau ‘Dulu ayahnya baru bisa ngomong pas umur lima tahun’.

“Orang tua tidak perlu malu untuk berkonsultasi dengan profesional terkait tumbuh kembang anak-anak mereka, misalnya dengan mengunjung dokter, psikolog, bidan, atau konselor. Terakhir, orang tua tidak berhenti untuk belajar dan berusaha mengenal anak mereka,” anjurnya.

Adakah Hal yang Harus Diperhatikan Orang Tua dalam Mengatasi Masalah Anak Usia Dini?

ini masalah yang bisa dialami anak usia dini
Foto: www.canva.com

Linda menyarankan agar orang tua melakukan pengamatan dan deteksi dini agar dapat diatasi secepat mungkin. “Semakin cepat ketahuan, maka akan semakin mudah untuk diintervensi,” sarannya.

Jika masalah ini sulit untuk diatasi, maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

  • Berusaha untuk tenang
  • Menerima kondisi anak (tidak denial), namun bukan membiarkan
  • Berkonsultasi dengan pihak profesional
  • Konseling dan terapi dengan pihak profesional bila dibutuhkan

Bisakah Mencegah Anak agar Tidak Mengalami Masalah Anak Usia Dini?

Bisakah Mencegah Anak agar Tidak Mengalami Masalah Anak Usia Dini | | Masalah Anak Usia Dini, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir? Ini Kata Ahli
Foto: www.canva.com

“Bila terkait kondisi yang merupakan bawaan lahir atau keturunan, tidak bisa diubah. Tetapi bisa dioptimalkan perkembangannya,” terang Psikolog Anak ini.

Namun jika terkait dengan stimulasi, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua, yakni:

Mengoptimalkan lingkungan

Cara mencegah anak agar tidak mengalami masalah dalam tumbuh kembangnya bisa dilakukan dengan mengoptimalkan lingkungan, seperti:

  • Memberikan stimulasi sensori yang cukup, seperti memberikan kesempatan anak untuk bermain, menggambar, bernyanyi, bercerita, dan lainnya
  • Membiarkan anak mengeksplorasi lingkungannya, tapi tetap diawasi agar aman
  • Memberikan atensi penuh ketika sedang berinteraksi dengan anak
  • Mengajak anak bertemu dan bermain dengan teman sebayanya
  • Tidak menggunakan kekerasan, seperti mengata-ngatai anak, memukul, mencubit, dan lainnya
  • Tidak memberikan tuntutan berlebih pada anak
  • Hindari penggunaan gawai berlebih
  • Pola asuh yang konsisten antara orang tua dan pengasuh, seperti babysitter, kakek, nenek, dan keluarga

Menjaga kesehatan anak

Hal ini bisa dilakukan dengan cara:

  • Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan anak
  • Memberikan makanan yang bersih, bergizi, dan bervariasi
  • Imunisasi dan vaksinasi rutin
  • Rutin ke dokter atau posyandu

Bisakah Memberikan Kesempatan pada Anak untuk Mengatasi Masalah?

Bisakah Memberikan Kesempatan pada Anak untuk Mengatasi Masalah | | Masalah Anak Usia Dini, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir? Ini Kata Ahli
Foto: www.canva.com

“Bisa, tetapi dengan pendampingan penuh dari orang tua. Karena anak-anak masih belajar untuk memahami dunia ini, sehingga perlu ada arahan dan bantuan dari orang dewasa,” tutur Linda.

Berikut cara yang bisa dilakukan oleh orang tua:

  • Memberi kesempatan anak untuk salah dan belajar dari konsekuensinya
  • Memberikan kesempatan untuk bermain, biarkan anak mengeksplorasi
  • Tidak banyak melarang, kalau mau melarang maka perlu dijelaskan alasannya dengan bahasa yang mudah, bukan dengan menakut-nakuti anak atau berbohong. Contohnya makan harus habis agar nanti nasinya tidak nangis, hal ini jelas berbohong dan tidak logis karena nasi tidak bisa menangis, maka hal ini bisa membuat anak menjadi bingung
  • Menyediakan tempat aman bagi anak untuk bercerita pada orang tua mengenai masalah yang dialaminya. Orang tua tidak perlu menghakimi dan banyak memberikan nasihat, karena anak usia dini belum bisa memahami nasihat yang bersifat abstrak, pola pikir mereka masih sangat konkret yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan langsung
  • Menjadi tempat ‘aman’ bagi anak untuk mengekspresikan emosinya. Lakukan validasi emosi agar anak berlatih untuk mengenali dan menerima emosi yang mereka rasakan
  • Membawa anak untuk bermain dengan teman sebayanya

Kesimpulan

Berkonsultasi dengan Profesional | | Masalah Anak Usia Dini, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir? Ini Kata Ahli
Foto: www.canva.com

Menurut Linda, “anak berkembang dengan cara dan tempo waktu yang bisa berbeda antara satu sama lain. Namun tetap ada acuan atau batas yang perlu diwaspadai oleh orang tua,” ujarnya.

“Kita perlu peka untuk mengenali apakah anak sedang mengalami kendala. Jika memang ada masalah, jangan ragu atau menunda untuk berkonsultasi dengan profesional,” sarannya.

Pilihlah profesional yang memang terpercaya kredibilitasnya.

“Jangan lagi kita terjebak dengan mitos dan kebiasaan orang tua zaman dahulu, perlu selalu cek kembali relevansinya, karena ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan mudah untuk diakses,” tegasnya.

error: Konten dilindungi !!