Bagaimana Menghadapi Anak yang Suka Menangis?

anak suka menangis
Foto: www.gettyimages.com

Ah, lagi-lagi si kecil menangis. Jika dihitung-hitung, dalam satu hari dia bisa menangis lebih dari… sulit dihitung. Apakah yang menyebabkan seorang anak mudah menangis?

“Anak menangis karena ia belum bisa menyampaikan apa yang ia butuhkan dan inginkan. Selain itu, kepribadian anak juga menentukan, ada anak yang lebih sering menangis (lebih sensitif) daripada anak-anak lain,” jelas Maria Rayna Kartika Winata, S.Psi., M.Psi., Psikolog , seorang Psikolog Anak dan Remaja, Konselor Keluarga, dan Penasihat Sekolah di Sekolah Mutiara Bunda, Sidoarjo, Surabaya.

Mengapa Anak Menangis?

anak mudah menangis
Foto: www.rawpixel.com

Menurutnya, menangis merupakan hal yang wajar dilakukan anak ketika ia sedang kesal, sedih, kecewa, atau marah. Namun, kebiasaan menangis ini menjadi sesuatu yang patut diperhatikan bila, anak masih menangis sambil berteriak dan tantrum, membuat badan menjadi kaku, bergulung-gulung saat sudah menginjak usia 4 tahun,” tukasnya. Dan orangtua juga perlu berhati-hati jika ketika menangis anak bertingkah laku impulsif, dalam artian keinginannya harus dituruti saat itu juga.

Dan jika anak mudah menangis, sebaiknya orangtua tidak menepiskannya begitu saja. Pasalnya, jika kebiasaan ini dibiarkan berlarut, maka “anak akan terbiasa menjadikan menangis sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya,” jelasnya.

“Saya mengerti, memang tidak mudah bagi orangtua menahan diri untuk tidak memarahi, mengancam, mengomeli, menghukum anak. Namun seringkali respon kita yang seperti ini membuat keadaan semakin parah, karena anak merasa tidak dipahami,” tambahnya.

Saat anak menangis, Rayna menyarankan agar orangtua mendampingi anak dengan menunjukkan rasa empati. Kamu bisa mengatakan: “Adik sedih ya, mau beli mainan tapi nggak dibolehin karena adik sudah punya dua di rumah-rumahan.” Atau, “Kakak kesal ya, kuenya dihabiskan sama adik. Kakak nggak kebagian. Mama tahu kakak suka yang coklat ‘kan?”

Dan jika anak sudah berhenti menangis, “barulah orangtua bisa memberikan masukan dengan dengan bahasa anak. Kamu bisa mencoba mengatakannya, begini: “Mama tahu, adik pingin es krim. Adik suka yang stroberi, tapi nggak dibelikan, karena Mama takut monster batuknya semakin besar. Kalau batuk terus, Mama kasihan nanti leher adik sakit. Gini aja, kalau sudah sembuh, kita makan es krim stroberi, ya. Hmm, enak….” Saat mengatakan ini, Rayna menyarankan untuk mengajak anak berimajinasi, membayangkan apa yang ia inginkan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Menangis di Tempat Umum?

anak mudah menangis
Foto: www.istockphoto.com

Ah, para orangtua kemungkinan pernah mengalami hal ini. Si kecil menangis—bahkan mungkin meraung-raung di tempat umum. Di mal. Di restoran. Di bioskop. Di dalam pesawat. Ah.

Dan semua mata memandang.

Jika kamu merasa malu, “itu sangat wajar karena cemas dianggap kurang bisa mendidik anak,” imbuh Rayna.

Jika ini kamu alami, Rayna menyarankan untuk tidak panik. “Agar orang tua bisa lebih tenang dan tidak panik, ingatlah untuk menarik napas dalam-dalam. Ajak anak ke tempat sepi, lalu bicarakan dengan anak agar tangisnya mereda,” ujarnya.

“Ketika anak menangis, orangtua sebisa mungkin menunjukkan empati terlebih dahulu,” Rayna mengingatkan. “Lalu setelah tangis anak berhenti, orangtua mengajak anak untuk menarik napas panjang. ‘Satu tarik… Dua buang… Tiga tarik… Empat buang…'”

Dan jangan lupa memberikan penjelasan dengan bahasa anak. Misalnya dengan mengatakan, “Mama tahu adik sedih karena ….. Adik boleh sedih kok. Nah, sekarang Mama sudah ajarkan kalau adik sedih harus gimana, supaya sedihnya hilang. Kalo adik sedih, Mama temani ya, Nak. Adik boleh minta Mama peluk, kok”.

Apabila cara-cara serupa belum menunjukkan hasil, “silakan menghubungi psikolog untuk dilakukan asesmen lebih lanjut untuk dibuatkan program terapi individual (misalnya terapi sensori, terapi perilaku) untuk anak,” sarannya.

Selanjutnya: ini cara membantu anak yang malas belajar.

podcast button