FYI, Kata-Kata yang Kamu Pilih Bisa Gambarkan Kondisi Mental dan Emosimu

Foto: www.stocksy.com

Jika ada yang bertanya, ‘apa kabar kamu hari ini’—apa jawabanmu? Sebuah penelitian yang diterbitkan kemarin menunjukkan pilihan kata yang dipakai seseorang bisa menggambarkan kondisi fisik, mental dan keseluruhan mereka.

Apa yang Dilakukan Studi Baru Ini?

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Pittsburgh School of Medicine dan diterbitkan di Nature Communication ini menunjukkan bahwa semakin banyak pilihan kata emosional negatif yang digunakan seseorang, berkaitan dengan kesulitan psikologis dan kesehatan fisik yang tidak baik. Sementara, semakin banyak kata-kata positif yang digunakan, semakin baik kondisi kesehatan fisik dan mental seseorang.

Wow.

Kesimpulan ini didapatkan setelah menganalisa blog publik yang ditulis oleh lebih dari 35.000 individu dan esai jujur-mengalir-dari-hati-terdalam dari 1.567 mahasiswa. Para mahasiswa ini juga melaporkan kondisi hati mereka secara berkala selama eksperimen ini berlangsung.

Hasilnya? Mereka yang cenderung menggunakan kata-kata emosi negatif (kata-kata seperti ‘sakit’ atau ‘kesepian’), dilaporkan mengalami depresi dan neurotik, juga kondisi kesehatan yang buruk.

Sementara itu, mereka yang menggunakan kata-kata emosi positif (seperti ‘liburan’, ‘prestasi’, ‘punya teman’) dilaporkan lebih rajin, ramah, riang, sehat, dan mengalami depresi dan neurotik lebih rendah.

Apa Pengaruh Studi Pilihan Kata Ini bagi Kesehatan Mental?

Meski penemuan ini menunjukkan bahwa kosakata seseorang bisa jadi berkaitan dengan pengalaman emosional, tapi belum ada bukti apakah kata-kata tersebut berbahaya atau dapat membantu.

Dan selama latihan menulis-dari-lubuk-hati-yang-paling dalam, para peneliti ini menemukan bahwa mahasiswa yang menggunakan lebih banyak kata-kata yang berhubungan dengan kesedihan, menjadi lebih sedih. Sementara mereka yang memakai lebih banyak istilah untuk ketakutan, menjadi lebih khawatir. Mereka yang menggunakan lebih banyak kosakata untuk kemarahan, menjadi lebih marah.

“Sepertinya orang-orang yang memiliki lebih banyak pengalaman hidup yang tidak menyenangkan, mengembangkan kotakata emosi negatif yang menggambarkan dunia di sekitar mereka,” kata James W. Pennebaker, Ph,D, penulis proyek ini. “Dalam kehidupan sehari-hari, orang-orang ini akan cepat melabeli perasaan mereka sebagai sesuatu yang negatif sehingga akhirnya memengaruhi suasana hati mereka.”

Pelajaran yang bisa diambil? Vera Vine, Ph.D., penulis utama studi ini, mengatakan bahwa semoga hasil ini bisa menginspirasi peneliti klinis untuk mempelajari efek negatif dari mendorong orang untuk terlalu banyak memberikan label pada emosi negatif mereka. “… mungkin lebih mengajarkan menggunakan kata-kata positif,” katanya.

Selanjutnya: Ini mengapa penting mengelilingi diri dengan orang-orang positif.