Penelitian Menyimpulkan: Stres Bisa Mempengaruhi Jenis Kelamin Bayimu

Foto: www.shutterstock.com

Stres itu bisa mengacaukan banyak hal, mulai dari fisik maupun pikiran. Dan sebuah studi baru menyimpulkan bahwa stres bisa memberikan dampak lain: level stres yang tinggi bisa mempengaruhi jenis kelamin bayi.

Hasil Kesimpulan Didapat Setelah

Untuk mencapai kesimpulan ini, para peneliti menganalisa indikator-indikator stres dari kuestioner, catatan harian dan laporan fisik dari 187 wanita hamil yang sehat. Mereka menemukan bahwa 17% responden mengalami stres secara psikologis (hal ini dilihat dari tingginya level depresi dan cemas berlebih). Sementara 16% partisipan mengalami stres fisik, yang terlihat dari tekanan darah yang lebih tinggi dan asupan kalori yang lebih besar. Kedua kelompok ini (33% jika dijumlahkan), tercatat lebih banyak melahirkan bayi perempuan dibandingkan laki-laki.

Itulah sebabnya, setelah penelitian ini, para ilmuwan mengemukakan bahwa perempuan hamil yang mengalami stres fisik atau psikologis memiliki kemungkinan yang lebih kecil melahirkan anak laki-laki.

Kok Bisa Begitu?

“Studi ini memperlihatkan bahwa pria lebih rentan terhadap lingkungan prenatal yang negatif,” kata Catherine Monk, Ph.D, penulis utama studi tersebut. Hal inilah yang ditengarai menjadi penyebab lebih tingginya kemungkinan lahir bayi perempuan.

Seandainya kamu belum tahu, rasio “alami” seks adalah 105 bayi laki-laki lahir untuk setiap 100 kelahiran bayi perempuan. Akan tetapi di studi ini, rasio tersebut berbalik, yakni 4:9 untuk ibu yang mengalami stres fisik dan 2:3 untuk wanita dengan stres psikologis.

Selain itu, Monk dan tim juga menemukan bahwa ibu yang mengalami stres fisik memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami kelahiran prematur. Sementara para ibu yang merasakan stres secara psikologis, kemungkinannya lebih tinggi mengalami komplikasi saat melahirkan. Meski variabelnya berbeda pada dua grup tersebut, studi yang diterbitkan di PNAS ini membuktikan bahwa stres bisa memberikan efek negatif pada kehamilan.

Jadi, intinya, jika kamu ingin hamil, menjaga kesehatan mental = periode hamil yang lebih aman. Bahkan, meningkatkan kemungkinan memiliki bayi laki-laki—jika kamu memang mendambakannya. “Pastinya dari penelitian ini semakin jelas bahwa kesehatan mental dari pihak ibu itu penting, tidak hanya untuk ibu tapi juga anaknya,” kata Monk.

Oh seandainya saat ini stres bukanlah masalah utamamu, melainkan pasanganmu yang sepertinya sedang mengalami midlife crisis, coba baca ini untuk membantunya.

podcast button