Tanya Ahli: Apakah Semua Orang Punya Suara Hati?

suara hati
Foto: www.gettyimages.com

Pernah menonton Pinocchio? Masih ingat dengan karakter Jiminy Cricket yang menjadi suara hati anak Geppetto tersebut. Jika seorang boneka-yang-berubah-menjadi-manusia saja digambarkan memiliki suara hati, apakah semua manusia mempunyainya?

“Semua orang punya suara hatinya masing-masing, walaupun value atau nilai moral yang muncul berbeda,” jelas Alexandra Gabriella, seorang psikolog dari Smart Mind Center.

Menurutnya, contoh sederhana adalah seseorang yang dibesarkan dengan nilai pernikahan dari ajaran agama Kristen yang monogami dan seseorang yang dibesarkan dengan ajaran agama Islam yang membolehkan poligami. “Jelas dalam hal ini, ketika memandang sebuah pernikahan dan pasangan, kedua orang tersebut memiliki suara hati yang berbeda,” jelasnya.

“Jadi bukan berarti tidak punya suara hati, akan tetapi bisa jadi karena punya value yang berbeda saja,” tambahnya.

Lebih lanjut Alexandra menjelaskan bahwa pada dasarnya, suara ini adalah bentuk dari akal budi yang selalu mengingatkan kita untuk melakukan atau tidak melakukan suatu hal. “Untuk menjelaskan hal ini, kita perlu membahas tentang konsep kepribadian berdasarkan teori psikoanalisa Freud, tentang adanya id, ego, dan superego,” jelasnya.

Psikologi 101: Id muncul sedari kita baru lahir, yang mana prinsipnya adalah mencari kepuasan dan kesenangan. Ego yang menyeimbangkan keinginan kita (id) dengan tuntutan-tuntutan/aturan dari luar diri kita (superego). Sementara superego adalah adalah nilai-nilai moral, aturan, gambaran etika dan lain-lain, yang kita dapat dari sekitar kita. “Superego inilah yang sering dianggap sebagai moral, dasar dari suara hati,” paparnya.

Lebih jauh, Alexandra membeberkan bahwa superego sendiri dibagi menjadi dua yaitu:

Ego ideal

Terbentuk atas aturan dan standar atas perilaku-perilaku baik yang terbentuk dari pengalaman positif kita dengan orang lain. “Seperti ketika kita merasa bangga karena berhasil mengikuti suatu aturan dengan baik,” jelasnya.

Conscience

Terbentuk dari aturan atau standar-standar yang dianggap negatif oleh orang lain. “Sehingga kita terus mengingatkan diri kita akan apa yang baik dan buruk.” Inilah yang disebut suara hati.

Suara hati sendiri, “terbentuk sedari kita kecil (usia lima tahun) sampai dewasa berdasarkan norma, value, standar dari masyarakat yang kita temui,” katanya. Dengan kata lain, conscience bisa berkembang ataupun termodifikasi walaupun tidak mudah.

Alexandra menerangkan bahwa suara ini berfungsi membantu dan menjadi penyeimbang untuk menentukan apa yang harus kita pilih. Meski begitu, kamu tidak harus selalu mengikuti suara hati. “Kita pun perlu fleksibel dan mempertimbangkan segala hal untuk menentukan pilihan,” tegasnya.

Selanjutnya: Ini panduan seorang psikolog tentang bagaimana mengajarkan anak bersikap baik sedari dini.