Pinjamkan atau Tidak: Tipe Teman yang Sebaiknya Tidak Dipinjami Uang

Foto: www.gettyimages.com

Ah, perkara meminjamkan uang itu memang sensitif dan pelik. Mungkin lebih sensitif dan pelik dibandingkan dengan perasaan Kourtney Kardashian setelah minggu lalu Kendall Jenner menempatkannya di urutan terakhir daftar “best Kardashian parents.” Jadi, bagaimana sebaiknya respon kita saat teman meminjam uang? Dan yang tak kalah pentingnya: bagaimana cara menagihnya! Seorang perencana keuangan memberikan solusi tentang panduan meminjamkan uang kepada teman.

Begini Panduan Meminjamkan Uang pada Teman

Foto: www.gettyimages.com

Ardita Muksin, seorang perencana keuangan sekaligus Agency Director Prudential Life Assurance menyampaikan tidak ada panduan meminjamkan uang kepada teman yang spesifik. Namun yang harus diperhatikan adalah bahwa kamu mesti siap dana tersebut tidak akan kembali. “Paling utama dalam meminjamkan uang ke teman adalah tanyakan diri kita siap atau tidak, jika uang tidak kembali tepat waktu, bahkan tidak kembali sama sekali,” katanya kepada LIMONE.

Ardita menambahkan, ada satu tips lagi yang harus diingat saat meminjamkan uang kepada teman: pinjamkan sejumlah yang kita relakan (seandainya tidak kembali). “Sampaikan kepada teman bahwa kamu hanya ada 25% atau 50% dari apa yang dibutuhkan oleh dia saat itu. Dan itu tidak perlu dikembalikan atau dia bisa kembalikan kapan saja saat dia siap.”

Jika ingin memberi pinjaman pada teman, Ardita berpesan perlu membuat tenggang waktu dan surat perjanjian.

“Perlu ada tenggang waktu, karena itu membuktikan bahwa kita serius akan meminta kembali dana pinjamannya. Meskipun kita harus siap sewaktu-waktu dana tersebut bisa saja tidak kembali,” tambahnya. “Untuk berapa lamanya tergantung dari jumlah dan keperluan kita serta kapan kita akan memerlukan dana itu kembali. Saran saya sebaiknya untuk pinjaman yang sifatnya hanya gentlemen agreement (lisan), jangka waktunya tidak lebih dari enam bulan.”

Ardita mengatakan surat perjanjian dibutuhkan jika sifatnya adalah pinjaman untuk bisnis dan melibatkan hitungan bunga, dalam jumlah besar, serta jangka waktu yang panjang dan ada kolateral. “Perlu diiingat untuk pinjaman yang sifatnya jangka panjang ada yang namanya risiko kehidupan. Jika sewaktu-waktu dalam masa pinjaman itu terjadi risiko dengan teman kita, maka kamu perlu plan B,” ucapnya.

Lakukan Ini, dan Jangan Lakukan Itu

Foto: www.gettyimages.com

Sebelum meminjamkan uang, Ardita mengatakan alangkah baiknya jika kita memiliki prinsip yang teguh dan diterapkan kepada semua orang. “Misalnya prinsip tidak akan pernah membantu teman dalam bentuk meminjamkan uang karena tidak mau persahabatan terganggu. Atau prinsip hanya meminjamkan uang kepada teman dengan maksimal jumlah tertentu—lebih dari itu tidak bisa,” sarannya. “Apapun prinsip yang kita pegang, pastikan itu yang kita jalankan dan selalu jaga prinsip dan terapkan kepada semua teman, bukan hanya kepada orang tertentu.”

Ardita berpesan jangan pernah membantu teman untuk mendapatkan pinjaman bank/instansi keuangan lain dengan menggunakan nama diri sendiri. “Karena jika terjadi risiko dengan teman, maka kamulah yang akan menanggung utangnya,” jelasnya.

Selain itu, Ardita juga menyarankan untuk tidak meminjamkan dana yang akan dipakai dalam waktu dekat, seperti dana sekolah anak. “Sebab jika mendadak dana itu tidak kembali sesuai kesepakatan, posisi kita yang menjadi sulit. Oleh karena itu, kita sebaiknya meminjamkan dana yang memang tidak kita perlukan dalam waktu dekat atau memang dana lebih yang kita sisihkan untuk membantu orang lain.”

Ini Kualifikasi Teman yang Sebaiknya Tidak Diberi Pinjaman

Foto: www.shutterstock.com

Ada banyak alasan kenapa kita sering kali sulit menolak permohonan pinjaman dari teman. Tidak tega. Tidak sampai hati. Tidak enak. Kasihan. Ardita mengutarakan sebaiknya tidak meminjamkan uang kepada teman yang kita tahu terlibat kasus seperti narkoba/kejahatan. “Dengan meminjamkan uang, justru kita tidak membantu dia; malah dia akan semakin bermasalah. Sebaiknya, bantu cari jalan keluar yang sifatnya permanen dan bukan sementara,” ujarnya.

Namun pada dasarnya kepada siapa kita mau meminjamkan uang itu adalah pilihan pribadi. “Tetapi ada baiknya jika kita tahu bahwa dana itu akan dipakai untuk apa. Jika untuk sesuatu yang negatif, sebaiknya jangan kita pinjamkan,” Ardita menyarankan.

Cara Menolak Jika Teman Ingin Meminjam Uang

Foto: www.shutterstock.com

Ardita membeberkan tiga cara menolak teman yang ingin pinjam uang, tapi kita tidak percaya dengannya. “Sebaiknya katakan, ‘maaf untuk saat ini saya tidak bisa membantu kamu dalam hal itu’. Lalu tanyakan, ‘apakah ada hal lain yang bisa saya bantu?'” Ardita mencontohkan. “Istilahnya, kadang lebih baik kita memberikan umpannya daripada ikannya. Contoh misalnya seorang teman yang tidak ada uang karena di PHK. Mungkin saat ini kita tidak bisa bantu dia dalam segi finansial, tapi kita bisa bantu dia mencari kerja yang baru atau mereferensikan dia ke kenalan kita.”

Atau, kamu juga bisa sampaikan, ‘maaf saya punya prinsip berkaitan meminjamkan uang kepada teman. Saya banyak kehilangan teman karena ini. Jadi, saya tidak bisa bantu kamu dalam hal ini, tapi apa ada hal lain yang bisa saya bantu?’

Atau cara terakhir ini. Jika teman yang meminjam kepadamu adalah teman yang masih berutang, sampaikan, ‘maaf, tapi utang yang kemarin saja kamu belum bayar kembali. Jadi maaf saya belum bisa meminjamkan uang lagi kepada kamu’.

Lakukan Ini untuk Menagih Utang pada Teman

Foto: www.shutterstock.com

Seringkali, kita sungkan menagih uang yang kita pinjamkan pada teman. Padahal, itu adalah uang kita!

“Sebagai seseorang yang meminjamkan uang, kita tidak perlu sungkan untuk menagih, karena itu adalah hak kita. Apalagi sebelumnya sudah ada perjanjian kapan dana itu akan dikembalikan,” cetus Ardita.

Ardita menyebutkan sikap kita juga harus tegas dalam menagih, meski yang sering kali terjadi adalah yang berutang lebih galak dari yang diutangi.

“Harus diingat bahwa kalau memang dia adalah teman baik kita, harusnya dia punya niat baik untuk mengembalikan uang. Karena tentunya dia tidak ingin hubungan pertemanannya dengan kamu bermasalah hanya karena masalah uang. Kalaupun terlambat, dia pasti akan lebih dulu menyampaikan. Namun, jika perilakunya tidak baik saat ditagih dan tidak ada niat mengembalikan, maka bisa jadi dia bukanlah teman baikmu,” bebernya.

Hal Lain Lain yang Harus Diperhatikan saat Menagih Utang

Foto: www.shutterstock.com

Ardita berpendapat tidak perlu melibatkan orang ketiga menagih utang jika sifatnya masih gentlemen agreement. “Biasanya pinjam-meminjam uang dengan teman itu perjanjiannya hanya lisan saja, jadi saya tidak merekomendasikan menagih di depan pihak ketiga (teman lainnya). Kebanyakan orang tidak ingin diketahui bahwa dia memiliki utang,” beber Ardita. “Kalau sampai melibatkan pihak ketiga, apalagi pihak ketiganya debt collector maka kamu harus siap kehilangan hubungan pertemanan,” tambahnya.

Ardita menuturkan kita tidak perlu marah jika teman tidak mengembalikan uang sesuai kesepakatan. “Ketika kita bersedia meminjamkan uang, sebenarnya kita bisa dibilang sudah merelakan uang itu apapun yang terjadi. Jadi, saya rasa tidak perlu sampai marah, tapi kita harus tegas kepada orang tersebut,” tegasnya. Misalnya, dengan “membuat deal cicilan dengan mengembalikan 25%. Tujuannya untuk melihat apakah dia memiliki niat baik untuk mengembalikannya.”

Perlukah dilupakan jika waktunya sudah lewat berbulan-bulan, bahkan tahunan? “Tergantung hubunganmu dengan teman,” jawabnya. “Jika kamu bisa merelakan pinjaman itu, maka bisa saja kamu lupakan dan anggap sebagai sumbangan dalam membantu teman,” tegasnya.

Masih butuh saran dan tips lagi tentang keuangan? Ini panduan membuat keuangan untuk para amatiran. Dan ini jika kamu sedang merencanakan pernikahan tapi tidak ingin mendadak bangkrut.

podcast button