Studi Baru: Perceraian Memiliki Efek Negatif bagi Kesehatan Fisik dan Mental

efek negatif perceraian
Foto: www.gettyimages.com

Berbagai penelitian telah menunjukkan efek negatif perceraian bagi seseorang. Dan sebuah penelitian baru yang diterbitkan di Frontiers in Psychology adalah yang pertama mengamati dampak langsung perceraian terhadap kesehatan.

Apa yang Dilakukan Penelitian Ini?

Berbagai studi telah menelisik efek perceraian terhadap fisik dan mental, tapi belum ada penelitian yang secara akurat menggambarkan efek-efek ini. Faktanya, perceraian adalah sebuah proses yang panjang, tidak jarang pasangan menjalani periode pemisahan sebelum akhirnya mengajukan perceraian.

“Studi-studi sebelumnya tidak menginvestigasi efek-efek perceraian tanpa periode perpisahan terjadi sebelum perceraian,” kata Prof Gert Hald, salah satu peneliti dari Universitas Kopenhagen di Denmark. “Kami bisa mempelajari pihak yang bercerai yang diberikan sesuatu yang disebut perceraian ‘segera’ di Denmark dan rata-rata perceraian ini selesai dalam 5 hari.”

Hal ini menyebabkan Hald dan peneliti lain bisa mendapatkan data “real time” dari 1.865 orang yang baru saja bercerai. Para peneliti kemudian meminta para partisipan untuk mengisi kuisioner tentang latar belakang, kesehatan, dan perceraian.

Hasilnya, sama sekali tidak mengejutkan, studi ini memperlihatkan bahwa perceraian yang baru saja terjadi memengaruhi fisik dan emosional. Kondisi fisik dan mental mereka yang bercerai lebih buruk persis setelah perceraian terjadi.

Apa yang Berbeda dari Penelitian Ini tentang Efek Perceraian?

Ada beberapa hal yang menarik dari data studi ini. Contohnya, pada laki-laki, memiliki penghasilan yang lebih banyak dan lebih muda memperlihatkan kesehatan fisik yang lebih baik. Sementara laki-laki yang memiliki anak lebih banyak, memiliki pasangan baru dan bahkan beberapa kali pernah bercerai, memiliki kesehatan mental yang lebih baik.

Baca Juga :  Bagaimana Menjaga Kelanggengan Pernikahan Beda Agama

Wanita dengan penghasilan lebih, memiliki pasangan baru dan jumlah perceraian yang lebih sedikit, dikaitkan dengan kesehatan fisik yang lebih baik. Sementara mereka yang mengajukan perceraian dan memiliki pasangan baru, diprediksi memiliki kesehatan mental yang lebih.

Meski begitu, ada satu hal yang memiliki pengaruh besar bagi kedua belah pihak, yakni konflik. “Tidak peduli gender, semakin tinggi konflik yang terjadi, semakin buruk efeknya bagi kesehatan mental,” jelas Dr Søren Sander, salah satu peneliti.

Lalu, apa artinya penelitian ini bagi pihak yang bercerai? Para peneliti ini mengatakan bahwa pihak yang bercerai membutuhkan pertolongan cepat setelah perceraian terjadi.

“Ini bisa berupa intervensi tatap muka atau digital yang didesain untuk mengurangi efek negatif perceraian bagi kesehatan fisik dan mental,” ujar Prof Hald. “Tidak hanya bermanfaat bagi pihak yang bercerai, tapi juga bisa menghemat karena hal ini mengurangi dampak negatif pada produktivitas kerja, kemungkinan cuti, kunjungan ke dokter atau bahkan dirawat di rumah sakit,” katanya.

Selanjutnya: Sekadar Konflik atau KDRT? Ini Perbedaannya.