Apakah Kita Harus Selalu Memiliki Positive Vibes? Ini Kata Psikolog

positive vibes
Foto: www.freepik.com

Belakangan ini, istilah positive vibes pun sering ditemui ketika sedang berselancar di media sosial. Namun mungkin saja sebagian orang masih belum memahami arti dari istilah tersebut. Lantas, apa sebenarnya arti dari kata populer ini? Dan perlukah kita memiliki positive vibes setiap saat?

Simak penjelasan dari Puput Mariyati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis sekaligus founder dari Lembarharapan dan lembarharapan.id, yang memaparkan bahwa selalu positif itu tidak mungkin.

Apa Itu Positive Vibes?

positive vibes
Foto: www.canva.com

Puput menjelaskan bahwa positive vibes merupakan istilah populer yang belakangan ini muncul sebagai tren baru di dunia maya, terutama media sosial.

“Berdasarkan kamus Oxford, positive vibes memiliki arti yaitu suasana hati atau atmosfer yang baik (positif). Hal ini dapat dihasilkan oleh orang, benda, atau tempat,” jelasnya.

“Istilah vibe atau vibration jika dilihat dari sudut pandang science memiliki arti yang hampir serupa. Yakni pancaran karakteristik, aura, atau kekuatan (spirit) yang menghidupkan seseorang atau sesuatu, dan dapat dirasakan atau dialami secara naluriah. Arti lainnya, vibe adalah suasana emosional yang dapat dirasakan dari partikel-partikel benda atau media elastis,” tambahnya.

“Dari kedua pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan secara sederhana bahwa sifat positif ini dapat menular. Saat kamu bekerja, belajar, atau beraktivitas apapun dengan perasaan sukacita dan terhubung dengan batinmu, maka perasaan tersebut dapat diproyeksikan atau ditularkan pada dunia,” ungkap Psikolog Klinis yang satu ini.

“Salah satu cara untuk membawa getaran kepositifan dalam hidup adalah dengan memfokuskan energimu untuk mengembangkan kepribadian positif saat kamu bersama dengan orang-orang tersayang di sekitarmu,” anjurnya.

Apakah Kita Harus Selalu Memiliki Positive Vibes?

apakah kita harus selalu memiliki positive vibes | | Apakah Kita Harus Selalu Memiliki Positive Vibes? Ini Kata Psikolog
Foto: www.rawpixel.com

Karena terlihat menyenangkan, apakah kita harus selalu memiliki positive vibes?

Menurut Puput, “kita tidak bisa untuk selalu positif dalam segala situasi kehidupan. Sebagai manusia, kita mengalami berbagai pengalaman hidup yang bisa mendatangkan emosi positif maupun negatif,” jawabnya.

“Adakalanya kita merasakan emosi bangga, bahagia, gembira, minat, dan rasa ingin tahu. Serta rasa syukur, cinta, optimis, dan kepuasan yang dapat memberikan rasa nyaman atau perasaan yang baik (positif). Tetapi di lain waktu, mungkin saja kita mengalami emosi yang kurang mengenakkan (negatif), seperti marah, takut, jijik, kesepian, sedih, kecewa, atau cemburu,” paparnya.

Keduanya merupakan emosi yang wajar dialami oleh manusia. “Oleh karena itu, menjadi jujur dan otentik dengan emosi yang sedang kita alami adalah cara terbaik untuk menjaga kesehatan mental,” katanya.

Mengapa Positive Vibes Sering Dikaitkan dengan Kesehatan Mental yang Baik?

positive vibes
Foto: www.freepik.com

Jika berhasil mengembangkan diri dan karakter secara positif, serta orang-orang di sekitar mendapatkan getaran yang positif, maka ini artinya kamu bisa mendapatkan manfaat dari positive vibes.

“Seligman, tokoh pelopor Psikologi Positif berpendapat bahwa karakter positif merupakan penyangga kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bahagia adalah mereka yang mengalami lebih banyak emosi positif. Serta cenderung sukses serta berprestasi di berbagai bidang kehidupan,” jelasnya.

Suasana hati dan emosi positif “membuat orang berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara yang berfokus pada optimalisasi sumber daya serta kesempatan untuk membangun keterampilan atau kompetensi yang berguna di masa depan. Sekaligus membantu mendekatkan mereka dengan tujuan atau goals yang ingin dicapai dalam kehidupan,” ungkapnya.

Selain itu, “Suasana atau emosi positif akan membantu kita untuk membina hubungan yang baik dengan orang-orang di sekitar,” lanjut Puput.

Apa Saja Contoh dan Bentuk Positive Vibes?

positive vibes
Foto: www.canva.com

Sesungguhnya, positive vibes dapat dilakukan melalui pengembangan karakter yang positif dalam diri kita. “Ini dapat dimulai dari menyadari pikiran, emosi dan perilaku. Amati bagaimana kebiasaanmu dalam berpikir, merasa dan bertindak,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini. 

Jika kamu merasa ada kebiasaan yang negatif, maka cobalah untuk menyusun rencana demi menciptakan hal positif dalam pikiran, emosi dan perilaku.

“Misalnya menyadari negative self-talk yang dimiliki, yaitu kata-kata negatif yang sering kita gunakan untuk memberikan kritik atas perilaku dan pikiran kita. Seperti kalimat ini, ‘Aku bodoh‘, ‘Aku tidak berguna‘, ‘Aku jelek‘, ‘Aku selalu berbuat kesalahan‘ dan sebagainya,” ujarnya.

Setelah menyadari ini, maka kita bisa mengubahnya menjadi positive self-talk. Nantinya akan memberikan nuansa atau suasana positif dalam pikiran dan perilaku. 

“Positive self-talk juga dapat dilakukan dengan afirmasi atau pernyataan kepada diri sendiri atas niat yang baik untuk setiap aktivitas kita. Seperti ‘Aku niatkan minum air putih ini untuk menjaga tubuhku tetap sehat!‘ Jadikan afirmasi atau self-talk sebagai ‘mantra’ dalam aktivitas sehari-hari dan amati dampaknya bagi diri sendiri,” sarannya.

“Apakah hal tersebut memberi energi positif atau membuatmu merasa buruk tentang diri sendiri? Jika perilaku atau tindakan tersebut memberi energi positif bagimu, lakukan itu secara berulang-ulang hingga terbentuk menjadi kebiasaan,” tambahnya.

“Kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi karakter, dan kamu dapat meminta dukungan dan umpan balik dari orang-orang di sekitarmu. Ini bertujuan untuk pengembangan karakter tersebut,” anjurnya.

Bagaimana Cara Memiliki Lingkungan yang Positif?

positive vibes
Foto: www.freepik.com

Setelah memiliki pemahaman tentang siapa diri melalui kesadaran atas pikiran, emosi, dan perilaku, maka ini saatnya kamu menentukan di mana tempat yang cocok untuk bergaul dalam lingkungan.

“Untuk menemukan lingkungan pergaulan positif yang bisa mendukung upaya-upaya mengembangkan karakter positif, maka kamu bisa melakukan riset terhadap lingkunganmu sendiri,” katanya.

“Periksalah tanggapan atau komentar orang-orang di lingkungan saat kamu berada dalam situasi sosial. Apakah mereka fokus pada apa yang membuatmu merasa kecil, buruk, dan jatuh. Atau mereka fokus pada hal-hal yang membuatmu merasa percaya diri, baik, dan hebat,” papar Puput.

Jika jawabannya adalah pilihan yang kedua, “maka kamu berada pada lingkungan positif yang secara otomatis mencerminkan getaran positif dari orang-orang di dalamnya,” ungkapnya.

“Namun jika kamu belum menemukan lingkungan yang positif, tidak apa-apa. Kamu bisa membuat pilihan untuk ‘menyaring’ orang-orang yang tidak penting atau tidak memberikan pengaruh baik dalam hidupmu. Atau kamu bisa memilih pergi dari lingkungan yang negatif,” ujarnya.

Tetapi apabila lingkungan negatif ini benar-benar tidak bisa dihindari, “maka kamu bisa membuat pilihan untuk ‘bertahan’ di lingkungan tersebut. Dengan cara menciptakan batasan (boundaries) tentang mana yang bisa diterima dan mana yang tidak,” tambahnya.

Selain itu, melatih komunikasi asertif juga akan membantu kita untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, keyakinan, kebutuhan, serta hak secara jujur dan terbuka dengan tetap menghormati orang lain.

Bagaimana Merawat Nuansa Positif yang Telah Ada?

bagaimana merawat nuansa positif yang telah ada | | Apakah Kita Harus Selalu Memiliki Positive Vibes? Ini Kata Psikolog
Foto: www.unsplash.com

Menurut Puput, kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus akan membentuk karakter. Kamu bisa meminta dukungan dan umpan balik dari orang-orang di sekitar untuk membantumu mengembangkan karakter yang positif.  

“Selain itu, kamu dapat menuliskan jurnal atau catatan untuk mencatat progres yang kamu lakukan. Bagaimana umpan balik yang diterima dari orang-orang di sekitar, dan bagaimana dampak atau keuntungan yang terjadi dari upaya positif yang telah dilakukan kepada orang-orang di lingkungan,” pesannya.  

Sebab, ”orang-orang positif akan menarik hal-hal positif. Oleh karena itu, bergaul dengan orang-orang positif akan membantumu untuk mempertahankan positive vibes yang dimiliki. Kunjungi tempat-tempat yang memberikan nuansa positif agar getaran positif tetap terjaga,” ujarnya.  

Jika kamu menyukai benda-benda tertentu yang memberikan keindahan atau nuansa positif untuk emosimu, “maka sangat layak untuk membelanjakan uangmu untuk membeli barang tersebut. Misalnya tanaman hijau untuk menghias rumahmu, dekorasi dinding yang mengubah nuansa kamarmu, atau aksesoris pakaian sesuai dengan warna favoritmu, dan sebagainya,” tuturnya.

Kamu juga bisa merawat positive vibes melalui aktivitas self-care secara rutin. Self-care adalah upaya melakukan perawatan diri dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.

“Melakukan hobi atau kegiatan yang menyenangkan, menjaga pola makan yang sehat. Serta tidur dan olahraga yang cukup dapat membantumu tetap sehat dan sejahtera secara psikologis. Semakin kamu bahagia dan nyaman dengan dirimu sendiri, semakin menyenangkan bagimu untuk berada di sekitar orang lain,” tambahnya.

Benarkah Getaran Positif yang Berlebihan Dapat Menjadi Hal Buruk?

benarkah getaran positif yang berlebihan dapat menjadi hal buruk | | Apakah Kita Harus Selalu Memiliki Positive Vibes? Ini Kata Psikolog
Foto: www.freepik.com

Jika kita melakukan generalisasi secara berlebihan dan tidak efektif dari kepositifan atau keadaan bahagia serta optimis pada semua situasi kehidupan, maka hal ini malah akan menjadi toxic positivity.

Toxic positivity bisa menghalangi diri kita untuk menjadi otentik dan genuine dengan pengalaman emosional kita sebagai manusia,” ucap Puput.

Saat kamu merasakan pengalaman emosional yang negatif, “It’s okay not to be okay,” tegasnya.

“Terima saja, kamu tidak perlu merasa malu untuk mengakui emosi yang sedang kamu alami. Sebab, menolak atau menekan emosi dapat mendatangkan masalah kesehatan mental dan relasi dengan orang lain,” lanjutnya.

Apa Penyebab Toxic Positivity?

apa penyebab toxic positivity | | Apakah Kita Harus Selalu Memiliki Positive Vibes? Ini Kata Psikolog
Foto: www.freepik.com

Toxic positivity merupakan penerapan keadaan bahagia dan optimis yang berlebihan dan tidak efektif kepada semua situasi. Dengan mengorbankan emosi dan keadaan negatif yang merupakan bagian dari pengalaman emosional manusia.

“Sederhananya, toxic positivity artinya kita memaksa diri untuk bahagia atau positif di semua situasi kehidupan. Padahal hal ini mustahil untuk dilakukan karena sebagai manusia, kita tidak bisa menghindari pengalaman emosional, baik yang negatif maupun positif,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa toxic positivity akan menghalangi kita untuk menjadi manusia yang genuine atau asli.  

Namun, mengapa seseorang bisa melakukan toxic positivity?

“Hal ini bisa dilihat dari aspek sosial. Dalam relasi sosial, kita terbiasa mendapatkan respons yang judgemental dari orang-orang di sekitar,” ujarnya.

“Tuntutan dari orang di sekitar yang menuntut kepositifan dari kita menyebabkan diri menekan emosi negatif dan memaksakan diri untuk selalu positif. Kita menjadi takut dihakimi atau distigmatisasi apabila kita menunjukkan emosi yang negatif,” ujarnya.

Mengapa Toxic Positivity Dapat Berdampak Buruk?

mengapa toxic positivity dapat berdampak buruk | | Apakah Kita Harus Selalu Memiliki Positive Vibes? Ini Kata Psikolog
Foto: www.freepik.com

Menurut Puput, toxic positivity tidak hanya menyebabkan masalah kesehatan mental karena kita menolak atau menekan emosi negatif dengan emosi positif yang berlebihan di semua situasi. Namun ini juga dapat memberikan dampak buruk lainnya.

“Kita jadi abai dengan bahaya nyata di hadapan kita. Misalnya, kita tidak menyadari bahaya kekerasan fisik atau verbal yang terjadi di lingkungan kita. Karena bias positif dapat menyebabkan korban pelecehan atau kekerasan meremehkan tingkat keparahannya dan tetap berada dalam hubungan yang kasar,” tuturnya.

Selain itu, “orang yang menekan emosinya akan kesulitan untuk mencari dukungan atau bantuan. Kita mungkin merasa terisolasi atau malu dengan perasaan kita. Sehingga tidak menyadari atau tidak mampu berinisiatif untuk mencari bantuan atau perawatan kesehatan mental,” lanjutnya.

Tak hanya itu, toxic positivity juga dapat menghalangi kita untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan kemampuan memecahkan masalah saat terjadi konflik dengan orang lain.

Lantas, bagaimana cara agar mencegah positive vibes tidak berlebihan?

“Kita perlu melatih kesadaran diri untuk lebih menyadari pikiran, emosi dan perilaku. Menerima dan mengenali emosi negatif maupun positif sebagai hal yang normal dan penting dalam pengalaman hidup manusia,” jawab Puput.

Menerima dan menamai emosi kita jauh lebih banyak manfaatnya daripada mencoba menghindarinya.

“Jika mengalami kesulitan, maka berbicara dengan orang kamu percaya tentang emosi-emosi yang dirasakan, dan mencari dukungan dari mereka dapat membantumu untuk memberikan ‘alarm’ agar tidak berlebihan dalam menerapkan positive vibe,” anjurnya.

Kesimpulan

positive vibes
Foto: www.freepik.com

Positif vibe adalah sebuah upaya yang positif untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Namun kita perlu menyadari situasi kapan bisa menerapkannya dan kapan tidak, agar kita tidak kehilangan siapa diri kita. Menjadi otentik dan sadar dengan diri akan membuat kita lebih bahagia dan sejahtera daripada harus berpura-pura saat kita sedang tidak baik-baik saja,” tutup Psikolog Klinis ini.