Kencan Pertama: Anjuran dan Larangan Agar Berjalan Lancar

kencan
Foto: www.freepik.com

Ketika berada dalam siklus pendekatan, tidak jarang calon pasangan akan mengajak kita bertemu. Baik itu untuk makan bersama, menonton film, atau melakukan aktivitas lain yang menyenangkan. Kita pun sibuk mempersiapkan segala sesuatunya agar kencan pertama bisa berjalan dengan lancar.

Namun, apa saja sebenarnya anjuran dan larangan selama berkencan? Dan bagaimana jika kita merasa ilfeel dengan calon pasangan?

Apa Itu Kencan?

kencan
Foto: www.canva.com

Kencan merupakan “tahap di mana dua orang yang sudah saling mengenal dan ingin melanjutkan ke jenjang komitmen, kemudian bertemu dalam satu acara,” ujar Christine Anggraini, M.Psi., Psikolog, Founder dan Psikolog Klinis dari Insightku Psikologi

Menurut Psikolog Klinis yang satu ini, terdapat perbedaan arti kencan pada zaman dahulu dan saat ini. “Kalau zaman dahulu, kencan itu 'kan setelah pacaran, tetapi kalau sekarang kelihatannya anak muda melihat kencan itu tidak harus setelah pacaran. Ketika mereka masih pendekatan dan bertemu, itu juga bisa disebut kencan,” katanya.

“Sehingga, lebih tepatnya kencan adalah janji temu yang telah ditentukan, baik waktu maupun tempat dengan melakukan aktivitas mengobrol,” lanjutnya.

Apakah Benar Kencan Pertama Menjadi Penentu dari Sebuah Hubungan?

Foto: www.canva.com

Menurut Christine, sebenarnya kencan pertama belum tentu bisa menjadi penentu utama dari sebuah hubungan. “Karena biasanya orang-orang tidak langsung berkencan. Mereka akan bertukar pesan terlebih dahulu dan ngobrol-ngobrol,” ungkapnya.

Sehingga, barulah “kencan itu sebagai pembanding. ‘Oh ternyata kalau di Whatsapp orangnya lumayan cerewet, tetapi kalau ketemu orangnya malu-malu’, misalnya seperti itu. Jadi pembanding antara virtual dan kenyataan itu bagaimana,” tuturnya.

“Sehingga belum bisa kalau dibilang penentu utama. Karena misalnya ada ketidakcocokan, maka bisa didiskusikan lagi. Seperti ‘Oh kamu pendiam ya ternyata’ atau ‘Tadi kenapa pas ketemu jadi diam?’ Ini kembali lagi tentang kedua individunya, bisa atau tidak untuk berkomunikasi,” ujarnya.

Apa Saja yang Perlu Diperhatikan Ketika Ingin Melakukan Kencan Pertama?

kencan
Foto: www.xframe.io

Ketika pertama kali berkencan, pastinya kita ingin memberikan kesan yang baik. Untuk itu terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:

Penampilan

Christine menuturkan, “pastinya yang pertama adalah penampilan. Karena 'kan bertemu dengan orang lain, ya. Tidak harus selalu glamor atau mewah, tetapi minimal rapi dan wangi,” katanya.

Siapkan dompet

Kemudian, “jangan lupa untuk membawa dompet, baik laki-laki maupun perempuan. Isi uang minimal 100 ribu. Karena, ada stigma kalau kencan pertama itu yang bayar harus pria, padahal tidak semua pria setuju dengan pendapat tersebut. Sebab, beda keluarga, maka beda juga ajarannya,” ujarnya.

“Kalau kita pihak perempuan tidak membawa uang, dan pria berkata ‘Eh 50:50 ya’ atau ‘Aku bayarin tiket, kamu nggak mau beli cemilan?’. Maka sebaiknya, tanyakan terlebih dahulu. Jika kita tidak ingin dibayarkan, maka komunikasikan saja. Tetapi yang paling penting, jangan berharap untuk dibayarkan,” sarannya.

Karena “banyak perempuan itu awal-awal berharap untuk dibayarkan, dan hal tersebut menjadi beban bagi pria. Di sini yang paling penting adalah komunikasi,” lanjutnya.

Rencanakan kegiatan

Jangan lupa, sebelum kencan ada baiknya untuk merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan.

“Mungkin ingin dinner di kafe, nonton, atau lainnya supaya nanti tidak canggung. Misal nanti tempat dari tujuan pertama tutup, maka langsung ke tempat B. Juga rencanakan topik obrolan apa saja yang akan dibicarakan,” anjurnya.

Adakah Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Selama Kencan Pertama?

Foto: www.freepik.com

Bagi Christine, kencan pertama itu “seperti pendekatan awal, layaknya orientasi kalau di kuliah, untuk itu jangan langsung membahas hal-hal yang dalam. Bahaslah hal-hal yang dua-duanya merasa nyaman, bahaslah tentang kegiatan sehari-hari, perkuliahan, atau pekerjaan,” tuturnya.

“Jadi jangan bahas mantan dan rencana menikah. Sebab ada beberapa orang yang baru kencan pertama tapi sudah membahas pernikahan. Kalau misalnya pasangannya mau membahas hal tersebut, tidak apa. Tapi perlu diingat bahwa tidak semua orang nyaman, takutnya seperti dipaksa,” tambahnya. 

Sehingga, lebih baik untuk saling mendalami saja.

“Maksudnya hobinya apa, kesukaannya apa, atau self healing apa, liburan suka kemana, berpetualang, atau jalan-jalan ke mal. Lebih baik membicarakan hal-hal seperti itu dibanding membicarakan orang lain. Jadi jangan bergosip di kencan pertama,” pesannya.

Serta, lebih hati-hati ketika membahas masalah keluarga. “Jangan pernah membahas terkait keluarga secara dalam. Tetapi boleh misalnya si pria menjemput wanita, boleh tanya misalnya, ‘Papa kamu kalau Sabtu libur ya? Atau Mami kamu suka makanan apa?’,” ujarnya.

Bolehkah Membawa Teman Saat Berkencan?

kencan
Foto: www.freepik.com

Saat pertama kali bertemu dengan seseorang, terkadang kita belum merasa nyaman, sehingga sebagian orang akan mengajak temannya. Namun, bolehkah membawa teman selama berkencan?

“Ini yang terkadang tidak diinfokan ya, pihak A tahunya kita berdua. Tetapi pihak B ternyata membawa kejutan. Sebenarnya ini boleh saja, tetapi sebaiknya diskusikan terlebih dahulu. Kita jujur saja, ‘Sejauh ini aku nyaman kalau kita chatting, api maaf banget kalau pergi berdua, aku kurang nyaman. Boleh nggak ajak sahabat aku, sekalian aku kenalin kamu sama sahabat aku’,” contohnya.

Jadi boleh saja, asal diskusi terlebih dahulu dan jangan memberikan kejutan. “Karena kalau tidak diskusi, khawatir menimbulkan asumsi. Sebab manusia itu 'kan sering berasumsi ya, ‘Oh jangan-jangan dia tidak nyaman sama aku, tapi sulit ngomong sama aku’, padahal sebenarnya tidak seperti itu,” tuturnya. 

Kalau ia tidak mengizinkan, “di situ kita bisa lihat alasannya apa. Jika dia memberikan alasan yang tidak masuk akal, karena belum jadian kita boleh berpikir ulang. Karena kalau kita berpikir tentang pacaran, hubungan itu 'kan berbicara tentang komunikasi, tidak hanya soal cinta,” kata Psikolog Klinis yang satu ini.

Jadi kalau misalnya dari awal ia sulit untuk bernegosiasi, tidak bisa menerima, maka kita boleh berpikir ulang. “Karena jika di awal sangat sulit dan tidak bisa memahami ada kondisi-kondisi yang tidak bisa sesuai dengan kemauannya, dan ia tidak mau mengalah, maka nanti pas pacaran juga pola-polanya seperti itu,” terang Christine.

Sehingga lebih baik tanyakan dulu, mengapa merasa tidak nyaman dan cari win-win solution.

“Karena 'kan tidak bisa dipaksakan juga kalau salah satu pihaknya tidak nyaman. Atau alternatifnya tawarkan main ke rumah. Tapi kalau dari awal kencan tidak menemukan jalan tengah, maka boleh dipikirkan kembali,” sarannya.

Apa Tanda Bahwa Kencan Pertama Berlangsung Sukses?

kencan
Foto: www.rawpixel.com

Berikut tanda-tanda bahwa kencan pertama yang berlangsung sukses:

Berlangsung dua arah

“Kita bisa lihat dari pembicaraan, apakah obrolan atau topik-topik yang dikeluarkan dua arah. Jangan-jangan hanya kita yang menggali topik, tetapi ia hanya diam dan menjawab. Jadi lihat pembicaraannya dalam dua arah,” tutur Christine.

Observasi

Jika selama kencan itu ia selalu melihat ke arah lain, menatap ponsel terus, tangannya dilipat, jangan-jangan ia tidak fokus dengan kita dan sedang merasa cemas.

“Karena kalau selalu melihat ke ponsel, itu kita boleh tanya. Ketika ada gerakan-gerakan yang diulang, atau kakinya goyang, bisa bertanya apakah sedang khawatir. Atau jangan-jangan ia gugup karena kencan dengan kita. Selain itu, kita juga bisa melihat apakah ada kontak mata atau tidak selama berbicara,” katanya.

Jadi bisa klarifikasi, “supaya tidak ada asumsi kita juga bisa lihat gerak tubuhnya. Selama kita cerita apakah ia hanya berdeham dan badannya bersandar kebelakang, seperti menujukkan ketidaktertarikan. Serta apakah terlihat excited nada bicaranya," ungkapnya,

"Sehingga nantinya kita bisa klarifikasi. Namun jika takut untuk klarifikasi, kita bisa lihat setelah kencan berlanjut atau tidak di-chat,” tambahnya.

Follow up session

Setelahnya, kita juga bisa melihat apakah dari kencan belanjut ke teks atau tidak. Kalau misalnya sukses, biasanya akan berlanjut lagi lewat chatting, intinya dua arah.

“Kalau chat hanya kita yang kejar dan dia pasif tidak pernah mencari kita, maka cobalah untuk pikirkan ulang. Jangan-jangan ia belum tertarik, karena kalau tertarik seharusnya jadi dua arah juga. Kalau sudah berhari-hari ia belum mencari, mungkin memang merasa belum tertarik dengan kita,” katanya.

Namun, bolehkah kita yang menghubungi terlebih dahulu?

“Boleh. Kalau misalnya ia belum tertarik setelah kencan pertama, kita boleh kejar kembali. Tetapi yang perlu di-highlight adalah tidak boleh dipaksakan. Dari kita sendiri juga perlu review sudah berapa lama mengejarnya, dan mengapa kita tertarik sekali dengan dirinya,” jawab Christine.

Sebab, “ada individu yang mengejar selama tiga hingga lima tahun dan bertepuk sebelah tangan. Itukan menyakitkan. Padahal di dekatnya ada pilihan lain, tetapi karena fokusnya justru pada yang tidak bisa digapai. Terkadang kita seperti itu, fokus yang tidak bisa digapai dan mengabaikan apa yang bisa digapai. Karena yang tidak bisa digapai dianggap lebih menarik,” lanjutnya.

“Apalagi jika sudah berkali-kali melakukan pendekatan dan ada sebuah pola bahwa kita tertarik pada seseorang yang benar-benar cuek, misalnya. Padahal idaman kita adalah individu yang hangat, inikan beda jadinya. Ini boleh review, apa yang kurang di dalam diri kita,” terangnya.

Bagaimana Jika Kita Merasa Ilfeel terhadap Seseorang?

Foto: www.canva.com

Ketika merasa tidak cocok dan ilfeel, kebanyakan orang melakukan ghosting, karena sungkan untuk berbicara langsung.

“Dalam psikologi, biasanya individu-individu yang ghosting, ada hubungan dengan kelekatan. Kelekatan merupakan ikatan emosi khusus yang dibentuk oleh anak dengan pengasuh. Kelekatan ini nantinya akan jadi pola berpikir kita tentang bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain,” capnya.

Jadi, hubungan kita dengan orang tua juga akan memengaruhi. Apakah cukup aman ataukah orang tua sibuk bekerja sehingga anaknya merasa sendiri dan tidak aman.

Hal tersebut akan menentukan masa remajanya. Apakah menjadi pribadi yang mudah bergaul atau tidak. Bahkan untuk berkencan di masa dewasa.

“Individu-individu yang terbiasa melakukan ghosting, itu kelekatannya tidak aman. Jadi akhirnya, karena tidak merasa aman untuk berdiskusi, asertif, dan berbicara. Daripada merasa tidak nyaman, maka mereka memutuskan untuk langsung pergi saja,” terang Christine.

Dengan kata lain, pihak tersebut tidak memikirkan bagaimana yang ditinggal. “Padahal ghosting efeknya lumayan. Kita akan bertanya-tanya terus, ‘salahku di mana, kelihatannya aku kemarin tidak apa-apa, sopan saja, tapi kok ditinggal’,” lanjutnya.

Jadi kalau merasa ilfeel, lebih baik bicarakan. Kalau ia terus-menerus mendekat, maka kita ungkapkan.

"Cara yang paling baik itu diskusi, karena dengan diskusi, itu juga bisa melatih diri untuk mengungkapkan pendapat kita terhadap orang lain. Serta diskusi juga meminimalisir salah paham dan asumsi," terangnya.

“Kalau individu bisa berani berdiskusi, dalam lingkaran pertemanan pun juga akan terasa nyaman. Selain ghosting, ada juga individu-individu yang takut untuk menolak sehingga memilih untuk bertahan dalam hubungan yang sudah tidak nyaman,” ujarnya.

Jika dikaitkan secara psikologi, kemballi lagi pada kelekatan yang tidak aman. Ia akan merasa tidak aman kalau menolak dan merasa bahwa ditolak itu tidak enak.

"Serta ada ketakutan akan ditinggalkan. Jadi bentuk kelekatan tidak aman itu bisa berbagai macam. Bisa bertahan dalam hubungan yang menyakitkan, bisa pergi begitu saja tanpa kejelasan, atau bisa tarik ulur dalam hubungan,” tambahnya.

Bagaimana Jika Ia Terus Mengejar dan Memperjuangkan Cintanya?

kencan
Foto: www.freepik.com

Ketika seseorang memutuskan untuk mengejar, maka itu adalah pilihannya. Yang penting kita sudah mencoba untuk mengutarakan.

"Dari situ kita boleh menentukan ingin merespons seperti apa, boleh tidak merespons sama sekali, atau merespons dengan seperlunya saja. Tetapi awalnya diskusi terlebih dahulu bahwa kita memang hanya ingin berteman saja misalnya,” saran Psikolog Klinis yang satu ini.

Akan tetapi, saat dikejar kita juga harus membatasi. “Kalau kita bilang hanya ingin berteman, maka pasang batasan. Jangan chatting-nya langsung dibalas. Kalau kita tetap mau berteman maka terapkan batas batas pertemanan itu seperti apa,” tambahnya.

Bagaimana Jika Kita yang Ditinggalkan Setelah Kencan Pertama?

Foto: www.freepik.com

Saat pihak lain yang memutuskan hubungan, mungkin kita akan merasa sedih. Untuk menyikapinya maka “boleh bertanya, tidak cocoknya di mana dan apa alasannya. Kalau kita sudah tanya tetapi ia tidak bisa memberikan alasan yang konkret, lebih baik jangan dikejar,” pesannya.

Namun jika ingin mengejar, maka harus sudah siap dengan risiko sakit hati.

“Jadi tentang kejar-mengejar ini tidak ada cara pasti, karena manusia ini unik. Tapi satu hal yang pasti harus ada di dalam diri adalah self-awareness. Apakah kalau saya diperlakukan begini saya nyaman, apakah yang dia lakukan pada saya sudah sesuai dengan nilai yang kita telah tetapkan,” ujar Christine.

Biasanya, yang membuat rumit dari hubungan adalah kita tidak tahu maunya apa. Tidak tahu apa yang kita harapkan apa dan pria yang seperti apa yang diinginkan.

Bagaimana Mengatasi Rasa Bosan terhadap Pasangan?

Foto: www.freepik.com

Ketika berada dalam hubungan percintaan, munculnya rasa bosan itu wajar. Tapi perhatikan bagaimana cara berkomunikasi.

Jangan-jangan kita berdua merasa jenuh karena komunikasinya sudah berkurang. Karena merasa sudah paling tahu tentang pasangannya, sehingga tidak ada keinginan untuk menggali pasangannya.

“Padahal sampai nikah nanti, kemungkinan bosan juga akan lebih tinggi. Jadi kalau sudah mulai kelihatan ada tanda-tanda bosan, coba ajak pasangan untuk membuat rencana. Coba tempat baru untuk dating, bikin usaha baru, atau ganti kebiasaan,” sarannya.

Misalnya biasanya pergi, sesekali boleh kencan di rumah, nonton Netflix, mengobrol dengan orang tua. Kalau biasa kencan di dalam ruangan, coba sekali-kali kencan di outdoor.

“Jadi komunikasi, ganti kebiasaan, dan kegiatan kencan. Boleh pergi dengan keluarga, ajak juga pergi dengan teman kalau memungkinkan. Karena kalau bicara bosan harus dikomunikasikan dua pasangan. Sebab jika merasa bosan dan tidak dikomunikasikan, takutnya pihak ketiga datang,” pesannya.

Bagaimana Menentukan Waktu Ideal untuk Berkencan?

kencan
Foto: www.freepik.com

Untuk waktu ideal kencan, itu kembali masing-masing individu. “Karena misalnya pasangan LDR ada yang kencan setahun sekali, ada yang ketemu enam bulan sekali, tiga bulan sekali, dan mereka baik-baik saja. Karena sudah ada kesepakatan antar pasangan,” ujarnya.

“Ada yang bertemunya dua minggu sekali karena butuh waktu me-time, nah itu harus didiskusikan dengan pasangan. Jadi tidak ada waktu ideal. Karena ideal menurut internet tidak itu tidak selalu berlaku menurut umum. Perlu diingat bahwa saat pacaran bukan berarti kita meleburkan diri sehingga jadi kehilangan jadi diri dan tidak bisa melakukan apa yang disukai,” tegasnya.

Menurut Christine, “pacaran yang sehat adakah ketika kita semakin mengenal dengan diri, boleh melakukan hobi-hobi, boleh punya me-time. Tidak yang 24 jam dengan pasangan terus,” terangnya.

Namun, bagaimana agar terlepas dari ketergantungan dengan pasangan?

“Jika berbicara tentang ketergantungan, biasanya akan membahas juga tentang ketakutan akan ditinggal, yang jatuhnya juga posesif. Karena biasa di dalam hubungan yang clingy ada unsur posesif, dan di dalam posesif ada ketakutan akan ditinggal,” katanya.

Kebanyakan yang satu posesif clingy, yang satu akan cuek dan sering membuat jarak, “sehingga yang satu semakin takut untuk ditinggal. Kalau kita merasa bahwa pasangan terlalu posesif, tidak bisa mandiri, tidak nyaman untuk sendiri, maka cobalah kita perhatikan kembali. Jangan-jangan kita butuh untuk pergi ke tenaga profesional seperti psikolog,” sarannya. 

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Christine berpesan bahwa saat kencan pertama, “jangan pernah banyak berharap. Nikmati saja proses kencannya. Kalau kita berharap, justru kita tidak bisa melihatnya secara objektif, karena sudah berharap jadian dengannya,” tuturnya.

Kemudian ketika adanya harapan, kemungkinan “kita tidak akan memerhatikan apakah ia tertarik dengan kita. Apakah selama kencan ia menghargai kita, atau kalau kita berbicara didengarkan, bukan ditinggal main game. Serta kita bisa lihat juga apakah ia sopan terhadap orang lain,” lanjutnya.

Jika ia seenaknya sendiri, kasar, tidak sopan, itu bisa dijadikan red flag. “Kalau ia seenaknya sendiri dan cenderung meremehkan orang berdasarkan pekerjaan, apakah itu cocok tidak dengan value kita. Jadi, kalau misalnya sudah punya harapan besar, dikhawatirkan kita akan terbuai,” ujarnya.

Untuk itu, nikmati proses kencannya. Selama kencan berjalan perhatikan apakah sesuai dengan value dan apakah sesuai dengan kriteria pasangan yang kita idamkan. Supaya nantinya tidak cinta buta.