Panduan Bijak Menggunakan Media Sosial 2020

Foto: www.freepik.com

Seandainya kamu belum mendapatkan notifikasinya, sebentar lagi 2020 dan sepertinya sudah saatnya lebih perhatian terhadap kesehatan mental kita. Terutama, jika kamu adalah penggiat media sosial. Istilah kerennya, tagar #selfcare. #selflove. LIMONE menghubungi seorang psikolog bagaimana menggunakan media sosial 2020.

Tanda Media Sosial Mulai Mempengaruhi Kesehatan Mental

Foto: www.gettyimages.com

Sepertinya bisa dikatakan sekarang kita sudah tahu tentang pengaruh media sosial bagian kesehatan. Dan efeknya lebih besar jika kita kecanduan. “Jika kecanduan, biasanya membuat kita tidak produktif,” ujar Irma Gustiana A, M.Psi, Psi dari Ruang Tumbuh, seorang psikolog anak, remaja dan keluarga. Kecanduan di sini artinya, “setiap hari yang dipikirkan itu adalah bagaimana mem-post sesuatu di feed-nya atau media sosialnya untuk menarik perhatian orang lain,” paparnya.  “Tetapi tanpa disadari membuat dia menjadi tidak produktif, melupakan hal-hal mendasar, tidak makan, lupa makan, tidak istirahat, kurang istirahat, kurang bersosialisasi di dunia nyata. Itu sudah mempengaruhi seseorang dari segi kesehatan mental.” Dalam arti negatif.

Selain itu, juga bisa terlihat dari komentar-komentar yang kamu tuliskan. Komentar menyakitkan di feed orang lain adalah satu tanda. Lebih ekstrim, jika unggahan yang sekarang mendominasi media sosialmu adalah tentang ini. “Misalnya postingannya terkait kesedihan mendalam, ide-ide bunuh diri, depresi, rasa marah yang terus menerus. Ini bisa menjadi indikasi bahwa seseorang memiliki masalah yang terkait dengan kesehatan mental,” ujarnya. Dan biasanya ketika kamu mempostingnya di medsos, “Itu dalam rangka mencari bantuan, dengan harapan ada orang lain yang memberikan perhatian.”

Ini Sebaiknya Tidak Perlu Dikatakan di Media Sosial

Foto: www.shutterstock.com

“Contohnya terkait sama body shaming, beauty shaming, bulian dan sebagainya,” kata Irma, tentang hal yang sebaiknya tidak diposting. Satu hal yang kamu patut tanamkan: “Belum tentu orang tersebut bisa menerima komentar tersebut. Lagian, kita juga tidak tahu pasti kondisi orang tersebut.”

Kalau istilah warganet, no judgement, please. Jangan menghakimi.

Bagaimana melakukannya? Miliki kontrol diri. Kendali diri. Dan tempatkan dirimu sesuai dengan posisi orang tersebut.

Dan jika kamu ingin memposting sesuatu—miliki tujuan kenapa kamu ingin menyebarkannya di media sosial. “Apakah itu hanya sekadar posting,” paparnya, “atau ingin mensosialisasikan atau menggugah para netizen, membangun awareness atau kampanye,” sambungnya. Dan apa pun postinganmu itu, kamu harus siap dengan komentar orang lain. Jangan marah ketika ada nyinyiran. Dan sebaliknya, jika ada yang mendukung postinganmu, tidak ada salahnya merasa senang.

Tips Menggunakan Media Sosial

Foto: www.unsplash.com

Media sosial tidak selalu jahat. Buktinya, kita memperoleh banyak informasi dari sana, termasuk tentang kesehatan mental. Seringkali media sosial juga membuatmu jadi tahu bahwa kamu sedang mengalami depresi. “Karena ciri-ciri yang kamu alami sama dengan yang kamu baca,” tutur Irma. Dan kesadaran ini akhirnya membuatmu terdorong untuk mencari tahu informasi lebih dalam—dan bantuan profesional.

Sangat membantu, ‘kan?

Jadi, memang “media sosial ini juga berfungsi untuk menginspirasi orang lain. Ini artinya, media sosial bisa lebih banyak memberikan secara positif daripada negatif.”

Ini artinya, jika kamu memegang kendali penuh atas akun media sosialmu—bukan sebaliknya yang akhirnya membuatmu kecanduan, kemungkinan besar hal-hal baik yang akan kamu tuai.

Tak lupa Irma juga menyarankan: “Pastikan hidupmu juga harus seimbang. Miliki waktu-waktu berinteraksi dengan dunia nyata. Hidup seimbang seperti itu kamu butuhkan untuk memiliki kesehatan mental yang lebih baik,” tegasnya.

Sepertinya sih, kehidupanmu seimbang. Iya ‘kan? Jika kamu masih ragu, check list ini mungkin bisa membantu. Dan ketahui efeknya jika kamu mengikuti seleb-halu.