(Sepertinya) Terlahir Sebagai Orang yang Impulsif—Apakah Ini Sesuatu yang Salah?

impulsif adalah
Foto: www.unsplash.com
Last updated:

Setiap kali mendengar ada yang bilang, ‘kamu orangnya impulsif, ya’—entah kenapa membuat minder. Apakah impulsif adalah sesuatu yang negatif (apakah ini karena istilah ‘impulsive buying‘?). Oleh karena impuls yang kuat, LIMONE menghubungi Yoana Theolia Angie Yessica, M.Psi., Psikolog, seorang Associate Psychologist di Pusat Psikologi Terapan Soegijapranata Semarang, dan Founder dari HOPE Psychology Center Semarang.

Baca terus artikel ini mengetahui apakah impulsivitas sesuatu yang kurang positif dan bagaimana mengatasinya.

Apa Arti Impulsif?

Foto: www.gettyimages.com

Kita sering mendengar kata ini, tapi mungkin sering kali masih bingung dengan definisinya.

“Impulsif adalah berarti kegagalan individu untuk mengendalikan impuls/dorongan untuk melakukan sesuatu. Orang yang impulsif biasanya terdorong untuk merespon rangsangan dengan segera. Pengambilan keputusannya cepat, kurang mempertimbangkan dampak ke depannya, serta tidak menghiraukan konsekuensi dari tindakannya tersebut,” jelas Yoana kepada LIMONE, melalui email.

Apakah kamu termasuk dalam kelompok ini? Menurut Yoana seseorang yang impulsif biasanya memperlihatkan beberapa kecenderungan, di antaranya sulit menahan diri. “Ini bisa tercermin dari berbagai perilaku, misalnya impulsif dalam mengekspresikan kemarahan, berbelanja, makan, mengambil keputusan. Atau jenis perilaku lainnya di mana individu melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang dan tanpa memikirkan konsekuensinya,” paparnya.

Mengapa Impulsif Sering Terkesan Negatif?

impulsif adalah
Foto: www.freepik.com

“Impulsif cenderung dikaitkan dengan sesuatu yang negatif karena biasanya orang yang impulsif cenderung tidak stabil, tidak terprediksi, terburu-buru, dan sering kali perilakunya beresiko/berdampak negatif. Misalnya, menghamburkan uang untuk berbelanja, berganti-ganti pasangan seksual, meluapkan amarah dengan agresi (baik fisik maupun verbal), dan mengambil keputusan secara sembrono,” jawabnya.

Mendengarkan penjelasannya, membuat LIMONE teringat tentang seorang tokoh agama yang sering menekankan istilah ‘pengendalian diri’.

“Sangat penting untuk seseorang bisa mengendalikan dorongan-dorongan yang ada dalam dirinya. Kemampuan mengontrol diri, menunda respon, dan mempertimbangkan pro dan kontra dari suatu keputusan/tindakan merupakan skill dikembangkan sejak kecil-remaja. Oleh karena itu, kebanyakan orang yang impulsif sudah terlihat impulsivitasnya sejak remaja,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yoana menjelaskan bahwa impulsif menjadi sesuatu yang negatif ketika derajatnya sudah cukup besar dan mengganggu fungsi psikososial diri sendiri ataupun dengan lingkungannya.

“Misalnya, orang yang impulsif berbelanja sampai tidak bisa makan di akhir bulan—ini artinya merugikan diri sendiri. Atau orang yang marah secara impulsif sampai melakukan kekerasan pada keluarganya—ini artinya merugikan lingkungan sekitarnya. Impulsif juga menjadi ciri khas dari orang dengan Borderline Personality Disorder (BPD), meski tidak semua orang yang impulsif berarti memiliki BPD,” tegasnya.

Meski begitu, impulsivitas tidak selamanya negatif. Ah, leganya.

“Impulsif menjadi sesuatu yang positif ketika dorongan yang muncul memotivasi orang tersebut untuk berkarya dan produktif. Tidak jarang hasil karya seni, buku, musik, merupakan hasil tindakan ‘impulsif’. Banyak orang yang bekerja di bidang seni memiliki ‘moment kreatif’ tersendiri, dan ketika ide itu muncul, harus segera dituangkan/dituliskan,” imbuhnya.

“Tetapi di sisi lain, meskipun dimulai secara impulsif, seseorang tetap harus memiliki kualifikasi-kualifikasi lain untuk bisa menyelesaikan karya yang dimulainya, misalnya kegigihan, optimisme, kerja keras, dan lain-lain,” tekannya.

Bagaimana Cara Mengendalikan Impuls?

Foto: www.freepik.com

Oleh karena kita ingin menjadi manusia yang lebih baik (setidaknya dibandingkan kemarin), sebuah pertanyaan muncul: bagaimana agar menjadi orang yang tidak terlalu menyerah pada impuls?

Yoana memberikan beberapa langkah yang bisa kamu terapkan. Dan untuk kamu yang impulsif, kabar gembiranya adalah kamu kemungkinan bisa melakukan ini. Kenapa? Karena salah satu bahan utama untuk sukses mengurangi impulsivitas adalah dorongan dari dalam diri, yakni sesuatu yang kamu miliki dalam volume besar.

Langkah #1

Harus “menyadari” bahwa dirinya impulsif dan memiliki “kemauan” untuk melatih kontrol dirinya. “Tanpa dua hal ini, hampir mustahil untuk mengurangi impulsivitas,” Yoana menekankan.

Langkah #2

Latihan menunda respon. “Belajar mengenali kecenderungan diri sendiri, yakni pada situasi apa biasanya impulsivitas muncul, lalu ambil waktu untuk break sejenak dan mengulur waktu untuk berespon terhadap dorongan tadi,” jelasnya.

Sebagai contoh: ketika sedang di mal dan selalu muncul kecenderungan impulsive buying.

“Maka ketika berada di mal, luangkan waktu sejenak untuk mengulur waktu pembelian, misalnya dengan berputar ke toko lain dahulu, atau menunda pembelian keesokan harinya. Latihan semacam ini bisa melatih diri untuk mengendalikan dorongan,” anjurnya.

Langkah #3

Latihan relaksasi, meditasi, atau mindfulness untuk membantu “menenangkan” diri dari gelombang impuls. “Ketika kondisi diri lebih tenang, individu akan lebih bisa berpikir dan menimbang dengan baik dan jernih,” terangnya.

Langkah #4

“Buat goal-setting, budgeting, atau sesuatu yang terencana dengan baik. Hal ini membantu untuk tetap fokus pada tujuan dan membiasakan diri menghadapi ketidaknyamanan penundaan impusivitas,” tegasnya.

Oh, seperti yang dikatakan di atas bahwa impulsivitas tidak selamanya negatif. Buktinya, mungkin karena impuls iseng kamu mendarat di laman ini, tapi setidaknya kamu belajar sesuatu. Salah satunya: ambil detour ketika impulsive buying menyerang.

Selanjutnya: Ini panduan lengkap membuat rencana keuangan untuk pemula.