Gizi Buruk: Mengenali Tanda dan Cara Mengatasinya

gizi buruk
Foto: www.unsplash.com

Pasti kamu sudah tidak asing lagi ketika mendengar kata gizi buruk, pasalnya hal ini sudah sering menjadi pembahasan. Menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa angka prevalensi stunting di Indonesia sebesar 27,67%, dan menurut UNICEF ada lebih dari dua juta anak Indonesia menderita gizi buruk di tahun 2020.

Lantas, apakah bisa gizi buruk dapat ditangani dan bagaimana caranya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, LIMONE telah menghubungi dr. Cipuk Muhaswitri, M. Gizi., Sp.GK, dokter spesialis gizi klinik dari RSIA Sam Marie Basra untuk membahas penyebab dan cara mengatasi gizi buruk. 

Apa Itu Gizi Buruk?

Foto: www.freepik.com

“Malnutrisi dalam konteks kurang gizi merupakan suatu keadaan defisiensi atau kekurangan zat gizi makronutrien maupun mikronutrien,” ujarnya.

Dokter Cipuk juga menambahkan bahwa malnutrisi akut berat atau gizi buruk akut merupakan suatu keadaan di mana seorang anak terlihat tampak kurus, hal ini dapat ditandai dengan BP/PB <-3 SD dari median WHO Child Growth. Selain itu juga didapatkan edema atau bengkak dan lingkar lengan atas (LLA) < 11,5 cm pada anak usia 5-59 bulan.

Berdasarkan waktunya, klasifikasi gizi buruk terbagi menjadi dua yakni:

Akut

Gizi buruk yang berkembang menjadi akut adalah ketika kekurangan gizi terjadi pada periode pertumbuhan masa kanak-kanak, serta diperparah oleh infeksi dan kelainan metabolik. Penanda keadaan malnutrisi akut adalah wasting dengan atau tanpa pitting edema. “Hal ini dapat ditandai dengan berat badan berdasarkan usia yang rendah yaitu lebih dari dua standar deviasi di bawah rata-rata kurva World International Growth Standard,” papar Dokter Cipuk.

Kronik

Sementara itu, penanda malnutrisi kronik adalah stunting yang dapat ditandai dengan panjang badan berdasarkan usia (pada bayi) atau tinggi badan berdasarkan usia (pada anak-anak), lebih dari 2 standar deviasi di bawah rata-rata standar kurva World International Growth Standard.

“Berdasarkan beratnya, kekurangan energi protein dibedakan menjadi ringan dan sedang, yakni termasuk gizi kurang dan berat atau gizi buruk. Gizi buruk terdiri dari tiga tipe yaitu marasmus, kwashiorkor, dan marasmik-kwashiorkor,” ungkapnya.

Tipe marasmus terjadi akibat kekurangan energi dan protein. Hal ini dapat ditandai dengan hilangnya lemak subkutan dan otot akibat digunakannya semua bentuk zat gizi dan sumber energi di dalam tubuh sehingga pasien terlihat sangat kurus dengan muka yang terlihat tua.

Sedangkan tipe kwashiorkor terjadi akibat defisiensi protein. Kelainan yang muncul dari tipe ini adalah gagal tumbuh (tinggi dan berat badan menurut usia), edema atau bengkak di kaki dan tangan, kulit kering dan mengelupas, perubahan warna rambut dan kulit, rambut tipis dan mudah dicabut, muka seperti bulan dan pembesaran organ hati dan limpa. Sementara, “karakteristik marasmik-kwashiorkor adalah wasting yang sangat berat dan terdapat edema,” lanjutnya.

Apakah Gizi Buruk Berbahaya?

gizi buruk
Foto: www.freepik.com

Pada orang dewasa (usia lebih dari 18 tahun), keadaan malnutrisi atau kekurangan zat gizi dibedakan berdasarkan derajat keparahan, hal ini ditentukan dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT). Ada tiga jenis malnutrisi berdasarkan IMT:

  • Malnutrisi ringan dengan IMT 17-18,49 kg/m2
  • Malnutrisi sedang dengan IMT 16-16,99 kg/m2
  • Malnutrisi berat dengan IMT <16 kg/m2

Namun, bagaimana cara menghitung indeks massa tubuh (IMT)?

“Indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan (dalam kg) dengan tinggi badan (dalam meter dan dikuadratkan). Menurut tampilan klinis, malnutrisi dewasa dibedakan menjadi kwashiorkor dan marasmus, serta campuran marasmik-kwashiorkor. Jarang ditemukan keadaan kwashiorkor pada dewasa. Apabila ditemukan, gambaran klinis pada dewasa mirip dengan pada anak dengan tampilan utama edema,” kata Dokter Cipuk.

Malnutrisi berat atau gizi buruk merupakan keadaan yang berbahaya dan dapat mengancam nyawa. Keadaan ini menjadi penyebab hampir setengah kematian pada anak berusia di bawah lima tahun, terutama pada negara berkembang. “Keadaan kurang gizi ini akan meningkatkan risiko infeksi, angka kesakitan dan kematian akan meningkat, juga akan menurunkan perkembangan mental dan kognitif anak jika terjadi sejak di awal kehidupan,” ungkapnya.

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kurang gizi, seperti berat badan lahir rendah, masalah pada pemberian makan, diare, penyakit yang diderita saat ini, pertusis, atau penyakit kronik. Selain itu, kurang gizi mengakibatkan risiko peningkatan keparahan penyakit, bertambah lamanya penyembuhan penyakit, bahkan hingga kematian. 

“Kurang gizi akan menambah parah penyakit dan memperburuk status gizi, serta mengganggu perkembangan dan menurunkan sistem imun. Keadaan ini akan menyebabkan individu rentan terhadap infeksi. Infeksi juga berperan dalam terjadinya malnutrisi, salah satunya melalui mekanisme peningkatan kebutuhan energi saat terinfeksi, sedangkan di sisi lain terjadi penurunan asupan makanan,” jelasnya.

Apakah Gizi Buruk Bisa Menyerang Semua Usia?

Foto: www.freepik.com

“Gizi buruk atau malnutrisi berat dapat dialami oleh seluruh usia, namun bayi dan anak-anak yang berusia kurang dari lima tahun merupakan kelompok yang paling rentan. Pasalnya, tingginya kebutuhan zat gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan, sehingga keadaan ini sering terjadi pada anak di bawah usia lima tahun,” jawabnya

Sementara kelompok lain yang menjadi perhatian adalah ibu hamil, karena ibu yang kurang gizi akan berisiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, sehingga rentan untuk mengalami gagal tumbuh dalam masa perkembangan bayi dan anak usia dini. Selain itu, juga berisiko tinggi untuk mengalami penyakit dan kematian dini.

Pada “remaja perempuan yang kurang gizi, akan berisiko menjadi ibu yang kurang gizi sehingga berkontribusi terhadap siklus kurang gizi antar generasi. Kelompok usia lain yang juga rentan mengalami kekurangan energi dan protein adalah geriatri (lanjut usia) karena adanya akumulasi penyakit dan gangguan terkait penuaan,” ucapnya.

Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Gizi Buruk?

gizi buruk
Foto: www.unsplash.com

Gizi buruk atau malnutrisi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti adanya peradangan dalam tubuh, peningkatan kebutuhan energi, serta asupan yang kurang. Penyebab lainnya adalah kondisi akut dan kronik. Kondisi akut seperti trauma, luka bakar, dan infeksi, sementara kondisi kronik yakni menderita penyakit kanker, gagal ginjal, gagal jantung, dan penyakit neurologi dan neuromuskular.

“Faktor utama yang memengaruhi adalah kemiskinan. Asupan yang tidak memenuhi syarat adalah penyebab primer. Penyerapan yang menurun di saluran cerna, kebutuhan yang meningkat, dan pengeluaran nutrisi yang berlebih merupakan penyebab sekunder malnutrisi,” paparnya.

Risiko kurang energi dan protein pada anak-anak akan meningkat jika anak tersebut memiliki berat badan lahir rendah, asupan makan yang tidak adekuat (memadai), terdapat masalah makan, diare, sakit yang berulang, campak, pertusis, dan penyakit kronis lainnya.

“Selain itu, sanitasi yang tidak baik, pendidikan yang kurang pada orang tua, jumlah anggota keluarga, imunisasi yang tidak lengkap, kemiskinan, ekonomi dan politik yang tidak stabil, serta situasi darurat seperti perang, akan meningkatkan risiko kurang energi dan protein,” jelasnya.

Apakah Dampak dari Gizi Buruk?

Foto: www.unsplash.com

“Secara umum, dampak gizi buruk adalah penurunan sistem imun sehingga meningkatkan risiko terkena infeksi. Keadaan ini akan menungkatkan angka kesakitan dan juga kematian, serta menurunkan perkembangan mental dan kognitif anak jika terjadi sejak di awal kehidupan,” tutur Dokter Cipuk.

Terdapat dua dampak gizi buruk pada anak, yakni:

Dampak jangka pendek

Kondisi ini akan menurunkan sistem imun dan mengganggu perkembangan kognitif, kemampuan motorik, kemampuan belajar, meningkatkan kematian pada anak yang baru lahir, serta tinggi badan yang rendah ketika anak berusia dua tahun.

Dampak jangka panjang

Sementara dampak jangka panjangnya adalah tubuh pendek yang permanen, depresi, ansietas, hiperaktivitas saat remaja, gangguan perhatian saat remaja, mudah terkena penyakit kronik, dan melahirkan bayi dengan berat badan rendah pada ibu hamil.

Bagaimana dengan dampak pada orang dewasa?

“Dampak malnutrisi pada dewasa adalah penurunan berat badan, gangguan penyembuhan luka dan integritas kulit, meningkatkan kompilasi bedah, gangguan sistem imun sehingga memudahkan infeksi, memperpanjang penggunaan ventilator dan lama rawat, serta gangguan fisik, rehabilitasi, dan kualitas hidup,” ungkapnya.

Bagaimana Gejala dari Gizi Buruk?

Foto: www.freepik.com

Berikut beberapa gejala dari gizi buruk:

  1. Penurunan berat badan yang tidak disengaja
  2. Berat badan kurang
  3. Penurunan selera makan dan minum
  4. Kelelahan
  5. Lemas
  6. Gangguan saluran cerna seperti mual, muntah, sariawan, gangguan menelan, kembung, dan diare
  7. Keluhan terkait penyakit akut dan kronis
  8. Perubahan konsistensi makanan
  9. Penurunan kemampuan penyerapan zat gizi
  10. Pertumbuhan yang terganggu pada anak

 “Tanda malnutrisi berat dapat dilihat dari rambut yang kusam dan mudah dicabut, kulit yang kering, bersisik dan mungkin terdapat luka, mouth ulcer di daerah bibir dan mulut. Adanya tanda muscle wasting seperti cekung di daerah pelipis, tulang zigomatikus yang menonjol dan iga gambang, adanya tanda dehidrasi, dan terdapat edema atau bengkak,” tambah Dokter Cipuk.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Gizi Buruk?

gizi buruk
Foto: www.freepik.com

“Diagnosis gizi buruk pada anak ditegakkan bila terdapat tanda seperti terlihat sangat kurus, edema pada kedua punggung kaki atau seluruh tubuh, dan dari antropometri didapatkan BB/TB atau BB/PB <-3 SD dan LLA <11,5 cm,” paparnya.

Sementara gizi buruk pada dewasa dapat didiagnosis dengan beberapa kriteria, yakni:

  • Berdasarkan WHO adalah dengan IMT <16kg/m2
  • Menurut manifestasi klinis, malnutrisi dewasa dibedakan menjadi kwashiorkor dan marasmus, serta campuran marasmik-kwashiorkor
  • Berdasarkan American Society of Parenteral and Enteral Nutrition (ASPEN), malnutrisi didiagnosis dengan ditemukannya dua dari enam tanda, seperti asupan energi tidak adekuat, penurunan berat badan, penurunan massa otot, penurunan massa lemak subkutan. Adanya akumulasi cairan secara lokal atau general, dan penurunan status fungsional yang ditentukan dengan hand grip.

Di bawah ini, tabel penentuan malnutrisi berat secara klinis berdasarkan rekomendasi ASPEN.

gizi buruk

Bagaimana Cara Mengatasi Gizi Buruk pada Anak?

Foto: www.freepik.com

Mengatasi gizi buruk pada anak terdiri dari dua kategori, yakni dengan komplikasi dan harus rawat inap di rumah sakit atau puskesmas dan gizi buruk tanpa komplikasi yang tidak perlu dirawat inap. “Anoreksia menjadi indikasi rawat untuk penderita gizi buruk karena akan mengganggu asupan nutrisi dan terjadi hipoglikemia yang tentunya memengaruhi kesembuhan penderita,” ujar Dokter Cipuk.

Jika gizi buruk tersebut disertai komplikasi dan perlu dirawat, maka akan ditangani sesuai dengan fase dari pasien tersebut. Empat fase penatalaksanaan nutrisi pada pasien dengan gizi buruk adalah:

  • Fase stabilisasi (H 1-2)
  • Fase transisi (H 3-7)
  • Fase rehabilitasi (minggu ke-2 dan 6)
  • Fase tindak lanjut (minggu ke-7 hingga 26)

“Selain itu, terdapat sepuluh langkah tindakan pelayanan yang diberikan yakni terdiri dari mencegah dan mengatasi hipoglikemia, hiponatremia, serta dehidrasi. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit, mengobati infeksi, memperbaiki kekurangan zat gizi mikro, memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi, memberikan makanan untuk tumbuh kejar, memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang, dan mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah,” paparnya.

Kebutuhan energi juga dihitung berdasarkan fase pemberian makanan pada gizi buruk, yakni:

Fase stabilisasi

Pemberian energi pada fase stabilisasi adalah 80-100 kkal/kgBB/hari, protein 1-1,5 gram/kgBB/hari, dan kebutuhan cairan 130 ml/kgBB/hari atau 100 mg/kgBB/hari bila ada edema berat.

Fase transisi

Pemberian energi pada fase transisi adalah 100-150 kkal/kgBB/hari, protein  2-3 gram/kgBB/hari, dan kebutuhan cairan 150 ml/kgBB/hari.

Fase rehabilitas

Pemberian energi pada fase ini adalah 150-220 kkal/kgBB/hari, kebutuhan protein 3-4 gram/kgBB/hari, dan cairan 150-200 ml/kgBB/hari

Sesuai anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pasien gizi buruk dapat diberikan mikronutrien yakni untuk anak usia enam bulan hingga lima tahun diberikan zat besi setiap hari selama empat minggu (diberikan pada fase rehabilitasi). “

“Vitamin A diberikan 50.000 IU untuk anak usia kurang dari enam bulan, 100.000 untuk anak 6-11 tahun, dan 200.000 IU pada anak berusia 1-5 tahun. Vitamin C diberikan 30 mg pada anak usia kurang dari enam bulan, 35 mg pada usia 6-11 bulan, 40mg untuk anak 1-3 tahun, dan 45 mg untuk usia 4-6 tahun. Asam folat diberikan 5 mg pada hari pertama, selanjutnya diberikan 1 mg per hari, dan vitamin B kompleks diberikan satu tablet per hari. Mineral yang dapat diberikan seperti seng, kalium, natrium, magnesium, dan cuprum,” jelasnya.

Jika tidak ada komplikasi, penanganan dilakukan dengan rawat jalan dan tidak perlu ruangan serta tenaga ahli khusus untuk merawat penderita. Anak akan diminta datang seminggu sekali untuk penimbangan berat badan, pemeriksaan kesehatan, dan diberikan makanan padat energi sebanyak 200 kkal/minggu. “Makanan padat energi yang mengandung susu, gula, minyak, kacang tanah, vitamin, dan mineral. Penderita gizi buruk juga dapat diberikan susu F100 dan ditambah dengan makanan padat energi,” lanjutnya.

Bagaimana Menangani Gizi Buruk pada Bayi dan Orang Dewasa?

gizi buruk
Foto: www.freepik.com

“Rekomendasi WHO pada penatalaksanaan malnutrisi akut yang berat pada bayi dan anak, bahwa bayi usia kurang dari enam bulan dengan gizi buruk tanpa disertai edema yakni diberikan ASI. Bila bayi tidak mendapat ASI, dapat diberi susu formula, F75 atau F100 yang diencerkan,” jawabnya.

Penanganan Malnutrisi pada Orang Dewasa

Sementara penanganan malnutrisi berat pada dewasa dapat dilakukan dengan beberapa cara, yakni:

  1. Menilai apakah ada risiko refeeding syndrome dengan jumlah pemberian makan yang disesuaikan dengan klinis pasien
  2. Diberikan makronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak) dengan komposisi seimbang
  3. Pemberian mikronutrien secara adekuat minimal 1 kali dari angka kecukupan gizi
  4. Jadwal pemberian makan adalah 3 kali makan utama dan 2-3 kali makan selingan yang diberikan dengan small frequent feeding
  5. Diberikan selingan di antara jadwal makan
  6. Diberikan minuman yang mengandung tinggi kalori dan protein
  7. Jalur pemberian makan diutamakan melalui mulut, jika tidak terpenuni maka bisa melalui jalur enteral dan parenteral

“Kebutuhan energi secara ideal diberikan dengan kalorimetri indirek, jika tidak tersedia dapat menggunakan formula standard seperti rumus Harris Benedict ataupun rule of thumb. Jika tidak dalam kondisi sakit ataupun risiko refeeding syndrome, energi diberikan sebesar 25-30 kkal/kgBB/hari. Pemberian energi diberikan dari 0,8 kebutuhan energi basal selama 1-2 hari dan ditingkatkan bertahap 10-20% sesuai toleransi pasien,” ujarnya.

Penanganan Malnutrisi Berat

Pada pasien malnutrisi berat, pemberian energi harus berhati-hati karena berisiko refeeding syndrome. Untuk itu makronutrien dapat diberikan dengan komposisi seimbang yakni jumlah protein sebanyak 0,8-1,5 g/kgBB/hari yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Cairan diberikan sesuai usia. Jika usia <55 tahun maka diberikan 30-40 ml/kgBB/hari, usia 55-65 tahun 30 ml/kgBB/hari, usia >65 tahun 25 ml/kgBB/hari.

“Jika berisiko refeeding syndrome, pemberian nutrisi diperlukan pemantauan yang ketat sehingga perlu rawat inap di rumah sakit. Refeeding syndrome adalah sekelompok gejala dan tanda yang terjadi pada pasien malnutrisi setelah pemberian makan kembali. Gejalanya seperti ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, gangguan organ multi (jantung, paru, neurologis, hematologi) yang dapat menyebabkan kegagalan multi organ dan bahkan kematian,” ungkap Dokter Cipuk.

Jika kondisi telah stabil, pasien akan diberikan edukasi, seperti:

  1. Makan dan minum dengan teratur sesuai jadwal
  2. Kontrol rutin penyakit yang diderita (jika disertai dengan penyakit)
  3. Minum obat yang didapat dari dokter secara teratur
  4. Menjaga kebersihan mulut dan tangan
  5. Melakukan aktivitas fisik secara rutin agar terbentuk massa otot

Apakah Gizi Buruk Bisa Dicegah?

gizi buruk
Foto: www.rawpixel.com

“Gizi buruk pada anak dapat dicegah dengan mengoptimalkan gizi dalam 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Pemberian zat gizi yang penting pada ibu hamil dan menyusui seperti karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin, serta mineral, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun. Serta diberikan makanan pendamping ASI sejak bayi berusia enam bulan atau sebelumnya jika ada indikasi medis dan atas rekomendasi dari dokter,” tuturnya.

Intervensi terhadap pemberian mikronutrien perlu dilakukan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Selain itu, strategi pencegahan penyakit juga penting dilakukan untuk mencegah kekurangan gizi akibat penyakit infeksi seperti diare dan penyakit saluran pernapasan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi secara lengkap dan menjaga higienitas seperti cuci tangan, penyediaan air yang bersih, dan sanitasi.

Pencegahan Gizi Buruk pada Anak

“Pencegahan gizi buruk pada anak dapat juga dilakukan dengan melakukan penimbangan berat badan secara rutin sebulan sekali sampai umur 1 tahun, dan 3 bulan sekali sampai umur 3 tahun. Jika kenaikan berat badan di bawah persentil 5 maka sudah termasuk at risk of failure to thrive (weight flatering), harus konsultasi ke dokter spesialis anak untuk diketahui penyebabnya supaya tidak menjadi gizi buruk,” ucapnya.

Dokter Cipuk memberikan saran untuk tetap memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan memantau kecukupannya dengan penilaian pertumbuhan menggunakan tabel WHO Velocity Standards. “Jika ASI eksklusif sudah diberikan dengan cara yang benar, namun bayi menunjukkan at risk of failure to thrive maka nilai kesiapan bayi untuk mendapatkan makanan pendamping ASI. Jika bayi belum siap menerima MPASI, dapat dipertimbangkan ASI donor. Jika tidak ada ASI donor dapat diberikan susu formula,” lanjutnya.

Pencegahan Gizi Buruk pada Orang Dewasa

Sementara, pencegahan malnutrisi pada orang dewasa dapat dilakukan dengan:

  1. Kontrol berat badan secara rutin
  2. Kontrol penyakit yang diderita secara teratur
  3. Minum obat rutin sesuai penyakit yang diderita secara teratur
  4. Tetap melakukan aktiitas fisik secara teratur
  5. Makan dengan teratur dan dengan menu gizi seimbang
  6. Meningkatkan konsumsi sayur dan buah 
  7. Konsumsi makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, telur, kacang-kacangan dan susu
  8. Konsumsi karbohidrat komplek seperti roti gandum, nasi, kentang, pasta
  9. Gunakan bumbu dan rempah-rempah agar makanan memiliki rasa sehingga selera makan meningkat
  10. Konsumsi cemilan sehat seperti sayur, buah, susu rendah lemak
  11. Jika diperlukan dapat ditambahkan suplemen nutrisi oral untuk menambah energi

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Ketika mengalami gejala atau tanda dari gizi buruk, maka ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter agar dapat diatasi dengan baik. Pada malnutrisi dewasa, waktu yang tepat untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi dapat dilakukan ketika:

  • Penurunan berat badan tidak disengaja dalam 3-6 bulan
  • Penurunan nafsu makan
  • Keluhan kesehatan atau penyakit yang diderita terutama yang mengganggu proses makan, seperti sulit menelan, muntah, mual, atau diare

Sementara pada anak, pencegahan untuk terjadinya restriksi atau pembatasan pertumbuhan harus dilakukan lebih cepat. Jika terdiagnosis cepat maka akan ada peluang lebih besar perbaikan kondisi anak dengan intervensi pemberian nutrisi hingga usia dua tahun.

Jika lebih dari dua tahun, “beberapa penelitian mendapatkan data bahwa usaha terus-menerus untuk mengejar pertumbuhan anak masih dapat dibenarkan terutama pada anak usia pertengahan. Tetap perlu berhati-hati untuk mencegah efek jangka panjang yang dapat merugikan dengan pemberian makanan yang berlebihan,” ungkapnya.

Menurut Dokter Cipuk waktu yang tepat untuk berkonsultasi adalah ketika anak terlihat kurus, nafsu makan berkurang, serta mudah sakit atau lelah ketika beraktivitas. “Selanjutnya akan diperiksa oleh dokter, apakah kenaikan berat badan anak atau bayi dibawah persentil 5 maka sudah termasuk at risk of failure to thrive (weight flatering) berdasarkan kurva WHO atau terjadi penurunan BB melintasi dua garis kurva WHO,” jelasnya.

“Jika keadaan ini ditemukan maka akan dirujuk ke dokter spesialis anak untuk diketahui penyebabnya supaya tidak menjadi gizi buruk dan bisa juga dikonsultasikan ke dokter spesialis gizi klinik untuk intervensi nutrisinya. Lebih cepat, lebih baik sebelum terjadi gizi buruk,” sarannya.

Selanjutnya: Panduan Mengenali Alergi Susu pada Anak.