Tanya Ahli: Bagaimana Cara Menangani Malnutrisi?

malnutrisi
Foto: www.unsplash.com

Ketika diberikan pilihan “kelebihan atau kekurangan” pastinya mayoritas akan memilih kelebihan, karena memiliki kelebihan akan lebih baik dibanding memiliki kekurangan. Akan tetapi, hal ini akan berbeda jika dihubungkan dengan berat badan. Selain membuatmu tidak percaya diri, kelebihane maupun kekurangan berat badan juga merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena keduanya merupakan gejala dari malnutrisi. 

Untuk mengetahui lebih lanjut terkait kondisi malnutrisi, LIMONE  telah menghubungi dr. Dian Permatasari M.Gizi Sp.GK, Spesialis Gizi Klinik dari RS Hermina Ciputat dan Klinik Lianaka Cilandak.

Apa Itu Malnutrisi?

malnutrisi
Foto: www.freepik.com

“Malnutrisi merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan kondisi di mana tubuh seseorang mengalami ketidakseimbangan nutrisi, bisa kekurangan atau kelebihan nutrisi. WHO sendiri memberikan definisi bahwa malnutrisi adalah ketidakseimbangan sel tubuh antara asupan nutrisi atau energi dengan kebutuhan tubuh untuk menjamin pertumbuhan, pemeliharaan, dan fungsi tertentu,” jelasnya. 

“Tapi biasanya malnutrisi ini digunakan untuk istilah kekurangan dari nutrisi, sehingga biasanya orang-orang menganggap malnutrisi ini adalah semacam underweight atau kekurangan gizi. Padahal sebenarnya obesitas atau overweight itu juga termasuk dalam istilah malnutrisi,” lanjutnya.

Menurut Dokter Dian, kondisi malnutrisi tidak boleh dibiarkan begitu saja karena dapat membahayakan bagi tubuh. Misalnya pada anak-anak dengan kondisi kurang nutrisi atau gizi buruk, kondisi ini akan mengganggu tumbuh kembang anak.

Begitupun pada orang dewasa dan lanjut usia, malnutrisi yang tidak ditangani akan menurunkan berbagai fungsi tubuh seperti penurunan daya tahan tubuh dan kelemahan otot, bahkan dapat menimbulkan kematian.

“Sehingga dapat dikatakan bahwa malnutrisi ini dapat terjadi pada seluruh rentan usia mulai dari anak-anak sampai lansia. Memang perhatian lebih kita berikan pada anak-anak dan lansia, karena kedua golongan itu merupakan golongan yang rentan terhadap terjadinya malnutrisi,” ungkap Dokter Dian. 

Selain usia, malnutrisi juga dapat terjadi pada orang yang mengalami penyakit kronik dan penyakit akut. Pada penyakit kronik misalnya penyakit paru yang kronik seperti TB paru, kanker, atau keganasan. Sementara pada kondisi penyakit akut seperti adanya trauma yang besar pascaoperasi besar, terutama operasi di saluran pencernaan, adanya infeksi berat, dan luka bakar.

Apa Saja Penyebab Terjadinya Malnutrisi?

malnutrisi
Foto: www.pexels.com

Penyebab malnutrisi yang utama adalah karena asupan nutrisi yang kurang. Hal ini bisa disebabkan dengan beragam penyebab, di antaranya adalah:

  • Pola makan yang tidak baik
  • Kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk membeli bahan makanan
  • Faktor lingkungan
  • Penyakit, seperti paru kronik, kanker, diabetes melitus
  • Infeksi berat
  • Trauma
  • Luka bakar

Dokter Dian menyampaikan bahwa semua penyebab tersebut dapat memicu inflamasi atau peradangan yang merupakan mekanisme tubuh dalam melindungi diri dari infeksi mikroorganisme asing. Sehingga dapat menyebabkan terjadinya malnutrisi.

Selain itu, terdapat beberapa mekanisme lain yang juga dapat menyebabkan malnutrisi, yaitu “adanya gangguan penyerapan, kemudian defisiensi atau kehilangan zat gizi. Serta kondisi metabolisme yang biasanya karena penyakit kronik dan akut. Sehingga terjadi gangguan dari asupan dan meningkatnya kebutuhan dari zat nutrisi, karena tidak seimbang (maka) akhirnya terjadi malnutrisi,” paparnya. 

Baca Juga :  Apakah Junk Food Benar-Benar Tidak Sehat? Seorang Spesialis Gizi Menjawab Misteri Ini

Apa Jenis-jenis dari Malnutrisi?

Foto: www.freepik.com

Terdapat dua jenis malnutrisi menurut Dokter Dian, yakni underweight dan overweight.

Underweight

Kondisi kurangnya nutrisi ini terbagi dalam dua jenis yakni kwashiorkor dan marasmus. Secara kasat mata, keduanya dapat terlihat dari kondisi pasien secara langsung.

“Di mana kalau yang kwashiorkor itu kita lihat seperti anak yang kurus tapi kondisi perutnya yang membuncit. Sementara marasmus biasanya terlihat pada muka yang sangat cekung, dan biasanya hanya terlihat seperti tulang yang dibungkus dengan kulitnya,” tuturnya. 

Kondisi-kondisi ini juga disebut dengan wasting yang ditandai dengan atrofi yakni pengecilan massa tubuh atau otot tubuh, serta penurunan berat badan.

Selain itu, terdapat istilah stunting, yaitu kondisi di mana seorang anak mengalami hambatan dalam pertumbuhan seperti tidak memiliki tinggi yang sesuai dengan usianya. Kemudian, “underweight adalah orang yang memiliki berat badan di bawah rata-rata atau kurus yang kalau misalnya lebih lanjut itu bisa menjadi marasmus atau kwashiorkor,” lanjutnya. 

Overweight

Kelebihan nutrisi atau over-nutrisi dapat dikategorikan sebagai overweight  atau obesitas. Kondisi ini disebabkan karena ketidakseimbangan asupan. “Namun yang ini berlawanan dengan kekurangan nutrisi, kalau overweight atau obesitas adalah kelebihan asupan dibandingkan dengan kebutuhannya,” katanya.

Bagaimana Mengenali Gejala Malnutrisi?

Foto: www.rawpixel.com

“Adapun gejala yang dapat terlihat pada kondisi malnutrisi yang kurang berat badan, tentunya berat badannya kurang dari ideal. Selain itu, terjadi penurunan berat badan secara tiba-tiba atau drastis. Dari fisiknya kita bisa melihat mata dan pipi yang terlihat cekung, adanya penurunan massa otot, beberapa juga ada yang sampai mengalami pembengkakan perut,” paparnya.

Selain itu, gejala malnutrisi juga dapat ditandai dengan rambut rontok dan terjadinya penurunan fungsi ketahanan tubuh. Sehingga tubuh menjadi mudah lelah, sulit sembuh ketika ada luka, nafsu makan yang berkurang, mudah terinfeksi, sulit berkonsentrasi, serta terjadinya perubahan perilaku seseorang. 

Sementara pada overweight atau obesitas, gejalanya dapat ditandai dengan melihat berat badan yang melebihi ideal. Kemudian terjadi peningkatan berat badan secara signifikan, dan disertai dengan nyeri otot atau nyeri sendi. Biasanya nyeri akan terjadi pada sendi-sendiri lutut karena menopang berat badan yang berlebih. Selain itu, malnutrisi dapat juga ditandai dengan gangguan pernapasan, tidur yang mendengkur, dan tubuh yang terasa lebih lelah.

“Gejala dari malnutrisi yang terkait dengan penyakit, yaitu bisa dikatakan malnutrisi apabila ada beberapa kriteria seperti penurunan asupan makanan atau penurunan nafsu makan. Adanya penurunan berat badan, adanya penurunan massa otot, adanya akumulasi cairan atau bengkak yang biasanya tertutup untuk berat badan, dan adanya penurunan dari kapasitas fungsi tubuh,” ucapnya.

Bagaimana Mendiagnosis Malnutrisi?

Foto: www.freepik.com

Beberapa kriteria yang disebutkan di atas, menurut Dokter Dian merupakan kriteria dignosis malnutrisi. Yakni penurunan asupan energi, penurunan berat badan dan penurunan massa otot. Plus, adanya akumulasi cairan atau bengkak di daerah lokal atau secara umum, dan penurunan fungsi tubuh.

Baca Juga :  Tanya Ahli: Apa Saja Jenis Makanan untuk Penambah Nafsu Makan?

Untuk mendiagnosis malnutrisi lainnya tentunya melalui anamnesis atau kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh dokter dan pasien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Kemudian bila diperlukan, maka dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya seperti rontgen atau USG untuk dapat menegakkan diagnosis malnutrisi. 

“Anamnesis biasanya dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, yang terkait dengan keluhan yang dialami oleh pasien. Misalnya sudah berapa lama kondisi yang dapat menyebabkan malnutrisi ini berlangsung, seperti adanya penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Kemudian bagaimana dengan pola makannya, dan apakah ada riwayat penyakit yang mendasari terjadinya malnutrisi ini,” jelas Dokter Dian.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan riwayat penyakit keluarga, obat yang dikonsumsi, riwayat operasi atau trauma, yang dapat menyebabkan risiko terjadinya malnutrisi. Kemudian dalam pemeriksaan fisik, akan terlihat gejala-gejala seperti mata dan pipi yang cekung, adanya pembengkakan, perut buncit, atau dilihat dari kondisi mata. 

“Jangan lupa juga pada saat pemeriksaan fisik inim dilakukan juga pemeriksaan status gizi dengan mengukur berat badan dan tinggi badan. Ini merupakan hal yang penting. Bila perlu, mengukur pola lingkar lengan atas sehingga kita dapatkan data-data dari status gizi pasien tersebut. Untuk pemeriksaan penunjang biasanya dilakukan pemeriksaan darah. Kemudian dari pemeriksaan darah itu bisa dilihat albuminnya dan sebagainya, sehingga malnutrisi dapat terdiagnosis,” ujarnya. 

Bagaimana Cara Menangani Malnutrisi?

malnutrisi
Foto: www.freepik.com

Untuk menangani malnutrisi, Dokter Dian menyarankan untuk ditangani oleh dokter yang kompeten di bidangnya, baik itu dokter gizi atau dokter gizi anak. Penanganan malnutrisi ini dapat dilakukan dengan mengatur asupan atau pola makan pasien. 

“Pertama setelah kita mengetahui status gizi pasien, kita harus menentukan kebutuhan kalori berdasarkan faktor usia, status gizi dari berat badan, tinggi badan, jenis kelamin, serta faktor stres. Kemudian menentukan  komposisi atau jenis makanan serta jumlah yang harus dikonsumsi. Komposisi nutrisi atau jenis makanan ini tentunya mengikuti pola gizi seimbang," ujarnya.

Seandainya kamu lupa, pola gizi seimbang artinya bahwa saat makan, menu mengandung karbohidrat sebanyak 50-60%, protein sebanyak 15-20% dari total kalori, lemak sekitar 25-35%,. Dan vitamin serta mineral yang sesuai dengan angka kecukupan gizi.

Bagaimana jika dikonversikan ke dalam piring?

“Jika ingin dikonversikan ke dalam sebuah piring maka setengah dari bagian piring berisi sayur dan buah-buahan. Kemudian setengah di sebelahnya dibagi dua menjadi karbohidrat dan lauk yang mengandung protein hewani dan nabati,” paparnya.

Namun, apa saja jenis makanannya?

“Tentunya jenis karbohidrat seperti nasi, roti, mie, atau kentang. Kemudian protein hewani seperti ikan dan telur ayam yang mudah kita dapatkan. Susu pun menjadi salah satu sumber protein hewani yang dapat dikonsumsi pada orang-orang yang mengalami malnutrisi. Kemudian lemak yang bisa kita dapatkan di lemak ikan, lemak daging, lemak jenuh, dan lemak tidak jenuh. Jadi, banyak yang harus kita pikirkan untuk menangani malnutrisi ini,” jawabnya.

Baca Juga :  Untuk Perempuan: Ini Mengapa Tidur Bisa Memengaruhi Berat Badan dan Kesehatan

Bagaimana Mengatur Jadwal Makan yang Sehat?

Foto: www.freepik.com

Setelah menyusun komposisi atau jenis makanan, maka langkah selanjutnya adalah mengatur jadwal makan. Dokter Dian menyarankan untuk tiga kali makan besar dan dua sampai tiga kali makan selingan atau snack. Kemudian, selanjutnya adalah menentukan jalur pemberian makan. “Biasanya kalau pasien-pasien rawat jalan yang datang ke poli itu masih bisa mengonsumsi makanan secara langsung lewat mulut. Itu kita katakan makanan per-oral,” ujarnya.

“Pasien-pasien di rumah sakit yang mungkin dengan penyakit kronik atau penyakit akut yang tidak dapat mengonsumsi langsung melalui mulut, biasanya kita pasang selang NGT atau nastrogastrik yang dari hidung langsung terhubung dengan lambung dan mendapatkan diet cair untuk pasien-pasien ini," jelasnya.

"Apabila asupan oral tidak kuat dan pasien mungkin belum bisa terpasang selang NGT, maka kita dapat memberikan makanan-makanan melalui jalur infus yang dikatakan dengan istilah jalur parenteral. Kemudian suplementasi vitamin dan mineral ini juga dibutuhkan pada pasien-pasien malnutrisi,” tambahnya.

Dokter Dian juga menyarankan sebaiknya penanganan malnutrisi di rumah sakit, karena perlu dilakukan dengan berintegrasi dan bekerja sama dalam suatu tim. Menurutnya, malnutrisi ini tidak dapat berdiri sendiri dan biasanya terdapat penyakit-penyakit yang menyertai.

“Misalnya pasien dengan penyakit paru kronik atau TBC paru, itu kita harus kerjasama dengan dokter paru. Kalau misalnya pasien tersebut adalah pasien-pasien pascapembedahan operasi saluran cerna, ya berarti kita harus bekerjasama dengan dokter bedah. Pasien anak dengan malnutrisi tentunya kita harus bekerja sama dengan dokter anak. Jadi memang malnutrisi ini tidak berdiri sendiri, sehingga kita harus mengatasinya dengan sebuah tim dan terintegrasi,” sarannya.

Kesimpulan

malnutrisi
Foto: www.rawpixel.com

Malnutrisi tentunya bisa dicegah. Hal ini bisa dilakukan dengan menjalankan pola hidup sehat seperti mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan melakukan olahraga teratur, tidur cukup, tidak stres, dan tidak merokok.

“Karena dengan menjalankan pola hidup sehat, tentunya akan dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang bisa mencegah kita dari kemungkinan timbulnya risiko malnutrisi,” anjurnya.

“Kemudian apabila kita merasa badannya tidak enak atau seperti kecapean dan kira-kira akan sakit, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Ini supaya tidak terjadi gejala-gejala yang mengarah ke kondisi malnutrisi,” tambahnya.

Selain itu, ketika terjadi masalah-masalah yang terkait dengan nutrisi seperti merasakan gejala tertentu, maka perlu segera berkonsultasi dengan dokter. Karena jika tidak ditangani dengan segera, tentunya akan berisiko untuk terjadinya malnutrisi.

Dokter Dian mengingatkan bahwa semua penyakit memiliki kemungkinan untuk terjadinya malnutrisi. “Yang perlu diperhatikan apabila ada penurunan berat badan yang tidak kita inginkan dalam tiga bulan terakhir, kemudian badan terasa lebih sering lemas, adanya penurunan nafsu makan, itu sudah merupakan warning atau tanda-tanda untuk berkonsultasi dengan dokter,” tutupnya.

Selanjutnya: Ini Daftar Makanan Penambah Nafsu Makan.