Angka Kecukupan Gizi—Apakah Berbeda dengan Angka Kebutuhan Gizi?

angka kecukupan gizi
Foto: www.freepik.com

Saat mengatur pola makan, kamu juga perlu mengetahui kebutuhan gizi harian yang disarankan. Sebab, Angka Kecukupan Gizi (AKG) merupakan hal penting yang dapat membantumu untuk memiliki hidup yang sehat.

Simak penjelasan dari Irtya Qiyamulail, S.Gz, Ahli Gizi di KONI DKI Jakarta dan APKI Approved Educator, terkait angka kecukupan gizi yang disarankan dan perbedaannya dengan angka kebutuhan gizi. 

Apa Itu Angka Kecukupan Gizi?

angka kecukupan gizi
Foto: www.freepik.com

Irtya menjelaskan bahwa “berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 tahun 2019 Pasal 1, Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah suatu nilai yang menunjukkan kebutuhan rata-rata zat gizi tertentu yang harus dipenuhi setiap hari bagi kelompok orang dengan karakteristik tertentu. Hal ini bertujuan untuk memiliki hidup yang sehat,” terangnya.

Pada dasarnya, AKG memiliki beberapa manfaat, terutama pada berbagai kebijakan dan program. “Seperti penetapan panduan gizi seimbang, penetapan Acuan Label Gizi atau AGL yang biasanya ada di label makanan kemasan bagian nutrition facts, dan perencanaan penyediaan pangan,” ujarnya.

“Tak hanya itu, angka kecukupan gizi ini juga bisa dijadikan acuan untuk mengetahui jumlah zat gizi harian yang harus dipenuhi seseorang,” tambahnya.

Apa bedanya dengan angka kebutuhan gizi?

Menurut Irtya, AKG dan angka kebutuhan gizi merupakan dua hal yang berbeda dari segi subyeknya. “AKG (nutrient allowances atau Recommended Dietary Allowances/RDA) adalah acuan untuk merencanakan atau menilai konsumsi pangan kelompok masyarakat di wilayah tertentu,” paparnya.

Sementara “kebutuhan gizi (nutrient requirement) adalah acuan untuk merencanakan atau menilai pemenuhan konsumsi gizi seseorang,” lanjutnya.

“Angka kecukupan gizi digunakan sebagai acuan pemerintah untuk menyusun pedoman konsumsi pangan masyarakat Indonesia. Sedangkan angka kebutuhan gizi bersifat personal yang terkadang jumlahnya bisa lebih rendah atau lebih tinggi dibanding AKG,” jelasnya.

Bagaimana Cara Mengukur Angka Kecukupan Gizi?

Foto: www.rawpixel.com

Sesungguhnya, terdapat beberapa faktor yang bisa memengaruhi AKG, di antaranya adalah “umur, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis. AKG akan dikelompokkan dalam kelompok rentang umur dan kondisi fisiologis. Misalnya seperti anak usia satu hingga tiga tahun, laki-laki usia 19-29 tahun, perempuan hamil trimester satu, dan lainnya,” ungkap Irtya.

Biasanya, “angka kecukupan gizi rata-rata untuk masyarakat Indonesia adalah sebanyak 2100 kkal/orang/hari untuk kecukupan energi. Serta 57 gram/orang/hari untuk asupan proteinnya,” lanjut ahli gizi ini.

Sebagian orang mungkin belum mengetahui berapa rekomendasi asupan harian yang disarankan untuk dipenuhi oleh tubuh. Menurut Irtya, “cara mengetahui berapa angka kecukupan gizi harian adalah dengan melihat kelompok umur dan kondisi fisiologis. Lalu dilihat gizi mana yang ingin dicari,” tuturnya.

“Misalnya AKG energi untuk laki-laki usia 19-29 tahun adalah 2650 kkal. Namun, apabila dihitung dengan menggunakan rumus (seperti Harris Benedict) mungkin saja akan menghasilkan nilai yang berbeda,” imbuhnya.

Mengapa bisa berbeda? “Karena ketika menggunakan rumus kebutuhan energi bersifat spesifik untuk individu, belum tentu orang dengan umur yang sama memiliki kebutuhan energi yang sama pula apabila dihitung dengan rumus,” jawabnya.

“Nilainya akan bisa lebih tinggi atau pun lebih rendah dibanding angka kecukupan gizi. Untuk faktor-faktor yang memengaruhinya di antara lain adalah tinggi badan, berat badan, serta aktivitas fisik seseorang,” katanya.

Bagaimana Jika Asupan Gizi Kita Ternyata Kurang atau Berlebih?

Foto: www.canva.com

Ketika nutrisi yang ada di dalam tubuh tidak sesuai dengan AKG, maka “hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengatur pola makan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Jangan sampai kekurangan dan juga kelebihan,” ujarnya.

“Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan pedoman gizi seimbang untuk memudahkan kita dalam mencari panduan konsumsi makanan sehari-hari. Salah satu dari empat pilar gizi seimbang adalah dengan cara mengonsumsi aneka ragam pangan sesuai dengan acuan Tumpeng Gizi Seimbang,” paparnya.

Sebab, kekurangan asupan gizi dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan, seperti “menurunkan imunitas tubuh sehingga lebih mudah terkena penyakit. Atau risiko terkena defisiensi zat gizi tertentu dan produktivitas yang menurun,” lanjutnya.

Sesungguhnya, “kelebihan zat gizi dalam waktu yang lama akan menyebabkan adanya penumpukan lemak yang berlebihan. Karena adanya ketidakseimbangan energi di dalam tubuh. Hal ini akan menyebabkan seseorang mengalami peningkatan berat badan,” ungkapnya.

“Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit tidak menular, seperti jantung, stroke, dan diabetes,” lanjutnya.

Kesimpulan

angka kecukupan gizi
Foto: www.freepik.com

Angka kecukupan gizi (AKG) memang dapat menjadi pedoman praktis dalam mengetahui jumlah zat gizi yang harus dikonsumsi dalam sehari. “Tetapi, pada skala perorangan dalam memenuhi kebutuhan zat gizi harian sebaiknya disesuaikan lagi dengan kondisi masing-masing,” sarannya.

“Hal ini bisa dilakukan dengan mempertimbangkan faktor aktivitas fisik, apakah ada alergi makanan atau tidak, kondisi kesehatan untuk mengetahui apakah ada pantangan tertentu, dan lain sebagainya. Sehingga nantinya akan lebih tepat sasaran dan spesifik,” imbuhnya.