Pola Asuh yang Kasar Membuat Otak Anak Kecil, kata Studi Baru

pola asuh kasar
Foto: www.pexels.com

Berbagai penelitian membuktikan bahwa pola asuh kasar yang melibatkan kekerasan memberikan dampak negatif pada anak. Dan sebuah penelitian terbaru menegaskan hal ini—dan lebih: anak yang sering dimarahi, dipukul, digoncang atau diteriaki berkaitan dengan struktur otak yang lebih kecil di masa remaja.

Apa yang Dilakukan Penelitian Ini?

Studi-studi sebelumnya memperlihatkan bahwa anak yang mengalami kekerasan fisik parah memiliki korteks prefrontal dan amigdala lebih kecil. Ini adalah dua struktur yang memegang peranan penting dalam meregulasi emosi dan munculnya gangguan kecemasan dan depresi.

Dilakukan oleh peneliti di Université de Montréal dan the CHU Saint-Justine Research Centre dan bekerja sama dengan Stanford University. Menariknya, penelitian ini mengungkapkan bahwa pola asuh yang melibatkan kekerasan sesuatu yang wajar dan bahkan diterima oleh banyak orang di Kanada dan seluruh dunia.

Kehebatan studi ini yakni menggunakan data dari anak-anak yang sudah dimonitor sejak lahir di CHU Saint-Justine pada awal 2000an oleh Université de Montréal's Research Unit on Children's Psychosocial Maladjustment (GRIP) dan the Quebec Statistical Institute.

Sebagai bagian dari pengawasan ini, pola asuh dan level kecemasan anak dievaluasi tiap tahun saat anak berusia antara 2 dan 9 tahun. Data ini kemudian digunakan untuk membagi anak menjadi beberapa grup berdasarkan paparan (tinggi atau rendah) terhadap pola asuh yang melibatkan kekerasan.

Bagaimana Hubungan dengan Pola Asuh Kasar dengan Ukuran Otak?

Pada studi ini, para peneliti mengobservasi bahwa area otak yang sama lebih kecil pada masa remaja yang mengalami pola asuh yang kasar sejak kecil. Bahkan ketika anak tersebut tidak mengalami tindakan kekerasan yang serius.

Baca Juga :  Bagaimana Cara Merawat Anak Ketika Menjadi Single Parent?

"Penemuan ini signifikan dan baru. Ini pertama kalinya pola asuh yang kasar yang bahkan tidak melibatkan kekerasan serius berkaitan dengan ukuran struktur otak yang mengecil, sama dengan korban kekerasan parah," kata Sabrina Suffren, PhD, peneliti utama.

Dia menambahkan bahwa sebuah studi dari 2019 memperlihatkan bahwa pola asuh keras bisa menyebabkan perubahan pada fungsi otak anak, dan sekarang kita tahu bahwa memengaruhi struktur otak.

"Menurut saya yang penting untuk orang tua dan masyarakat mengerti bahwa praktek pola asuh kasar dan keras bisa membahayakan perkembangan anak," kata Suffren. "Yang kita bicarakan adalah perkembangan emosional dan sosial mereka, juga perkembangan otak."

Ini adalah studi pertama yang mencoba mengidentifikasi hubungan antara pola asuh kasar, dengan kecemasan anak dan anatomi otak mereka.