Tanya Spesialis Gizi: Mengapa Habis Makan Rasanya Mual dan Ingin Muntah?

Foto: www.istockphoto.com

Entah kenapa akhir-akhir ini, setiap habis makan kamu merasa mual. Apakah ini artinya kamu hami? Namun sejauh memori dibentangkan, sepertinya hal tersebut bukan alasannya. Apakah yang menyebabkan kita habis makan mual? Daripada parno dan menebak-nebak, mari membaca penjelasan dari dr. Eleonora Mitaning Christy, M.Gizi, Sp.GK, seorang dokter spesialis gizi dan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia, Cabang DKI Jakarta (PDGKI JAYA).

Apakah Definisi Mual?

habis makan mual
Foto: www.freepik.com

Kata ‘mual’ memang hanya mengandung empat huruf, tapi ternyata definisinya panjang.

Mengutip jurnal Therapeutic Advances Gastroenterology tahun 2016, Dokter Mita menjelaskan bahwa mual atau disebut sebagai nausea dalam istilah medis, merupakan ketidaknyamanan yang dirasakan pada lambung atau perut. Biasanya dapat diikuti dengan terjadinya muntah (pengosongan isi lambung secara volunteer ataupun involunteer, melalui organ mulut).

Sebuah penegasan yang perlu kamu tahu: “Mual bukanlah penyakit, melainkan suatu gejala dari sejumlah kemungkinan kondisi medis,” jelasnya kepada LIMONE melalui email.

Sedikit pengetahuan tentang pencernaan, Dokter Mita menjelaskan bahwa sistim saluran cerna merupakan sekumpulan organ yang bekerja bersama. Apa yang mereka lakukan? Yakni, memecah makanan yang kita konsumi menjadi bentuk yang lebih sederhana, mencernanya, menyerap nutrisinya, mengubahnya menjadi energi yang dibutuhkan tubuh, hingga mengatur penyimpanan ataupun pengeluarannya dari dalam tubuh.

Sistim organ saluran cerna tersebut dimulai dari rongga mulut, kemudian makanan akan ‘bepergian’ ke bagian organ bawah mengikuti pipa (esofagus) menuju lambung, lalu masuk ke usus (mulai dari usus halus hingga usus besar).

“Enzim-enzim pencernaan di lambung dan usus akan memecah makanan, mengekstraksi zat gizinya, dan melakukan penyerapan maksimal di usus. Sisa proses pencernaan yang tidak diserap kemudian akan melalui usus besar, dan dikeluarkan melalui anus. Masalah atau hambatan yang terjadi pada proses pencernaan tersebut, dapat menimbulkan rasa mual setelah makan,” paparnya.

Apa yang Bisa Menjadi Penyebab Rasa Mual Setelah Makan?

habis makan mual
Foto: www.unsplash.com

Penyebabnya tidak hanya satu, melainkan ada beberapa kemungkinan. Berikut daftar lengkapnya.

Infeksi Perut

Menurut Dokter Mita, habis makan mual bisa terjadi akibat makanan terkontaminasi karena cara pengolahan dan atau penyimpanannya tidak higienis. 

“Hal tersebut dapat menyebabkan bakteri ataupun virus patogen (yang dapat menyebabkan penyakit) mengontaminasi makanan, masuk ke saluran cerna seseorang. Kemudian menyebabkan iritasi dan peradangan di saluran cerna (khususnya lambung dan usus halus). Iritasi dan peradangan tersebut dapat menyebabkan rasa mual setelah makan, muntah, nyeri dan kram perut, disertai diare, serta timbulnya demam,” paparnya.

Keracunan Makanan

“Mual setelah makan juga umum terjadi pada seseorang yang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi toksin (racun) ataupun kuman penghasil toksin tersebut. Kondisi ini sering disebut sebagai food intoxication atau keracunan makanan,” terangnya.

Dokter Mita menjelaskan bahwa racun maupun organisme (bakteri, virus, ataupun parasit) penghasil toksin dapat mengontaminasi makanan pada berbagai tahap. Seperti saat bahan makanan bertumbuh (pada bahan makanan yang fresh atau belum diolah, misal sayur dan buah segar), saat proses penyimpanan, pengangkutan atau pengiriman, serta proses pengolahan. Dengan kata lain, pada saat dimasak.

“Gejala mual, muntah, dan diare dapat terjadi secara cepat dalam beberapa jam setelah mengonsumsi makanan,” tambahnya. “Namun terkadang gejala tersebut juga dapat muncul dalam beberapa hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi toksin tersebut,” imbuhnya.

Intoleransi dan Alergi Makanan

“Beberapa orang memiliki intoleransi pada jenis makanan tertentu, yaitu terdapatnya kesulitan untuk mencerna bahan makanan tersebut. Intoleransi makanan dapat menyebabkan rasa mual dalam beberapa jam setelah bahan makanan tersebut dikonsumsi,” ujarnya.

Ada banyak jenis bahan makanan yang sering menyebabkan intoleransi pada kelompok tertentu, termasuk bahan makanan yang mengandung laktosa (misalnya produk susu), gluten (misalnya gandum). Plus, bahan makanan yang dapat meningkatkan produksi gas (misalnya kacang-kacangan, kol, atau brokoli).

Jika kamu bertanya-tanya apa yang menyebabkan alergi makanan, ini penjelasan beliau:

“Alergi makanan terjadi saat tubuh salah menginterpretasikan protein yang terdapat pada jenis makanan tertentu sebagai zat asing yang harus dilawan, sehingga kemudian mengaktifkan respon sistem imun. Rasa mual dapat terjadi dalam beberapa menit setelah mengonsumsi makanan tersebut, namun biasanya juga akan diikuti gejala lain seperti pembengkakan pada wajah, bibir, bahkan kesulitan menelan atau bernapas,” tambahnya.

Gatroparesis

Ini merupakan kondisi di mana makanan berada di dalam lambung lebih lama dari seharusnya, atau “dikenal dengan istilah delayed gastric emptying (pengosongan lambung lambat),” terangnya.

Selain rasa mual setelah makan, gejala lain yang bisa kamu rasakan saat mengalami gatroparesis, antara lain: perut terasa penuh, kembung (bloating), nyeri perut dan ulu hati, asam lambung terasa naik, dan lama-lama dapat kehilangan nafsu makan.

“Gastroparesis umumnya terdapat pada penderita kencing manis, penderita gangguan kekurangan hormon tiroid (hipotiroid), konsumsi medikasi tertentu (misalnya obat anti depresan, dan beberapa jenis obat anastesi ataupun anti nyeri), kelompok lanjut usia, serta merupakan gejala dari beberapa penyakit seperti Parkinson dan Multiple Sclerosis,” paparnya.

Dispepsia

Dispepsia, yaitu rasa nyeri dan ketidaknyamanan yang menetap atau hilang timbul pada perut bagian atas.

“Menurut studi yang dimuat pada American Journal of Gastroenterology tahun 2017, dispepsia seringkali disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori, penggunaan obat-obatan anti peradangan. Mual setelah makan merupakan salah satu manifestasi klinis dari dispepsia,” jelasnya.

GERD (Gastroesophageal Reflux Disesase)

Merupakan sindrom atau kumpulan gejala akibat adanya aliran balik asam lambung ke esofagus (otot berupa saluran/tuba yang menghubungkan tenggorokan (pharynx) dengan lambung), yang kemudian dapat menyebabkan terjadinya peradangan dan erosi pada lapisan mukosa esofagus.

“Menurut studi oleh Newberry, dkk pada Journal of Thoracic Disease tahun 2019, ada beberapa faktor risiko GERD. Di antaranya, terlalu banyak konsumsi lemak dan gula sederhana, riwayat obesitas, serta konsumsi jenis makanan tertentu yang dapat memicu iritasi esofagus, misalnya makanan pedas, minuman atau makanan yang terlalu asam), menyebabkan bloating (misalnya minuman berkarbonasi, jenis sayuran tertentu). Ataupun dapat menyebabkan lemahnya katup antara esofagus dan lambung sehingga asam lambung mudah naik ke atas (misalnya cokelat, kafein, alkohol),” tuturnya.

Dokter Mita menjelaskan bahwa asupan lemak tinggi akan membuat katup antara esofagus dan lambung lebih mudah terbuka.

Nah, “pada katup yang gampang terbuka, asam lambung mudah naik ke atas (refluks). Konsumsi gula sederhana berlebih (misal permen manis, sirup, dll) akan membuat metabolisme jenis karbohidrat tersebut berlangsung dengan cepat, peningkatan kadar gula darah yang juga cepat serta menghasilkan efek peningkatan tekanan osmotik di saluran cerna,” terangnya.

Akibatnya?

“Hal tersebut menyebabkan katup antara esofagus dan lambung juga lebih mudah terbuka. GERD menyebabkan burning sensation pada area lambung ke esofagus, dikenal sebagai nyeri ulu hati. Hal tersebut dapat menyebabkan mual setelah seseorang makan,” ujarnya.

habis makan mual

Gangguan Saluran Cerna Lainnya

Tidak hanya enam hal di atas, habis makan mual juga bisa dipicu oleh gangguan saluran cerna lainnya.

Gangguan pada Kandung Empedu

“Empedu merupakan organ yang berada pada sisi kanan rongga abdomen, dekat organ hati. Empedu melepaskan cairan empedu yang berperan dalam pencernaan lemak. Adanya batu, infeksi, atau gangguan lain pada organ ini, memengaruhi kemampuan seseorang dalam mencerna lemak. Akibatnya rasa mual akan dirasakan setelah makan, terutama pasca konsumsi makanan tinggi lemak,” terangnya.

IBS (Irittable Bowel Syndrome).

Ternyata IBS juga bisa menyebabkan habis makan mual.

Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan gangguan saluran pencernaan menahun yang biasanya menyerang usus besar. Munculnya gejala IBS dikaitkan dengan berbagai macam faktor, seperti gangguan persarafan usus, konsumsi makanan atau minuman tertentu, hingga pengaruh hormon. Penyakit ini ditandai dengan keluhan nyeri perut, diare dan/atau sembelit. Pada beberapa orang, penyakit ini dapat menyebabkan mual setelah makan,” jelasnya.

Pankreatitis

Pankreas merupakan organ kelenjar, yang memproduksi enzim pencernaan dan hormon penting, yang membantu memecah dan mencerna makanan. “Pada peradangan akibat infeksi atau pun luka pada organ ini (disebut sebagai pankreatitis), mual setelah makan diikuti rasa nyeri perut adalah gejala yang sering terjadi,” terangnya.

Gangguan Vaskular (Pembuluh Darah)

“Mual setelah muntah diikuti dengan nyeri perut parah yang intens dapat merupakan salah satu tanda dari kondisi medis, dikenal sebagai iskemia mesenterika kronis (chronic mensenteric ischemia), yaitu penyempitan pembuluh darah arteri mesenterika yang menyuplai darah ke usus,” jelasnya.

Migrain

Kok bisa migrain menyebabkan habis makan mual? “Konsumsi makanan pada saat seseorang sedang mengalami migrain juga dapat mencetuskan terjadinya rasa mual setelah makan, dapat diikuti dengan muntah,” ujarnya.

Kehamilan

Dokter Mita menerangkan bahwa pada kehamilan terutama trimester pertama, sekitar 50–90% wanita hamil akan mengalami rasa  mual.

“Peningkatan level hormon kehamilan dapat menyebabkan makanan akan lebih lama berada di lambung dan usus halus, memicu terjadinya rasa mual sehabis makan. Hormon kehamilan juga memengaruhi relaksasi katup antara esofagus dan lambung sehingga katup menjadi lebih longgar. Hal itu meningkatkan risiko naiknya asam lambung. Sensitivitas indera penghirup terhadap bau makanan tertentu selama kehamilan, juga dapat memicu rasa mual sebelum ataupun setelah mengonsumsi makanan tersebut,” katanya.

Kondisi Psikologis dan Psikiatris

Jika selama ini kamu masih ragu bahwa kondisi psikologis bisa membuat habis makan mual, studi yang dimuat pada Clinical Journal of Gastroenterology tahun 2015, akan menghapuskan keraguan tesebut.

Penelitian ini mengungkapkan “hubungan antara gangguan makan (eating disorder) dengan gejala saluran cerna seperti mual dan muntah. Anorexia nervosa dapat menyebabkan mual akibat berlebihannya asam lambung dan juga adanya kondisi starvasi. Sementara itu, Bulimia nervosa dapat menyebabkan mual setelah makan akibat paksaan dari diri sendiri untuk memuntahkan makanan yang sudah dikonsumsi,” terangnya.

Selain dua kondisi tersebut, kecemasan, depresi, maupun stres berlebih juga dapat menimbulkan hilangnya nafsu makan atau rasa mual setelah makan.

Obat-Obatan

Dokter Mita menjelaskan bahwa mual setelah makan juga dapat terjadi akibat efek samping obat-obatan tertentu, misalnya beberapa jenis antibiotik, obat anti nyeri, atau pun obat-obatan kemoterapi.

Gangguan Jantung

“Pada beberapa kasus, mual setelah makan dapat merupakan tanda dari kemungkinan adanya serangan jantung,” ujarnya.

Apakah Habis Makan Mual adalah Sesuatu yang Wajar?

habis makan mual
Foto: www.freepik.com

“Melihat banyaknya faktor penyebab seperti yang telah dipaparkan di atas dari mual setelah makan, dapat disimpulkan bahwa mual setelah makan dapat dialami oleh semua orang dari berbagai golongan usia, jenis kelamin, status sosial ekonomi,” jelas Dokter Mita.

Meski begitu, sekali lagi beliau menekankan bahwa mual bukanlah suatu penyakit, melainkan merupakan gejala dari suatu kondisi medis.

Seperti apakah mual yang bisa disebut masaih dalam batas ‘wajar’?

“Mual setelah makan yang muncul sesekali dan terjadi misalnya akibat makan berlebihan, konsumsi jenis makanan tertentu yang sulit dicerna, ataupun bagian dari tanda awal kehamilan, merupakan hal yang normal terjadi,” jawabnya.

Namun, jika muncul dalam jangka waktu lama, berulang kali, ataupun jika tidak berulang namun dirasakan berat dan disertai gejala lain (misalnya muntah dan nyeri perut yang berlebihan, diare, gangguan klinis lainnya), “tentunya dapat mengindikasikan suatu kondisi medis yang serius,” tegasnya.

Menurutnya, muntah serta diare berlebihan yang mengikuti mual, dapat berimplikasi pada terjadinya gangguan ketidakseimbangan elektrolit dan cairan yang harus segera diatasi. “Serius tidaknya kondisi di tubuh yang terjadi, sangat tergantung dari penyebab medis yang mendasari timbulnya rasa mual tersebut,” tekannya.

Apakah Kita Perlu Panik dan Langsung ke Dokter?

habis makan mual
Foto: www.freepik.com

Mungkin ini yang menjadi pertanyaan kamu sekarang: apakah perlu panik?

“Seperti yang telah disampaikan di atas, pada dasarnya jika hanya terjadi satu kali, mual setelah makan bukan merupakan kondisi yang perlu membuat panik ataupun dikhawatirkan. Namun menurut The American College of Gastroenterology dalam jurnal American Family Physician tahun 2004 mengenai mual dan muntah, kamu dapat segera memeriksakan diri ke dokter jika mual setelah makan terjadi dengan frekuensi intens, terus menerus,” sarannya.

Dan kamu perlu segera ke dokter jika habis makan mual dan disertai gejala berikut ini.

  • Muntah berlebihan. Artinya, muntah secara konsisten selama lebih dari dua hari, atau lebih dari 24 jam untuk anak di bawah 2 tahun, atau lebih dari 12 jam untuk bayi). Atau muntah yang berulang dalam jumlah banyak dalam kurun waktu satu bulan
  • Nyeri dada
  • Confusion (tampak sepeti orang linglung atau kebingungan) dan lethargy (tampak lesu)
  • Demam tinggi
  • Nyeri perut hebat
  • Diare yang berlangsung selama lebih dari dua hari dan tidak membaik dengan obat-obatan yang telah dikonsumsi
  • Nyeri perut hebat
  • Nyeri kepala berat
  • Detak jantung meningkat
  • Tidak dapat menerima asupan makanan padat maupun cair selama lebih dari 24 jam

Selain tanda-tanda di atas, “rekomendasi lain dari National Institute of Diabetes and Kidney Disease menyarankan seseorang untuk memeriksakan diri ke dokter jika gejala mual dan nyeri perut yang berhubungan dengan makan diikuti dengan adanya gejala lain,” jelasnya.

Gejala lain ini di antaranya darah atau pun kehitaman pada muntah dan feses, kesulitan bernapas atau menelan, nyeri dan kekakuan pada leher atau rahang, berat badan turun tanpa dikehendak. Plus, adanya tanda-tanda dehidrasi, seperti rasa haus berlebih, lemas, frekuensi dan jumlah urine sedikit.

Saat Mual Setelah Makan, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Foto: www.freepik.com

Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan jika habis makan mual. Berikut di antaranya.

  • Hindari berada pada posisi langsung berbaring setelah makan, atau pun posisi lain yang dapat menekan perut. “Kamu dapat beristirahat sejenak dalam posisi duduk, atau jika pun berbaring pastikan posisi kepala elevasi sekitar 12 inci (sekitar 30 cm) di atas kakimu,” sarannya.
  • Makan dengan perlahan-lahan, hentikan makan bila mual masih terus dirasakan.
  • “Coba konsumsi makanan kembali saat rasa mual sudah berkurang, jangan dipaksakan langsung masuk makanan saat mual,” ujarnya.
  • Saat makan dihentikan, kamu dapat mengonsumsi cairan, seperti air putih, jus buah (pilih yang tidak terlalu asam) secara berkala dalam jumlah sedikit-sedikit. “Jangan langsung banyak, sampai rasa mual berkurang.” imbuhnya.
  • Konsumsi minuman teh beraroma chamomile (1 sendok makan/2 gram dried chamomile yang dilarutkan dalam 1 cup/240 mL air hangat selama 5–10 menit). “Studi menunjukkan teh ini dapat membantu merelaksasi otot saluran cerna dan membantu mengatasi rasa mual,” terangnya.
  • Konsumsi jahe. “Studi lain menunjukkan konsumsi 1 gram jahe per hari dapat mengatasi rasa mual dan muntah setelah makan yang dicetuskan oleh konsumsi obat-obatan kemoterapi.”
  • Konsumsi obat-obatan untuk mengatasi rasa mual. “Ini harus berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter,” tekannya.

Bagaimana Menghindari Rasa Mual Setelah Makan?

Foto: www.freepik.com

Jika tadi adalah tindakan yang bisa dilakuakn saat habis makan mual, adakah yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya? Pasalnya, mual itu tidak menyenangkan! Jadi jika bisa dicegah, sepertinya lebih baik daripada mengobati.

Dokter Mita menyebutkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya rasa mual setelah makan. Berikut di antaranya.

  • Makan dalam porsi kecil “Dibandingkan langsung makan dalam porsi besar, makan dalam porsi kecil namun sering, lebih disarankan,” katanya.
  • Beri jarak antara waktu makan dan minum; tidak makan dan minum dalam waktu bersamaan.
  • Hindari makanan yang sulit dicerna, misalnya yang terlalu berserat. “Makanan yang terlalu berserat lebih sulit untuk dicerna dan dapat menyebabkan saluran cerna bekerja lebih berat, dan dapat makin menimbulkan rasa mual,” terangnya.
  • Hindari konsumsi makanan berlemak dalam jumlah berlebihan.
  • Hindari konsumsi makanan yang menyebabkan alergi. “Jika mual setelah makan disebabkan oleh alergi atau intoleransi kamu terhadap jenis makanan tertentu, hindari konsumsi makanan tersebut, misalnya produk susu, gluten, dll.”
  • Hindari konsumsi makanan yang dapat memicu refluks asam lambung.
  • Batasi atau bahkan hindari konsumsi minuman beralkohol, terutama jika kamu memiliki riwayat iritasi lambung.
  • Jaga higienitas makanan. “Dan pastikan proses penyimpanan dan pengolahan makanan dilakukan sesuai protokol, untuk menghindari kontaminasi bakteri patogen di saluran cerna,” terangnya.
  • Berpikiran positif, hindari stres. “Jika rasa mual setelah makan berhubungan dengan gangguan psikologis atau psikiatris, segera konsultasikan dengan dokter spesialis kejiwaan,” tekannya.
  • Konsumsi obat-obatan. Untuk ini, “Obat-obatan atau penatalaksanaan tertentu diperlukan bagi yang mengalami mual setelah makan akibat kondisi medis tertentu, misalnya akibat keracunan makanan, infeksi bakteri, peradangan, kemoterapi, gangguan pembuluh darah, gangguan jantung, dan lain-lain, sesuai penyakit yang mendasari keluhan mual tersebut. Jadi, jangan lupa konsultasikan dengan dokter, ya,” tegasnya.

Selanjutnya: Begini cara menyeimbangkan hormon melalui makanan yang kamu konsumsi.

podcast button