Bagaimana Keluar dari Toxic Relationship?

toxic relationship
Foto: www.rawpixel.com

Bagaimana mengetahui bahwa kamu sedang menjalani sebuah toxic relationship —dan apakah harus buru-buru cabut? Yuk, baca penjelasan dari Ni Putu Mayda Anggarini Artana, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dan Founder dari SETALA Psychological Center.

Apa Pengertian Toxic Relationship?

toxic relationship

Mayda menjelaskan bahwa menurut kamus Merriem-Webster istilah “toxic” memiliki arti yaitu “containing or being poisonous material especially when capable of causing death or serious debilitation" atau mengandung atau menjadi bahan beracun terutama ketika mampu menyebabkan kematian atau kelemahan yang serius.

"Saat ini, kata 'toxic' sering dan populer digunakan untuk menggambarkan individu, hubungan, maupun lingkungan. Akan tetapi, belum ada penelitian ilmiah yang meneliti mengenai penggunaan istilah 'toxic', sehingga secara ilmiah toxic relationship dapat juga dikenal dengan hubungan yang tidak sehat," jelasnya.

Hubungan yang tidak sehat atau "toxic" adalah hubungan yang tidak suportif, di mana biasanya pasangan tidak memperlakukan pasangannya dengan respek sebagai individu. Interaksi kedua belah pihak juga cenderung menimbulkan emosi negatif atau membuat kita tertekan atau stress

Apa Efek Toxic Relationship kepada Kedua Individu?

Foto: www.freepik.com

Mayda menerangkan bahwa dampak yang dirasakan oleh kedua individu yang terlibat dalam hubungan yang tidak sehat atau toxic adalah ketidaknyamanan dalam menjalani hubungan.

"Bila individu menjadi pihak yang toxic, beberapa dampak yang mungkin dirasakan seperti ditinggalkan oleh pasangan, merasakan perasaan bersalah atas perilaku yang dilakukan, serta mendapat citra yang negatif dari pasangan dan lingkungan sekitar pasangan," ujarnya. Sementara bagi individu yang menjadi “korban” dari perilaku pasangan yang toxic, beberapa dampak yang dirasakan di antaranya

1. Fisik

"Studi menunjukkan bahwa hubungan yang tidak sehat sering kali menghasilkan dampak fisik pada individu, seperti masalah jantung, tekanan darah tinggi, dan sistem kekebalan yang melemah. Kelelahan, energi yang rendah, dan kekebalan tubuh yang rendah juga biasa terjadi, mengingat individu dalam hubungan yang tidak sehat mengalami stres dan kecemasan," terangnya.

2. Psikis

Pada psikis, individu tidak akan merasakan kedekatan secara emosional dengan pasangan, munculnya tekanan emosional (seperti individu didominasi oleh emosi negatif, sulit mengenali dan sulit mengekspresikan emosi), memiliki masalah self-esteem (bahkan hingga mengganggu aspek kehidupan). Selain itu sebuah toxic relationship menghambat pertumbuhan diri, memiliki trust issue, memiliki masalah dalam membangun dan menjalin hubungan, mengalami stres, kecemasan, depresi, atau gangguan lainnya, 

3. Kualitas hidup

Hubungan yang tidak sehat mempengaruhi atau memberikan dampak negatif tidak hanya pada psikis namun juga pada fisik, sehingga hal ini memengaruhi pula pada menurunnya kualitas hidup individu. 

Baca Juga :  Bagaimana Mendeteksi Ciri-Ciri Suami yang Sedang Selingkuh?

Bagaimana Mengetahui bahwa Kita Berada dalam Toxic Relationship?

toxic relationship
Foto: www.rawpixel.com

Terdapat beberapa hal atau kriteria yang dapat kita gunakan untuk mengevaluasi apakah hubungan cinta kita tergolong toxic atau tidak, di antaranya

  • Ketika setiap kontak atau interaksi dengan pasangan berbentuk negatif dan biasanya semua interaksi tentang dia. Misalnya, kamu disalahkan, dituduh, diungkit kesalahan, dia mengabaikan kebutuhan dan keinginan kamu. Serta interaksi atau komunikasi terjadi hanya untuk memenuhi keinginan dia.
  • Ketika interaksi dengan pasangan sebagian besar menimbulkan emosi negatif dan kita merasa terbebani.
  • Ketika interaksi dengan pasangan menimbulkan stres, bahkan hingga memengaruhi aspek kehidupan.
  • Kita tidak bisa menjadi diri kita sendiri saat menjalani hubungan tersebut. "Ketika kita berada dalam hubungan yang sehat, pasangan menerima kita apa adanya. Ia mendorong kita untuk menjadi diri sendiri —'versi yang lebih baik; dari diri kita, tetapi tetap pada dasarnya tetaplah diri kita. Sebaliknya hubungan yang tidak sehat biasanya memberi tahu kita bahwa kita tidak pernah cukup baik dan kita harus menjadi orang lain, seperti mendikte apa yang harus kita lakukan."
  • Hubungan tersebut membuat kamu terisolasi dari lingkungan lain. "Pasangan kamu ingin mengendalikan kamu dan berupaya menjauhkan kamu dari teman-teman, keluarga, atau orang lain. Hingga tanpa sadar kita melepaskan diri dari support system kita selama ini," jelasnya.
  • Ketika sudah terdapat kekerasan (psikis, fisik, atau seksual)

Mengapa Kita Cenderung Lama Menyadari bahwa Berada pada Toxic Relationship?

toxic relationship
Foto: www.pexels.com

Menurut Mayda terdapat beberapa hal yang menyebabkan individu biasanya sulit menyadari bahwa ia sedang berada dalam hubungan yang toxic, yakni:

Tidak memiliki informasi atau pengetahuan mengenai hubungan yang toxic

Mayda menjelaskan bahwa hal ini mungkin terjadi karena individu sudah berada dalam hubungan atau lingkungan yang tidak sehat sejak kecil (berada pada lingkungan keluarga yang tidak sehat). Jadi, individu tidak mengetahui hubungan yang sehat seperti apa dan tidak mengenali bahwa hubungannya selama ini tidak sehat. "Individu mungkin hanya merasakan merasakan perasaan tidak nyaman dalam diri saat menjalani hubungan tersebut," tambahnya.

Cinta

Pada masing-masing individu, kita memiliki tiga komponen dalam diri yaitu kognitif, afektif, dan perilaku. Sering kali dalam menjalani hubungan, seperti hubungan yang tidak sehat, komponen-komponen ini tidak selaras satu sama lain.

"Misalnya, dalam kasus hubungan yang tidak sehat, pikiran kamu mungkin negatif, pikiran memberi tahu kamu bahwa pasangan tidak baik untuk kamu, tetapi perasaan kamu mungkin masih positif terhadap dia. Kita terus mencintai pasangan kita, meskipun secara pemikiran kita mengetahui bahwa perilaku pasangan kita buruk terhadap kita. Hal inilah yang terkadang membuat kita mengabaikan pemikiran kita dan sulit menyadari bahwa hubungan ini tidak sehat," bebernya.

Self-esteem yang rendah

Individu yang cenderung memiliki self-esteem yang rendah cenderung sulit menyadari bahwa ia berada pada hubungan yang tidak sehat dan sulit keluar dari hubungan tersebut. Individu cenderung merasa ia mungkin memang pantas mendapat perlakuan tidak baik dan malah makin mempertanyakan kualitas dirinya. Ia mungkin merasa sudah baik ada orang yang mau menjalin hubungan dengannya.

Baca Juga :  Voice Call dan Ngobrol Tatap Muka Tetap yang Terbaik Jaga Hubungan (di Masa Pandemi)

Pihak lain (pasangan) yang manipulatif

Jika pasangan sadar bahwa kamu ingin meninggalkan hubungan, dia mungkin menggunakan berbagai metode manipulasi untuk memaksa kamu tetap tinggal. Manipulasi emosional, seperti meremehkan, merendahkan, atau bahkan ancaman dapat digunakan untuk mempertahankan hubungan saat ini 

Pergeseran sudut pandang

Penelitian menunjukkan bahwa biasanya individu lebih menghargai karakteristik positif yang ditampilkan oleh pasangan daripada karakteristik lainnya. Misalnya, jika pasangan kita romantis tetapi selalu meremehkan kita, kita mungkin menghargai keromantisan dia lebih dari kata-kata dia selama hubungan.

Ketika pasangan menunjukkan karakteristik negatif, kita cenderung mengabaikan pentingnya karakteristik tersebut dan meningkatkan pentingnya sifat positif yang dimiliki pasangan kami. Hal ini yang membuat kita tidak menyadari bahwa hubungan kita tidak sehat atau toxic.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Kita Sudah Tahu Berada di Toxic Relationship?

Foto: www.pexels.com

Bagaimana jika kita sudah menyadari bahwa sedang menjalani sebuah toxic relationship? Mayda memberikan beberapa langkah yang bisa kamu lakukan.

  • Kenali dan kelola dampak negatif yang ditimbulkan dari hubungan tidak sehat tersebut. "Be honest pada diri dan jangan denial pada apa yang terjadi dan yang kita rasakan," ujarnya.
  • Coba untuk mengevaluasi hubungan dan tanyakan kembali pada diri, keputusan apa yang akan diambil, apakah mempertahankan hubungan atau keluar dari hubungan 
  • Bila memutuskan mempertahankan hubungan, terbuka dan komunikasikan pada pasangan mengenai hal-hal yang membuat kamu tidak nyaman dalam hubungan. "Pasangan harus menyadari bahwa perilakunya membuat hubungan menjadi tidak sehat dan memberikan dampak negatif pada dirimu. Coba untuk memperbaiki hubungan tersebut dengan usaha dari kalian berdua," anjurnya.
  • Bila memutuskan keluar dari hubungan, secara perlahan dan bertahap dan berproses untuk dapat menerima dan berdamai dengan pengalaman tersebut. "Jangan biarkan perasaan penyesalan atau keraguan diri muncul akibat dari hubungan yang tidak sehat terdahulu. Jangan mengorbankan diri kamu dengan tetap terjebak pada bayang-bayang hubungan sebelumnya, tetapi pandanglah diri kamu sebagai individu yang kuat karena telah berhasil keluar dari hubungan yang tidak sehat. Dan Sadari bahwa kamu pantas mendapatkan cinta dan perhatian yang tepat untuk menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi diri kamu sendiri," tekannya.
  • Luangkan waktu untuk diri sendiri dan mengenali diri. "Kenali apa minat, kelebihan diri, dan potensi diri. Lakukan self-care, seperti olahraga, membeli barang yang kita sukai, dan memberikan hadiah untuk diri kita. Lakukan kegiatan yang selama ini tidak bisa kamu lakukan," sarannya.
  • Kelilingi diri dengan lingkungan dan orang-orang positif.
  • Kenali dan jalin interaksi dengan support system yang kamu miliki.
  • Bila dirasa kamu tidak dapat mengelolanya sendiri, hubungi professional untuk membantu kamu.

Bagaimana Jika Kita yang Menjadi Pihak yang Membuat Hubungan Tersebut Tidak Sehat?

Foto: www.pexels.com

"Bila kita menyadari ternyata kita adalah pihak yang toxic atau yang membuat hubungan menjadi tidak sehat, coba mulai untuk refleksi dan evaluasi diri," anjurnya.

Baca Juga :  Arti Ekspektasi dan Cara agar Memiliki Pengharapan yang Sehat dalam Hubungan

Kenali perilaku kita yang seperti apa yang membuat hubungan ini menjadi tidak sehat. Kemudian, sadari apa yang menyebabkan kita berperilaku seperti itu, apakah terdapat luka di masa lalu atau faktor keluarga, dan lain-lain. Lalu, kenali dampak dari perilaku kita terhadap pasangan kita dan hubungan kita, posisikan diri menjadi pasangan kita, apakah kita akan merasa nyaman bila hubungan kita tidak sehat atau bila pasangan kita berperilaku yang tidak sehat.

"Bila kita menyadari bahwa perilaku kita menimbulkan ketidaknyamanan bahkan menimbulkan kerugian bagi pasangan dan hubungan kita, coba untuk mengubah perilaku tersebut secara bertahap dan perlahan. Bila dirasa kita tidak dapat meng-handle-nya sendiri, coba untuk hubungi profesional seperti psikolog untuk membantumu mengidentifikasi masalahmu dan mencoba untuk merubah perilaku yang merugikan tersebut," paparnya.

Perlukah Toxic Relationship Diteruskan?

Foto: www.rawpixel.com

Menurut Mayda, keputusan untuk melanjutkan hubungan kembali pada keputusan masing-masing individu yang menjalani hubungan tersebut.

"Hal yang perlu diperhatikan oleh individu yang berada dalam hubungan yang toxic adalah kenali boundaries atau batasan diri kamu. Kenali apa yang membuat kamu nyaman dan hal-hal apa saja yang membuat kamu tidak nyaman. Bila dirasa bahwa perilaku pasangan membuat kamu merasa tidak nyaman dan kamu merasa sudah tidak dapat menoleransi hal tersebut, bahkan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyakiti diri kamu, pertimbangkan keputusan apa yang harus kamu ambil," katanya.

"Mungkin keputusan untuk keluar dari hubungan tersebut adalah jalan terbaik bagi kamu dan pasangan kamu. Hal lain yang perlu kamu perhatikan juga adalah bila perilaku pasangan sudah mengancam keselamatan kamu seperti terdapat kekerasan. Jangan ragu untuk speak up atau bahkan keluar dari hubungan tersebut," tekannya.

Seandainya kita memilih untuk bertahan dalam toxic relationship...

"Keputusan untuk bertahan dan apakah itu merupakan keputusan yang tepat, kembali lagi bergantung pada masing-masing individu yang menjalani hubungan tersebut. Bila individu merasa bahwa ia bisa mempertahankan hubungannya dan masih mampu menjalani hubungan tersebut, tidak apa-apa," tekannya.

Hal yang terpenting adalah apapun keputusan yang diambil oleh individu, kembali pada kenyamanan individu tersebut dan jangan sampai merugikan atau menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain.

"Hal yang juga perlu diperhatikan adalah hubungan itu seperti kapal. Kapal bisa bergerak dengan baik bila kedua sisinya bergerak. Bila hanya salah satu yang bergerak, mungkin kapal itu tetap bisa bergerak, hanya saja mau sampai kapan bergerak dengan mengandalkan satu sisi. Apakah sampai satu sisi yang bergerak tersebut rusak dan tidak mampu lagi untuk menggerakkan kapal? Begitupula dalam hubungan, bila hanya satu pihak yang mengusahakan untuk mempertahankan hubungan, namun pihak lainnya tidak, mau sampai kapan satu pihak tersebut kuat berjuang sendirian?" pungkasnya.

Selanjutnya: Bagaimana Membantu Teman yang Menjalin Hubungan Abusive.