Ghibah: Adakah Manfaatnya dan Haruskah Berhenti Melakukannya?

arti ghibah
Foto: www.gettyimages.com

Bagi sebagian orang, membicarakan orang lain tentu menjadi hal yang paling menyenangkan. Kegiatan ini sering kali disebut dengan istilah ghibah. Namun, apakah kamu mengetahui apa arti ghibah yang sebenarnya? Dan apakah berghibah sama dengan bergosip?

Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaanmu, LIMONE telah menghubungi Arum Septi Mawarni M.Psi., Psikolog seorang Psikolog Klinis dari RSIA Tambak, IBunda.id, dan Kasandra & Associates yang akan menjawab arti ghibah dan cara menghadapi seseorang yang senang berghibah.

Apa Arti Ghibah?

arti ghibah
Foto: www.freepik.com

Menurut Arum, arti ghibah adalah “konsep, kata, atau term yang digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang tidak disukai yang berkaitan dengan orang lain, atau artinya menggunjingkan orang lain. Apa saja yang digunjingkan? Biasanya berkaitan dengan hal-hal yang tidak disukai, baik itu jasmani, agama, secara psikis seperti kejiwaan atau karakternya,” jelasnya.

“Dari term-nya mungkin kalau di Islam dibilang itu menggunjingkan keburukan orang lain, nah kalau di pandangan umum secara psikologi (arti ghibah) adalah membicarakan hal negatif tentang orang lain. Hal negatifnya apa saja? Apa pun, bisa perilakunya, tindakannya, atau fisiknya,” lanjut Psikolog Klinis yang satu ini.

Apakah itu wajar? “Wajar itu konteksnya dari mana, karena wajar 'kan sesuatu yang dianggap 'Oh nggak apa-apa lho', dinormalisasi, atau boleh saja untuk dilakukan. Atau mungkin ada alasan tertentu melakukannya,” jawabnya.

“Kalau menggunjingkan biasanya dengan membicarakan keburukan orang lain atau di belakang orang lain, itu sebenarnya bisa dibilang merupakan sesuatu yang tercela. Jadi kalau ditanya wajar nggak-nya mungkin beberapa orang bisa melakukan hal tersebut. Tetapi apakah itu baik? Tidak,” ujar Arum.

Menurutnya, beberapa orang melakukan ghibah atau membicarakan orang lain yang berkaitan dengan hal buruk dibelakang, “kalau misalnya dengan konsep ghibah yang sifatnya tercela maka itu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak layak, tidak baik, bahkan tidak efektif untuk suatu relasi,” paparnya.

Arum menambahkan bahwa sebenarnya ghibah juga tidak baik untuk diri kita. “Jadi kalau dilihat wajarnya itu dari norma mana? Karena dari norma agama itu tampak sesuatu yang tidak baik, dan norma sosial pun juga sesuatu yang tidak baik,” imbuhnya.

Apa Penyebab Seseorang Bisa Senang Berghibah?

Foto: www.freepik.com

Sebenarnya terdapat beragam alasan mengapa seseorang senang berghibah. “Kalau umpamanya kita pahami dari segi psikologi, ya bisa kita pakai sebagai coping atau mekanisme pertahanan diri orang tersebut. Untuk menyampaikan hal-hal buruk berkaitan dengan orang lain, karena mungkin menutupi hal-hal buruk yang ada pada dirinya,” ungkap Arum.

Menurut Psikolog Klinis yang satu ini, berghibah itu bisa menjadi mekanisme pertahanan seseorang. Dengan melihat buruknya orang kemudian dibicarakan karena ingin menutupi apa yang sebenarnya ada dalam dirinya. Itu bisa jadi penyebab seseorang bisa senang bergibah.

“Atau bisa jadi merupakan proses dari belajar. Misalnya ia terbiasa belajar bahwa membicarakan orang lain adalah sesuatu yang lumrah atau sesuatu yang diperbolehkan. Umpamanya ia juga belajar dari orang-orang sekitarnya yang melakukan hal tersebut,” tambahnya.

Selain itu, “bisa juga mungkin terdapat rasa ingin melakukannya lagi karena adanya pleasure yang dirasakan sebelumnya. Jadi perasaan ingin melakukan lagi, ngomongin lagi, bergunjing lagi, bergibah lagi karena ada rasa pleasure di dalamnya,” imbuh Arum.

Ada kesenangan, apakah berarti berghibah bisa buat bahagia?

“Saya nggak pakai konsep bahagia jadinya, mungkin pleasure. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang kalau umpamanya kita pahami bersama yang meaningful dan fulfillment, tidak hanya memberikan kenikmatan tetapi juga keberartian dan rasa terpenuhi,” ucapnya.

Lantas, apakah berghibah membuat bahagia?

“Tidak. tetapi mungkin memberikan rasa kenikmatan atau pleasure, yang seolah tanda kutip oleh beberapa orang disebut bahagia dan kenikmatan yang sifatnya sesaat,” katanya.

Apakah Dampak Berghibah?

arti ghibah
Foto: www.freepik.com

“Tentu. Kalau kita percaya hukum aksi-reaksi, sebenarnya apa yang kita lakukan mungkin akan kita dapat reaksi terhadap hal tersebut, dan akan kembali kepada kita. Nah, memberikan dampak bagi kehidupan si pengghibah, maka ia akan terbiasa untuk melihat keburukan orang lain dan terbiasa untuk langsung menilai orang lain dari beberapa karakter atau aspek yang dinilai,” paparnya.

Mungkin juga akan terbiasa menilai hanya baik buruk seseorang, “jadi hanya dua dikotomi berpikir, konsep berpikirnya terlalu kaku. Itu bisa jadi berdampak sehingga akan memengaruhi sudut pandangnya atau bagaimana ia memandang seseorang, situasi, bahkan sebenarnya bisa memengaruhi bagaimana ia memandang dirinya sendiri,” lanjutnya.

Ketika ghibahnya dilakukan secara negatif, “sebenarnya akan memengaruhi bagaimana ia menilai dirinya dan orang lain. Namun biasanya ghibah memang diasumsikan sebagai hal yang negatif ya, kalau dalam Islam juga biasanya itu gambaran hal yang negatif tentang orang lain,” ujar Arum.

Bagaimana Ciri-ciri Orang yang Senang Berghibah?

arti ghibah
Foto: www.freepik.com

Kalau bicara soal gosip, maka “gosip itu bisa menjadi sebuah penukaran informasi dan menimbulkan suatu kelekatan dalam sebuah kelompok. Kalau gosip yang mana artinya penukaran informasinya, maka tidak hanya (berisi) negatif, tapi kalau ghibah itu biasanya sependek pemahaman saya seperti gosip yang lebih pada pembicaraan negatif tentang orang lain,” tuturnya.

“Cirinya adalah berarti orang tersebut sering menyampaikan sesuatu hal yang belum diketahui fakta atau kenyataannya, tapi menduga-duga dan kemudian menyampaikannya. Lalu, merupakan sebuah kesenangan baginya jika menceritakan tentang hal negatif yang berkaitan dengan orang lain,” lanjutnya.

Tak hanya itu, “biasanya di kelompok mana pun akan sulit dikendalikan kebiasaannya tersebut, karena sudah terbiasa untuk bergibah. Jadi di kelompok mana pun dia akan melakukan tindakan ghibah,” kata Arum.

Lantas, apakah berghibah bisa menular ke orang lain?

“Kalau penelitian secara jurnal sosial, gosip itu seperti sebuah insting manusia untuk bertahan hidup di dalam sebuah kelompok. Nah, ghibah ini berarti ada gosip yang sifatnya negatif, dan menularkah ke orang lain? Kalau dikaitkan dengan insting manusia untuk bertahan hidup, memang orang senang untuk membicarakan orang lain, karena instingnya untuk dia bisa bertahan dalam sebuah kelompok,” ujarnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Jika Kita Senang Berghibah?

Foto: www.freepik.com

Jika menyadari bahwa ternyata diri kita sendiri yang senang berghibah dan memutuskan untuk berhenti, “maka perlu disadari kembali bahwa ketika kita bergibah atau bergosip, apa yang sering kita bicarakan? Apakah yang kita bicarakan itu berkaitan dengan hal yang tepat, berkaitan dengan fakta atau tidak, kemudian apakah merugikan orang lain atau tidak?” tanyanya.

“Kalau ternyata memang melakukan hal tersebut, maka sadari perlu adanya kontrol diri atau self control. Kemudian bertanya kepada diri sendiri, apakah yang dilakukan ini memberikan manfaat atau kerugian, kalau iya apa manfaatnya apa ruginya, lalu menggantinya dengan perilaku yang lain,” sarannya.

“Maka bisa berada di suatu kelompok tetapi membicarakan atau berbincang tentang suatu informasi yang berkaitan dengan diri, sharing info yang positif atau sesuai fakta,” anjurnya.

Namun, apakah bisa mencegah kesenangan berghibah?

“Bisa, dengan melakukan tindakan positif lain atau melakukan hal-hal baik lain dibandingkan hal tersebut (ghibah). Atau hal menyenangkan lain yang lebih menggairahkan dibandingkan bergibah. Jadi butuh menemukan alternatif tindakan,” jawabnya.

Bagaimana Cara Menghadapi Seseorang yang Senang Berghibah?

Foto: www.freepik.com

Menurut Arum, “untuk menghadapi seseorang yang senang bergibah itu tidak perlu dijauhi. Sebagai seorang manusia kita butuh, bisa, dan perlu untuk untuk memilah atau menyaring dengan siapa kita berteman,” ujarnya.

“Kalau memang memberikan dampak positif, silakan jalin hubungan yang lekat dan dalam. Tetapi kalau memang justru membawa ke arah kesehatan mental atau fisik yang buruk, maka silakan batasi hubungan tersebut. Karena kita bisa bebas memilahnya,” sarannya.

“Untuk menghadapi seseorang yang senang berghibah, maka pahami bahwa arti ghibah atau gosip itu biasanya berisi pendapat atau opini, bukan kenyataan. Tetapi kalau itu terserang kepada diri sendiri, ya maka kita perlu mengontrol untuk tidak terlalu larut menjadikan ghibah atau gosip sebagai patokan utama, kemudian cari faktanya yang jelas seperti apa,” anjur Arum.

Kesimpulan

Foto: www.freepik.com

Menurut Arum, “mungkin ghibah menjadi sebuah bentuk pertahanan diri dan juga untuk bisa bertahan di lingkungan sosial. Tetapi coba perhatikan kembali untuk bertahan diri sebagai makhluk sosial apakah sungguh hanya bergibah yang dapat menyenangkanmu?” tanyanya.

Karena sebenarnya, “bisa jadi dalam hidupmu banyak hal yang belum dieksplor. Maka eksplor lah hal yang banyak itu sehingga kamu bisa menemukan banyak hal menyenangkan selain berghibah. Misalnya belum pernah baking atau membuat kue, ikut volunteer, masak, dan lainnya,” saran Arum.

Dengan memiliki alternatif kegiatan, maka kamu “tidak hanya terfokus dan terpaku pada ghibah. Namun lebih memilih pertumbuhan diri sendiri,” pesannya.