Apakah Kita Perlu Khawatir dengan Efek Blue Light pada Kulit?

efek blue light pada kulit
Foto: www.stocksy.com

Seandainya mau jujur, kita sepertinya menghabiskan lebih banyak waktu dengan handphone dan laptop dibandingkan dengan a) anggota keluarga, b) pacar, c) pasangan, d) semuanya benar (*pilih sesuai kebutuhan). Jika quality time dengan orang-orang terdekat membuat hubungan lebih dekat dan mengurangi risiko kesepian, quantity dan quality time dengan laptop dan handphone membuat pekerjaan selesai. Plus, tahu gosip terbaru dan apa/siapa yang sedang viral. Namun, ada sisi lain dari perlengkapan elektronik berlayar ini: blue light yang dipancarkannya katanya memiliki efek tertentu pada kulit. Benarkah?

LIMONE melakukan investigasi mini dan mengontak dr. Arini Astasari Widodo, SpKK, seorang konsultan medis dermatologi klinis dari Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta. Begini penjelasan beliau.

Apa Sebenarnya Blue Light dan Efeknya pada Kulit?

efek blue light pada kulit
Foto: www.unsplash.com

Dokter Arini menjelaskan bahwa blue light merupakan salah satu spektrum visible light (sinar tampak) dengan panjang gelombang sekitar 400−525 nanometer (nm). Dan blue light ini dapat berasal dari sinar matahari, maupun dari layar perangkat digital seperti TV, laptop, PC, smartphone, tablet, dan perangkat gadget lain.

Dan blue light memang berwarna biru, meski terkadang penampakannya tidak selalu biru di penglihatan kita. Dan meski banyak dari kita sering cuek dengan visible light, ada kekhawatiran bahwa sinar jenis ini, termasuk blue light, bisa mempengaruhi kesehatan kulit.

Blue light dapat memberikan efek pada kulit apabila diserap dalam jumlah tertentu,” terangnya. Dan blue light memiliki efek baik dan efek buruk. “Pajanan blue light pada pagi/siang hari penting dalam menjaga circadian rhythm kita, meningkatkan konsentrasi, waktu reaksi dan mood,” imbuhnya.

Itu efek baiknya. Sementara pajanan blue light pada kulit dapat memiliki efek buruk apabila terserap dalam dosis kumulatif tertentu.

“Pada penelitian, blue light dapat meningkatkan kadar radikal bebas, menurunkan kadar vitamin, dan meningkatkan risiko pigmentasi kulit pada beberapa individu. Namun di sisi lain, blue light dengan spektrum tertentu masih digali dan membutuhkan penelitian lanjutan untuk dapat dijadikan rekomendasi terapi untuk terapi berbagai penyakit kulit seperti jerawat, eksim, dan psoriasis,” paparnya.

Dengan kata lain, dibutuhkan studi yang lebih banyak dan lebih dalam untuk mengetahui efek blue light pada kulit.

Benarkah Blue Light Bisa Menyebabkan Kerutan dan Hiperpigmentasi?

Foto: www.unsplash.com

Jika pertanyaan di atas membuatmu panik dan keningmu berkerut—hilangkan terlebih dahulu kerutan itu. Pasalnya, belum ada jawaban yang pasti, “iya” atau “tidak”, tentang apakah blue light memiliki efek menyebabkan kerutan dan hiperpigmentasi.

Dokter Arini menerangkan bahwa peningkatan radikal bebas memang dapat menyebabkan terjadinya penuaan dan hiperpigmentasi. “Akan tetapi, saat ini penelitian belum dapat membuktikan bahwa blue light secara langsung dapat menyebabkan penuaan,” tegasnya.

“Perlu diingat bahwa kerutan dan hiperpigmentasi sifatnya multifactorial, yaitu dipengaruhi banyak sekali faktor, dan banyak faktor yang lebih dominan dalam memicu kerutan dan hiperpigmentasi,” tambahnya.

Menurutnya, pada seseorang dengan genetik pigmentasi kulit seperti melasma dan individu berkulit gelap, hiperpigmentasi dapat terpicu atau semakin parah dengan pajanan blue light.

“Sinar ultraviolet 25 kali lipat lebih kuat memicu pigmentasi dibandingkan visible light. Sehingga, dapat dikatakan blue light berpotensi memberikan efek buruk tersebut, namun jauh lebih lemah. Dan pajanan harus beberapa kali lebih lama dan intens untuk dapat memberikan efek buruk yang setara dengan sinar UV,” ujarnya.

Apakah semua jenis blue light memberikan efek yang sama pada kulit?

Blue light memiliki range spektrum 400-525 nm. Panjang gelombang yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda pada kulit. Misalnya, terdapat penelitian yang mendapatkan hiperpigmentasi yang diinduksi oleh blue light dengan panjang gelombang 415 nm,” jawabnya.

Seandainya kamu butuh diingatkan, UVB memiliki panjang gelombang antara 280 dan 315 nm, dan UVA dengan 315 dan 400 nm, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dan seperti yang kita tahu, sinar ultraviolet ini bisa merusak kulit, dari isu kerutan prematur, bintik-bintik hitam, sampai risiko kanker kulit. Itulah sebabnya, disarankan untuk selalu menggunakan tabir surya dengan broad-spectrum (bahkan saat langit mendung). Artinya, produk tabir surya tersebut bisa melindungi kulit dari sinar UVB dan UVA. FYI, nilai SPF di tabir surya hanya melindungi kita dari UVB, lho.

Perlukah Kita Khawatir dan Membatasi Pemakaian Gadget yang Memancarkan Blue Light

efek blue light pada kulit
Foto: www.rawpixel.com

Sekali lagi, Dokter Arini menekankan bahwa blue light yang dipancarkan dari gadget memiliki intensitas yang jauh lebih rendah dibandingkan yang didapatkan dari sinar matahari.  

“Sehingga, untuk menghindari efek buruk blue light, menghindari sinar ultraviolet akan lebih efektif dibandingkan pajanan gadget. Akan tetapi, seseorang dengan bakat pigmentasi tertentu seperti melasma dan berwarna kulit gelap, sebaiknya menghindari pajanan blue light dari sumber manapun termasuk gadget,” anjurnya.

Dan berhubung isu efek blue light bagi kulit mulai dibicarakan, bisa ditebak: berbagai produk kulit untuk tujuan ini mulai diproduksi. Apakah kita perlu memakainya?

Menurutnya, cara sederhana adalah dengan memakai tabir surya yang juga memproteksi terhadap visible light selain terhadap UVA dan UVB, misalnya tabir surya fisik. “Selain itu dapat  menggunakan produk dengan antioksidan untuk memperbaiki kerusakan akibat radikal bebas,” sarannya.

Selanjutnya: Apakah mencuci wajah dengan air keran biasa bisa membuat kulit rusak? Buruan baca penjelasan dermatolog ini sebelum mencuci muka! Dan ini kaitan sinar matahari dengan COVID-19.

podcast button