Benarkah Membersihkan Wajah dengan Air Keran Bisa Merusak Kulit?

air keran
Foto: www.gettyimages.com

Kamu melihatnya di media sosial. Atau mungkin, di acara TV. Atau malah menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat teman atau anggota keluarga melakukannya: membersihkan wajah dengan air galon. Karena, konon katanya, air keran biasa terlalu keras dan bisa merusak kulit wajah kesayangan kita. Benarkah? Oleh karena ini jawaban yang membutuhkan penjelasan ahli, LIMONE menghubungi dr. Arini Astasari Widodo, SpKK, seorang konsultan medis dermalogi klinis dari Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta. Baca terus artikel ini untuk mengetahui apakah memang perlu berhenti membersihkan wajah dengan air keran biasa.

Apa Sebenarnya yang Terkandung dalam Air Keran?

air keran
Foto: www.canva.com

Menurut Dokter Arini, ada dua hal yang perlu kita ingat saat mencuci wajah dengan air keran, yakni airnya dan kulitnya. 

“Di lihat dari segi airnya, kualitas dan komposisi air keran dapat berbeda-beda berdasarkan sumber airnya. Air keran yang digunakan bisa didapatkan dari air tanah maupun air yang telah diolah, misalnya air PAM. Tentu kedua kualitas air ini berbeda. Air dari PAM telah dilakukan pemeriksaan secara fisika, kimia, dan bakteriologis,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dokter Arini menerangkan bahwa pada dasarnya air sendiri bersifat iritan lemah, dan dipengaruhi pH dan kandungan mineral di dalamnya. Pengaruh air terhadap kesehatan kulit pun bergantung pada komposisi fisika, kimia, dan bakteriologis air tersebut.

“Seluruh air keran mengandung mineral, namun tinggi kadarnya akan mempengaruhi potensi iritasinya pada kulit. Di setiap negara, tiap daerah, kandungannya dapat berbeda-beda,” tambahnya.

Daerah yang terdapat gunung kapur misalnya, biasanya memiliki mineral yang tinggi. Dan mineral yang dapat terkandung dalam air keran antara lain logam berat, kalsium, magnesium, tembaga, zinc, besi, dan lainnya. 

Apa Bedanya “Hard Water” dan “Soft Water“?

air keran
Foto: www.istockphoto.com

Mungkin terdengar seperti bahan materi #kuliahsingkat ketika akan masuk menjadi pegawai perusahaan air, tapi informasi ini akan membuat kita semakin mengerti tentang efek air keran biasa bagi kulit wajah. Jadi, tetap sabar agar kulit tidak berkerut, ya.

Dalam kosakata air keran sendiri, terdapat istilah “hard water” dan “soft water“. Menurut Dokter Arini, pada hard water ditemukan kadar kalsium dan magnesium karbonat dalam jumlah tinggi. 

Nah, “air keran yang termasuk hard water inilah yang harus lebih diwaspadai karena lebih berpotensi merusak kulit. Dalam proses pengolahan umumnya air diberikan zat klorin (chlorine) untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Klorin juga berpotensi memicu iritasi kulit. Potensi bahaya lain adalah pipa saluran air yang berkarat, sehingga membawa residu mineral yang tidak diinginkan melalui air keran tersebut,” jelasnya.

Selain itu, kalsium karbonat yang terdapat dalam air diduga juga menjadi pemicu kulit kering dan peradangan kulit yang memicu kekambuhan eksim. Diduga tingginya kadar kalsium karbonat (CaCO3) mengganggu sinyal kalsium dan membuat pH air yang lebih basa (alkali) sehingga berpartisipasi merusak sawar kulit, tambahnya.

Plus: hard water juga dapat mengganggu flora normal kulit (kolonisasi mikroorganisme yang baik bagi kulit) sehingga mengurangi efek proteksi sawar kulit. 

Apa Efek Air Keran Biasa terhadap Kulit Wajah?

air keran
Foto: www.gettyimages.com

Jika tadi sudah dijelaskan tentang dari faktor airnya, sekarang dari faktor kulitnya.

Efek air keran biasa terhadap kulit wajah… singkatnya, tergantung. Uh-uh, tergantung pada skin barrier (sawar kulit) seseorang dan faktor internal lain seperti faktor genetik.

Dokter Arini menerangkan bahwa pada seseorang dengan genetik atopi akan lebih rentan terhadap air keran terutama yang bersifat hard water. “Sawar kulit kita dapat rusak apabila terpapar hard water secara berulang,” jelasnya. Reaksi yang dapat terjadi antara lain: peradangan kulit, iritasi, kemerahan, gatal, kulit kering, dan kekambuhan beberapa penyakit kulit.

Mengapa hard water bisa berpotensi merusak kulit?

“Diperkirakan karena interaksi antara hard water dengan detergen (surfaktan) yang ada di dalam produk pembersih,” jawabnya.

Kadar kalsium yang tinggi akan menurunkan solubilitas surfaktan (SLS) dan membuat residu zat tersebut menempel di kulit (tidak dapat dibersihkan dengan baik) dan memicu iritasi.

Ada lagi alasan lain? “Interaksi hard water dan sabun juga membuat sabun menjadi tidak efektif. Dan penggunaan hard water membutuhkan lebih banyak sabun dibandingkan apabila menggunakan soft water, sehingga jumlah sabun yang lebih banyak ini akan meningkatkan potensi iritasi dari sabun tersebut,” tambahnya.

Jadi, Apakah Membersihkan Wajah dengan Air Keran Berbahaya?

Foto: www.gettyimages.com

Oke, mari mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sudah kita nanti-nantikan: apakah air keran biasa tidak disarankan untuk dipakai saat membersihkan wajah?

“Pada dasarnya kembali ke kulit masing-masing,” tegas Dokter Arini.

“Apabila kulit seseorang tidak sensitif, pemakaian air keran, apalagi soft water atau air yang telah diolah, untuk membersihkan wajah—tidak menimbulkan bahaya, karena kontak dengan air hanya sebentar,” ujarnya.

Oleh karena itu, tips dari Dokter Arini yang sebaiknya kamu ingat: “Disarankan apabila mandi cukup 5-10 menit, tidak lebih,” ujarnya.

Yaaas, kabar gembira untuk pelaku mandi kilat.

Untuk kamu yang sering pesimis dan memandang sebelah mata mereka yang memiliki kebiasaan mandi lebih cepat daripada durasi merebus mi instan, ini pertimbangan untuk masuk ke dalam #klubmandikilattapiefektif. “Apabila kita berendam air dalam waktu lama, potensi iritasinya akan menjadi lebih tinggi,” jelasnya.

Aha!

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Efek Hard Water pada Wajah?

Foto: www.istockphoto.com

Meski mungkin penggunaan air mineral botolan terdengar #mewah dan #chic (kabarnya ini juga rahasia kecantikan perempuan Prancis dan Cameron Diaz digosipkan hanya mau membersihkan wajahnya dengan Évian), tapi berhubung #mahal dan masih #missqueen—rasanya sulit dilakukan. Dan hei, pikirkan sampah plastik yang dihasilkan!

Untungnya, ada beberapa langkah agar aman membersihkan wajah dengan hard water.

  • Batasi waktu mandi dan menjaga frekuensi mencuci wajah seperlunya. 
  • Lembapkan kulit secara rutin untuk melindungi dan mencegah hard water merusak kulit.
  • Gunakan pembersih yang lembut dan mengandung pelembap. “Pembersih yang mengandung chelating agent dapat membantu mencegah terbentuk residu pada kulit, contohnya asam sitrat, EDTA, atau sodium phytate. Hindari kandungan tinggi  SLS yang berpotensi meninggalkan residu di kulit akibat interaksinya dengan hardwater. Dan pakai pembersih yang mengandung pelembap untuk membantu melembapkan kulit,” terang Dokter Arini.
  • Gunakan spray water. “Penggunaan spray water juga bisa membantu. Pilihlah spray water dengan formulasi kandungan mineral yang rendah apabila kulit sensitif terhadap mineral yang ada dalam air.”
  • Hindari menggunakan air panas karena akan semakin merusak barrier kulit. 
  • Keringkan kulit secara alami atau ditepuk dengan handuk halus (tidak digosok).
  • Gunakan alat water softener yang membantu menghilangkan ion kalsium dan magnesium dari air keran melalui proses yang dinamakan ion exchange. “Penggunaan beberapa jenis filter air juga dapat membantu menyaring klorin yang terdapat pada air keran,” tambahnya.

Dan pesan terakhir, “Apabila kamu menduga bahwa penyebab kelainan kulit disebabkan oleh air yang digunakan, sebaiknya konsultasi terlebih dulu ke dokter spesialis kulit, untuk dievaluasi,” sarannya.

Dengan kata lain, gunakan Google untuk mencari di mana kamu bisa membeli produk cleanser wajah terbaik dan dokter kulit handal terdekat—bukan untuk menganalisa masalah kulitmu lalu mengatasinya sendiri.

Selanjutnya: Kapan sebenarnya kamu harus berkonsultasi dengan dokter kulit? Baca penjelasan dari seorang ahli dermatologi.