Tanya Ahli: Mengapa Seseorang Menikmati Melakukan Prank?

melakukan prank
Foto: www.istockphoto.com

Ketika April Fool’s Day 2020 dibatalkan di hampir semua bagian dunia karena coronavirus—rasanya lega luar biasa! Mungkin terdengar aneh, tapi sepertinya pandemik COVID-19 memiliki “sisi positif”. Namun, baru-baru ini sebuah kasus prank membuat heboh sejagad Indonesia dan berakhir di ranah hukum. Ini membuat kita bertanya-tanya apa sebenernya kenikmatan yang didapat saat seseorang melakukan prank, apalagi prank ‘yang tidak lucu’ dan membuat malu pihak lain? LIMONE menghubungi seorang psikolog untuk mencari tahu jawabannya.

Mengapa Seseorang Melakukan Prank?

Foto: www.istockphoto.com

“Sebenarnya tujuan pelaku prank itu yakni ingin melihat reaksi korban prank. Jika dirasa cukup menarik maka akan dijadikan konten bahkan sampai ketagihan. Hal itu dikarenakan akan diperoleh status trending topicmost viewed content, bahkan viral di berbagai platform digital yang tersedia sehingga terbuka peluang untuk mengakomodasi konten macam ini,” ujar Nena Mawar Sari S. Psi.,Psikolog, seorang psikolog klinis remaja dewasa dan hipnoterapis dari Denpasar Mental Health Centre Balimed Hospital.

Dan jika konten tersebut dilirik, ditonton—apalagi jika menjadi viral—maka yang didapat adalah respon dari banyak orang. “Orang akan menikmati ketika dipuji, karyanya direspons. Yah, ujung-ujungnya mencari perhatian,” jelasnya.

Saat kebutuhan akan perhatian tersebut terus meningkat, si prankster kemungkinan akan ingin terus melakukan sesuatu demi memenuhinya. Bahkan, sering kali “tanpa berpikir panjang apakah perilaku prank-nya ini berdampak buruk atau membuat tidak nyaman korbannya,” tuturnya.

Apa Dampak Prank bagi Orang Lain?

melakukan prank
Foto: www.gettyimages.com

Dan seandainya kita semua perlu diingatkan: prank yang menyebabkan korban menjadi malu—apalagi trauma—bukanlah sebuah kenormalan.

“Tentu tidak. Di sini jelas rasa empati dan humanisnya sudah tidak ada. Di sisi lain pelaku prank juga tidak memikirkan dampak psikis terhadap penontonnya, apalagi jika korbannya orang yang justru seharusnya dibantu misal, ojek online, anak-anak, lansia atau penyandang disabilitas. Ini jelas tidak menginspirasi dan justru merusak mental penonton,” tegasnya.

Hmm. Ini memunculkan sebuah pertanyaan: Apakah orang yang melakukan prank berlebihan bisa jadi merupakan sebuah gejala dari kondisi psikologis tertentu?

“Ya bisa jadi,” jawabnya. “Pelaku prank itu hampir mirip pelaku bullying, hanya saja jenisnya beda dan tujuannya beda. Namun perlu diingat juga bahwa mereka memiliki latar belakang yang bermacam-macam, jadi kita juga tidak bisa menjudge pelaku prank mengalami gangguan psikologis. Tetapi empati yang kurang jelas iya,” bebernya.

Dan sama seperti korban bullying, menurut Nena jika memang korban mengalami trauma atau dampak psikis karena kejadian tersebut, diperlukan pendampingan psikologis. “Ya, tentu merasa malu, marah sedih dan trauma, tetapi kembali lagi kepada personal masing-masing seberapa kuat dalam melewati hal ini,” tambahnya.

Untuk kamu yang memang memiliki hobi melakukan prank atau berprofesi sebagai prankster, Nena mengingatkan untuk: berpikir ulang untuk konten yang akan dibuat. “Jangan hanya karena rating jadi merugikan orang lain. Karena konten-konten tersebut bisa saja ditonton anak-anak atau justru bersinggungan dengan masalah hukum. Lagi pula konten yang menarik tidak harus nge-prank.”

Sebagai seorang psikolog dan kemungkinan dampak prank bagi korbannya, apakah lebih baik prank dihilangkan dari Bumi tercinta ini?

“Agak sulit karena kita tidak bisa mengontrol semua konten. Tetapi undang-undang ITE atau undang-undang kekerasan verbal, fisik atau tindakan kurang menyenangkan bisa menjadi dasar sebagai efek jera/ hukum pelaku,” Nena memberikan pendapat.

Selanjutnya: Dan ini tips dari psikolog tentang bagaimana cara membantu korban bullying.

podcast button