Apa Kaitan Vitamin D dengan COVID-19?

hubungan vitamin D
Foto: www.gettyimages.com

Kita sudah membahas panjang kali lebar dan tinggi tentang vitamin C, sekarang waktunya untuk mengetahui lebih dalam tentang saudara dekatnya. Perkenalkan, vitamin D. Dan dengan banyaknya narasi bahwa vitamin D memiliki hubungan dengan pencegahan COVID-19, LIMONE semakin penasaran dengan vitamin ini. Untuk itu, kami menghubungi  Harnindya Redhita A., S.Gz, seorang nutrisionis, untuk memberikan penjelasan lengkap tentang vitamin ini. Dan pastinya, hubungan vitamin D dengan kekebalan tubuh dan COVID-19.

Apa Fungsi Vitamin D bagi Kesehatan Tubuh? 

hubungan vitamin D
Foto: www.stocksy.com

#tbt jaman sekolah: di pelajaran biologi, guru menjelaskan bahwa tubuh memerlukan vitamin D untuk menyerap kalsium dan meningkatkan pertumbuhan tulang. Selain itu, Nindya juga menjelaskan bahwa vitamin D memiliki banyak fungsi lainnya dalam tubuh, di antaranya:

  • Menjaga kesehatan tulang dan gigi.
  • Menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh, otak, dan sistem saraf.
  • Mengatur kadar insulin dan membantu mengelola diabetes.
  • Menjaga fungsi paru-paru dan kesehatan kardiovaskular.
  • Memengaruhi ekspresi gen yang terlibat dalam perkembangan kanker.

Ohya, ini penjelasan yang juga perlu kamu tahu: Vitamin D bukanlah satu bahan kimia, tapi banyak. Publikasi Harvard menerangkan bahwa vitamin D natural diproduksi di dalam kulit dari sebuah bentuk kolesterol yang tersedia di dalam tubuh, yakni 7-dehydrocholesterol. Lalu energi sinar ultraviolet B mengubah precursor tersebut menjadi vitamin D3.

“Energi sinar matahari mengubah sebuah senyawa di dalam kulit menjadi vitamin D3, yang kemudian dibawa ke hati dan ginjal untuk ditransformasi menjadi vitamin D aktif,” tulis publikasi tersebut.

Ah, tubuh memang hebat, ya!

Bagaimana Hubungan Vitamin D dan Kekebalan Tubuh? 

hubungan vitamin D
Foto: www.gettyimages.com

” Vitamin D atau vitamin matahari yang bisa diperoleh dari makanan atau diproduksi dari kulit manusia yang terkena sinar matahari, dan merupakan senjata yang memainkan peranan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh,” terangnya.

Secara khusus, dia menerangkan, vitamin D ini menjadi senjata sel-sel T tubuh, yaitu sel-sel yang menyerang dan menghancurkan bakteri dan virus dalam tubuh.

“Ilmuwan di University of Copenhagen telah menemukan bahwa vitamin D sangat penting untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh kita. Tanpa asupan vitamin D yang cukup, sel-sel pembunuh dari sistem kekebalan (sel T) tidak akan mampu bereaksi dan melawan infeksi serius dalam tubuh,” jelasnya.

Seberapa Besar Asupan Vitamin D yang Dibutuhkan Orang Dewasa? 

hubungan vitamin D
Foto: www.unsplash.com

Untuk orang dewasa, rata-rata kebutuhan vitamin D harian adalah 600 IU-800 IU (international units).

Adakah batas konsumsi dan efek yang terjadi jika terlalu banyak asupan vitamin D?

“Batas aman asupan vitamin D untuk orang dewasa maksimal 4.000 IU per hari. Jika asupan vitamin D lebih dari 10.000 IU per hari, maka dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan jaringan tubuh,” papar Nindya.

Bagaimana jika kita kekurangan vitamin D? Akibatnya, “akan membuat tulang menjadi lunak pada anak-anak (rakhitis) dan tulang rapuh, cacat pada orang dewasa (osteomalasia),” jelasnya.

Lebih lanjut Nindya memaparkan bahwa defisiensi vitamin D dapat mengakibatkan kelainan tulang dan meningkatkan risiko dari berbagai penyakit kronis. Juga, akan meningkatkan hormon paratiroid (parathyroid hormone, PTH) sehingga terjadi resorpsi tulang yang selanjutnya akan meningkatkan risiko terjadinya fraktur.

Pada anak-anak, defisiensi vitamin D dapat menyebabkan kelainan tulang yang dinamakan riketsia; dan pada orang dewasa disebut osteomalasia.

“Selain itu, defisiensi vitamin D diperkirakan sebagai penyumbang faktor risiko dari berbagai penyakit, termasuk pada kondisi organ non-skeletal yaitu dapat meningkatkan terjadinya risiko diabetes melitus tipe 2, gangguan kardiovaskular yang disebabkan hipertensi, obesitas dan gangguan profil lipid, kanker, infeksi dan autoimun,” sebutnya.

Dan seandainya kamu penasaran, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa shift workers, tenaga medis, dan orang yang bekerja di dalam ruangan memiliki risiko untuk mengalami kekurangan vitamin D.

Apakah Sinar Matahari Sumber Vitamin Paling Penting?

Foto: www.rawpixel.com

Nindya menerangkan bahwa terdapat dua sumber vitamin D yaitu sumber endogen dan eksogen.

“Sumber endogen merupakan sumber dominan yaitu vitamin D yang disintesis ketika sinar ultraviolet B (UVB) dari sinar matahari mengenai lapisan epidermis dan dermis kulit. Sementara, sumber eksogen yaitu berasal dari makanan yang dikonsumsi dan suplemen vitamin D,” ujarnya.

Vitamin D yang berasal dari makanan dapat dibedakan menjadi tiga, yakni yang berasal dari sumber asli, ASI, dan suplemen 11. “Sumber vitamin D yang berasal dari sumber asli di antaranya ikan salmon, ikan makarel, ikan tuna, minyak hati ikan cod, jamur, dan kuning telur. Mengonsumsi minyak ikan minimal 3-4 kali per minggu dapat membantu mengoptimalkan kebutuhan vitamin D dalam tubuh,” terangnya.

Akan tetapi, Nindya menegaskan bahwa penting dan perlu diingat bahwa sumber yang berasal dari makanan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D dalam tubuh.

Menurutnya, pemberian suplemen vitamin D biasanya untuk mengatasi kondisi defisiensi vitamin D3. Terdapat pula makanan-makanan yang difortifikasi dengan vitamin D untuk meningkatkan asupan vitamin D lebih adekuat lagi, yaitu seperti mentega, sereal, susu, jus jeruk, keju, dan makanan bayi.

“Kebutuhan vitamin D pada tubuh dapat dipenuhi sebesar 80-100% oleh vitamin D yang disintesis pada kulit ketika terpapar sinar matahari secara langsung. Untuk menjaga kadar vitamin D dalam tubuh tetap tercukupi, minimal 20% permukaan kulit harus terpapar sinar matahari secara langsung tanpa terhalang pakaian atau tabir surya,” ujarnya.

Apa Hubungan Vitamin D dengan COVID-19?

Foto: www.freepik.com

Sebelum menjawab pertanyaan tentang vitamin D dan COVID-19, ada baiknya mengetahui terlebih dahulu tentang vitamin D dan pernapasan.

Nindya menerangkan bahwa vitamin D sebagai imunomodulator (memperbaiki sistem imun) yang berperan menghambat fungsi limfosit T, baik secara langsung maupun melalui efek pada antigen presenting sel (APC) dan menghambat produksi interleukin-17 (IL-17). Ini adalah sitokin proinflamasi yang diproduksi oleh sel T khususnya Th17 yang berperan dalam respons inflamasi yang didominasi oleh neutrofil. FYI, neutrofil adalah salah satu jenis sel darah putih yang ada di dalam tubuh manusia. Neutrofil dibutuhkan utbuh membantu melawan infeksi, sekaligus melindungi tubuh dari ancaman berbagai penyakit.

Sebuah penelitian di Kanada yang melibatkan pasien asma berusia 13–69 tahun menemukan bahwa seseorang yang kekurangan vitamin D berisiko ≥50% lebih besar terserang asma dibandingkan seseorang dengan kadar vitamin D yang cukup.

Survei yang dilakukan pada anak di Indonesia juga menunjukkan 49,3% mengalami insufisiensi sedangkan 45,1% mengalami defisiensi Vitamin D.

Menurut sebuah penelitian dari Universitas Surabaya menyatakan bahwa meski hubungan, “vitamin D pada pasien asma masih belum jelas, namun vitamin D dapat melindungi dari mengembangkan infeksi saluran pernapasan yang bisa berfungsi sebagai pemicu untuk kerusakan asma. Vitamin D dapat juga memodulasi fungsi berbagai sel kekebalan tubuh.”

Kadar vitamin D yang rendah juga dapat memicu terjadinya perburukan asma. Pada sejumlah penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D berhubungan dengan inflamasi saluran napas, hiperresponsif saluran napas, penurunan fungsi paru.

Apakah kekurangan vitamin D bisa mengurangi risiko terinfeksi COVID-19? Pasalnya, SARS-CoV2 (penyebab COVID-19), seringkali menyebabkan penyakit pernapasan akut dan parah.

“Belum ada penelitian lebih lanjut terkait ini. Namun dari paparan sebelumnya, fungsi immunomodulator dalam vitamin D diharapkan dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh individu terutama memperbaiki dan menjaga fungsi organ pernapasan,” jelas Nindya.

Selanjutnya: Vitamin C tidak hanya terdapat di jeruk, tapi di berbagai sumber lain.