Menghabiskan Terlalu Banyak Waktu Bersama Pasangan Ternyata Bisa Merusak Hubungan

Foto: www.unsplash.com

Dua-puluh-empat-jam-tujuh-hari. Sesering itu kamu ingin menempel dengan pasanganmu. Di media sosial pun kamu selalu ingin difoto bersamanya. Hasrat selalu ingin menghabiskan waktu dengan pasangan, apakah itu sesuatu yang sehat? Atau sebenarnya ada sesuatu di baliknya? Ini penjelasannya.

Ini Mengapa Kamu Ingin Selalu Bersama Pasangan

menghabiskan waktu dengan pasangan
Foto: www.gettyimages.com

Menurut Alexandra Gabriella, seorang psikolog dari Smart Mind Center, menghabiskan waktu bersama pasangan sering dianggap sebagai indikator rasa kangen, sayang, dan cinta yang mendalam. Tapi bila hal ini terus berlangsung hingga mengganggu produktivitas pribadi dan pasangan, perlu dicurigai adanya attachment yang tidak sehat. “Seperti pada kasus separation anxiety yang menetap atau dependensi yang berlebihan.” ujarnya.

Untuk mereka yang baru saja memulai hubungan, seorang psikiatris bernama Scott Carroll bahkan menyarankan untuk membatasi pertemuan dan waktu bersama-sama. Yakni dua kali saja dalam satu minggu. Mengapa? Ini untuk memberikan kesempatan agar perasaan-perasaan di bawah sadar naik ke permukaan. “Perasaan-perasaan ini penting karena akan membantumu melihat isu atau masalah dengan pacar barumu,” jelasnya. Hmm….

Menurut Teresa Newsome, seorang penasihat keluarga, di awal hubungan memang biasanya pasangan cenderung berpikir bahwa dengan sering menghabiskan waktu bersama-sama akan membuat mereka semakin dekat. Akan tetapi, acap kali hal tersebut menyebabkan kodependensi yang tidak sehat. Hubungan seperti ini, katanya, “bisa membuatmu kehilangan jati diri.” Akibatnya, “harga diri kamu menjadi rendah, tidak bisa mengambil keputusan, dan menyerah meraih mimpi.”

Alexa berpendapat menghabiskan waktu bersama pasangan tidak bisa dijadikan tolak ukur sehat atau tidaknya sebuah hubungan. Dirinya mencontohkan seseorang bisa merasa insecure dan ingin selalu bersama pasangan, karena salah satu pihak baru saja berselingkuh.

Menurutnya, di dalam sebuah hubungan keraguan, kecurigaan, rasa pengorbanan yang tidak adil pasti akan selalu ada. “Tapi paling tidak, pada sebagian besar perjalanan hidup kita dengan pasangan, kita bisa merasa bahagia bersama. Saling menghargai dan menghormati batasan masing-masing,” jelas Alexa.

Ini Waktu yang Tepat untuk Bersama Pasangan

menghabiskan waktu dengan pasangan
Foto: www.gettyimages.com

Alexa mengingatkan bahwa kualitas hubungan akan selalu lebih bermakna dibandingkan kuantitas. Bila sering bertemu tapi keduanya juga melakukan kegiatan masing-masing, keintiman itu pun sulit terbangun. “Banyak juga yang fokus mengurus anak sendiri sehingga melupakan waktu mereka berdua,” ujarnya. Kedua pihak terlalu fokus pada hal-hal primer seperti kesehatan, pendidikan anak, finansial—akibatnya melupakan pasangannya. “Sebaiknya, selalu jadwalkan waktu berkualitas berdua. Contoh di sela-sela makan siang, atau memang rencana kencan romantis seperti ketika honeymoon dulu,” jelasnya.

Alexa mengatakan waktu yang tepat yaitu ketika bertemu dan mencoba hal-hal baru dan spontan. Dengan kata lain, kapan pun bisa menjadi waktu yang tepat. Untuk memastikan waktu dihabiskan berkualitas, Alexa menyarankan untuk: “Buatlah planning kegiatan atau rencana rekreasi berdua.” Menurutnya, ini berguna terutama bagi mereka yang sedang merasa jenuh—misalnya dalam aspek hubungan seksual. “Dalam hal ini bisa ditambahkan sedikit fantasi, contohnya, roleplay, sebagai bumbu dalam hubungan mereka,” ujarnya melalui pesan singkat.

Lakukan Hal Ini Saat Habiskan Waktu Bersama Pasangan

menghabiskan waktu dengan pasangan
Foto: www.gettyimages.com

Menurut Alexa menghabiskan waktu bersama pasangan dikategorikan sehat bila keduanya merasa nyaman satu sama lain, untuk saling mendengar cerita, untuk menikmati momen bersama. Terutama ketika jadwal waktu berdua itu seperti yang dinanti-nantikan.

“Untuk topik yang tidak perlu dibahas, tergantung masing-masing orang saja. Apa saja topik yang selama ini sensitif bagi mereka untuk dibahas, mungkin sebaiknya dihindari,” imbuhnya. “Tapi yang jelas, semakin kita terbuka dengan pasangan, keintiman pun bisa semakin terbangun.”

Seorang relationship counsellor bernama Silva Neves mengatakan kepada The Guardian, bahwa berada secara fisik yang di tempat yang sama bukan berarti quality time. “Bukan berarti kamu sedang menjalin hubungan yang baik jika kamu hanya bermain dengan ponselmu sepanjang malam. Yang paling penting adalah apa yang kalian lakukan saat bersama-sama,” jelasnya. Tidak peduli itu hanya 15 menit atau lima jam.

Tips Memiliki Quality Time Setelah Punya Anak

Foto: www.gettyimages.com

Ah, mereka yang sudah menjadi orangtua, memiliki pekerjaan (luar atau di dalam rumah), jadwal sosial, dan tanggung jawab lain—pasti tahu ribetnya menyediakan quality time untuk pasangan. Alexa memaparkan berdasarkan teori Sternberg tentang konsep segitiga cinta dijelaskan bahwa cinta antar pasangan yang sehat mengandung unsur passion, intimacy (kehangatan), dan komitmen. “Bila kehangatan dan passion tidak dijaga, maka hanya akan terbentuk sebuah hubungan yang hanya didasari oleh komitmen,” beber Alexa. “Kondisi ini sering disebut sebagai empty love sehingga penting untuk tetap memiliki waktu berdua bersama pasangan.”

Untuk para orangtua, Alexa membagikan satu tips sederhana, yakni bikin perencanaan. “Rencanakan waktu untuk melakukan kegiatan berdua. Seperti menonton film atau seri di televisi atau bermain games, setelah anak-anak tidur.” Lalu, cara simpel lainnya: “Disela-sela kesibukan, jangan lupa untuk terus update pengalaman sehari-hari kita. Hal ini dapat membantu kita tetap menjaga kedekatan itu.”

Di artikel yang sama, Silva Neves menyarankan ini untuk para pasangan yang super duper sibuk: mengawali pagi hari dengan kontak fisik, bisa berupa ciuman atau pelukan. “Saat pulang ke rumah, lakukan hal yang sama. Jika mungkin, kirimkan beberapa pesan saat bekerja, atau emoji hati atau ciuman. Ini adalah kecil yang hanya membutuhkan sedikit waktu tapi memberikan perbedaan besar untuk mendekatkan pasangan.”

Selanjutnya: alih-alih meminta menghabiskan waktu bersama, pasanganmu menuntut kamu menurunkan berat badan. Ooops. Ini yang sebaiknya kamu lakukan.

podcast button