Bagaimana Mendeteksi dan Menghadapi Pasangan yang Selalu Playing Victim

playing victim artinya
Foto: www.gettyimages.com

Saat kecil dan main perang-perangan, mungkin dibutuhkan seseorang yang selalu bermain dan berperan sebagai korban. Saat sudah dewasa dan memiliki pasangan, apakah seseorang yang playing victim ini tetap dibutuhkan dalam konteks hubungan romantis? Dan bagaimana mendeteksi pasangan yang “menikmati” menjadi pelaku playing victim?

Untuk membantu menerangkan playing victim ini, LIMONE mengontak Auliya Ulil Irsyadiyah, M. Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis yang berpraktik di Jl. Raya Sraten No.59, Semarang.

Apa Pengertian Playing Victim?

Foto: www.freepik.com

Playing victim adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memposisikan dirinya sebagai korban,” jelas Auliya.

Menurutnya, biasanya playing victim dilakukan oleh seseorang karena individu tersebut tidak nyaman dengan kemarahannya sendiri. Atau “bisa juga untuk melindungi diri mereka sendiri atau untuk mengubah alur cerita dan bersikap seolah individu tersebut menjadi korban. Padahal bisa jadi ia adalah pelakunya atau orang yang bersalah dalam situasi tersebut,” tambahnya.

Apakah ini sebuah gangguan kesehatan mental?

“Jika ditanya apakah ini adalah gejala gangguan atau kelainan mental dan harus diobati, semuanya berkemungkinan untuk bisa mengarah ke mental illness. Meskipun begitu tidak bisa dipastikan ini menjadi salah satu penyebab, atau mungkin bahkan satu-satunya penyebab atau ciri-ciri seseorang mengalami gangguan mental,” jawabnya.

“Sekali lagi playing victim adalah istilah yang digunakan atau sering digunakan untuk merujuk pada seseorang yang seolah-olah menjadikan atau memposisikan dirinya sebagai korban. Apakah ini harus diobati? Mungkin kata yang lebih tepat bukan diobati, tetapi diperbaiki dan disikapi secara bijak,” tekannya.

Menurutnya, biasanya individu yang memposisikan dirinya sebagai korban adalah “individu yang tidak memiliki kesadaran dalam dirinya untuk bertanggungjawab menyelesaikan persoalan yang ia hadapi tanpa menyalahkan orang lain, atas situasi yang terjadi.”

Apa Bedanya dengan Gaslighting?

Foto: www.freepik.com

Ah, mungkin membaca penjelasan di atas membuat kita teringat dengan gaslighting. Apakah perbedaannya?

Auliya menjelaskan bahwa gaslighting adalah istilah yang digunakan oleh sebagian orang merujuk pada cara memanipulasi yang dilakukan oleh seseorang untuk terlihat berkuasa. Biasanya tujuannya adalah untuk mengontrol orang lain dengan membuat orang lain tersebut tidak yakin terhadap dirinya sendiri, ragu, tidak percaya pada apa yang sebelumnya telah ia yakini. Bahkan hingga tidak mampu membedakan antara kebohongan dan kebenaran.

“Baik playing victim maupun gaslighting keduanya biasanya tidak mau disalahkan,” ujarnya.

Namun perilaku yang ditampilkan berbeda yaitu playing victim akan memposisikan diri sebagai korban, sedangkan gaslighting akan memposisikan diri untuk berkuasa mengontrol pemikiran orang lain agar tidak yakin atas apa yang ia yakini.

Mengapa Seseorang Melakukan Playing Victim?

Foto: www.freepik.com

Seperti yang disebutkan di atas ada berbagai hal yang membuatnya seseorang melakukan sesuatu. Untuk playing victim, ada beberapa hal yang mungkin penyebab seseorang melakukannya. Di antaranya:

  • Ada traumatic event di masa lalu yang belum selesai. Trauma ini bisa jadi akan memicu emosi seseorang di masa saat ini dan membentuk sikap atau perilakunya untuk tidak mau disalahkan. “Bisa jadi ada issue dalam dirinya yang belum selesai terkait dengan ‘keberhargaan diri’ sehingga ketika ada situasi di mana kesalahan ada pada dirinya, maka ia akan mengantisipasi untuk segera mengubah alur agar ia tidak menjadi pelaku sehingga tidak disalahkan,” jelasnya.
  • Terdapat gangguan kepribadian tertentu. “Seseorang cenderung memanipulasi keadaa atau situasi supaya ia tidak menjadi pelaku atau tersangka,” terangnya.
  • Pernah mengalami pengkhianatan lebih dari satu kali. Hal ini juga berkemungkinan menyebabkan seseorang merasa bahwa dirinya betul-betul selalu menjadi korban dalam situasi tertentu.
  • Pola asuh dalam keluarga. Menurutnya, perlakuan orang tua yang selalu menyalahkan anak, atau bahkan berlaku otoriter terhadap anak bisa menjadi salah satu faktor penyebab. Pola asuh seperti ini bisa membuat anak tidak nyaman dan mengakibatkan beberapa prestasinya terhambat atau bahkan gagal dalam beberapa hal. “Maka akan cenderung menyalahkan orang tua dan menjadikan dirinya sebagai korban. Tidak menutup kemungkinan ketika berada di lingkungan, ia juga akan berperilaku demikian,” bebernya.

Bagaimana Mengidentifikasi Pasangan yang Suka Playing Victim?

Foto: www.freepik.com

Menurut Auliya, salah satu ciri orang yang playing victim adalah senang menimpakan kesalahan pada orang lain dan pura-pura seolah tidak tahu menahu atas apa yang terjadi.

“Biasanya mereka akan mencari aman dan enggan mengubah kebiasaan buruknya, karena ingin dirinya dianggap sebagai korban,” jelasnya. Selain itu, berikut beberapa ciri yang bisa dilihat:

1. Menunjukkan tanda ingin dikasihani atau selalu merasa menjadi korban

“Biasanya mereka pandai merangkai cerita dengan alur seolah-olah ia adalah korban, sehingga banyak orang akan berpihak kepada individu tersebut, meskipun pada kenyataannya kesalahan ada pada dirinya. Mereka cenderung pandai memanipulasi cerita atau bahkan situasi seolah orang lain yang bersalah dan ia adalah korban,” paparnya.

2. Menonjolkan kelebihan dirinya

Mayoritas pelaku playing victim enggan untuk introspeksi dan merenungkan suatu hal buruk ketika terjadi pada dirinya. “Ujungnya akan sulit belajar dari kesalahan yang terjadi dalam peristiwa sebelumnya, karena tidak merasa bahwa ini adalah kesalahan dirinya,” katanya.

3. Menolak saat dirinya disalahkan

Auliya menjelaskan bahwa hukan hanya tidak mau mengakui kesalahan, namun pelaku playing victim juga biasanya akan sulit dan enggan jika harus meminta maaf. “Mereka beranggapan ketika meminta maaf akan membuat harga dirinya jatuh atau bisa jadi akan direndahkan oleh orang lain,” terangnya.

4. Melebih-lebihkan perbuatan orang lain yang menurutnya tidak pantas

Atau sering menyalahkan orang lain atas apa yag individu tersebut lakukan. “Biasanya individu tersebut akan cenderung lebih suka menceritakan kesalahan orang lain, dan secara sadar ataupun tidak, berusaha memengaruhi orang di sekelilingnya untuk melupakan kesalahan pribadinya,” ujarnya.

5. Cenderung mudah mengungkit kejadian masa lalu yang menyakitkan hati individu tersebut

“Ia akan lebih mudah mengingat hal-hal yang menyakitkan hatinya dan berusaha untuk membuat orang lain semakin merasa bersalah karena kejadian yang menyakitkan tersebut,” jelasnya.

Apa Efek dari Pasangan yang Selalu Menganggap Dirinya Sebagai Korban?

playing victim artinya
Foto: www.freepik.com

Jawaban singkatnya: sebuah toxic relationship.

Penjelasan panjangnya seperti ini:

Oleh karena, “salah satu pasangan cenderung mendominasi dalam sebuah hubungan, komunikasi yang terjalin tidak positif. Dampaknya pasangan akan lebih sering bertengkar karena kesalahpahaman atau hal lain yang tidak bisa diselesaikan melalui komunikasi efektif,” paparnya. Alhasil, konflik sering terjadi pada hubungan tersebut.

Dan apa akibatnya bagi korban sebenarnya dari pelaku playing victim?

“Bagi korban sebenarnya atas seseorang dengan playing victim, yaitu tidak menutup kemungkinan juga akan mengalami kecemasan yang lebih sering, stres lebh sering, perubahan mood yang fluktuatif dengan intensitas lebih sering. Dan frustrasi, bahkan lebih buruknya lagi bisa sampai depresi. Hal ini terjadi karena seseorang tersebut seolah selalu menjadi pelaku atas situasi yang tidak menyenangkan—padahal mungkin belum tentu,” terangnya.

Bagaimana Menghadapi Pasangan Pelaku Playing Victim?

playing victim artinya
Foto: www.freepik.com

Mungkin selama ini kamu memang memiliki kecurigaan, bahwa kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang menikmati perilaku playing victim. Dan setelah membaca penjelasan di atas, kamu menjadi yakin bahwa kamu berada dalam sebuah toxic relationship. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menghadapi pasangan yang melakukan playing victim?

Menurut Auliya ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan, di antaranya:

1. Aware dengan kondisi diri dan pasangan

“Bukan hanya mengetahui bagaimana karakter diri sendiri namun juga mengetahui dan memahami karakter dari pasangan. Pahami betul cara bersikap dan berperilaku pasangan termasuk ketika menyikapi suatu permasalahan,” tekannya.

2. Melihat secara objektif permasalahan yang terjadi

“Hal ini bisa menjadi salah satu hal yang bisa membuat seseorang dengan pasangan playing victim untuk tidak selalu menyalahkan diri sebagai pelaku atas ketidaknyamanan atau kemalangan yang terjadi dalam situasi tertentu. Sebaiknya tidak membenarkan kesalahan yang seolah hanya pasangan yang melakukan. Perlu mencari fakta dan data atas suatu peristiwa yang terjadi jika terus disalahkan,” sarannya.

3. Menyiapkan diri untuk bisa lebih matang menghadapi pasangan dengan playing victim

Hal ini agar kamu tidak terpancing emosinya dan berujung hanya pada pertengkaran bukan solusi.

“Ketika ingin berbicara dan menyampaikan pendapatnya, maka perlu diperhatikan untuk bisa mengungkapkan di waktu yang tepat dengan kesan yang tidak menyalahkan salah satu pihak. Perlu diskusi secara lebih matang dengan pasangan dengan cara yang dewasa. Misalnya saling menuliskan hal-hal yang diinginkan dari pasangan dan saling mengakui kelemahan dan kelebihan dari masing-masing individu,” anjurnya.

4. Cari bantuan

Jika kamu memang merasa sudah tidak mampu secara mandiri menghadapi pasangan dengan kebiasaan playing victim karena dirasa sudah mengganggu kesehatan mental. Atau jika perilaku pasangan sudah membuatmu menjadi tidak produktif dan justru membuat mood tidak stabil, “maka segera untk menghubungi atau mencari bantuan ke professional terdekat,” tegas Auliya.

Kesimpulan

playing victim artinya
Foto: www.freepik.com

Mengenali diri sendiri dan pasangan—luar dan dalam—plus memiliki dan menjalin komunikasi dengan baik adalah beberapa cara untuk membuat kamu tidak terjebak dalam toxic relationship dan pasangan pelaku playing victim.

Ah, pertanyaan terakhir: perlukah memutuskan hubungan dengan pasangan yang memiliki perilaku ini?

“Untuk hal ini bisa dikembalikan ke masing-masing individu, tidak ada patokan khusus apakah dianjurkan berhenti atau lanjut dengan pasangannya yang playing victim,” jawab Auliya.

“Tetapi yang pasti perlu dipertimbangkan kembali terkait dengan konsekuensi yang akan didapatkan apabila terus menerus bersama dengan individu dengan playing victim, karena dalam berhubungan tentu perlu mempertimbangkan banyak faktor,” tegasnya.

Selanjutnya: Apakah konflik yang kamu alami hanya pertengkaran rumah tangga biasa, atau sebuah KDRT? Baca di sini untuk mencari tahu perbedaannya.