Social Distancing Membuat Kamu Tahu Kebiasaan Baru (Menyebalkan) Pasangan—Harus Bagaimana?

efek social distancing
Foto: www.gettyimages.com

Berkat social distancing, kamu mengetahui bahwa pasanganmu… (silakan diisi sendiri). Apakah pengetahuan ini sesuatu yang positif atau membuatmu semakin ingin menjambak rambut? LIMONE menghubungi seorang psikolog untuk mengetahui efek social distancing bagi pasangan, terutama yang sudah menikah, dan apa yang bisa kamu lakukan agar tetap harmonis. Uh-uh, bagaimana meski 24/7 bersama-sama, kamu dan dia tetap akur.

Apakah Efek Social distancing Ini bagi Kehidupan Pasangan Menikah?

 efek social distancing
Foto: www.gettyimages.com

Pasti: efek social distancing akan membuat suatu perubahan, terutama untuk pasangan yang biasanya bekerja di kantor. Pekerjaan kantor yang biasanya diselesaikan di kantor—harus dilakukan di rumah. Dan di tengah tumpukan pekerjaan kantor, pekerjaan rumah masih tetap butuh dikerjakan.

Social distancing juga membuat kamu dan pasangan lebih sering bertemu dan berkomunikasi, membuat kamu semakin mengenal pasangan. Jika dilihat secara positif, ini merupakan waktu kamu semakin mengenal pasangan dan bisa melihat bagaimana kerjasama kalian sebagai pasangan. Namun di sisi negatif, semakin kamu mengenal seseorang, maka ada kemungkinan juga mengetahui hal-hal yang mungkin tidak kamu sukai dan menimbulkan konflik,” jelas  Wiwit Puspitasari Dewi, M.Psi., Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan dan psikolog dari Rumah Dandelion, Cilandak. 

Apa Sebaiknya Dilakukan Saat Menemukan Kebiasan Baru yang Menyebalkan?

 efek social distancing
Foto: www.gettyimages.com

Ah. Jadi, hal baru apa yang membuatmu ingin memeluk pasangan? Sebaliknya, hal baru apa yang menjadikanmu ingin memasukkan garam ke dalam kopinya?

Sekali lagi Wiwit mengatakan bahwa periode seperti ini merupakan salah satu kesempatan kita mengetahui pasangan dan kebiasaannya dengan lebih mendalam, karena kita akhirnya lebih sering bertemu.

Jika memang ada kebiasaannya yang memang sangat mengganggu, coba komunikasikan dengan pasangan.

“Teknik komunikasi ‘I message‘ mungkin bisa membantu,” imbuhnya. “Caranya adalah dengan menyampaikan apa yang kamu rasakan saat perilaku SPESIFIK yang dilakukan pasangan muncul. Lalu sampaikan harapan kamu untuk ke depannya,” tambahnya.

Misalnya, katakan: ‘Aku kesal (apa yang dirasakan) kalau lihat kamu taruh pakaian yang barusan kamu pakai di atas kasur (perilaku spesifik). Boleh nggak aku minta bantuan untuk selanjutnya taruh pakaian yang kotor di tempat sebelah mesin cuci (harapan).’

“Jadi daripada langsung menyalahkan pasangan, lebih baik kita menyampaikan apa yang kita rasakan. Berikan juga apresiasi saat ia sudah mulai mengubah kebiasaannya. Jangan tunggu perubahan besar terjadi untuk memberikan apresiasi, namun mulailah dari perubahan yang kecil. Jika ia tampak kesulitan mengubah kebiasaannya, kamu bisa tanyakan  apa yang bisa kamu lakukan untuk membantunya,” sarannya.

Apa Saja Hal yang Harus Dilakukan untuk Meminimalisir Konflik?

 efek social distancing
Foto: www.gettyimages.com

Oh well, karena kondisi sedang seperti ini (social distancing, physical distancing dan PSBB—Pembatasan Sosial Berskala Besar)—pilihannya terbatas. Mau tidak mau, berada bersama suami selama 24/7. Jadi, kita memang harus melakukan berbagai hal untuk mengurangi konflik di dalam rumah tangga.

Pertama dan utama: “Konflik merupakan hal yang wajar terjadi pada pasangan, apalagi saat lebih sering berada bersama dan berkomunikasi. Apalagi bagi orang-orang yang bekerja, saat ini artinya pekerjaan kantor kamu akan dibawa ke rumah. Tekanan dalam pekerjaan akan lebih mudah mempengaruhi interaksi kamu dengan orang-orang rumah,” jelasnya.

Setelah memahami hal tersebut, lakukan hal ini.

Sampaikan kebutuhan masing-masing selama di rumah dengan jelas.

“Seseorang biasanya tidak mengetahui apa yang dibutuhkan pasangan sampai hal tersebut diungkapkan,” Wiwit mengingatkan.

Misalnya istri merasa membutuhkan bantuan suaminya dalam menjaga anak karena ia juga perlu waktu untuk bekerja. “Maka daripada marah karena suami tampak tidak membantu, maka ia perlu menyampaikan dan berdiskusi untuk membagi waktu bermain bersama anak. Atau saat suami sedang mengalami masalah dalam pekerjaan dan perlu waktu untuk menyelesaikannya sendiri, suami dapat menyampaikan kebutuhannya tersebut. Ini akan membuat istri mengerti dan tidak mengganggunya selama beberapa saat,” jelasnya.

Diskusikanlah pada waktu santai tentang apa yang perlu dilakukan.

Pada saat marah, kita cenderung sulit mendengarkan orang lain, termasuk pasangan sendiri. Oleh karenanya, tidak ada salahnya saat kamu sedang marah, katakan bahwa kamu perlu waktu sendiri. Sampaikan ini pada saat sedang bersantai sehingga kedua belah pihak bisa saling mengerti.

Berikan waktu penuh untuk pasangan.

“Saat pasangan menceritakan hal-hal yang dilewati atau hal terkait dengan harinya, maka dengarkan pasangan dengan baik. Beri apresiasi jika ia sudah melakukan hal yang baik, dan gunakan waktu untuk menyampaikan hal-hal yang membuat kamu mencintainya,” sarannya.

Apa yang Bisa Dilakukan agar Tetap Positif?

Foto: www.isotckphoto.com

Gerakan yang terbatas membuatmu mungkin merasa “terkurung”. Rasa jenuh dan kehidupan yang monoton mungkin membuatmu putus asa. Agar tetap positif saat berada di dalam rumah dengan pasangan, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan. Di antaranya:

√ Lakukan kegiatan bersama yang mungkin dulu jarang atau tidak pernah dilakukan.

Ini adalah saat untuk membentuk rutinitas baru bersama pasangan, yang mungkin dulu jarang dilakukan karena bekerja di tempat yang berbeda. “Mungkin kamu dan pasangan bisa memasak bersama, atau menghabiskan waktu bersama anak bersama-sama, atau olahraga bersama,” sarannya.

√ Tetaplah memiliki waktu bagi diri sendiri.

“Cobalah diskusikan dengan pasangan terkait dengan ‘me time‘ atau waktu pribadi kamu sendiri. Waktu ini berguna untuk menenangkan pikiran, atau mencoba menyelesaikan masalah yang muncul,” jelasnya.

√ Berbagi peran dan tanggung jawab.

Misalnya berbagi tugas melakukan pekerjaan rumah; jika memiliki anak bisa berbagi waktu bermain dengan anak. “Berbagi peran juga bisa dilakukan terkait dengan peran emosional, misalnya saat ada satu pihak sedang marah atau tidak nyaman, maka pihak lain perlu lebih tenang.”

√ Melihat kondisi ini dari sudut pandang yang berbeda, lebih positif, namun tetap realistis.

Misalnya, daripada melihat ini sebagai kondisi “terkurung” bersama pasangan, kamu bisa lihat ini sebagai “kesempatan” mengenal pasangan dan melakukan kegiatan bersama.

√ Tetap menjaga gaya hidup yang sehat.

Seperti istirahat cukup, berolahraga, dan menjaga asupan makanan.

Wiwit mengingatkan bahwa, “masa krisis ini merupakan masa perubahan. Setelah perubahan terjadi, kita bisa saja sebenarnya masuk ke dalam fase yang baru dan masih terbuka kemungkinan itu akan menuju sesuatu yang positif. Selama masih punya kesempatan di rumah lebih lama bersama pasangan, lakukan hal-hal yang kita bisa untuk mendekatkan dan membuat kita semakin kenal dengan pasangan,” sarannya.

Selanjutnya: dan ini yang bisa dilakukan oleh mereka yang mengalami KDRT dalam periode social distancing.

podcast button