Tanya Ahli: Bagaimana Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemik?

merasa cemas
Foto: www.gettyimages.com

Seandainya kamu butuh diingatkan: adalah normal jika kamu merasa sedih, khawatir dan berbagai emosi lainnya di situasi pandemik COVID-19 seperti sekarang ini.

“Situasi pandemik dapat dikategorikan sebagai suatu bencana. Dalam situasi seperti ini, ada istilah normal in abnormality yang berarti respon normal dalam situasi yang tidak normal/abnormal,” jelasnya Anna Deasyana, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dan Founder Alma Psikologi, kepada LIMONE.

Seperti apa respon normal dalam situasi tidak normal itu?

“Misalkan terjadi sebuah kebakaran yang menghabiskan rumah-rumah, tentunya pemilik rumah akan menangis, sedih, shock, marah, dan lain sebagainya. Respon ini merupakan respon normal karena penyebabnya jelas menimbulkan luapan emosi,” imbuhnya.

Mengapa Diliputi Rasa Cemas dan Takut di Masa Pandemik Ini?

merasa cemas
Foto: www.istockphoto.com

Cemas. Khawatir. Takut. Dan berbagai emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saat pandemik ini semuanya menjadi satu.

“Takut adalah respon emosional terhadap ancaman yang nyata atau dirasa akan terjadi dalam waktu dekat. Sedangkan cemas adalah antisipasi untuk ancaman yang akan terjadi di masa datang,” ujarnya menjelaskan definisi kedua rasa tersebut.

Dan rasa cemas dan panik itu memiliki sisi baik dan sisi negatifnya. “Sisi baiknya, kita jadi lebih aware dan menjadi lebih bersiap diri, seperti lebih disiplin minum vitamin, makan makanan sehat, dan lebih peduli akan kebersihan diri. Sedangkan sisi negatifnya, kecemasan dan kepanikan yang berlebihan berdampak pada turunnya imunitas kita. Sehingga kita lebih rentan tertular virus,” bebernya.

Dan jika seorang teman meluapkan rasa cemas dan sedihnya itu melalui, misalkan menangis—bukan berarti kamu yang memilih untuk diam tidak merasa sedih. Pasalnya, setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam menunjukkan rasa sedih, panik, khawatir, takut, dan lain sebagainya.

“Ada orang-orang yang justru diam dan menarik diri ketika mereka menghadapi suatu bencana. Respon ini pun dianggap normal karena ketika stres, seseorang bisa memunculkan respon hypoarousal atau hyperarousal. Hypoarousal adalah kondisi di mana seseorang memunculkan respon yang cenderung tidak/kurang responsif terhadap stimulus/penyebab yang muncul seperti menarik diri, diam/freeze, numb. Sebaliknya hyperarousal, adalah kondisi di mana seseorang memunculkan respon yang sangat intens seperti marah, atau menangis histeris,” jelasnya.

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Menjaga Kesehatan Mental saat Pandemik?

Foto: www.istockphoto.com

Berhubung tidak ada yang tahu kapan pandemik ini akan berakhir, belum lagi bombardir statistik korban COVID-19, sepertinya kita memang perlu melakukan lebih dari satu cara untuk membuat kesehatan mental tetap terjaga. Pasalnya, seperti yang kita tahu, kesehatan mental memiliki kaitan yang erat dengan imunitas tubuh. Kondisi psikologis yang tidak sehat bisa menurunkan imunitas, dan pada akhirnya membuat tubuh tidak maksimal saat melawan kuman penyakit.

Untuk itu, Anna menyarankan mempraktikkan beberapa rutinitas sederhana ini untuk menjaga kesehatan mental selama era pandemik.

Perhatikan konsumsi berita setiap hari. “Terlalu banyak menyaksikan berita tentang suatu bencana potensial membuat kecemasan dan kepanikan menjadi lebih tinggi,” jelasnya. Dan pastikan kamu mendapatkan informasi dari sumber yang bisa dipercaya.

Temukan dan lakukan jenis kegiatan yang disukai. Baca buku, nonton Netflix, mendengarkan podcast, mewarnai kuku, maskeran—intinya, silakan lakukan hal-hal yang membuat hatimu senang.

Lakukanself-care. Seperti meditasi, tarik napas dalam, makan sehat dan seimbang, serta olahraga teratur.

Berhubungan/berbagi cerita dengan teman-teman atau orang terdekat secara online. “Termasuk curhat terkait apa yang sedang kita rasakan, jika memang bercerita adalah salah satu cara kita menghadapi stres,” sarannya.

Penelitian menemukan bahwa mendengarkan lagu ini bisa membuat rasa cemasmu berkurang drastis.

podcast button