Bagaimana Membantu Orang Terdekat Yang Mengalami OCD? Ini Saran Psikolog

cara menghadapi gangguan obsesif kompulsif
Foto: www.freepik.com

Ketika mengalami kecemasan, ada individu yang melakukan tindakan tertentu secara berulang. Kondisi yang dinamai dengan istilah gangguan obsesif kompulsif ini dilakukan untuk mengurangi rasa cemas dalam pikirannya.

Meski terlihat sepele bagi orang lain, namun gangguan obsesif kompulsif ternyata bisa menjadi perilaku yang berbahaya. Oleh karenanya harus dikonsultasikan dengan tenaga profesional kesehatan mental.

Untuk mengetahui cara menanganinya, LIMONE telah menghubungi Elaine Novieany S.Psi., M.Psi., Psikolog, seorang Associate Psychologist di Ohana Space dan KALM Counseling, yang akan memaparkan gejala dan tips mengobati gangguan yang satu ini.

Apa Itu Gangguan Obsesif Kompulsif?

cara menghadapi gangguan obsesif kompulsif
Foto: www.freepik.com

Elaine memaparkan bahwa menurut American Psychiatric Association (APA) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) 5 (2013) menjelaskan bahwa gangguan obsesif-kompulsif mengacu pada gangguan yang ditandai dengan obsesi dan/atau kompulsi.

“Obsesi mengacu pada pikiran, desakan, atau gambaran yang berulang dan terus-menerus yang dialami sebagai hal yang mengganggu dan tidak diinginkan, yang mana dapat menyebabkan kecemasan atau kesusahan,” terangnya.

Sementara kompulsi adalah perilaku berulang atau tindakan mental yang dirasakan oleh individu, yang dilakukan sebagai respons terhadap obsesi atau sesuai dengan aturan tertentu yang harus dilaksanakan secara kaku.

“Kebanyakan individu dengan OCD memiliki obsesi dan kompulsi. Kompulsi dapat berupa perilaku yang berulang (mencuci tangan, memesan, atau memeriksa), atau tindakan mental (seperti berdoa, menghitung, mengulang kata dalam hati),” katanya.

Perilaku berulang atau tindakan mental ini sering tidak memiliki korelasi atau tidak realistis dengan kecemasan atau ketakutan.

Individu dengan OCD melakukannya untuk mengurangi stres atau kecemasan yang dirangsang oleh obsesi atau pikiran yang ia takuti.

Apa Penyebab Seseorang Mengalami Gangguan Obsesif Kompulsif?

Foto: www.unsplash.com

Sesungguhnya, penyebab pasti dari gangguan obsesif kompulsif (OCD) masih belum diketahui, tetapi ada kemungkinan multifaktorial, di antaranya adalah:

Faktor genetik

“Memiliki keluarga dengan OCD dapat meningkatkan risiko mengembangkan OCD. Penelitian telah menunjukkan heritabilitas sebesar 45% hingga 65% pada anak-anak dan 27% hingga 45% pada orang dewasa,” ujarnya.

Stuktur dan fungsi otak

Menurut Elaine, “studi menunjukkan bahwa orang dengan OCD memiliki perbedaan di bagian otak tertentu. Penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memahami hubungan antara perbedaan otak dan OCD,” tuturnya.

Trauma masa kecil

Selain itu, trauma masa kecil juga dapat memengaruhinya. “Beberapa penelitian telah menemukan hubungan antara trauma di masa kanak-kanak dan OCD,” ungkap Elaine.

Tetapi, dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk memahami hubungan ini dengan lebih baik.

“Trauma di masa kanak-kanak di antaranya seperti penganiayaan anak, pelecehan fisik dan seksual, dan peristiwa stres atau traumatis lainnya telah dikaitkan dengan peningkatan risiko mengembangkan OCD,” terangnya.

Penuh tekanan

Menurut Psikolog Klinis yang satu ini, peristiwa kehidupan yang penuh tekanan juga bisa memengaruhi risiko OCD.

“Peristiwa traumatis atau stres dapat meningkatkan risiko memiliki OCD dan memicu pikiran yang mengganggu, ritual, dan tekanan emosional yang menjadi ciri dari OCD,” jelasnya.

Belajar

“Ketakutan obsesif dan perilaku kompulsif dapat dipelajari dari melihat anggota keluarga atau secara bertahap dipelajari dari waktu ke waktu,” tuturnya.

Apakah Gangguan Obsesif Kompulsif Ini Berbahaya?

cara menghadapi gangguan obsesif kompulsif
Foto: www.unsplash.com

Elaine memaparkan bahwa individu akan banyak menghabiskan waktu dalam sehari untuk obsesi dan kompulsi.

“Hal ini akan mengganggu kehidupan keluarga dan aktivitas sosial individu, serta berdampak buruk pada kesuksesan di sekolah atau pekerjaan,” ujarnya.

“Bahaya dari OCD adalah efek jangka panjang secara fisik atau pada kesehatan individu. Seseorang dengan OCD akan mengalami tekanan yang luar biasa karena mereka merasakan dorongan yang kuat untuk melakukan ritual mereka, dan keharusan untuk melakukan ritualnya dengan benar,” paparnya.

Efek jangka panjang dari tekanan dan kelelahan melakukan ritual berjam-jam setiap hari dapat menyebabkan penyakit jantung dan kulit. Jika ritual individu adalah sering mencuci tangan setiap hari, maka akan menyebabkan luka dan infeksi kulit yang serius.

“Jika ritual individu adalah mencuci rambut dengan keras dan intensitas yang sering, maka dapat menyebabkan luka dan infeksi di kulit kepala,” ucapnya.

Adakah Dampak yang Ditimbulkan dari Gangguan Obsesif Kompulsif?

Foto: www.freepik.com

Pada dasarnya, terdapat beberapa dampak dari OCD yang bisa dirasakan oleh individu itu sendiri atau pada lingkungannya.

“Individu akan merasa terisolasi dan kesepian. OCD mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang, karena dorongan ini akan memakan banyak waktu,” katanya.

Pikiran obsesif ini dapat membuat individu sulit berkonsentrasi, tertekan, dan merasa lelah yang berdampak pada kesulitan individu untuk berinsteraksi dengan orang lain dalam situasi sosial.

Individu juga mungkin menghindari situasi tertentu yang akan memicu OCD-nya dan kebutuhan untuk melakukan ritual.

“Hal ini menyebabkan individu tidak dapat bekerja, bertemu keluarga atau teman, atau bahkan keluar rumah. Dampak lainnya adalah individu akan merasa cemas dan stres, ia juga merasa tidak berdaya dan dapat mengarah pada depresi dan penurunan harga diri,” terang Elaine.

Baca Juga :  Serangan Panik – Apakah Serupa Dengan Gangguan Kecemasan? Ini Kata Psikiater

Individu dengan OCD juga memiliki kemungkinan besar dijauhi oleh keluarga dan teman-temannya. “Hal ini dikarenakan keluarga dan teman merasa malu dengan perilaku seseorang dengan gangguang obsesif kompulsif,” ungkapnya.

Bahkan terkadang, keluarga dan teman juga melakukan kemarahan terhadap atas perilaku individu yang mengidap OCD.

Pada kasus ini, psikoedukasi menjadi penting untuk dilakukan agar dapat menjaga kesejahteraan psikologis pada masing-masing pihak.

“Anggota keluarga yang memungkinkan juga membutuhkan terapi bersama dengan individu. Sehingga pola pikir kebencian dan kemarahan dapat berubah menjadi pengertian dan dukungan.

Siapa Saja yang Bisa Mengalami Gangguan Obsesif Kompulsif?

Foto: www.freepik.com

Menurut Elaine, onset atau kemunculan gangguan obsesif kompulsif pada usia rata-rata 19,5 tahun. “Sekitar 25% kasus dimulai pada usia 14 tahun, dan jarang ditemukan pada orang yang berusia di atas 35 tahun,” ucapnya.

“Laki-laki memiliki kecenderungan onset lebih awal dibandingkan dengan perempuan. Menurut American Psychiatric Association, sekitar 25% pria memiliki onset di bawah 10 tahun,” lanjutnya.

Selain itu, sekitar 50% dari individu dengan OCD memiliki kemunculan gejala pada masa kanak-kanak dan remaja. “Pada laki-laki, onset hadir lebih awal, tetapi di masa dewasa lebih banyak perempuan yang didiagnosis,” katanya.

Wanita pascamelahirkan juga memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengembangkan OCD daripada populasi wanita pada umumnya.

Bagaimana Gejala Gangguan Obsesif Kompulsif?

cara menghadapi gangguan obsesif kompulsif
Foto: www.canva.com

Elaine mengingatkan bahwa “gejala berikut merupakan gejala umum yang dialami individu dengan OCD. Tidak diperkenankan untuk menjadikan gejala-gejala berikut sebagai acuan self diagnose,” pesannya.

“Tetap diperlukan konsultasi dengan profesional seperti dokter, psikolog, atau psikiater karena gejala ini juga dapat dikaitkan dengan masalah kesehatan yang lebih serius,” imbuhnya.

Obsesi

Kebanyakan orang mungkin wajar merasa khawatir, namun pada individu dengan OCD, kekhawatiran dan kecemasan dapat mengambil alih. Sehingga sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Obsesi merupakan pikiran, desakan, atau gambaran mental yang berulang dan menyebabkan kecemasan.

Topik umum dari kecemasan ini meliputi:

  • Kontaminasi: oleh cairan tubuh, kuman, kotoran, dan zat lainnya
  • Kehilangan kendali: seperti ketakutan bertindak atas dorongan untuk menyakiti diri sendiri atau menyakiti orang lain. Pikiran agresif terhadap diri sendiri atau orang lain
  • Perfeksionisme: yang mungkin melibatkan rasa takut kehilangan sesuatu atau fokus yang intens pada ketepatan atau meningat sesuatu. Takut kehilangan atau salah menaruhkan sesuatu, serta membutuhkan hal-hal yang berbaris dengan tepat atau diatur dengan cara tertentu dan tepat
  • Bahaya: kekhawatiran tentang bahaya yang menimpa diri sendiri atau orang lain, termasuk rasa takut bertanggung jawab atas peristiwa bencana
  • Pikiran seksual yang tidak diinginkan, termasuk pikiran tentang aktivitas yang tidak pantas
  • Keyakinan agama atau takhayul: kekhawatiran tentang menyinggung Tuhan atau menginjak celah di trotoar

Kompulsi

“Tidak setiap perilaku berulang adalah kompulsi. Kebanyakan orang menggunakan perilaku berulang, seperti rutinitas sebelum tidur untuk membantu mereka mengatur kehidupan sehari-hari,” ungkap Elaine.

Namun untuk orang mengidap OCD, kebutuhan untuk melakukan perilaku berulang sangat kuat, sering terjadi, dan memakan waktu. Perilaku tersebut mungkin mengambil aspek ritualistik.

“Kompulsi adalah perilaku yang dirasa perlu dilakukan berulang kali untuk mencoba mengurangi kecemasan atau menghentikan pikiran obsesif,” tutur Psikolog Klinis yang satu ini.

Berikut beberapa contoh yang termasuk kompulsi:

  • Pembersihan dan/atau cuci tangan yang berlebihan
  • Sering memeriksa atau memantau tubuh untuk gejala-gejala penyakit fisik
  • Penghitungan kompulsif
  • Berulang kali memeriksa hal-hal, seperti apakah pintu sudah terkunci atau oven sudah dimatikan
  • Memesan dan mengatur sesuatu dengan cara tertentu dan tepat
  • Mengulangi kegiatan rutin, seperti bangun dari kursi
  • Dorongan mental, seperti berulang kali meninjau suatu peristiwa

“Kembali lagi, tidak semua orang yang memiliki obsesi atau kompulsi mengalami OCD. Diperlukan assessment dan penilaian dari profesional untuk melakukan dan mendapatkan diagnosis,” tegas Elaine.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengunjungi Ahli Terkait Gejala Ini?

cara menghadapi gangguan obsesif kompulsif
Foto: www.canva.com

Psikolog Klinis yang satu ini menuturkan bahwa sesungguhnya ada perbedaan antara menjadi perfeksionis (seseorang yang membutuhkan hasil atau kinerja yang sempurna) dengan yang memiliki OCD.

“Pikiran OCD bukan sekadar kekhawatiran berlebihan tentang masalah nyata dalam hidup atau keinginan untuk membersihkan atau mengatur sesuatu dengan cara tertentu,” tuturnya.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi ahli terkait dengan gejala adalah jika obsesi dan kompulsi memengaruhi kualitas hidup individu.

“Pastinya jika menyebabkan gangguan yang signifikan dalam hubungan sosial, pekerjaan, atau aspek hidup yang penting lainnya dalam diri individu,” papar Elaine.

“Selain itu, tanda selanjutnya adalah ketika individu memiliki masalah yang siginifikan dalam kehidupan sehari-hari karena pikiran atau perilaku ini, baik ke dirinya sendiri, orang lain, atau masyarakat luas,” ujarnya.

“Seseorang tidak dapat mengendalikan pikiran atau perilaku tersebut, bahkan ketika ia tahu bahwa itu berlebihan,” katanya. Kemudian, ketika individu menghabiskan banyak waktu dalam kesehariannya untuk pikiran atau perilaku ini.

Serta sewaktu ia tidak mendapatkan kesenangan saat melakukannya, tapi melakukan perilaku secara singkat dapat memberikan individu kelegaan dari kecemasan yang disebabkan oleh pikirannya.

Bagaimana Mendiagnosis Gangguan Obsesif Kompulsif?

Foto: www.freepik.com

Untuk diagnosis gangguan OCD, hal ini harus dilakukan oleh profesional kesehatan mental, baik itu dokter, psikiater, atau psikolog.

Baca Juga :  Panduan Bagaimana Belajar Bersyukur bagi Kaum Skeptis dan Pesimis

“Profesional memiliki assessment dan acuan tertentu untuk melakukan diagnosis, untuk psikolog khususnya mengacu pada kriteria diagnosis pada DSM-5,” ungkapnya.

“Langkah yang bisa dilakukan adalah menghubungi layanan kesehatan untuk menginformasikan gejala yang dialami,” ujarnya.

“Nantinya profesional akan melakukan pemeriksaan dan menanyakan riwayat kesehatan untuk memastikan bahwa masalah fisik tidak menyebabkan gejala,” jelasnya.

Namun terkadang, gangguan obsesif-kompulsif (OCD) sulit untuk didiagnosis.

“Sebab gejalanya mirip seperti gangguan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan misalnya, serta dimungkinkan juga untuk memiliki OCD dan juga gangguan mental lainnya,” tutur Elaine.

Bagaimana Cara Mengobati Gangguan Tersebut?

cara menghadapi gangguan obsesif kompulsif
Foto: www.canva.com

Menurut Psikolog Klinis yang satu ini, intervensi utama untuk gangguan obsesif kompulsif (OCD) adalah terapi perilaku kognitif (CBT – Cognitive Behavior Theraphy), obat-obatan, atau keduanya.

“Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah jenis psikoterapi di mana mengajarkan individu untuk melakukan berbagai cara berpikir, berperilaku, merasa, dan bereaksi terhadap pemikiran dan perilaku (obsesi dan kompulsi),” terangnya.

Salah satu jenis CBT spesifik yang dapat mengobati OCD disebut Exposure dan Response Prevention (EX/RP).

Pengobatan ini melibatkan pemaparan pada ketakutan atau obsesi secara bertahap, nantinya individu juga akan mempelajari cara-cara sehat untuk mengatasi kecemasan yang ditimbulkannya.

“Selain itu, terapi kognitif (termasuk dalam CBT) juga dapat digunakan dengan mendorong orang tersebut untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi kembali keyakinan mereka tentang konsekuensi dari terlibat atau menahan diri dari perilaku kompulsif,” lanjut Elaine.

Selanjutnya, profesional akan mendorong individu untuk melakukan beberapa hal, yakni:

  • Memeriksa bukti yang mendukung dan tidak mendukung obsesi
  • Mengidentifikasi distorsi kognitif yang berkaitan dengan obsesi
  • Mengembangkan respons alternatif yang tidak terlalu mengancam terhadap pemikiran, citra, atau ide yang mengganggu

“Sementara obat-obatan untuk OCD adalah jenis antidepresan tertentu, yang pastinya diperlukan adanya resep dari dokter atau psikiater. Pengobatan psikoterapi dan obat-obatan dapat dilakukan secara bersamaan, dan pastinya akan lebih efektif jika dilakukan bersamaan,” jelasnya.

Bisakah Mencegah Terjadinya Gangguan Obsesif Kompulsif?

Foto: www.freepik.com

Menurut Elaine, “tidak ada cara pasti untuk mencegah gangguan obsesif kompulsif. Namun mendapatkan perawatan sesegera mungkin dapat membantu mencegah OCD memburuk dan mengganggu aktivitas serta rutinitas sehari-hari,” paparnya.

“Pencegahan yang utama berupa psikoedukasi dan pengurangan resiko genetik atau keturunan keluarga pada individu berisiko tinggi dengan gejala subklinis atau tanpa gejala. Kemudian pencegahan berikutnya dapat mencakup identifikasi dini atau pengelolaan OCD secara klinis,” katanya.

Namun, Psikolog Klinis ini menambahkan bahwa diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menekan berbagai tahapan OCD (mulai dari penyakit berisiko hingga penyakit kronis) dan untuk mengumpulkan data tentang strategi pencegahan dan intervensi dini.

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Orang Terdekat Mengalami OCD?

cara menghadapi gangguan obsesif kompulsif
Foto: www.canva.com

Elaine menjelaskan bahwa terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan jika orang terdekat kita mengalami gangguan obsesif kompulsif, yakni:

Kepercayaan dan komunikasi secara positif

“Hindari kritik, meremehkan, atau judge secara negatif. Karena tidak jarang pengidap OCD menyembunyikan sifat atau gejala yang mereka alami dari orang lain karena malu dan takut ditolak,” ungkapnya.

Ketika individu mau mengungkapkan tentang obsesi atau kompulsi yang mengganggunya, pastikan kamu memahami hal tersebut.

“Menerima dan memberi empati bisa sangat membantu dalam membangun kepercayaan dengan individu,” sarannya.

Selain itu, “kita juga bisa mempelajari mengenai OCD lewat internet yang pastinya dalam website medis terpercaya, serta buku untuk lebih mengerti dan memahami apa yang dialami atau dirasakan oleh individu dengan OCD,” anjurnya.

Berikan dukungan

Selanjutnya, cobalah memberikan dukungan dan motivasi untuk menjalani pengobatan secara medis maupun psikologis. Temani individu untuk memeriksakan diri ke profesional kesehatan mental.

Mendukung untuk mengikuti support group

Selanjutnya, dukunglah untuk mengikuti komunitas pendukung. “Support group dapat membantu memberikan edukasi tentang seperti apa kehidupan sehari-hari seseorang dengan OCD,” ujarnya.

Selain itu, individu akan melihat bahwa mereka tidak sendirian setelah mendengar cerita tentang perjalanan pribadi orang lain yang mengidap OCD.

Hormati privasi individu

Meski individu sudah merasa nyaman untuk menceritakan dan mengungkapkan gejala yang ia miliki, hal ini bukan berarti orang lain dalam kehidupan individu seperti keluarga, teman, atau rekan kerja juga harus mengetahui bahwa ia memiliki OCD.

“Kemungkinan individu belum siap terhadap komentar yang timbul dari teman atau anggota keluarga, serta pasangan, mungkin bisa sangat menyakitkan atau memalukan,” katanya.

“Jadi mungkin bisa dirahasiakan sampai individu tersebut siap dan mengizinkan kita bersamanya menceritakan hal ini ke orang-orang sekitar individu,” jelasnya.

Kesimpulan

Foto: www.pexels.com

Sesungguhnya, masalah kesehatan mental merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

“Dengan adanya informasi mengenai kesehatan mental yang beredar luas di internet, bukan artinya kita bisa melakukan self diagnose, tetap diperlukan pemeriksaan atau penilaian dari profesional untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dan efektif,” tegas Elaine.

Psikolog Klinis ini juga berpesan bahwa “kamu tidak perlu merasa malu atau ragu memeriksakan diri ke profesional jika merasakan gejala OCD atau gejala masalah kesehatan mental lainnya. Apalagi jika gejala-gejala tersebut telah mengganggu keseharianmu atau orang-orang di sekitar,” sarannya.

“Hal yang perlu selalu diingat adalah kamu berharga dan masalah kesehatan mental yang dialami tidak mendefinisikan siapa dirimu,” tutupnya.