Bagaimana Cara Menghilangkan Trauma? Ini Jawaban Psikolog

cara menghilangkan trauma
Foto: www.canva.com

Perasaan syok, cemas, dan takut, terkadang muncul ketika kita mengalami kejadian yang traumatis. Meski sebagian orang bisa mengatasinya dengan baik, namun pastinya kondisi ini akan berdampak bagi kehidupannya. Lantas, bagaimana cara menghilangkan trauma?  

Untuk mengetahui lebih lanjut terkait cara menghilangkan trauma, LIMONE telah menghubungi Maria Wening S. Handayani, M.Psi., Psikolog, seorang Psikolog Klinis dari Biro Psikologi Laksita Consulting dan Ikigai Consulting, yang akan menjelaskan terkait penyebab dan risiko dari trauma yang diabaikan.

Apa Itu Trauma?

cara menghilangkan trauma
Foto: www.canva.com

Maria menjelaskan bahwa istilah trauma psikologis dikenal dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. “Ini merupakan suatu kondisi psikis seseorang setelah suatu peristiwa yang buruk dan masih merasakan pengalaman kembali trauma,” tuturnya.

“Seperti melalui mimpi buruk berulang dan pikiran terkait peristiwa trauma yang muncul kembali, menghindari hal-hal pemicu trauma, dan respons yang berlebihan (hipersensitif),” ujarnya.

“Biasanya juga mengalami gangguan tidur, penurunan konsentrasi, serta perubahan mood dan emosi yang tidak stabil yang diikuti dengan pikiran-pikiran negatif,” lanjutnya.

Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Trauma?

mengapa seseorang bisa mengalami trauma | | Bagaimana Cara Menghilangkan Trauma? Ini Jawaban Psikolog
Foto: www.canva.com

Seseorang bisa mengalami trauma karena terpapar dengan sumber pemicu traumanya. “Dapat dikatakan bahwa seseorang bisa mengalami trauma jika mengalami gejala-gejala selama lebih dari satu bulan. Untuk memutuskannya, harus melalui diagnosis dari psikolog atau psikiater,” ujar Maria.

Korban trauma bisa bisa sebagai korban primer atau sekunder. “Korban primer artinya mengalami secara langsung. Sedangkan korban sekunder artinya ia tidak mengalami langsung namun menyaksikan atau mendengarkan,” paparnya.

Peristiwa yang memicu trauma juga dapat bermacam-macam, di antaranya:

  • Situasi nasional atau global seperti akibat bencana, perang, wabah penyakit
  • Mengalami kekerasan baik verbal, fisik, psikis, maupun ekonomi
  • Mengalami peristiwa tidak menyenangkan sehari-hari namun dialami sangat lama sehingga menimbulkan trauma tanpa disadari. Misalnya pengabaian orang tua atau stres tekanan pekerjaan yang bertubi-tubi

Bagaimana Reaksi Tubuh Saat Mengalami Kejadian Trauma?

cara menghilangkan trauma
Foto: www.pexels.com

Ketika seseorang mengalami kejadian buruk, reaksinya akan bermacam-macam. “Ada yang syok, takut, menghindar, cemas, hingga sulit tidur dan melakukan aktivitas harian,” jawabnya.

“Namun ada juga yang tampak biasa saja dan diam. Namun sebenarnya kondisi freeze ini harus diwaspadai. Karena bagian otak yang merespons rasa takut jadi sangat aktif akibat ketakutan yang luar biasa,” katanya.

“Serta terjadinya kebingungan akan apa yang sedang terjadi, atau bagaimana ia harus merespons. Sehingga tidak dapat memberikan perlawanan apa pun. Biasanya kondisi ini terjadi pada korban kekerasan atau pelecehan seksual,” lanjutnya.

Lantas, apakah trauma ini akan berdampak pada kehidupan seseorang?

“Pasti berdampak. Bisa menurunkan produktivitas, terganggunya konsentrasi, bahkan mudah gelisah sehingga sulit untuk mengambil keputusan penting. Selain itu bisa juga rentan kurang percaya diri, merasa insecure, dan mudah cemas sehingga menyulitkan diri untuk berkembang dan beradaptasi pada situasi sulit,” jawabnya.

Bahkan terkadang trauma juga bisa membuat seseorang sulit untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dan menjalin relasi yang sehat dengan orang lain.

Bagaimana Cara Menghilangkan Trauma?

cara menghilangkan trauma
Foto: www.freepik.com

Mungkin kamu telah mencari segala cara menghilangkan trauma, padahal sebenarnya yang tepat adalah memulihkan diri dari trauma.

“Karena bagaimana pun juga, ingatan akan peristiwa traumatis itu akan tetap ada selama masih hidup. Hanya saja reaksi orang yang akan berubah,” katanya.

“Jika orang sudah pulih, maka saat teringat atau menghadapi situasi yang mirip dengan kejadian traumatis, reaksinya akan lebih adaptif. Artinya tidak jadi menghindar, mudah tersinggung, cemas berlebihan, dan menurunnya gejala-gejala trauma lainnya,” ujar Maria.

Untuk dapat memulihkan trauma, “seseorang perlu memproses dirinya dengan self-healing. Misal dengan melakukan kegiatan yang menenangkan seperti menggambar, berolahraga, meditasi, atau journaling. Bisa juga dengan mencari dukungan orang lain, seperti cerita kepada orang terdekat yang dipercaya,” lanjutnya.

Support sekitar akan berpengaruh besar pada pemulihan jiwa seseorang. Namun, jika kondisinya tidak kunjung membaik, disarankan untuk segera mencari bantuan, seperti ke psikolog dan/atau psikiater,” sarannya.

Adakah Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Memulihkan Diri dari Trauma?

adakah hal yang perlu diperhatikan saat memulihkan diri dari trauma | | Bagaimana Cara Menghilangkan Trauma? Ini Jawaban Psikolog
Foto: www.pexels.com

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat seseorang ingin pulih dari traumanya adalah kesadaran dan kesediaan diri. “Seseorang perlu menyadari bahwa dirinya mengalami trauma, dan perlu kesediaan diri untuk mau terlibat aktif dalam proses pemulihannya,” ungkap Maria.

“Proses pemulihan terkadang terasa tidak menyenangkan, karena seperti mengupas bawang yang berlapis-lapis. Begitulah kondisi psikologis manusia, ada berbagai lapisan emosi yang kadang tidak disadari,” jelasnya.

Ketika memproses hal tersebut, “sering kali menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan,” imbuhnya.

“Namun selama dilakukan di bawah supervise tenaga ahli, maka proses tersebut terbilang aman. Oleh sebab itu, sangat perlu bagi seseorang agar konsisten untuk menjalaninya,” tutur Psikolog Klinis ini.

Adakah Risiko yang Timbul Ketika Trauma Dibiarkan?

adakah risiko yang timbul ketika trauma dibiarkan | | Bagaimana Cara Menghilangkan Trauma? Ini Jawaban Psikolog
Foto: www.freepik.com

“Trauma yang tidak coba dipulihkan akan berefek pada kehidupan sehari-hari dari orang tersebut. Dengan kata lain, fungsi daily living skill-nya akan terganggu,” katanya.

“Selain itu, efek lain yang terjadi adalah apabila gejalanya bertambah buruk, maka seseorang bisa mengalami depresi, gangguan mood yang berat, bipolar, hingga gangguan kepribadian,” terang Maria.

Oleh karena itu, saat mengalami trauma psikologis yang mendalam, sebaiknya segera mencari bantuan profesional. Seperti psikolog atau psikiater.

Bisakah Mencegah Supaya Tidak Mengalami Trauma?

bisakah mencegah supaya tidak mengalami trauma | | Bagaimana Cara Menghilangkan Trauma? Ini Jawaban Psikolog
Foto: www.unsplash.com

Alih-alih mencari cara menghilangkan trauma, ternyata kondisi ini juga bisa dicegah. Hal ini bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi internal kita.

“Seperti meningkatkan resiliensi atau daya lenting dan kemampuan beradaptasi pada situasi sulit dan stres. Atau kemampuan berpikir kritis ketika menghadapi persoalan dan mengembangkan growth mindset,” anjurnya.

Selain itu, bisa juga melakukan hal-hal secara mindful atau berkesadaran penuh, berfokus pada masa kini, dan self care atau menyayangi diri sendiri. Karena terkadang kita terlalu keras pada diri sendiri. Sehingga menjadi cemas dan overthinking.

“Bisa juga dengan melakukan kegiatan atau hobi yang menyenangkan dan membuat mood positif sebagai salah satu penyeimbang stress sehari-hari,” sarannya.

“Jangan lupa untuk tetap terkoneksi dengan orang lain, sehingga memunculkan perasaan mendapatkan dukungan sekitar. Terakhir, fokuslah pada hal-hal baik dalam diri dan coba untuk mengembangkan diri,” tegasnya.

Kesimpulan

cara menghilangkan trauma
Foto: www.freepik.com

Psikolog Klinis ini menuturkan bahwa cobalah untuk tenang. “Trauma adalah respons yang wajar untuk dialami dalam situasi yang tidak wajar,” tuturnya.

“Jadi trauma tidak berarti bahwa kita telah salah dan merasa pantas untuk terjebak dalam situasi ini. Hidup kita tidak ditentukan dari apa yang dialami, namun dari bagaimana kita menghadapi peristiwa yang dialami ini,” ujarnya.

Cobalah untuk mengakui apa yang kita rasakan. “Terima juga setiap perasaan yang hadir, dan tidak perlu untuk menyangkalnya. Karena semakin kita menyangkal, maka akan semakin berat beban yang dirasakan,” papar Maria.

“Setelah mengakui, kita perlu menyadari bahwa kita berdaya. Kita lebih besar dari masalah yang dihadapi,” ujarnya.

“Menumbuhkan perasaan berdaya memang butuh proses, tidak apa-apa, cobalah untuk menjalaninya secara perlahan. Tetaplah berjalan walau perlahan. Nikmati setiap prosesnya yang terkadang akan menyenangkan, namun kadang juga menimbulkan sesak di dada,” sarannya.

Namun sadarilah bahwa untuk bisa pulih, seseorang perlu merasakan sakit. “Orang sakit fisik saja kadang perlu dioperasi supaya sumber penyakitnya dapat disembuhkan. Begitu juga dengan kondisi psikis kita yang perlu dipulihkan,” tuturnya.

“Meski terkadang membuat kita tersayat, namun percayalah jika kita konsisten menjalaninya, maka hasilnya akan menjadi lebih baik. Kita juga bisa semakin bertumbuh secara positif,” ucapnya.

“Menangislah jika ingin menangis. Namun jangan lupa untuk menjaga diri kalian. Jangan sampai terpikirkan untuk menyakiti diri sendiri. Kita semua berharga. Terus semangat karena kalian tidak sendiri,” pesannya.

error: Konten dilindungi !!