Panduan Lengkap Cara Move On (dan Apakah Rebound Relationship Efektif)

cara move on
Foto: www.gettyimages.com
Terakhir diperbarui:

Artikel ini khusus untuk kamu (iya, kamu), yang sedang berusaha (mati-matian) mencari cara move on. Untuk itu, Diah Nurayu, M. Psi, PsikologAssociate Psychologist di Aditi Psychological Center, membeberkan mengapa memang terkadang sulit untuk melanjutkan hidup setelah kehilangans eseorang dan cara melakukannya.

Apa Definisi Move On?

cara move on
Foto: www.pexels.com

Jika melihat terjemahan dari Bahasa Inggris (merriam-webster.com), move on diartikan sebagai pergi melanjutkan menuju sesuatu yang berbeda seperti tempat, subjek, atau aktivitas. "Berdasarkan terjemahan tersebut, move on dapat didefinisikan sebagai melanjutkan kehidupan dengan berpindah ke sesuatu yang baru atau berbeda," jelas Diah.

Terkait dengan hubungan percintaan, istilah ini tidak asing, terutama ketika seseorang mengalami putus cinta. "Dalam hal ini, move on dapat diartikan sebagai melangkah maju dari situasi putus cintanya dan tidak membiarkan kondisi putus cintanya memengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakannya," terangnya.

Dengan kata lain, ini adalah suatu bentuk usaha seseorang untuk kembali melanjutkan kehidupannya. "Selain itu, move on juga bermakna bahwa seseorang tidak menghapus masa lalu yang pernah ia alami. Dia memanfaatkan move on sebagai suatu cara untuk dapat mengembangkan dirinya melalui refleksi diri dan mencari makna sehingga dia dapat menjadi sosok yang lebih baik," tekannya.

Mengapa Terkadang Susah Melanjutkan Hidup Setelah Putus Cinta?

cara move on
Foto: www.unsplash.com

Mengucapkan "move on" super mudah, tapi lain cerita melakukannya. Apalagi, jika kamu baru saja putus cinta dari seseorang yang pernah membuatmu super duper bahagia.

Menurut Diah, ada saat di mana melanjutkan hidup terasa sulit, yakni saat bayang-bayang kejadian indah bersama mantan terasa berat untuk dilupakan. "Untuk dapat mengetahui kondisi sulit move on, ada baiknya kita perlu mengenal diri kita sendiri lebih dalam. Kita dapat merenungkan apa yang membuat kita sulit move on. Kita bisa mulai dari menganalisis diri seperti melakukan refleksi diri," paparnya.

Refleksi diri ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi sudah berapa lama kita kesulitan untuk melanjutkan hidup, dan alasan penting bagi kita untuk melanjutkan hidup. Plus, cari tahu juga perilaku yang membuat kita sulit untuk melanjutkan hidup—perilaku seperti apa yang membuat kamu kembali terjerat dengan pikiran mengenai mantanmu—dan faktor-faktor lainnya yang membuat kita merasa sulit melupakannya

Oh, ada satu hal yang bisa membuatmu semakin sulit terbebas dari jerat masa lalu: stalking akun mantan pasangan!

"Stalk akun mantan pasangan membuat kita kembali mengingat pengalaman kita bersama mantan sehingga kita pun kembali terjerat dengan memori kita bersama dia. Situasi ini akhirnya membuat kita semakin sulit untuk move on," jelasnya.

Ada lagikah?

"Untuk perilaku-perilaku tertentu, kita sendiri yang sebenarnya lebih tahu bentuk perilaku seperti apa yang membuat kita sulit untuk move on. Sehingga kita perlu refleksi ke dalam diri untuk mendapatkan jawaban pastinya," jawabanya.

Baca Juga :  Punya Masalah Bau Badan? Begini Cara Menghilangkannya

Apakah Wajar Jika Masih Sulit Move On?

Foto: www.pexels.com

Seandainya kamu perlu mendengar ini: sulit melupakan mantan adalah sesuatu yang wajar. Manusiawi.

"Proses move on bukanlah sesuatu yang mudah dan bisa dengan cepat dilakukan. Dalam putus cinta hingga kita bisa move on ada fase yang harus dilewati," jelasnya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Margaret Stroebe dan Henks Schut menjelaskan bahwa proses duka atas kehilangan seseorang yang kita sayangi, termasuk mantan pasangan kita, adalah loss-oriented, restoration oriented, dan oscillation.

Ketika seseorang yang mengalami putus cinta, reaksi pertama yang terlihat adalah loss oriented di mana dia larut dengan kesedihannya dan fokus dengan emosi yang dirasakannya saat itu. Setelah emosi tersebut dikeluarkan hingga intensitasnya menurun, dia pun menyadari bahwa dia perlu bangkit dari keterpurukan ini dan mencari strategi untuk melanjutkan hidup. Fase ini dinamakan restoration oriented.

"Akan tetapi, rasa sedih atau kehilangan akan masih tetap dia rasakan di fase restoration oriented ketika dia bertemu sesuatu yang menjadi pemicu ingatan bersama mantannya. Hal ini membuat dia kembali lagi berada di fase loss oriented. Kondisi perubahan yang dinamis antara loss-oriented dengan restoration oriented dinamakan oscillation," terangnya.

Jadi, proses ini memang sesuatu yang rumit.

Apa Tanda-tanda Belum Bisa Move On?

cara move on
Foto: www.unsplash.com

Menurut Diah tanda bahwa seseorang belum bisa melanjutkan hidupnya bisa terlihat dari pikiran, perasaan, dan juga tindakannya terkait dengan mantan pasangannya. Ketika seseorang belum bisa meninggalkan masa lalu, seluruh isi pikiran, perasaan, dan juga perilakunya adalah soal mantan pasangannya.

"Tidak heran, dia menampilkan perilaku obsesif terhadap mantan pasangannya. Perilaku obsesif sering ditandai dengan, misalnya, dia yang masih melakukan stalk akun sosial media mantan pasangannya. Perasaan marah dan hasrat terhadap mantan pasangan yang cukup tinggi, serta bayang-bayang mengenai mantan pasangannya (seperti kenangan indah bersama mantan) membuat seseorang menampilkan perilaku obsesif tersebut," paparnya.

"Semakin besar intensitas emosi dan sering memikirkan mantan, maka semakin besar juga peluangan perilaku obsesif ini akan muncul. Sehingga perilaku ini dapat menjadi indikator apakah seseorang sudah move on atau belum," tambahnya.

Meski adalah sesuatu yang wajar untuk sulit melanjutkan hidup setelah putus cinta, tapi berlarut-larut dalam berada kondisi ini memiliki sisi negatif.

"Jika seseorang masih belum bisa move on dalam jangka waktu yang lama, ini menandakan bahwa isi pikiran, perasaan, dan tindakannya berkutat kepada mantan pasangannya. Hal ini tentu memberikan dampak yang buruk terhadap psikologis seseorang yang belum bisa move on dalam jangka waktu yang lama," tekannya.

Efek psikologis yang terlihat adalah adanya perubahan terhadap evaluasi diri di mana dia menilai dirinya lebih negatif (penurunan self-esteem). Dampak tersebut ditimbulkan dari adanya kecemasan dan juga stres akibat kehilangan orang yang disayangi.

Baca Juga :  Bagaimana Mengajarkan Anak Menghargai Orang Lain?

"Tidak hanya itu, jika seseorang belum bisa move on dalam jangka waktu yang lama, peluang untuk terjadinya depresi juga lebih besar. Depresi ini merupakan manifestasi dari larutnya dia dalam kesedihan dan kehilangannya sehingga mood menjadi turun dan kehilangan energi untuk melakukan aktivitas," ujarnya.

Bagaimana Cara Move On?

Foto: www.freepik.com

Aha, ini dia pertanyaan berjuta 1 miliar dollar.

Seperti yang ditekankan di atas, move on adalah sebuah proses untuk dapat melanjutkan hidup. Karena ini adalah sebuah proses, hal ini pun membutuhkan kesabaran dan juga waktu. Sekali lagi, K-E-S-A-B-A-R-A-N dan W-A-K-T-U

"Dalam proses healing melalui move on, kita tidak hanya mencari cara untuk dapat melanjutkan hidup, namun juga belajar dengan ikhlas untuk menerima pengalaman pahit menjadi bagian kehidupan. Hal ini menjadikan proses move on bukanlah proses yang mudah sehingga ini tidak bisa dilakukan dan diraih dengan instan. Karena proses yang tidak mudah, bantuan profesional, seperti psikolog, dapat dijadikan alternatif untuk meminta bantuan dalam penanganan secara profesional," sarannya.

Perlukah memberikan deadline kepada diri sendiri?

"Setiap orang memiliki durasi yang berbeda untuk dapat bisa move on sehingga tidak ada batasan kapan seseorang bisa move on dari putus cinta. Untuk dapat membuahkan hasil, kita bisa meminta bantuan profesional," Diah kembali menekankan.

Selain itu, kita juga melakukan pertolongan pertama kepada diri sendiri.

"Kita bisa coba dengan soothe our emotional dengan cara meditasi atau relaksasi. Lalu, kita kembali eksplorasi diri untuk kembali terkoneksi dengan diri kita dan mengembangkan diri. Kemudian, kita bisa lanjutkan dengan refleksi diri terkait masalah putus cinta ini," ujarnya.

Mungkin agak mengerikan mendengar kata "refleksi" atau "meditasi" atau "ekplorasi diri" karena ini artinya kamu menilik ke dalam diri sendiri dengan lebih dalam. Namun, hal ini adalah bagian dari cara move on.

"Kita bisa mencoba untuk melihat permasalahan putus cinta dari berbagai sudut pandang tanpa ada penilaian atau kritik dan mengambil makna dari kejadian ini. Misalnya, kita bertanya dengan menggunakan kata ’mengapa’ daripada ‘bagaimana’. Catat setiap aktivitas yang kita lakukan sehingga kita bisa melihat sudah sejauh mana kemajuan yang kita dapatkan dan evaluasi jika masih ada yang kurang," anjurnya.

Apakah Mencari Pasangan Baru adalah Cara Move On yang Efektif?

cara move on
Foto: www.pexels.com

Kamu pasti pernah mendengar istilah "rebound relationship"—dan ada yang bilang ini adalah salah cara terampuh untuk mengibaskan rambut dan mengucapkan sayonara kepada pasangan. Silakan menyetujui atau bersikap pesimis tentang anggapan ini.

"Ketika kita putus dengan mantan pasangan, kita akan merasakan kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Beberapa orang merasa bahwa mereka perlu memiliki relasi baru walaupun mereka belum benar-benar pulih dari kondisi putus cintanya dan tidak lama setelah mereka putus cinta. Ini dinamakan rebound relationship," katanya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Brumbaugh dan Fraley (2015) menunjukkan bahwa partisipan yang melakukan rebound relationship justru memiliki kondisi well-being yang lebih baik. Studi ini juga menunjukkan keberfungsian mereka lebih optimal, dan penilaian diri yang lebih positif dibandingkan dengan ketika mereka sedang putus cinta.

Baca Juga :  Bagaimana Mendeteksi Teman Fake dan Cara Menghadapi Mereka

"Akan tetapi, penelitian tersebut masih menggunakan jumlah partisipan yang terbatas sehingga hasil penelitian ini belum bisa digeneralisasi kepada seluruh orang," Diah mengingatkan.

Rebound relationship mungkin terlihat bekerja kepada beberapa orang.

"Dengan melakukan rebound relationship, seseorang akan mampu untuk melepaskan jeratan dari mantannya secara perlahan dan fokus kepada relasi baru yang sedang dijalani. Hal ini membuat dia merasa lebih mampu untuk menjalani hidup tanpa ada bayang-bayang mantan. Akan tetapi, rebound relationship dapat menjadi bumerang bagi seseorang," ujarnya.

Pasalnya, jika relasi baru yang dia sedang jalani ini tidak memberikan manfaat dan bersifat reward untuk dirinya, dia akan kembali teringat oleh mantannya. "Dia akan menilai bahwa mantan pasangannya adalah sosok yang lebih baik daripada pasangannya saat ini. Hal ini membuat dia kembali merasa 'bergantung' kepada mantan pasangannya dan semakin sulit untuk move on," terangnya.

Kesimpulan

Foto: www.unsplash.com

Move on adalah sebuah proses dan membutuhkan kesabaran dan waktu. Dan ada berbagai cara untuk berusaha melupakan mantan, termasuk meminta bantuan profesional jika dirasa kamu sendirian tidak bisa melakukannya.

Untuk rebound relationship, oh well... bisa dikatakan sebagai cara move on yang cukup 'kontroversial'.

"Intinya, kita perlu mempertimbangkan terlebih dahulu seberapa jauh kita mampu untuk melakukan rebound relationship. Kita bisa berefleksi bagaimana dampaknya kepada diri saya dan dampak-dampak positif serta negatif," sarannya.

Jika dampak negatif lebih banyak dan kita tidak memiliki sumber daya untuk menanggulangi dampak-dampak negatif tersebut, ada baiknya rebound relationship tidak perlu dilakukan. Sebaliknya, jika kita merasa diri kita lebih baik jika kita melakukan rebound relationship dan banyak keuntungan lain yang bisa didapatkan, maka rebound relationship dapat dilakukan.

"Jika kita memilih untuk melakukan rebound relationship, kita juga perlu berefleksi kembali pelajaran apa yang didapat dari hubungan kita sebelumnya sehingga kesalahan yang sama bisa diminimalisasi," anjurnya.

Lalu bagaimana mengetahui bahwa cara yang kamu tempuh sudah membuahkan hasil?

"Setiap orang memiliki indikator move on yang berbeda-beda karena ini merupakan pengalaman subjektif individu. Oleh karenanya, seseorang perlu membuat indikator pribadi dengan cara berefleksi, yaitu melihat apakah setiap pikiran, perasaan, dan tindakan yang dilakukan sudah dapat dikategorikan move on atau belum," ujarnya.

Terakhir: "Ada satu hal yang perlu kita ketahui semua terkait dengan move on, bahwa move on bukan berarti kita menghapus memori atau pengalaman kita bersama mantan. Move on merupakan sebuah kesempatan kita untuk mengambil pelajaran dari kehidupan dan proses untuk meintegrasikan kekecewaan, kesedihan, dan ketidakadilan menjadi sebuah landasan untuk tumbuh berkembang menjadi sosok yang lebih baik," pungkasnya.

Selanjutnya: Panduan Lengkap Melakukan Refleksi Diri dari Psikolog.