Tanya Psikolog: Apa Arti Posesif? Apakah Posesif Sama Dengan Cemburu?

arti posesif
Foto: www.gettyimages.com

Pasti kamu sering mendengar kata ‘posesif’, baik itu diutarakan oleh orang lain atau bahkan dengan sengaja kamu sampaikan kepada pasanganmu yang sering mengatur kehidupanmu. Namun, tahukah kamu apa arti posesif itu? Benarkah pasanganmu memiliki sifat posesif? Apakah posesif sama dengan cemburu?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiranmu, yuk, membaca penjelasan salah satu psikolog anak dan keluarga, Samanta Ananta, M.Psi., Psikolog  tentang apa itu arti posesif dan mengenali ciri-ciri posesif  serta cara mengatasinya.

Apa Arti Posesif?

arti posesif
Foto: www.freepik.com

Arti “Posesif adalah adalah rasa keinginan untuk memiliki pasangan yang sangat tinggi. Posesif umumnya terlihat dari perilaku yang serba melarang, mengatur perilaku pasangannya, mengikuti pasangan diam-diam atau bahkan mengancam pasangan jika tidak ingin melakukan hal yang diinginkannya,” jelasnya. 

Menurut Samanta, posesif merupakan perilaku yang muncul akibat adanya rasa insecure dalam sebuah hubungan. Seseorang yang menunjukkan perilaku posesif dalam hubungan, umumnya memiliki kecemasan yang sangat tinggi terhadap rasa penolakan.

“Alih-alih melakukan hubungan yang sehat, ia justru menunjukkan inginnya memiliki power yang lebih sebagai manifestasi ingin mengontrol dan menguasai pasangannya. Bagi seseorang yang posesif, mengontrol pasangan dianggap sebagai jawaban untuk tidak mendapatkan rasa penolakan (abandoned),” tambahnya.

Alih-alih sama, ternyata posesif berbeda dengan cemburu. Selain berbeda kosakata, makna antara posesif dan cemburu pun berbeda, meski berakar pada emosi yang sama yakni cemas dan khawatir pada penolakan. 

“Orang yang cemburu belum tentu menunjukkan sifat posesifnya. Bisa saja dia hanya cemburu dalam hati, tapi masih bisa melakukan hubungan yang sehat. Sementara orang yang posesif ingin mengontrol pasangannya secara berlebihan,” ujarnya.

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Posesif?

arti posesif
Foto: www.freepik.com

Segala sesuatu yang terjadi pasti disebabkan oleh suatu hal, begitupun dengan posesif. Dalam sebuah hubungan, perilaku posesif muncul karena adanya perasaan rendah diri terhadap kemampuan dirinya sendiri menjalani hubungan. Ini bisa jadi berakar pada ketakutan akan penolakan, baik itu ditinggal maupun ditolak pasangannya.

“Pasangan yang rendah diri cenderung akan memanipulasi hubungannya agar pasangannya terkesan hidup sendirian dan hanya bergantung pada dirinya. Dengan demikian, ia dapat mengontrol perilaku dan kehidupan pasangannya hanya berfokus pada dirinya,” ungkap Samanta.

Sehingga hal ini dapat membuatnya merasa senang karena sang pasangan hanya hidup untuk dirinya. Namun pada faktanya, semakin ia ingin mengontrol pasangannya, justru ia semakin menunjukkan ketakutannya untuk ditolak  dan merasa kehilangan.

“Penyebabnya sering kali adanya trauma pengasuhan orang tua atau hubungan cinta yang kandas yang membuat ia makin merasa rendah diri dan takut kehilangan orang terkasih,” tuturnya.

Bagaimana Ciri-ciri Pasangan yang Posesif?

Foto: www.freepik.com

Ternyata untuk mengidentifikasi adanya sifat posesif dalam diri pasangan, hal ini dapat kamu ketahui berdasarkan perilakunya. Menurut Samanta, terdapat 12 ciri-ciri pasangan yang posesif, yakni:

1. Mulai menjauhkan pasangannya dari keluarga dan teman-temannya.

2. Banyak melarang pasangannya.

3. Selalu mengkritik apa pun yang dikerjakan pasangannya, namun sedikit memberikan pujian atau mengapresiasi. 

4. Pujian yang diberikan bersyarat atau hanya saat ada maunya, umumnya ini terjadi saat ia dalam situasi sulit atau terjepit.

5. Ketika memberikan pujian bukan atas kesadaran pribadi dan tidak tulus. 

6. Selalu ingin tahu semua hal tentang pasangannya, sehingga sulit untuk memiliki privasi dalam hubungan.

7. Menggunakan rasa bersalah pasangannya sebagai senjata dia bertahan (play as a victim).

8. Saat ada konflik, ia akan selalu menyerang dan menyalahkan pasangannya.

9. Selalu memiliki pembelaan diri dan membenarkan segala perilaku yang ia lakukan.

10. Cemburu berlebihan terhadap apa yang dilakukan pasangannya atau terhadap prestasi pasangannya, sekalipun pasangannya mendapat perhatian dari teman-teman atau keluarga. Hal itu dianggap sebagai ancaman bagi dirinya.

11. Pasangannya tidak boleh mengeluh terhadap perilakunya yang semena-mena.

12. Selalu merendahkan pendapat pasangannya atau orang lain

Bagaimana Cara Menghadapi Pasangan yang Posesif?

Foto: www.unsplash.com

Perlu kamu ketahui, memiliki pasangan yang posesif tentunya akan berdampak kepada hubunganmu. Hubungan akan menjadi tidak sehat dan tidak berimbang, hal ini menyebabkan tidak adanya kebahagiaan dan keharmonisan dalam sebuah hubungan. Selain itu, hal ini juga akan meninggalkan jejak luka batin terhadap kedua pasangan.

Untuk menghadapinya, kamu perlu untuk mendiskusikan hal ini, cobalah berbicara terkait apa yang menjadi keresahanmu. Berikanlah pengertian bahwa perilakunya selama ini telah mengganggu dan membutuhkan upaya agar hubungan menjadi lebih sehat. Namun perlu diingat, hal ini dapat dibicarakan ketika suasana hatinya sedang baik. 

“Jika diperlukan pendampingan dari konselor atau psikolog pasangan dan pernikahan dapat dilakukan sesi konsultasi agar pasangan dapat mengelola rasa cemasnya dengan metode yang lebih tepat. Jika tidak ada keinginannya untuk memperbaiki diri, maka sebaiknya hubungan tidak dilanjutkan lagi,” sarannya.

Selain itu, untuk menghilangkan sifat posesif yang dimiliki pasangan, hal ini dapat dilatih untuk dikurangi intensitas posesifnya. “Lebih baik lagi jika masalah utama isu penolakan ditangani melalui rangkaian sesi terapi, agar ia memiliki kesempatan menjalani relasi yang lebih sehat,” tambahnya.

Apakah Bisa Terhindar dari Sifat Posesif yang Dimiliki Pasangan?

Foto: www.freepik.com

Siapa pun pasti tidak ingin memiliki pasangan yang posesif. Untuk itu, selama bisa dicegah, pasti kamu akan menghindari pasangan yang bersifat posesif. Tetapi, bagaimana caranya?

“Mengenali tanda-tanda posesif saat melakukan pendekatan dapat dideteksi dari kalimat-kalimat manipulasi yang diucapkan. Misalnya, ‘Keluarga kamu tuh toxic banget, udah kamu sama aku aja!’. Atau ‘Kalau aku punya anak ,aku nggak akan biarkan anakku menderita seperti kamu diperlakukan seperti itu’. Atau ‘Aku maunya tuh, kamu di rumah, temenin aku terus’. Plus, ‘Kamu di mana sih, selalu susah dicariin, selalu senang bikin orang khawatir,’” bebernya.

Samanta menambahkan bahwa ini hanyalah contoh dari sebagian kalimat. Untuk itu kamu perlu melihat lebih detail lagi jawaban pasangan terkait pandangan-pandangan pribadinya terhadap permasalahan suatu isu tentang hubungan. 

“Yang terpenting untuk terhindar dari sifat posesif adalah merasa aman dan nyaman selama menjalani hubungan. Ini dapat diperoleh jika diri sendiri merasa aman dan nyaman dengan calon pasangan,” pungkasnya.

Bagaimana Jika Ternyata Diri Kita Sendiri yang Memiliki Sifat Posesif?

arti posesif
Foto: www.freepik.com

“Untuk menyadari diri kita memiliki sifat posesif maka perlu melakukan refleksi diri, apakah kita termasuk orang yang mudah merasa iritasi dalam hubungan? Apakah kita sangat merasa ketakutan kehilangan pasangan? Apa kita sangat takut ditolak? Kenapa?,” tanyanya.

Jika kamu baru menyadari bahwa ternyata kamulah yang memiliki sifat posesif, maka kamu perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Sehingga setelah mengetahui alasannya, maka kamu dapat melakukan beberapa cara.

Psikolog anak dan keluarga ini menyarankan untuk melatih diri agar merasa aman dan nyaman. Serta, “Melatih cara berpikir ke growth mindset dan menjaga perilaku kita sendiri ketika mulai muncul kecenderungan untuk menunjukkan sisi posesifnya,” sarannya.

Selanjutnya: Panduan Menemukan Terapis yang Tepat.