Pasanganmu Sedang Mengalami Midlife Crisis? Kenali Tanda-Tandanya

Foto: www.gettyimages.com

Mungkin pasanganmu sudah memperlihatkan tanda-tandanya selama beberapa bulan ini. Namun, karena kalian stuck berdua di rumah selama lebih dari dua bulan di masa pandemik ini, kamu menyadari bahwa pasanganmu yang baru saja berulang tahun ke-45 itu, sepertinya sedang mengalami midlife crisis. Krisis paruh baya. Apa sebenarnya midlife crisis?

Menurut psikolog Anastasia Sari Dewi, M.Psi, pada rentang umur tersebut biasanya apa yang dicita-citakan seseorang sebagian besar sudah terpenuhi. Maka, akan merasa puas dan senang. Akan tetapi, seringkali muncul perasaan kurang nyaman yang disebabkan menurunnya fungsi fisik dan munculnya keinginan untuk kembali mencari tujuan hidup baru.

Akan tetapi, “Apabila ia mengalami ketidakpuasan akan apa yang ia raih dan alami selama ini, tak jarang bisa saja mereka mengambil keputusan yang ekstrim,” tambah Anastasia kepada LIMONE.

Entah karena jenuh, isu pekerjaan maupun keluarga, nyatanya masih banyak orang yang tanpa sadar sedang mengalami hal ini. Seorang Psikolog Klinis Dewasa, Sri Juwita Kusumawardhani., M.Psi., menuturkan bahwa midlife crisis terjadi pada orang yang berusia sekitar 40 hingga 55 tahun. Serta tidak semua orang akan mengalaminya. Oh! Untuk lebih jelas, baca terus, ya.

Penyebab Alami Midlife Crisis

Foto: www.gettyimages.com

Dalam usia ini (40an sampai 50an tahun), seseorang akan mengevaluasi pencapaian, tujuan hidup sesungguhnya dan impian apa yang telah dicapai. Hal ini termasuk pernikahan dan pekerjaan yang dilakoninya saat ini. Lalu, sebuah kesadaran muncul: bahwa mereka tidak tidak sepenuhnya bahagia menjalani hidup.

Psikolog Munazilah, M.Psi., menyebutkan tiga faktor penyebab alami midlife. “Pertama, perubahan fisik yaitu hormon, yang berefek pada penampilan dan emosi pelaku. Kedua, perubahan peran di masyarakat yaitu menganggap di usia ini akan lebih mudah lelah bila dibandingkan usia produktif yaitu 20an awal hingga 30an tengah,” ucapnya.

Ketiga, “ketidaksiapan dan ketidakpahaman bahwa tiap fase usia pasti memiliki ciri yang berbeda dan itu adalah hal yang normal atau akan dihadapi semua orang,” lanjutnya.

Sri Juwita, psikolog yang bekerja di Tiga Generasi dan Klinik Brawijaya Jakarta, menyampaikan bahwa memasuki rentang usia 40an, seseorang mulai menghadapi perubahan peran dan tanggung jawab. “Mengurus orangtua di usia lanjut dan anak-anak mulai keluar dari rumah, menemui peristiwa besar seperti kematian orang terdekat (orangtua/pasangan/sahabat), sehingga ia pun mempertanyakan mengenai makna kehidupan, apakah keputusan yang diambil tidak akan disesali kemudian hari. Apakah ia sudah puas menikmati masa muda, dan apakah ia siap menghadapi penuaan dan kematian, dll,” jelasnya melalui pesan  singkat.

Tanda-Tanda Pasangan Mengami Midlife  

midlife crisis
Foto: www.shutterstock.com

Jika sepertinya penjelasan tadi membuatmu berpikir, ‘eh, kayaknya si ayang mulai memperlihatkan tanda-tanda itu’—jangan panik. Kenali dulu gejala-gejalanya secara menyeluruh.

Terobsesi Penampilan

Bertambah usia, penampilan (biasanya) juga berubah. Ada yang lebih ganteng (sebut saja Robert Downey Jr.) atau sebaliknya. Alhasil, banyak orang tidak percaya diri. “Seringkali pasangan saat memasuki usia paruh baya mulai banyak mempertanyakan pendapat pasangannya terhadap penampilan fisiknya yang menua,” papar Anastasia. “Udah mulai ubanan, keriput, rambut botak, sering kali bikin orang-orang nggak siap nerima itu,” ujarnya.

Oleh karenanya, memberikan pujian terhadap penampilannya (‘kamu ganteng banget hari ini’, atau ‘rambut kamu keren banget sih’) akan membuatnya lebih puas dan percaya diri.

Khawatir dan Mempertanyakan Pilihan Karier

Mereka yang mengalami krisis paruh baya biasanya doyan merefleksikan apa yang telah dia lakukan selama ini. Selain itu, juga mulai mempertanyakan hal-hal terkait karier dan pekerjaan yang bisa jadi merupakan wujud insecure atas kemampuannya dalam menghadapi perkembangan jaman.

Mereka mulai was-was dengan perkembangan jaman dan anak muda yang memiliki daya kompetensi yang lebih andal dibandingkan yang sudah setengah baya. Ketika dia mengalami hal ini, mungkin ada baiknya untuk mendorong pasangan mempelajari hal-hal baru. Jika memungkinkan, ikuti kursus atau workshop untuk memperbaharui pengetahuannya tentang bidang kariernya.

Ketidakpuasan pada Pernikahan/Hubungan Romantis

Ketidakpuasaan dalam pernikahan didasari beberapa hal, “Contohnya seperti kehilangan hasrat berhubungan seksual, merasa bosan dengan pasangannya saat ini,” tukas Sri. Acap kali, akhirnya kedua orang yang sedang mengalami midlife crisis, membandingkan kebahagiaannya dengan orang. Tidak jarang, krisis ini mengakibatkan perselingkuhan dan perceraian.

“Godaan perceraian di usia tua makin lama makin banyak jumlahnya,” terang Sri. “Di saat orang lain menilai usia pernikahan yang memasuki usia 15-20 tahun adalah usia pernikahan yang sudah matang, tak jarang belakangan ini justru banyak yang memutuskan untuk bercerai,” terangnya.

Anastasia mengamini bahwa perselingkuhan sering kali timbul sebagai upaya mencari pengakuan bahwa dirinya masih menarik. “Pengakuan bahwa masih kuat secara seksual, [sehingga membuatnya] biasanya dekat dengan wanita-wanita muda,” bebernya .

Keluarga, Kematian atau Kehilangan Orang Terdekat

Tidak hanya kita yang bertambah umur, orangtua kita pun semakin tua dan memasuki periode lansia. Tak lama setelahnya mungkin para orangtua tercinta tersebut meninggal dunia. Itu, plus ketakutan dan kekhawatiran bisa mati muda. Hal ini “membuat tiap individu yang masih memiliki waktu me-review kembali apa yang perlu ia tuju atau ia kejar lagi dalam sisa hidupnya ke depan,” jelas Sari.

Psikolog Sri menambahkan, bahwa kematian orang terdekat, kepergian anak dari rumah, dan berhadapan dengan bawahan lebih muda yang lebih pintar—semua hal tersebut dapat memicu midlife crisis, “meski tentunya tidak terjadi pada semua orang.”

Kesehatan Menurun

Usia bertambah, fisik berubah dan kesehatan pun mulai merosot. Akhirnya, “seseorang mulai mencemaskan kesehatan dan stamina tubuhnya yang rata-rata tidak sekuat usia muda,” tutur Anastasia. Hal ini pun bisa memicu midlife crisis.

Emosi  Tak Terkontrol

Kamu juga dapat mengenali tanda-tanda dari perilaku kesehariannya. “Bisa saja merasa ‘kosong’ atau sedih, mudah tersinggung dan cepat marah, kebingungan akan masa depan, mempertanyakan mengenai kehidupan dan keputusan-keputusan yang pernah diambil, atau agama yang dianut,” ucap Sri.

Selain itu, “biasanya baper dengan sikap pasangan yang tak se-lebay di masa muda. Semakin isteri menimbulkan suasana kurang nyaman, semakin besar pula peluang suami mencari hiburan di luar,” saran Sari.

Perubahan Relasi Sosial

Perubahan pada relasi sosial, juga dapat menyebabkan midlife crisis.

“Pada masa ini: seseorang merasa ingin mengeksplor kehidupannya, atau mengubah hubungan dengan orang terdekat, atau mencari makna hidup yang baru,” tambah Sri. Maka berbagai upaya dilakukan agar tetap dihargai maupun dikagumi. “Tak heran saat mengalami fase pertimbangan tersebut, sering kali orang-orang mengambil keputusan atau perubahan yang cukup ekstrim dalam hidup mereka. Tentunya tergantung pada nilai-nilai sosial dan pengaruh lingkungan yang ada di sekelilingnya,” ujar Sari.

Bagaimana Menghadapi Midlife Crisis

midlife crisis
Foto: www.shutterstock.com

Nah, setelah mengetahui tanda-tanda mengalami midlife crisis, lalu bagaimana cara menghadapinya? Jika pasanganmu sedang mengalami periode ini, Sri menyarankan untuk bersikap sebagai berikut:

  • Tunjukkan bahwa kamu bahagia dan bangga dengan kesuksesannya.
  • Tunjukkan ketertarikan dan dukungan atas apa yang ia minati.
  • Tunjukkan perhatian agar ia tidak merasa kesepian dan tetap merasa diinginkan.
  • Tunjukkan kekhawatiran, seperti, “Apakah kamu baik-baik saja?” atau “Akhir-akhir ini kamu seperti bukan dirimu, are you okay?”

Selaras dengan Sri, Anastasia berpendapat bahwa memberikan apresiasi atas keberhasilan atau nilai positif yang selama ini telah ia miliki dan ia raih adalah sesuatu yang krusial. “Hal ini mungkin kita nilai sebagai hal sederhana, tapi percayalah bahwa ‘perasaan dihargai dan dicintai’ merupakan salah satu kebutuhan psikologis manusia yang juga dituliskan oleh Abraham Maslow dalam teorinya yang biasa dikenal dengan ‘Hierarki Kebutuhan Maslow’ (1943),” tukasnya.

Lalu, “orang yang mengalami pemahaman yang baik tentang tugas dan fungsi perkembangan di usia 30-50an akan menghadapi [midlife crisis ini] dengan lebih santai karena menganggap perubahan ini adalah suatu yang normal. Orang yang tidak siap dengan perubahan, maka mungkin akan mengalami stres berkepanjangan hingga depresi,” Munazilah melengkapi.

Selanjutnya: Satu kata ini bisa merusak hubunganmu dengan pasangan.