Bagaimana Menghadapi Anak yang Menonton Video Dewasa?

video dewasa
Foto: www.gettyimages.com
Terakhir diperbarui:

Untuk orang tua atau yang punya keponakan atau adik kecil: apa yang akan kamu lakukan jika mendapati si Kecil menonton video dewasa?

Ketika membayangkan anak dengan usia dini harus menyaksikan konten dewasa, pastinya akan muncul kekhawatiran tersendiri. Untuk mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan, maka simak penjelasan dari Arindah Arimoerti Dano, S.Psi., M.Psi., Psikolog, salah satu psikolog klinis dari Pijar Psikologi dan TigaGenerasi.

Mengapa Anak Bisa Menyaksikan Video Dewasa?

video dewasa
Foto: www.freepik.com

Di tengah kemudahan untuk mengakses internet, kemungkinan seorang anak dapat menyaksikan video dewasa baik secara disengaja maupun tidak disengaja tentunya dapat terjadi. Terdapat beragam cara yang menyebabkan anak dapat menonton video dewasa. Mulai dari menemukannya sendiri tanpa disengaja, diberikan oleh orang lain, hingga mencarinya dengan sengaja.

“Alasannya juga bervariasi sekali, ya. Jika kasus yang terjadi adalah anak menonton video dewasa karena tidak disengaja, maka kemungkinan-kemungkinan seperti algoritma search engine atau media sosial (bisa) menjadi salah satu yang perlu dipertimbangkan,” kata Arindah.

Di sisi lain, jika kasus yang terjadi adalah anak dengan sengaja mencari video tersebut, juga banyak kemungkinan alasan yang melatarbelakangi perilaku ini. Bisa karena dorongan rasa ingin tahu dan mengikuti teman. Atau untuk anak yang sudah lebih dewasa, ada kemungkinan perilaku ini dilatarbelakangi oleh dorongan seksual yang mulai muncul. “Namun kasus sepert ini perlu ditilik lebih jauh,” jelasnya.

Apa Efek pada Anak Ketika Terpapar Video Dewasa?

Foto: www.freepik.com

“Penelitian menemukan bahwa exposure terhadap konten dewasa di usia dini dapat meningkatkan kemungkinan anak untuk melakukan perilaku seksual berisiko, yang meningkatkan kemungkinan tertularnya penyakit seksual atau kehamilan di usia dini,” jawabnya.

Menurut Arindah, perilaku seksual yang tidak diiringi dengan kematangan emosi, sosial, dan kognitif dapat meningkatkan kemungkinan risiko tersebut. Selain itu, kematangan aspek-aspek ini juga dapat memengaruhi bagaimana anak memahami hal dalam video tersebut.

Tanpa adanya kematangan yang mumpuni serta tidak adanya pendampingan dari orang dewasa, maka “anak dapat merasa bingung, cemas, hingga mengembangkan konsep yang salah atau maladaptive mengenai relasi romantis, attachment, intimasi, dan seks itu sendiri,” ungkapnya.

Namun, hal yang paling penting adalah adanya kejujuran antara anak dan orang tua. Dengan adanya rasa saling percaya dan kedekatan antara keduanya, maka anak akan mudah menceritakan apapun yang ia lakukan atau yang ingin diketahui.

“Membangun kelekatan adalah kunci agar anak mau terbuka dengan orangtua. Tipe kelekatan (attachment) yang memupuk rasa percaya anak adalah secure attachment, di mana anak merasa nyaman Ketika orang tua berada di sekitarnya, dan tetap merasa aman jika orang tua tidak hadir selama beberapa waktu,” paparnya.

Kelekatan ini tentunya perlu dibangun sejak anak masih berusia bayi, yakni dengan selalu berada di dekatnya dan responsif terhadap kebutuhan anak. Akibatnya, anak akan membangun pemahaman bahwa orang tuanya merupakan lingkungan yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tentunya ketika anak mulai tumbuh besar, maka rasa percaya yang sudah kuat ini akan terus terbawa dan menjadi sebuah modal bagi anak untuk terbuka pada orang tua.

“Namun, jika orang tua dan anak belum memiliki pondasi rasa percaya yang cukup, maka akan sulit membuat anak terbuka dan mengakui tentang hidupnya. Sehingga yang dapat dilakukan adalah membangun kembali kelekatan dan rasa aman anak terhadap orang tuanya. Memaksa dan menekan anak bercerita hanya akan membuat anak semakin terluka dan enggan untuk bercerita lagi di kemudian hari,” tuturnya.

Bagaimana Sebaiknya Sikap Orang Tua Saat Tahu Anak Menonton Video Dewasa?

video dewasa
Foto: www.freepik.com

“Tentunya bukan hal yang mudah ya bagi orang tua untuk menerima kenyataan bahwa anaknya terpapar video dewasa, baik dengan atau tanpa unsur kesengajaan. Tetapi jika hal ini terjadi, orang tua perlu untuk mengelola respons emosinya, sehingga tidak memunculkan reaksi yang membuat anak menjadi terkejut atau takut,” ujarnya.

“Perlu dipahami bahwa seksualitas adalah topik yang perlu dibicarakan saat anak sudah dewasa. Sehingga meskipun masih berusia kanak-kanak, orang tua tetap perlu membangun suasana terbuka dan aman, agar ketika anak telah menginjak remaja dan dewasa, topik seksualitas ini akan lebih mudah untuk dibicarakan,” lanjutnya.

Ketika orang tua mengetahui anaknya terpapar video dewasa, hal yang perlu dilakukan adalah menghampiri dan menghentikan penayangan video tersebut dengan tenang. Kemudian, ajak anak untuk berbicara. “

Tanyakan apa yang sedang ia tonton, darimana ia mendapatkan video tersebut, dan apa yang ia pahami mengenai hal yang ia tonton. Ini akan membantu orang tua untuk terkoneksi dengan anak, sekaligus memahami sejauh mana pemahaman anak mengenai konten yang ia tonton. Dari sana, orang tua bisa mulai berdiskusi dan menyampaikan bahwa video tersebut belum boleh ditonton oleh anak-anak,” contohnya.

Perlukah Juga Menjelaskan tentang Edukasi Seks?

video dewasa
Foto: www.freepik.com

Tentunya, orang tua juga berperan penting untuk memberikan edukasi seks terhadap anak. “Topik mengenai seksualitas ini bukan hal yang akan selesai dibahas dalam satu malam, jadi sangat penting untuk memulainya sedini mungkin. Edukasinya diberikan secara bertahap, sesuai dengan kemampuan anak memahami informasi,” tambahnya.

Mulai dari menggunakan nama yang tepat saat menyebut alat kelamin anak (penis dan vagina), membiasakan untuk meminta izin anak sebelum memegang alat kelamin (saat mandi ataupun saat membersihkan kotoran). Mengenalkan bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, menjelaskan hubungan laki-laki dan perempuan (mulai dari berteman, sahabat, rasa suka), dan seterusnya,” ucapnya.

Namun, prinsip dalam memberikan pendidikan seksual juga perlu diikuti dengan kesiapan dari sang anak. Untuk itu, orang tua perlu memerhatikan dengan lebih seksama, sejauh mana anak sudah memahami konsep benda, konsep kepemilikan, boleh dan tidak boleh, serta sopan dan tidak sopan. Untuk memulai membicarakan topik ini, orang tua juga dapat menggunakan bantuan lain, seperti gambar, film, video singkat, hingga lagu.

Bagaimana Cara Melarang Anak Menonton Video Dewasa?

video dewasa
Foto: www.pexels.com

Arindah memberikan beberapa tips untuk melarang anak menonton konten dewasa, yakni:

1. Jangan mulai dengan larangan

Pertama-tama, jangan langsung melarang anak untuk menonton film dewasa. Melainkan, orang tua dapat mulai berdiskusi dengan menghubungkan. Dengarkan cerita anak, lalu tanyakan bagaimana ia bisa sampai pada video tersebut. “Apakah sengaja atau tidak sengaja, atau ia sedang penasaran. Jika tidak disengaja, sampaikan dan tunjukkan bahwa kamu memahaminya. Jika anak dengan sengaja mencari dan menonton video tersebut, maka kamu bisa melanjutkan dengan langkah berikutnya,” ungkapnya.

2. Bangun percakapan yang terbuka dan jujur

Langkah kedua adalah orang tua perlu membangun percakapan yang terbuka dan jujur. Dengan mengetahui alasan mengapa anak ingin mencari video tersebut dan apa yang sedang ingin ia ketahui. Hal ini dilakukan untuk membantu anak berpikir kritis dan mengevaluasi perilakunya sendiri. Kemampuan refleks ini perlu dibangun agar anak dapat tumbuh menjadi lebih matang dan memiliki pertimbangan.

3. Tetap tenang

Ketiga, usahakan untuk tetap tenang selama percakapan berlangsung. Diskusikan mengenai apa yang sudah ia lihat, apa yang ia pahami, dan apa yang ia rasakan (emosi) selama menonton video tersebut.

4. Sampaikan perhatian yang dimiliki

Setelah memahami sudut pandang anak, maka langkah berikutnya adalah giliran orang tua untuk menyampaikan perhatian yang dimiliki. “Sampaikan apa yang kamu rasakan ketika mengetahui putra atau putrimu mengakses konten dewasa. Beritahu bahwa video tersebut ditujukan untuk orang dewasa, belum bisa ditonton oleh anak-anak,” paparnya.

“Orang tua bisa menggunakan perumpamaan agar lebih mudah seperti: Kakak pakai baju Papa, bisa sih dipakai, tapi Kakak nyaman nggak pakai bajunya? Sama seperti video tadi, video tersebut untuk Mama dan Papa. Kalau Kakak yang menonton, nanti rasanya nggak nyaman, kaya pakai baju kebesaran,’” saran Arindah.

5. Sampaikan ekspektasi orang tua

Kelima, ”sampaikan ekspektasi orang tua yang berkaitan dengan perilaku tersebut. Misalnya dengan berkata, ‘Mama berharap Kakak tidak menonton itu lagi, ya. Kalau Kakak penasaran, bisa cerita ke Mama atau Papa. Nanti kita akan bantu jelaskan ke Kakak,’”anjurnya.

Apakah Bisa Mencegah Anak Menonton Video Dewasa?

Foto: www.rawpixel.com

“Di tengah kemudahan internet saat ini, rasanya kurang realistis jika kita berharap anak terhindari sama sekali dari konten dewasa. Meski demikian, tetap ada beberapa alternatif yang dapat dicoba oleh orang tua sebagai upaya untuk mengurangi paparan konten dewasa pada anak usia dini,” ungkapnya.

  • Pertama, manfaatkan fitur yang disediakan oleh gadget, media sosial, atau search engine untuk mengatur batasan konten yang dapat diakses anak.
  • Kedua, orang tua juga dapat menerapkan batasan screen time untuk anak dan konsekuensi jika anak melewati batasan tersebut. Dalam tahap ini, konsistensi menjadi hal yang penting.  
  • Ketiga, membangun suasana aman di rumah sebagai cerminan dari nilai keluarga yang menekankan kehangatan, kelekatan, kenyamanan, dan keterbukaan antar anggota keluarga. Hal ini dapat membantu meningkatkan komunikasi antara orang tua dan anak, hingga muncul rasa ingin tahu. Serta orang tua dapat menjadi referensi pertama yang akan dicari oleh anak, bukan internet ataupun teman.
  • Keempat, buka diskusi mengenai seksualitas sedini mungkin dengan anak. Isu seksualitas tidak hanya terbatas pada perilaku seksual. Namun juga mengenai organ seksual, fungsi, cara menjaga kebersihan, mengenal bagian tubuh dan batasannya, hingga membahas mengenai relasi dengan orang lain.

Kesimpulan

Foto: www.pexels.com

Menjadi orang tua memang menjadi tantangan sekaligus pembelajaran. Menurut Arindah, untuk dapat membesarkan anak yang pintar maka dibutuhkan orang tua yang lebih pintar. “Anak kita lahir di masa teknologi dan internet yang begitu mudah dimiliki dan diakses, sehingga kita tidak bisa benar-benar mengontrol apa yang anak lihat, dengar, rasakan, dan alami. Daripada berusaha untuk mengawasi yang tidak bisa dikontrol, yuk kita fokus pada apa yang bisa diperhatikan,” ajaknya.

Hal ini dapat dilakukan dengan mulai membangun suasana keluarga yang hangat dan saling percaya. Serta menggunakan fitur parental restriction.

“Yuk Moms and Dads, kita mendekat lagi ke anak dan bangun rasa aman dalam keluarga, agar anak tahu ke mana mereka bisa pulang saat bimbang,” sarannya.

Selanjutnya: Bagaimana Menghadapi Anak yang Sangat Suka Main Hape.